Kamis, November 17, 2016

Sejarah Kota Medan (47): Esplanade, Alun-Alun Kota; Titik Nol Kota Medan, Kini Disebut Lapangan Merdeka



Peta Medan 1873
Esplanade, alun-alun kota Medan adalah milestone terbentuknya Kota Medan. Esplanade ini bermula dari suatu ruang terbuka yang cukup luas yang di empat sisi sebelum dan sesudahnya berdiri berbagai bangunan kota. Esplanade sendiri dibangun pada tahun 1880, setahun setelah Medan dijadikan sebagai ibukota afdeeling Deli, tempat dimana Asisten Residen berkedudukan (sebelumnya di Laboehan). Pada tahun 1895 di lapangan Esplanade ini diadakan pertandingan sepakbola antara kesebelasan dari Penang melawan kesebelasan Medan, suatu pertandingkan yang kali pertama dilaporkan di Hindia Belanda (baca: Indonesia). Antara tahun 1900 hingga 1907, Esplanade merupakan homebase klub pertama kota Medan bernama Medan sport Club (oleh pemerintah kota klub pribumi dilarang menggunakannya). Esplanade ini pada masa kini disebut Lapangan Merdeka, yang namanya muncul ketika diadakan perayaan Hari Kemerdekaan RI yang pertama tahun 1950. Sebagai ketua panitia adalah GB Josua (pemilik Josua Instituut/Perguruan Josua).

Kronologi

Sebelum ada Esplanade, aktvitas hanya ada di sekitar kantor Deli Mij (seberang Kampoeng Medan Poetri). Aktivitas Deli Mij ini dimulai tahun 1870 (yang kini menjadi jalan Jalan Tembakau). Adapun bangunan yang ada adalah kantor, gudang, bangunan fermentasi. Kemudian dibangun sebuah klinik kesehatan (kelak menjadi RS Tembakau).

Garnisun militer Medan, 1876
Pada tahun 1873 militer membangun garnisun di arah hulu (di ujung Jalan Bukit Barisan yang sekarang). Awal munculnya garnisun ini, dimulai ketika terjadi kerusuhan di sebuah perkebunan di Pertjoet yang dilakukan oleh para kuli asal Tiongkok yang membunuh para majikannya. Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, satu datasemen militer didatangkan dari Riau yang ditempatkan di dekat Deli Mij (perusahaan Belanda). Saat itu ibukota Sumatra’s Oostkust masih di Bengkalis. Namun dalam perkembangannya, kampament detasemen militer ini ditingkatkan menjadi sebuah garnisun militer (yang seiring dengan meningkatnya eskalasi perang di Bataklanden dan Atjeh.

Pada tahun 1875 kantor/rumah Controleur Medan dibangun di Sukamulia. Penempatan kantor/rumah Controleur ini agar lebih dekat dengan penduduk di Kampong Polonia dan Kampong Kesawan. Di sekitar kantor/rumah controleur ini kemudian dibangun rumah administrator Deli Mij (kelak dihibahkan menjadi kantor Residen, saat ibukota Residentie Sumatra’s Oostkust dipindahkan dari Bengkalis).

Selasa, November 15, 2016

Sejarah Kota Medan (46): Warenhuis, Pasar Modern Tempo Doeloe; Rajanya Huttenbach, Sisa Bangunan Masih Ada Sekarang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini


Nama-nama jalan di Medan (Peta 1895)
Pada tahun 1875 di Medan sudah berdiri perusahaan perdagangan Huttenbach & Co. Perusahaan ini adalah perusahaan (organisasi) bisnis tertua di Sumatra’s Oostkust (Pantai Timur Sumatra). Bisnis perusahaan memusat di lokasi dimana kemudian disebut sebagai nama jalan Huttenbach (lihat Peta 1895). Bisnis Huttenbach semakin berkembang. Tahun 1910 Huttenbach mempelopori pembangunan ritel modern dengan nama Huttenbach Warenhuis. Inilah kali pertama pembangunan department store di Medan.

Jalan Huttenbach, 1915
Pada Januari tahun 1910 surat kabar Pewarta Deli di bawah editor Dja Endar Moeda kali pertama terbit. Surat kabar ini diterbitkan di bawah Sjarikat Tapanoeli yang didirikan oleh Dja Endar Moeda dan Sjech Ibrahim pada tahun 1905. Penerbitan surat kabar ini besar kemungkinan untuk mengantisipasi perkembangan bisnis di Medan yang semakin marak terutama dikaitkan dengan pembangunan dept. store Huttenbach. Pewarta Deli dijadikan sebagai sumber pencerdasan warga pribumi juga untuk media promosi dari pengusaha-pengusaha Tapanuli di Medan.

Sejak 1900, usaha-usaha perdagangan eceran hanya dikuasai oleh orang-orang Tionghoa, Jepang, Jerman dan Tapanuli. Namun dalam perkembangannya, pengusaha Jerman muncul ke permukaan dan menjadin leader untuk bisnis ritel yang mengambil segmen pasar orang-orang ETI (Eropa/Belanda). Sebaliknya, pengusaha-pengusaha asal Tapanuli (yang umumnya dari Mandailing dan Angkola) memfokuskan pada segmen pembeli orang-orang pribumi di Medan.

Perdagangan Eceran Bermula di Laboehan

Sebelum dimulai perkebunan di area Medan, perdagangan eceran sudah berkembang di Laboehan. Perdagangan eceran ini dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang datang dari pantai-pantai Timur Sumatra atau Penang. Mereka ini juga melakukan perdagangan keliling ke berbagai tempat di Deli. Saat itu daerah aliran sungai (DAS) Deli dibawah pengaruh Atjeh dan Batak.

Sabtu, November 12, 2016

Sejarah Kota Medan (45): Nama-Nama Kampung Tempo Doeloe di Medan; Perkembangan Kota Dimulai dari Kampung Medan, Meluas ke Kampung Kesawan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disin

.
Kota-kota yang ada pada masa ini di Indonesia umumnya berproses sejak dari sebuah kampong kecil hingga menjadi kota metropolitan, Proses pertumbuhan dan perkembangan kota ini dapat diperhatikan secara horizintol terjadi perluasan dan secara vertikal terbentuknya level pemerintahan. Hal ini juga yang terjadi dengan Kota Medan. Satu hal yang masih penting masa ini, meski kota-kota tersebut sudah menjadi metropolitan, tetapi nama-nama yang ada di dalamnya masih ditemukan nama-nama lampau. Nama-nama masa lampau ini tidak hanya menunjukkan adanya sejarah masa lampau tetapi juga kisah-kisah yang menyertainya.

Nama kampong tempo doeloe di Medan (1866)
Dalam pertumbuhan dan perkembangan Kota Medan sejak awal, orang-orang afdeeling Padang Sidempuan (sebelumnya bernama afdeeling Mandailing dan Angkola) turut di dalamnya. Ketika afdeeling Deli ditemukan dan dibentuk (1863) penduduk afdeeling Padang Sidempuan sudah mengecap pendidikan modern. Pada tahun 1862 di sudah ada sekolah guru dan pada tahun 1870, dari 10 sekolah negeri di Residentie Tapanoeli, delapan diantaranya berada di afdeeling Padang Sidempuan. Lulusan sekolah-sekolah ini banyak yang merantau ke Deli dan menjadi krani. Salah satu perantau generasi pertama adalah Mohamad Yacoub gelar Soetan Kinajan yang datang tahun 1875.  Setelah pulang haji, Mohamad Yacoub gelar Soetan Kinajan atau Sjech Ibrahim atau Sjech Ibrahim menjadi tokoh penting di kota Medan. Ketika Medan menjadi kota (kotamadya) tahun 1909, Sjech Ibrahim diangkat menjadi penghoeloe pusat kota Medan (Kesawan). Sjech Ibrahim adalah kepala kampong pertama (kamponghoofd) di kota Medan.     

Cikal Bakal Kota Medan Dimulai Kampong Medan Poetri

Kota Medan bemula dari suatu area di sisi kanan sungai Deli. Area tersebut adalah bagian (tanah ulayat) dari kampong Medan Poetri yang berada di sisi kiri sungai Deli. Pada area yang kosong yang sebagian masih tertutup oleh hutan itu Deli Mij membuka kebun tembakau dalam skala besar. Nienhuys awalnya membuka kebun di Laboehan tahun 1865. Pembukaan kebun baru Deli Mij (Kongsi Nienhus dkk) di sekitar pertemuan sungai Babura dan sungai Deli ini terjadi pada tahun 1669. Kantor Deli Mij dan berbagai bangunan perusahaan (gudang, tempat pengeringan dan bedeng-bedeng untuk kuli) berada di sisi jalan poros antara Laboehan dan Deli Toea.

Jumat, November 11, 2016

Sejarah Kota Medan (44): Orang-Orang Jepang di Medan Sejak 1900; Mendapat ‘Teman Duduk’ Selama Pendudukan Jepang



Orang-orang Jepang di Medan sesungguhnya sudah ada sejak doeloe. Mereka ini jauh lebih awal datang ke Medan dibandingkan para serdadu Jepang yang datang kemudian (semasa pendudukan Jepang). Orang-orang Jepang generasi pertama ini bahkan telah menyebar ke berbagai kota di Sumatra Timur dan Tapanuli jauh sebelum masa pendudukan Jepang. Orang-orang Jepang generasi pertama ini datang dari Singapura (suatu pelabuhan yang sangat popular bagi pelaut-pelaut Jepang ketika berlayar ke Asia Tenggara).

De Sumatra post, 21-01-1903
Orang-orang Jepang yang awalnya stay di Singapura mulai tertarik menuju Sumatra Timur karena kota Medan sudah menjadi kota penting tempat dimana banyak orang Eropa.Belanda berbisnis (perkebunan). Arus orang-orang Jepang ini semakin massif sejak 1900. Mereka terbagi dalam dua grup: perdagangan (bisnis) dan pelayan (service) baik di café maupun hotel yang begitu banyak di Medan. Dalam hal berbisnis, orang-orang Jepang kalah gesit jika dibandingkan dengan orang-orang Tionghoa yang sudah sejak lama ada dan telah membangun jaringan bisnis yang kuat antara Singapura/Penang dan Medan.

Orang Jepang Semakin Banyak di Medan

Orang-orang Jepang datang ke Medan mengikuti orang-orang Tionghoa. Kedua bangsa dari timur Asia ini menganggap Singapura adalah pelabuhan transit terpenting di Asia Tenggara, khususnya yang menuju ke Sumatra Timur. Kala itu, daya tarik Sumatra Timur khususnya kota Medan bahkan telah melampaui daya tarik Singapura sendiri.

Jumat, November 04, 2016

Sejarah Kota Medan (43): Nama Jalan di Kota Medan; Nama Belanda dan Tionghoa Dihilangkan dan Kini Diperebutkan


*Sejarah Kota Medan artikel 1-56 Klik di Sini. (Artikel 57 selanjutnya Klik di Sana)
.
Tidak ada lagi nama jalan di era Belanda yang masih eksis hingga ini hari di Kota Medan. Semua telah berganti. Nama-nama Belanda telah diganti, nama-nama Tionghoa juga telah digeser bahkan nama-nama yang terkait kesultanan juga telah diubah. Yang ada sekarang umumnya nama-nama pahlawan. Pahlawan lokal diantaranya Abdullah Lubis (editor Pewarta Deli, anggota dewan kota Medan, salah satu pribumi pertama ke Jepang), Madong Lubis (guru, anggota dewan kota, senior ahli bahasa), Muhamad Nawi Harahap (dewan kota Medan, ketua front nasional di Sibolga pada masa agresi militer Belanda), Arif Lubis editor revolusioner di Sibolga, editor Mimbar Umum di Medan) dan lainnya. Pahlawan nasional seperti Sisingamangaraja (pemimpin perang Batak), Zainul Arifin Pohan (komandan Hisbullah di Jawa), Adam Malik Batubara (menteri luar negeri RI, wakil presiden), Abdul Haris Nasution (KASAD RI, Jenderal Besar RI), Masdulhak Nasution (Residen pertama Sumatra Tengah, tokoh pertama RI yang ditangkap di Jogjakarta pada agresi Militer Belanda dan ditembak mati) dan lainnya.
Buka jalan baru di Medan, 1879
Kota Medan adalah sebuah kota metropolitan yang secara dejure pembangunannya dimulai ketika dibentuk onderfadeeling (kecamatan) Medan dengan menempatkan seorang controleur di kampong Medan pada tahun 1875. Sejak itu pembangunan di Medan tidak pernah berhenti hingga ini hari bagaikan deret ukur yang menjadikan kampong Medan terus tumbuh dan berkembang yang kini menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia. Kota Medan di awal pembangunannya sudah menjadi kota melting pot, para contributor orang-orang Eropa/Belanda, Tionghoa, Kling, keluarga kesultanan dan orang-orang Padang Sidempuan. Diantara ras/etnik di Kota Medan, hanya orang-orang Padang Sidempuan (sudah bermigrasi sejak 1883) yang tergolong berpendidikan dan bergelut di bidang pendidikan (guru), kesehatan (dokter), media (jurnalis), justitie (jaksa dan mantra polisi), dakwah (ulama) dan tentu saja di bidang niaga (pengusaha) dan bisnis (krani). Namun anehnya, hingga tahun 1928 tak satu pun nama-nama yang terkait dengan Padang Sidempuan yang ditabalkan sebagai nama jalan di Kota Medan. Nama-nama yang ditabalkan adalah nama-nama yang terkait dengan Eropa/Belanda, Tionghoa, Kling dan kesultanan. Di luar itu ada beberapa nama yang terkait dengan Pulau Jawa (gunung Sindoro, gunung Salak) dan nama-nama daerah (Bangka, Madura, Seram, Ambon dan lainnya). Tanpa mengurangi rasa hormat, nama Kartini ditabalkan sebagai nama jalan tetapi tidak ada nama Willem Iskander (guru, pribumi pertama studi ke Belanda, 1857). Nama gunung Lubuk Raya dan gunung Sorik Marapi di afdeeling Padang Sidempuan tidak kalah penting (sumber produksi kopi terbaik di pasar dunia) dari nama gunung yang lain. Nama daerah Sipirok, tidak hanya sumber kopi terbaik juga simbol adanya toleransi beragama yang dijadikan para misionaris sebagai tempat/kantor pengembangan misi di Bataklanden. Di afdeeling Padang Sidempuan, banyak yang layak, tapi tidak satu pun yang ditabalkan sebagai nama jalan di Medan. Singkat kata: ada diskriminasi.

Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah ko
Baru setelah kemerdakaan, khusunya pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, nama-nama yang terkait dengan afdeeling Padang Sidempuan ditabalkan sebagai nama jalan di Medan, seperti gunung Lubuk Raya, gunung Sorik Marapi dan Willem Iskander. Ironisnya, pada masa kini, di Medan seakan terjadi perebutan nama jalan. Banyak nama jalan, baik yang lama maupun yang baru yang kapabilitasnya tidak lebih baik jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Sjech Ibrahim, Dr. Djabangoen, Radja Goenoeng, Parada Harahap, Dr. Gindo Siregar, Sutan Parlindoengan, Abdul Abbas, SM Amin Nasution dan sebagainya. Bagaimana itu semua terjadi mari kita lacak!

Era Awal Kota Medan: Nama Jalan Sesuai Situs Setempat

Secara teknis lanskap Kota Medan mulai dibangun tahun 1881. Ini terkait pindahnya ibukota afdeeling Deli dari Laboehan (di onderafd. Laboehan) ke Medan (onderafd. Medan) tahun 1879. Pindahnya ibukota, berarti Kantor Asisten Residen Deli juga pindah dari Laboehan ke Medan. Pada tahun 1881 Esplanade (kini Lapangan Merdeka) dibangun sebagai alun-alun kota. Dari alun-alun kota inilah Kota Medan berkembang ke segala arah. Dari alun-alun kota ini pula arah sejumlah jalan yang baru diproyeksikan.

Kamis, November 03, 2016

Sejarah Demonstrasi di Indonesia: Kebebasan Pers Awal Mula Berdemokrasi; Demonstrasi Kali Pertama Dilakukan Tahun 1952



Tiga tokoh demonstran: Nasution, Lubis dan Siregar
Di era penjajahan kolonial Belanda tidak pernah ditemukan demonstrasi, yang ada adalah perang. Demonstrasi bukanlah perang yang ingin menghancurkan satu dengan yang lainnya. Di era penjajahan colonial Belanda domonstrasi dianggap penguasa sebagai perang. Di masa damai di era kemerdekaan Republik Indonesia adalah wajar (meski belum diundangkan). Demonstrasi adalah intrumen alternatif di masa damai untuk memberikan koreksi bagi yang satu terhadap yang lainnya. Demonstrasi selalu dikaitkan dengan pengerahan massa, mengambil tempat di ruang terbuka (halaman, jalanan atau lapangan) untuk menyampaikan pendapat atau tuntutan.  Demonstrasi memiliki garis ‘demarkasi’ yang jelas. Melewati garis dapat berpotensi untuk memicu kekacauan dan bahkan timbulnya ‘perang’. Demonstrasi adalah instrumen koreksi dalam bernegara..

Kebebasan Pers 1951

Munculnya demonstrasi selalu dimulai dari adanya masalah, suatu perbedaan penafsiran apa/bagaimana yang yang terjadi dengan apa/bagaimana yang seharusnya (normative). Demonstrasi dilakukan jika protes (tertulis atau lisan) yang mendahuluinya tidak memenuhi harapan. Demonstrasi yang baik adalah menyuarakan pendapat/tuntutan rakyat banyak (bukan segilintir orang yang mengerahkan massa). Demonstrasi yang bernuansa massa dengan arti demonstrasi itu sendiri.

Gejala serupa inilah yang menimbulkan adanya demonstrasi pada tahun 1952, suatu demonstrasi yang kali pertama ada di Indonesia. Situasi saat itu, situasi dan kondisi sosial-ekonomi sangat buruk (ketersediaan pangan kurang) tetapi pemerintah (baca: penguasa) tidak sejalan dengan harapan rakyat banyak. Saat itu yang menjadi presiden adalah Sukarno. Saat itu roda pemerintahan baru mulai berjalan setelah perang. Pasca perang dengan adanya pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda tahun 1949, situasi dan kondisi tidak mengalami perbaikan yang signifikan di bidang ekonomi (pangan), politik (munculnya disintegrasi) dan tatacara bernegara yang dipandang sebagian pihak tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku.

Para jurnalis melihat situasi dan kondisi mangalami krisis dan semakin kritis. Mochtar Lubis menyindir Sukarno lewat tulisan di surat kabar Indonesia Raya. Maksud Mochtar Lubis untuk menjaga tidak terulang pada masa pendudukan Jepang dimana rakyat banyak cukup menderita dan bahkan tidak sedikit mati sia-sia untuk kepentingan penguasa (baca: pemerintah militer Jepang). Tulisan Mochtar Lubis tampaknya telah menyinggung perasaan Sukarno. Pemerintah mulai melakukan tindakan represif.

Selasa, November 01, 2016

Abdul Abbas dan Gele Harun: Pemimpin Republik yang Tetap Setia Terhadap Penduduk Lampung




Residen Lampung pertama: Abdul Abbas dan Gele Harun
Mr. Abdul Abbas adalah residen pertama Lampung. Mr. Abdul Abbas dikudeta di Lampung ketika masih menjabat sebagai Residen. Mr. Abdul Abbas lalu digantikan oleh Badril Munir. Namun dalam perkembangannya, tokoh-tokoh Lampung mengoreksinya dengan mengangkat Gele Harun sebagai residen baru menggantikan residen yang lama Rukadi Wiryoharjo.

Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gele Harun adalah dua ahli hukum, pemimpin republik yang selalu setia terhadap penduduk Lampung. Meski mereka berdua bukan asli Lampung, tetapi kepedulian mereka terhadap penduduk Lampung tidak ada yang menandinginya sekalipun tokoh asli Lampung sendiri. Oleh karenanya penduduk Lampung seharusnya mengapresiasi kedua tokoh ini. Jika keduanya bukan ‘wong kito’ Lampung, lantas siapa kedua ahli hukum ini? Mari kita lacak!.

Mr. Abdul Abbas, Anggota PPKI

Tidak ada orang Lampung yang menjadi anggota BPUPKI, tetapi ada orang Tapanuli yang menjadi anggota PPKI. Mr. Abdul Abbas adalah anggota PPKI yang menyampaikan berita kemerdekaan RI yang kemudian diangkat menjadi Residen Lampung. Orang Lampung sendiri tidak terlalu mengenal siapa Abdul Abbas dan darimana asalnya, orang Lampung sendiri hanya mengenal Abdul Abbas pernah sebagai Ketua Shu Sangi Kai Lampung di jaman penduduk Jepang.

Setelah lulus kuliah rechtshoogeschool (sekolah tinggi hukum), Abdul Abbas tidak pulang kampong tetapi lebih memilih berprofesi sebagai  pengacara dan berkiprah di Tandjoeng Karang (Lampong)

Mr. Gele Harun, Anak Dr. Harun Al Rasjid

Pada tahun 1938, Gele Harun baru pulang studi sekolah hukum di Leiden. Gele Harun membuka kantor pengacara di Tanjung Karang. Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gelen Harun adalah dua pengacara pemberani di Lampung di era colonial Belanda.

Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gele Harun, Dua Tokoh Republik yang Berjuang Mempertahankan Kemerdekaan

Abdul Abbas dan Gele Harun adalah asal Padang Sidempuan. Abdul Abbas lahir di Medan tahun 1906 dan Gele Harun lahir di Sibolga tahun 1910. Ayah Abdul Abbas, kelahiran Sipirok bernama Mangaradja Siregar yang memulai karir sebagai djaksa di Sibolga lalu dipindahkan ke Medan. Sedangkan ayah Gele Harun, kelahiran Padang Sidempuan, lulusan docter djawa school  (1903) yang memulai karir di Padang, kemudian di Sibolga lalu pindah ke Lampung.