*Untuk melihat semua artikel Sejarah Budaya dalam blog ini Klik Disini
Katakan dengan bunga. Ini merujuk pada buku
berjudul Le Langage des Fleurs oleh Charlotte de Latour (lihat edisi 1820, 1827, 1862
dan 1870); Le langage des fleurs ... oleh Louis-Aimé Martin. 1830; Nouveau
langage des fleurs, ou Parterre de flore, 1832 dan 1860. Ini mengindikasikan
simbolik (bahasa) bunga di Eropa menjadi bagian dari budaya. Namun, jauh di
timur di Angkola di pulau Sumatra sudah dikenal sejak lama simbolik (bahasa)
daun.
"Bahasa bunga" atau floriografi adalah praktik memberikan makna simbolis pada bunga untuk menyampaikan pesan atau perasaan tanpa kata-kata. Bunga telah lama digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengekspresikan berbagai emosi, mulai dari cinta dan kasih sayang hingga duka cita dan persahabatan. Berikut beberapa contoh bahasa bunga yang umum: Mawar: Simbol cinta, keindahan, dan gairah. Tulip: Melambangkan cinta yang sempurna, kesempurnaan, dan keanggunan. Anggrek: Melambangkan keindahan, kemurnian, keanggunan, dan kekuatan. Lily: Melambangkan kepolosan, kemurnian, dan keindahan yang abadi. Bunga Matahari: Melambangkan kebahagiaan, keceriaan, dan energi positif. Melati: Melambangkan kecantikan, kesuburan, dan kemurnian. Anyelir: Simbol cinta, kasih sayang, dan kekaguman. Bunga Daisy: Melambangkan kebahagiaan, cinta yang tulus, dan kesederhanaan. Tradisi bahasa bunga ini, yang dikenal sebagai floriografi, populer di berbagai budaya, termasuk budaya Eropa, Asia, dan Afrika. Di Jepang, bahasa bunga dikenal sebagai Hanakotoba (AI Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah bahasa daun di Angkola, bahasa bunga di Eropa? Seperti disebut di atas, bahasa bunga di Eropa, bahasa daun di Angkola. Orang Eropa pertama yang melaporkan keberadaan bahasa daun adalah Charles Adrian van Ophuijsen, guru di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean. Lalu bagaimana sejarah bahasa daun di Angkola, bahasa bunga di Eropa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.






