Jumat, Oktober 14, 2016

Simpang Siur Sumpah Pemuda, Ini Faktanya (2): Parada Harahap, Mentor Politik Sukarno, Hatta dan Amir; Bersama Memperjuangkan Kemerdekaan (1928-1945)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sumpah Pemuda dalam blog ini Klik Disin

Pejuang Revolusioner: Adik dan Abang
Parada Harahap dan Sukarno adalah dua sosok pemuda revolusioner di jamannya. Keduanya secara demografis tidak terlalu beda usia (Parada Harahap lahir di Padang Sidempuan tahun 1899 dan Sukarno lahir si Surabaya tahun 1901), tetapi secara politis Parada Harahap lebih senior dan lebih berpengalaman. Parada Harahap bermain politik pada usia 16 tahun pada tahun 1917 di Medan, sedangkan Sukarno pada usia 25 tahun (setelah sarjana) pada tahun 1926 di Bandung. Pada saat Sukarno mulai tekun menulis dan mengirimkannya ke surat kabar tahun (1926), Parada Harahap sudah memiliki percetakan dan surat kabar bertiras paling tinggi di Batavia. Oleh karena itu, secara sosial-politik antara Parada Harahap dan Sukarno dapat dibedakan sebagai dua generasi yang berbeda.

Parada Harahap dan Sukarno

Parada Harahap telah menggagas dibentuknya PPPKI (di rumah Husein Djajadiningrat lalu diangkat sebagai sekretaris; ketua diangkat MH Tamrin).  Pada Konferensi PPPKI di Bandung diputuskan diadakan Kongres PPPKI di Batavia tanggal 28 Oktober 1928 yang mana ketua panitia kongres adalah Dr. Soetomo.

Dalam Kongres PPPKI, beberapa orang berbicara termasuk Sukarno. Kesimpulan pidato Sukarno dalam kongres ini adalah Satu nusa, Satu bendera dan Satu bangsa (Een land. Een vlag, Een volk). Ini berbeda dengan rumusan dari Putusan Kongres dari Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yaitu: Satu nusa, Satu bangsa dan Satu bahasa.

Dalam pembentukan PPPKI tidak termasuk PNI. Yang hadir dalam pembentukan PPPKI ini adalah Budi Utomo, Pasundan, Kaoern Betawi, Sumatranenbond, Persatoean Minahasa, Sarekat Amboncher dan NIB. Parada Harahap mewakili Sumatranen Bond.

Kamis, Oktober 06, 2016

Simpang Siur Sumpah Pemuda, Ini Faktanya (1): Asal Usul Kongres Pemuda 1928; Peran Sentral Parada Harahap

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sumpah Pemuda dalam blog ini Klik Disin

Putusan Kongres, Kongres Pemuda 1928
Sumpah Pemuda dipersoalkan! Sumpah Pemuda direkayasa oleh Presiden Sukarno. Putusan Kongres (1928) menjadi Sumpah Pemuda dianggap pembelokan sejarah dan menciptakan pembohongan kepada publik khususnya generasi muda penerus bangsa. Itulah hasil analisis dan pendapat ahli sejarah. Kenyataannya tidak demikian. Faktanya: Kongres Pemuda 1928 menghasilkan Putusan Kongres, dan pada tahun 1953 diadakan lagi Kongres Pemuda, yang mana kongres ini membuat keputusan baru, yakni memperbarui kesetiaan pemuda kepada bangsa dan tanah air. Dalam pertemuan (kongres) tersebut, diputuskan (esoknya tanggal 28 Oktober 1953) untuk mengikrarkan Hari Sumpah Pemuda, yang mana sumpah setia pemuda merujuk pada keputusan yang diambil pada Kongres Pemuda di Jakarta pada 28 Oktober 1928. Dari sinilah (judul) teks Putusan Kongres diperbaiki (diganti) menjadi (judul) teks Sumpah Pemuda seperti yang dibacakan sekarag ini.

Sumpah Pemuda, Kongres Pemuda 1953
Putusan Kongres dan Sumpah Pemuda adalah hasil dari dua kongres pemuda yang berbeda, berbeda waktu dan berbeda semangat serta tentu saja berbeda isi putusan (Putusan Kongres vs Sumpah Pemuda). Meski begitu, kedua hasil kongres tetap berkaitan dan materinya sama: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Oleh karena itu tidak ada pembelokan sejarah, tidak ada pembohongan publik. Yang juga penting diperhatikan bahwa tidak ada peran Sukarno di dalam dua kongres tersebut. Dengan demikian tidak ada rekayasa Sukarno, itu murni hasil keputusan pemuda. Meski begitu, ada satu tokoh utama di belakang kedua kongres tersebut. Sumpah setia pemuda (1953) yakni Sumpah Pemuda adalah produk kongres jaman yang telah berubah untuk merespon situasi dan kondisi saat itu (awal 1950an). Sejak sumpah kesetiaan pemuda itu peringatan hari sumpah pemuda dimulai (sejak 1953). Kronologis itulah yang ditafsirkan oleh beberapa ahli sejarah sebagai pembohongan publik, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Di era IT ini semua informasi transparan, kronologisnya berubah secara alamiah dan informasinya juga masih dapat ditelusuri. Untuk lebih jelasnya, silahkan ikuti hasil pelacakan dan pembuktiannya!

Asal Usul Kongres Pemuda 1928

Kongres Pemuda jelas tidak berdiri sendiri. Kongres Pemuda hanya sebuah titik dalam garis continuum terbentuknya bangsa Indonesia. Kongres Pemuda adalah salah satu satu level dari kongres-kongres yang lainnya. Pemuda merujuk kepada senior dan senior memayungi para junior (pemuda). Para pemuda pada etafe berikutnya akan menggantikan peran para senior. Terbentuknya organisasi pemuda mengacu pada terbentuknya organisasi senior. Organisasi senior memancarkan ‘energi kebangkitan kebangsaan’ dalam terbentuknya organisasi junior (pemuda) yang menyelenggarakan Kongres Pemuda.

Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (3): PON III di Medan; Gubernur Abdul Hakim Harahap Berinisiatif Membangun Stadion Teladan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK) dalam blog ini Klik Disin


PORI (kini KONI) merekomendasikan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pasca pengakuan kedaulatan RI akan diadakan di Jakarta (1951) dan Medan (1953). Setelah PON III di Medan penyelenggaraannnya diadakan setiap empat tahun. Penunjukan Jakarta dan Medan dalam hal ini sangat special, karena Indonesia baru terbebas dari penjajahan. Ada tiga tokoh penting yang harus dihargai oleh Sukarno yakni tiga pemimpin Republik Indonesia, yakni Mr. Assaat (Presiden RI), Dr. Abdul Halim (Perdana Menteri RI) dan Mr. Abdul Hakim Harahap (Wakil Perdana Menteri RI).  

Republik Indonesia (merah)
Indonesia pernah jadi dua Negara. Dua presiden, dua Perdana Menteri dan dua Wakil Perdana Menteri. Suatu kekeliruan yang harus direhabilitasi. Ketika dibentuk RIS (Republik Indonesia Serikat) yang beribukota di Jakarta, Sukarno dan Hatta ‘mengingkari’ Republik Indonesia (beribukota Jogjakarta) dan lebih memilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden di Jakarta (RIS). Sementara di Jogjakarta, ibukota Republik Indonesia (RI) di pengungsian tidak mau bergabung dengan (RIS) dan tetap Republik Indonesia (sejati). Sementara Sukarno dan Hatta menjadi presiden dan wakil presiden RIS di Jakarta, di Jogjakarta tetap berdiri RI yang mana Presiden adalah Mr. Assaat, untuk jabatan Perdana Menteri adalah Dr. Abdul Halim dan jabatan Wakil Perdana Menteri adalah Mr. Abdul Hakim Harahap. Ketika Sukarno dan Hatta menyadari telah terjadi ‘pengingkaran’ kemudian berbalik arah lalu membubarkan RIS yang baru berusia seumur jagung. Sukarno dan Hatta ‘pulang kandang’ dan Sukarno dan Hatta kembali menjadi Presiden/Wakil Presiden Republik Indonesia (RI). Pemerintah RI di Jogjakarta lalu membubarkan diri. Ini berarti Mr. Assaat, Dr. Abdul Halim dan Mr. Abdul Hakim Harahap adalah pemimpin Republik Indonesia yang terakhir di Jogjakarta.  

Tiga pemimpin terakhir RI di Jogjakarta ini lalu diapresiasi oleh Presiden Sukarno dengan mengangkat Mr. Abdul Hakim Harahap sebagai Gubernur Sumatera Utara (pertama setelah pengakuan kedaulatan RI), Sementara Dr. Halim ditunjuk menjadi ketua komite (yayasan) pembangunan stadion nasional. Sedangkan Mr. Assaat yang telah berhasil mempelopori taman makam pahlawan dan masjid Suhada di Jogjakarta diberi tugas khusus untuk menjadi ketua komite (yayasan) pembangunan masjid nasional di Jakarta (yang kemudian diberi nama Masjid Istiqlal).

Rabu, Oktober 05, 2016

Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (2): PON II di Jakarta, Pembangunan Stadion IKADA Didahulukan, Stadion Besar Sukarno Ditunda

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK) dalam blog ini Klik Disin

Ketika di dalam pikiran Sukarno yang ada adalah ingin membangun stadion besar, Kementerian Pendidikan membutuhkan stadion untuk menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jakarta.  PON yang akan dilaksanakan di Jakarta 21-28 Oktober 1951 dianggap sebagai PON II. Kementerian Pendidikan dan Kementerian Penerangan tampaknya coba meralat ide Sukarno untuk membangun stadion besar. Keinginan Sukarno membangun stadion senilai sepuluh juta dianggap tidak berdasar (De nieuwsgier, 10-03-1951). Stadion besar yang diimpikan Sukarno seakan dipinggirkan.

  

Boleh jadi Presiden Sukarno tidak pernah mengetahui bahwa pernah dilangsungkan pekan olahraga di Solo tahun 1948 (9-12 September 1948). Sukarno terlalu sibuk dengan urusan yang lebih besar: kemerdekaan RI. Setelah serangan Maret 1948 (Sukarno menyerah dan ditangkap), lalu diasingkan akhir Desember 1948 ke Berastagi, kemudian ke Parapat (sejak 1 Januri 1949).

 

Persiapan Pembangunan Stadion IKADA

 

Penjelasan Kementerian Pendidikan tentang penyelenggaraan PON II (yang sifatnya mendesak) dan memerlukan stadion, menyebabkan Sukarno mengurungkan niatnya dan menyetujui rencana Kementerian Pendidikan untuk membangunan stadion paling banyak menelan biaya lima juta rupiah (separuh dari keinginan Sukarno). Sebagaimana dilaporkan De nieuwsgier edisi 10-03-1951, Kementerian Pendidikan senang dengan persetujuan Presiden tersebut (tapi kita tidak tahu apakah Sukarno sendiri senang).

Selasa, Oktober 04, 2016

Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (1): Idenya Muncul Saat Tim Olimpiade Indonesia vs Tim Cina Malaysia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK) dalam blog ini Klik Disin

Dari lapangan sepakbola mengilhami Sukarno untuk membangun stadion besar. Inilah awal Sukarno berhasrat bangun stadion besar, tidak hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk kegunaan publik yang lebih luas, dan tentu saja untuk ambisinya sendiri: membangun kebanggaan bangsa di mata dunia dan untuk panggungnya sendiri untuk berpidato. Karenanya, stadion adalah panggung yang diiinginkan oleh Sukarno dimanapun dia berada, di pelosok-pelosok negeri maupun di kota-kota besar di Eropa dan Asia. Sukarno sangat menikmati permainan sepakbola, Sukarno juga sangat menikmati jika berpidato di dalam stadion yang besar.

 

Sukarno juga menginginkan segalanya dibuat besar, monumental meski Negara sesungguhmya belum mampu menyediakannya. Masjid, stadion, hotel, pusat perbelanjaan, patung dan sebagainya dibuat sebagai simbol-simbol, bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, lebih besar dari bangsa-bangsa penjajah. Simbol-simbol itu juga menjadi pesan bagi negara sahabat bahwa bangsa Indonesia akan memimpin perjuangan kontra Negara-negara imperialis.

 

Ini bermula ketika Indonesia baru mulai menata negeri setelah perang kemerdekaan dan pengakuan kedaulatan RI. Pemerintah Indonesia melalui PORI akan mengirimkan tim sepakbola ke Asian Games pertama di India (yang akan di selenggarakan di New Delhi 4-11 Maret 1951. Untuk menguji kekuatan tim sepakbola Indonesia diadakan pertandingan persahabatan dengan mendatangkan tim sepakbola Cina Malaysia di Jakarta.

Selasa, September 27, 2016

Mr. Arifin Harahap (6): Tokoh Ekonomi Tapanuli Selatan; dari ‘Trio Lama’ (Sukarno, Hatta, Amir) hingga ‘Trio Baru’ (Suharto, Sultan, Adam)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Mr. Arifin Harahap dalam blog ini Klik Disini


Trio baru Indonesia
Drs. M. Hatta memang seorang ekonom (sarjana ekonomi) lulusan Belanda. Akan tetapi, pelaku-pelaku ekonomi pribumi di era Belanda sesungguhnya adalah orang-orang Tapanuli: Tidak hanya di Padang, Sibolga dan Medan tetapi juga di Batavia. Di daerah Tapanoeli dan di daerah Padangsche setiap penduduk bisa berdagang, tetapi di era Belanda pedagang skala besar (antar kota, antar pulau) sebagian besar berasal dari Tapanuli. Pedagang-pedagang besar asal Tapanuli juga sangat piawai memahami sistem ekonomi (perdagangan, keuangan dan sistem kelembagaannya). Karenanya, lembaga-lembaga ekonomi yang kuat di Padang, Sibolga, Medan dan Batavia selalu dipelopori oleh orang-orang Tapanuli.

Pedagang-Pedagang Asal Tapanuli di Padang dan Medan

Di Padang, selain Belanda, yang menguasai media adalah orang-orang Tionghoa dan orang-orang Tapanuli. Media (surat kabar dan majalah) adalah instrument utama dalam perdagangan. Perusahaan perdagangan (jasa) pertama di Padang dimiliki oleh Dja Endar Moeda. Mantan guru, alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1884) ini awalnya mendirikan sekolah swasta (pertama) di Padang, kemudian menjadi editor surat kabar Pertja Barat tahun 1897. Editor pribumi pertama ini lalu mengakuisisi surat kabar Pertja Barat beserta percetakannya pada tahun 1900 (dan menerbirkan majalah Insulinde dan surat kabar Tapian Na Oeli. Tiga media utama pribumi di pantai barat milik Dja Endar Moeda ini menjadi pusat pertukaran informasi perdagangan. Sejak itu pedagang-pedagang Tapanuli membanjiri Padang dan Sibolga. Dengan media pribumi ini, di Padang dan Sibolga pedagang-pedagang asal Tapanuli tidak tengah berhadapan dengan padagang-pedagang asal Minangkabau, tetapi berhadapan dengan pedagang-pedagang Tionghoa yang telah memiliki media sendiri.

Sumatra-courant, 08-04-1874
Bahkan sebelum adanya media (surat kabar Pertja Barat) berbahasa Melayu di Padang, para pedagang Tapanuli di Padang Sidempoean memasang iklan (awal 1870an) di surat kabar berbahasa Belanda Sumatra Courant yang terbit di Padang. Uniknya iklan-iklan yang di pasang para pedagang asal Tapanuli ini dibuat dalam bahasa Melayu. Tentu saja iklan itu ditujukan untuk para pedagang pribumi atau para pedagang Tionghoa. Pemasang iklan yang dimaksud tersebut berdomisili di Padang Sidempuan. Paket-paket yang diperdagangkan sangat beragam, seperti hasil peternakan (sapi, kerbau, kuda, dan kambing), hasil hutan (kulit manis, rotan), hasil budidaya pertanian seperti beras, kopi, gula aren serta hasil industry kerajinan.

Ketika Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust tahun 1905, pedagang-pedagang asal Tapanuli di Padang sebagian mulai hijrah ke Medan. Di Medan, pedagang-pedagang asal Tapanuli menghadapi pedagang-pedagang kuat Tionghoa. Para pedagang Tionghoa memasang iklan dan mendapat informasi perdagangan dari dua surat kabar di Medan: Sumatra Post (berbahasa Belanda) dan Pertja Timor (berbahasa Melayu). Kekuatan pedagang-pedagang Tionghoa di Medan sangat sulit diimbangi oleh pedagang-pedagang asal Tapanuli.

Minggu, September 25, 2016

Mr. Arifin Harahap (5): Menjadi Duta Besar untuk Alzajair; Sukarno dan Arifin Harahap Diteruskan Suharto dan Adam Malik

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Mr. Arifin Harahap dalam blog ini Klik Disini


Hanya ada dua presiden di Indonesia yang begitu lama menjabat: Sukarno dan Suharto. Hanya ada dua orang yang begitu lama berada di rezim Sukarno dan rezim Suharto: Arifin Harahap dan Adam Malik Batubara. Arifin Harahap dapat dipercaya oleh Sukarno maupun Suharto; demikian juga Adam Malik dapat dipercaya Sukarno dan Suharto.

Adam Malik Batubara Menjadi Menteri Perdagangan

Pada Kabinet Kerja IV (sejak 13 November 1963) yang masih tetap di bawah Perdana Menteri Sukarno, posisi Mr. Arifin Harahap tetap sebagai Menteri Urusan Anggaran Negara. Untuk posisi Menteri Perdagangan dijabat oleh Adam Malik Batubara. Sementara Abdul Haris Nasution naik dari Menteri Pertahanan/Kepala Staf AD menjadi Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan. Ini berarti untuk kali pertama tiga putra-putra terbaik dari Tapanuli Selatan duduk bersama dalam jajaran menteri. Kabinet Kerja IV berakhir 27 Agustus 1964)

Kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964), Adam Malik Batubara naik menjadi Menteri Koordinator Pelaksanaan Ekonomi Terpimpin. Mr. Arifin Harahap digeser menjadi Menteri Negara. Jabatan Menteri Koordinator/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal tetap dijabat oleh Abdul Haris Nasution.