19/08/16

Sejarah Kota Natal (4): Willem Iskander Mendirikan Sekolah Guru di Tanobato; Natal Kembali Mendapat Perhatian



Sejak AP Godon menjadi Asisten Residen di Afdeeling Mandailing en Angkola (1847) telah banyak yang berubah. Produksu kopi terus meningkat di Mandailing dan Angkola, akses jalan menuju Natal semakin lancar. Perubahan yang lain adalah anak-anak Mandailing en Angkola sudah mulai bersekolah (introduksi aksara latin dalam pendidikan). Pendapatan pemerintah dari kopi telah mampu membiayai untuk pendidikan. Pendapatan yang sebelumnya terbatas untuk anggaran infrastruktur (utamanya jalan/jembatan) kini telah diperluas dan dialokasikan untuk pendidikan.

Sukses pertama dari pendidikan di Mandailing en Angkola adalah dikirimnya dua siswa (bernama Si Asta dan Si Angan) tahun 1854 untuk studi kedokteran di Batavia. Kedua siswa ini diharapkan akan mampu menangani penyakit dan wabah yang kerap terajdi sebelumnya. Sukses kedua adalah dikirimnya Si Sati pada tahun 1857 untuk studi keguruan ke Belanda. Pada tahun 1856 dua siswa kedokteran telah berhasil dalam studinya. Dr. Asta ditempatkan di Mandailing dan Dr. Angan ditempatkan di Angkola. Pada tahun 1856 dua siswa dikirim lagi ke Batavia.

Pada tahun 1961 Si Sati yang telah berganti nama menjadi Willem Iskander kembali ke tanah air (Batavia). Willem Iskander kemudian pulang kampong di Mandailing untuk mendirikan sekolah guru (kweekschool). Lokasi yang dipilih Willem Iskander tempat sekolah guru yang akan diasuhnya sendiri adalah din Tanobato. Suatu kampong yang jauh dari Panjaboengan di daerah yang lebih tinggi dan berhawa sejuk di sisi jalan menuju pelabuhan Natal.

Lokasi sekolah guru yang dipilih di Tanobato tidak menguntungkan untuk siswa-siswa yang berasal dari Angkola. Pilihan lokasi diduga karena letak Tabobato yang berhawa sejuk lebih sesuai untuk Willem Iskander sendiri yang sudah mengalami iklim Eropa. Alasan utama mungkin agar Willem Iskander mudah dan cepat akses ke pelabuhan (agar mudah ke Padang dan Batavia) dan juga agar pejabat pendidikan baik di Padang dan Batavia mudah mengakses sekolah guru itu.

Pilihan Tanobato sebagai sekolah guru secara tidak langsung menguntungkan Natal (yang sudah beberapa tahun mengalami keterpencilan). Natal dan pelabuhan Natal akan dengan sendirinya menjadi ramai kembali. Para pejabat akan sering meninjau sekolah tersebut. Demikian juga para wisatawan akan tertarik melihat keberadaan sekolah guru yang berada di ketinggian itu yang mana gurunya, Willem Iskander merupakan satu-satunya pribumi yang berpendidikan di Hindia Belanda dan memahami serta sudah terbiasa dengan budaya Eropa.

Afdeeling Natal yang selama ini hanya terdapat dua atau tiga pejabat (termasuk controleur), pada tahun 1861 di Natal sudah terdapat enam pejabat. Di Tanobato sejak tahun 1852 sudah ditempatkan seorang koffie pakhuis,meester. Lalu sejak 1856 seorang pengawas ditempatkan di Moearasama. Kemudian pada tahun 1858 pengawas ditambahkan di Tapoes. Pada tahun 1860 pakhuis,meester di Tanobato dan pengawas di Tapoes dihilangkan. Ini mengindikasikan jalur Natal keramaiannya (arus barang dan orang) menurun. Akan tetapi pada tahun 1861 di Tanobato diaktifkan lagi pakhuis,meester.

Satu-satunya pejabat yang ada di Tanobato saat Willem Iskander membuka sekolah guru adalah pakhuis,meester. Bisa dibayangkan bahwa Tanobato, tempat adanya sekolah guru sangatlah sepi jika dibandingkan dengan Panjaboengan yang sangat ramai tempat dimana asisten residen berkedudukan dan sejumlah pejabat lainnya. Pada tahun 1863 status pakhuis,meester di Tanobato diringkatkan menjadi pengawas. Jabatan pakhuis,meester yang sebelumnya dipegang oleh Belanda kini dialihkan dan dipegang oleh pribumi.

Penempatan pengawas (opziener) di Tanobato besar kemungkinan karena sekolah guru ini telah memiliki banyak siswa. Perhatian pemerintah di Tanobato tidak hanya pada perdagangan kopi (fungsi koffiej pakhuis,meester) tetapi juga aspek-aspek yang lebih luas dalam bidang kemasyarakatan yang dalam hal ini intens dalam bidang pendidikan (fungsi pengawas).

Sekolah guru Tanobato (Kweekschool Tanobato) semakin berkembang dan semakin diakui oleh pemerintah hingga pada akhirnya pada tahun 1865 sekolah yang didirikan Willem Iskander ini diakuisisi pemerintah dan dijadikan sebagai sekolah guru negeri. Tanobato semakin berkembang, Moerasama juga semakin berkembang dan Natal juga ikut semakin pesat lagi berkembang.


Bersambung:
Sejarah Kota Natal (5): Ibukota Mandailing en Angkola Pindah Ke Padang Sidempuan; Natal Semakin Terpencil

Sejarah Kota Natal (6): Jalur Transportasi Darat Padang-Sibolga; Natal Semakin Tertinggal
Sejarah Kota Natal (7): Pembukaan Jalur Transportasi Darat Tepi Pantai; Mengikat Kembali Natal, Mandailing dan Angkola


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

3 komentar:

Nur Alamsyah Batubara AMB mengatakan...

Bg. Ini sumbernya dpat dpercaya kan bang. Sumber2 untk sejarah kota Natalnya bg.
Boleh minta referensi yg abg pakai bg?. Soalnya sya sngat tertarik dgn tulisan abg tntang sjarah kota Natal ini bg.

Akhir Matua Harahap mengatakan...

Tentu saja harus dipercaya. Semua sumber yang digunakan dalam blog ini dapat ditelusuri di dalam surat kabar, majalan dan buku di era Belanda. Saya selalu menulis sumber di dalam tulisan. Jika di satu tulisan tidak disebut, itu berarti sudah pernah disebut di dalam artikel pada blog ini. Untuk sejarah Natal, sebenarnya masih berproses, suda ada tujuh draf. Pada waktunya akan difinishing (dan akan ditambahkan dalam penulisan sumber). Kita sudah seharusnya membangun (mendokumentasikan sejarah kita(. Selama ini informasi itu sangat minim. Saya coba memulai. Sejarah Natal yang saya coba deskripsikan harus dilihatdalam gambar besar, artinya sejarah Natal, paralel dengan sejarah Mandailing, sejarah Angkola, sejarah Padang Lawas, sejarah Sipirok dan sejarah Batang Toru, serta sejarah Padang Sidempuan. Semuanya pada nantinya akan menjadi satu kesatuan yang akan kita susun. Penulisan sejarah ketujuh wilayah kita ini semuanya masih berproses (masing-masing baru beberapa serial artikel kecuali sejarah Padang Sidempuan yang sudah seri ke-17). Juga sejarah kita harus dikaitkan dengan sejarah Tapanoeli, sejarah Kota Medan dan sejarah Indonesia (dari sudut pandang Tabagsel). Tidak bisa segera memang, sebab saya menulis hanya waktu senggang, terutama saat nonton bola. Untuk sekadar diketahui, saya bukan ahli sejarah, saya adalah ekonom. Saya memerlukan aspek sejarahnya untuk lebih memahami ekonomi Tabagsel. Demikian bung Batubara. Selamat mengikuti

Nur Alamsyah Batubara AMB mengatakan...

Ok bg. Trimakasih untk pnjelasannya bg dan untk tulisannya bg.