20/10/12

Data Etnik Angkola-Mandailing di Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan

Etnik Angkola-Mandailing adalah dua sub etnik Batak di Provinsi Sumatera Utara. Etnik Angkola-Madailing umumnya mendiami wilayah Tapanuli Selatan (yang kini terdiri dari lima kabupaten/kota: Kab. Mandailing Natal, Kab. Tapanuli Selatan, Kab. Padang Lawas Utara, Kab. Padang Lawas dan Kota Padang Sidempuan). Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Sumatera Utara yang berjumlah 12.985.075 orang, terdapat sebanyak 13,54 persen yang berafiliasi atau mengidentifikasikan diri sebagai etnik Angkola-Mandailing. Persentase etnik Angkola-Mandailing ini merupakan etnik ketiga terbanyak di Provinsi Sumatera Utara setelah etnik Toba (20.63 persen) dan etnik Jawa (33,47 persen). Tiga etnik besar Sumatera Utara ini, juga memiliki distribusi yang relatif sama dengan distribusi etnik di Kota Medan: Angkola-Mandailing (10.16 persen); Toba (17.12 persen); dan Jawa (33.19 persen). Dengan komposisi etnik tersebut, keragaman penduduk Kota Medan juga mencerminkan tipikal penduduk Sumatera Utara. 


Tabel-1. Distribusi Etnik di Provinsi Sumatera Utara dan
Kota Medan, 2010
Etnik
Provinsi Sumatra Utara
Kota
Medan
Angkola-Mandailing
13.54
10.16
Karo
5.49
4.62
Dairi
0.78
0.42
Simalungun
2.50
1.41
Pesisir
1.38
1.10
Toba
20.83
17.12
Nias
7.01
1.10
Minangkabau
2.61
7.83
Melayu
4.42
5.76
Jawa
33.47
33.19
Tionghoa
2.63
9.47
Aceh
0.95
2.70
Banjar
0.99
0.47
Lainnya
3.40
4.65
Total
100.00
100.00

Sumber: Diolah dari Sensus Penduduk, 2010


Tiga etnik terbesar Sumatera Utara ini tidak hanya terkonsentrasi pada kabupaten/kota tertentu, tetapi juga tersebar di semua kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Etnik Angkola-Mandailing merupakan porsi terbesar penduduk di Kabupaten Mandailing Natal (78.23 persen) , Kabupaten Tapanuli Selatan (67.51 persen), Kabupaten Padang Lawas Utara (75.80 persen), Kabupaten Padang Lawas (80.02 persen) dan Kota Padang Sidempuan (64,91 persen). Sementara etnik Toba dominan di Kabupaten Tapanuli Utara (96.54 persen), Kabupaten Toba Samosir (94.94 persen), Kabupaten Humbang Hasundutan (91.55 persen) dan Kabupaten Samosir (97.65 persen).  Sedangkan etnik Jawa memiliki persentase tertinggi di Kabupaten Labuhan Batu (41.55 persen), Kabupaten Asahan (58.84 persen), Kabupaten Simalungun (45.20 persen), Kabupaten Deli Serdang (51.81 persen), Kabupaten Langkat (55.66 persen), Kabupaten Serdang Bedagai (54.75 persen), Kabupaten Batubara (38.48 persen), Kota Tebing Tinggi (40.65 persen), Kota Medan (33.19 persen) dan Kota Binjai (52.09 persen).

Sebagaimana etnik Jawa, etnik Toba juga memiliki ‘daya ekspansi’ yang kuat. Etnik Toba selain dominan di empat kabupaten, juga memiliki persentase terbesar di Kabupaten Tapanuli Tengah (56.47 persen), Kabupaten Dairi (72.15 persen),  Kota Sibolga (47.39 persen), Kota Tanjung Balai (32.86 persen),  dan Kota Pematang Siantar (45.95 persen). Sementara etnik Angkola-Mandailing  sendiri hanya ‘mengungguli’ etnik Toba di Kabupaten Labuhan Batu (25.07 persen vs 14.29 persen) dan Kabupaten Labuhan Batu Selatan (29.00 persen vs 14.52 persen). Sedangkan antara etnik Toba dan etnik Jawa yang sama-sama memiliki ciri ‘ekspansi’ terlihat saling mengungguli di  bawah etnik dominan. Etnik Jawa mengguli etnik Toba di Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas. Sebaliknya, etnik Toba mengguli etnik Jawa di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Karo. Pengaruh ketiga etnik terbesar Sumatera Utara ini tidak berarti (tidak signifikan) di kabupaten/kota di Pulau Nias (Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Barat, Nias Utara dan Kota Gunung Sitoli).



Tabel-2. Etnik Jawa, Toba dan Angkola-Mandailing Menurut
Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, 2010
Kabupaten/Kota
Etnik
Jawa
Toba
Angkola-
Mandailing
Lainnya
Nias
0.07
0.07
0.02
99.85
Mandailing Natal
7.23
2.56
78.23
11.98
Tapanuli Selatan
6.56
14.67
67.51
11.25
Tapanuli Tengah
6.53
56.47
4.96
32.05
Tapanuli Utara
0.82
96.54
0.37
2.28
Toba Samosir
1.99
94.94
0.25
2.82
Labuhan Batu
41.55
14.29
25.07
19.09
Asahan
58.84
20.72
5.42
15.02
Simalungun
45.20
29.07
2.21
23.53
Dairi
1.76
72.15
0.43
25.66
Karo
9.65
10.61
0.68
79.06
Deli Serdang
51.81
10.82
6.68
30.68
Langkat
56.66
2.13
3.09
38.12
Nias Selatan
0.05
0.24
0.02
99.69
Hubang Hasundutan
0.33
91.55
0.09
8.03
Pakpak Bharat
1.39
13.37
0.15
85.09
Samosir
0.62
97.65
0.03
1.70
Sedang Bedagai
54.75
12.63
4.50
28.12
Batubara
38.48
12.30
2.44
46.78
Padang Lawas  Utara
10.62
7.25
75.80
6.33
Padang Lawas
11.49
3.15
80.02
5.34
Labuhan Batu Selatan
48.80
14.52
29.00
7.68
Labuhan Batu Utara
46.30
25.49
15.70
12.51
Nias Utara
0.11
0.24
0.03
99.62
Nias Barat
0.11
0.09
0.01
99.79
Sibolga
6.81
47.39
6.40
39.41
Tanjung Balai
19.98
32.86
14.45
32.72
Pematang Siantar
25.45
45.95
6.53
22.07
Tebing Tinggi
40.65
13.74
11.16
34.45
Medan
33.19
17.12
10.16
39.52
Binjai
52.09
5.87
9.11
32.93
Padang Sidempuan
11.31
14.48
64.91
9.29
Gunung Sitoli
1.03
1.15
0.38
97.43
Total
33.47
20.83
13.54
32.16

Sumber: Diolah dari Sensus Penduduk, 2010


Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara yang merupakan kota tujuan migrasi terpenting di Indonesia, dalam perkembangannnya tampak terjadi perubahan komposisi etnik yang drastis. Berdasarkan Sensus Penduduk 1930 (delapan puluh tahun lampau), penduduk Kota Medan sudah terlihat sangat beragam tetapi besaran komposisinya telah jauh berubah dibanding dengan keadaan pada tahun 2010. Pada tahun 1930, persentase terbesar penduduk Kota Medan adalah etnik Tionghoa (34.69 persen), kemudian disusul etnik Jawa (24,24 persen). Tiga etnik lainnya yang terbilang cukup signifikan adalah etnik Minangkabau (7.11 persen), etnik Melayu (6.87 persen) dan etnik Angkola-Mandailing (6.28 persen). Etnik Toba yang kini (2010) menduduki posisi terbesar kedua di Kota Medan, pada tahun 1930 hanya sebesar 1.12 persen. Etnik Minangkabau dan etnik Melayu yang dulunya merupakan etnik terbanyak ketiga dan keempat, kini telah digeser oleh etnik Angkola-Mandailing dan etnik Toba. Sementara etnik Tioanghoa yang dulunya berada posisi terbesar kedua penduduk Kota Medan, kini melorot ke posisi keempat (Diolah oleh Akhir Matua Harahap)


Tabel-3. Distribusi Etnik di Kota Medan, 1930
Etnik
 Jumlah
 Persen
 Jawa
         19.067
        24.24
 Minang
           5.590
          7.11
 Melayu
           5.408
          6.87
 Angkola-Mandailing
           4.944
          6.28
 Sunda
           1.209
          1.54
 Betawi
           1.118
          1.42
 Toba
              882
          1.12
 Karo
              145
          0.18
 Batak lainnya
           1.189
          1.51
 Lainnya
           1.798
          2.29
 Tioanghoa
         27,287
        34.69
 Eropa
           4,293
          5.46
 Asia lainnya
           5,734
          7.29
Total
         78,664
     100.00

Sumber: Hasil Sensus 1930

Tidak ada komentar: