Rabu, Desember 30, 2015

Sejarah Kota Medan (10): Tjong A Fie alias Tsiong Tsiok Fie, Pemilik Banyak Nama dan Kerajaan Bisnisnya Dibangun dari Hasil Perdagangan Opium

Baca juga:

Sejarah Kota Medan (41): Pemilu di Era Belanda; Radja Goenoeng, Pribumi Pertama Anggota Dewan Kota Medan
Sejarah Kota Medan (32): Hari Jadi Kota Medan, Suatu Interpretasi yang Keliru; Untuk Pelurusan Sejarah, Ini Faktanya!


Para komandan koeli Tjina di Deli, 1870
Tjong A Fie adalah salah satu orang kaya yang menerima peruntungan di Deli. Jika Janssen menjadi kaya raya, karena Nienhuys datang ke Deli karena keberuntungan. Setali tiga uang, Tjong A Fie menjadi kaya raya karena Tjong Yong Hian. Pada masa ini orang hanya mengetahui Tjong A Fie seorang dermawan, seperti halnya Janssen. Akan tetapi tidak pernah dijelaskan sisi lain dari kehidupan Tjong A Fie yang sebenarnya. Bagaimana Tjong A Fie menjadi seorang dermawan adalah satu hal, tetapi bagaimana Tjong A Fie menjadi kaya raya adalah hal lain. Untuk mendapatkan gambaran seutuhnya, artikel ini coba menelusuri dua sisi kehidupan Tjong A Fie sekaligus.
***
Pada bulan Februari 1863 di Deli sudah terdapat sekitar dua puluh orang Tionghoa (catatan Residen Riou, Netscher). Mereka ini berbaur dengan berbagai penduduk yang bermukin di Laboehan Deli: Melayu, Atjeh, India berdarah campuran dan Batak. Orang-orang Tionghoa ini tidak diketahui darimana datangnya: Apakah sisa penduduk Cina era tempo doeloe (Boeloe Tjina) atau pendatang baru yang merantau dari Penang atau pesisir pantai timur Sumatra (Riaou). Yang jelas mereka hidupnya berdagang.

Pada bulan Maret 1863 Nienhuys tiba di Laboehan Deli untuk tujuan membuka perkebunan tembakau. Disepakati dalam suatu perjanjian: Sultan Deli menyediakan lahan dan Nienhuys akan bebas sewa sepuluh tahun pertama dan 10 tahun berikutnya dengan sewa f200 pertahun. Disamping itu disepakati: Sultan mengumpulkan lada (ekspor) dari penduduk Batak dan Nienhuys mendatanngkan barang (impor) dari luar. Untuk urusan distribusi opium dan garam menjadi monopoli Sultan.

Untuk menyediakan tenaga kerja, Nienhuys, satu-satunya orang Eropa di Deli bersama temannya seorang kepala suku Batak berkeliling di Deli untuk mencari orang Batak dan orang Melayu yang bersedia bekerja di kebun tembakau. Beberapa tenaga kerja yang didapat oleh Nienhuys hasil pekerjaannya tidak memuaskan: cenderung bermalas-malasan, ceroboh dan kurang hati-hati soal pekerjaan yang memerlukan penuh perhatian. Kepala suku Batak angkat tangan terhadap keluhan Nienhuys.

Nienhuys berinisiatif pergi ke Penang untuk mencari tenaga kerja. Ditemukan selusin pekerja yang berasal dari Jawa. Namun sang pimpinan tenaga kerja, malah lebih konsentrasi menjadi guru agama buat orang-orang Melayu daripada mengawasi anggotanya yang bekerja di kebun. Nienhuys kembali lagi ke Penang mencari tenaga kerja dan berhasil membawa sebanyak 120 orang kuli Cina. Sangat memuaskan Nienhuys dan sesuai yang diharapkan untuk bekerja di perkebunannya.

Senin, Desember 28, 2015

Sejarah Kota Medan (9): Jacob Nienhuys, Datang ke Deli Setelah Mendengar Penduduk Batak Membudidayakan Tembakau



Budidaya lada di Kampong Batak di Deli (1878)
Sejarah Tanah Deli sebagai pusat perkebunan tembakau dunia sudah diketahui secara luas. Jacob Nienhuys sebagai pionir dalam membuka perkebunan tembakau di Deli juga sudah diketahui umum. Namun ternyata, pemilik ide pembukaan perkebunan tembakau di Deli bukan Nienhuys. Pemilik ide tersebut adalah seorang Arab di Surabaya yang pertama mendengar bahwa di Boeloe Tjina (kini Hamparan Perak), penduduk Batak sudah sejak lama telah membudidayakan tembakau dan memperdagangkan produk tembakau. Mr. Arab lantas mengajak Nienhuys yang bekerja di sebuah perkebunan orang Jerman di Jawa Timur untuk mencari investor di Batavia sebelum melakukan perjalanan jauh ke Deli.  

Boeloe Tjina adalah tetangga Deli, dua lanskap yang dibatasi oleh sungai Deli. Lanskap Boeloe Tjina dulunya beribukota Sampei, suatu pelabuhan disisi kanan sungai Boeloe Tjina. Nama Boeloe Tjina adalah nama baru Sampei. Dalam buku Negarakertagama disebutkan tiga pelabuhan besar yang ditaklukkan oleh kekuatan maritim Majapahit dibawah panglima Gajah Mada, yakni: Panai (muara sungai Baroemoen), Sampei (muara sungai Boeloe Tjina/Hamparan Perak) dan Haroe (muara sungai Wampu). Pelabuhan Sampei pada 1860 masih eksis yang dihuni oleh lima puluh rumah penduduk yang dikepalai oleh syah Bandar. Pelabuhan ini masih aktif untuk ekspor lada, gading, tembakau dan impor garam dan opium. Laboehan Deli adalah nama pelabuhan yang muncul kemudian dan telah menggantikan posisi penting Sampei (Boeloe Tjina).

Asal Usul Perkebunan Tembakau yang Sebenarnya di Deli

Jacob Nienhuys, anak seorang broker tembakau di Amsterdam mulai belajar tembakau diperkebunan milik Willem III di dekat Rhenen (Jerman). Dengan pengetahuan budidaya tembakau, kemudian atas ajakan seorang Jerman, Nienhuys berlayar ke Nederlandsch Indie, 1860. Nienhuys, pemuda umur 23 tahun mulai bekerja pada sebuah perkebunan tembakau di Rembang dan Probolinggo, suatu perkebunan milik pemerintah yang menjalin kerja sama dengan perusahaan rokok Nicot (Ngladjoe).

Kamis, Desember 17, 2015

Sejarah Kota Medan (8): Labuhan Deli, Kota Baru, Kota Medan, Dua Kali Muncul Sebagai Pusat Peradaban



Ekspedisi ke Bataklanden (1866): Dari Laboehan Deli via Medan

Labuhan Deli (Melayu) vis-à-vis Kota Medan (Batak)

Sesungguhnya antara Batak dan Melayu di Deli sejak doeloe sudah bersaudara. Meski datang dari arah dan asal-usul yang berbeda, tetapi Batak dan Melayu di Deli sama-sama menghadapi musuh yang sama: kelesuan ekonomi. Penduduk Batak di belakang garis pantai aktif dalam produksi lada hitam. Penduduk Melayu di pantai aktif dalam perdagangan komoditi. Kedua belah pihak bersifat mutualistik, peran masing-masing bersifat komplemen (saling memperkuat).

Penyebaran penduduk Melayu sudah masuk jauh ke pedalaman (sepanjang DAS Deli) dan sebaliknya penduduk Batak sudah menempel ke bibir pantai (DAS Boeloe Tjina). Perang Langkat yang terjadi tahun 1823 menyebabkan dominasi Batak di pantai (Boeloe Tjina) menghilang lalu digantikan penduduk Melayu, sebaliknya dominasi Melayu di pedalaman (Deli Toea) menghilang lalu digantikan penduduk Batak. Perang antara Batak dan Melayu ini dengan sendirinya telah menjadi koreksi bagi kedua pihak untuk kembali ke posisi alamiah (keseimbangan awal): perdagangan era komoditi kuno (kemenyan, kamper dan benzoin).

Bagaimana itu terjadi? Mari kita lacak!

Labuhan Deli adalah kota baru di pantai timur Sumatra (dari sudut pandang masa doeloe). Sebuah kota pelabuhan (bandar) yang menjadi simpul (market) produk-produk alami dari Tanah Batak (Bataklanden) utamanya lada yang dipertukarkan (economic exchange) dengan produk-produk manca negara yang dibutuhkan penduduk Tanah Batak utamanya garam, batang besi dan kain. Hampir semua produk yang diperdagangkan di Laboehan Deli berasal dari penduduk Batak. Selain penduduk Tanah Batak menjadi makmur, penduduk Laboehan Deli juga turut menjadi makmur hanya dari jasa-jasa pelabuhan (ibarat Singapura pada masa kini). Sebaliknya penduduk Labuhan Deli akan sangat menderita (kelesuan ekonomi) jika penduduk Batak tidak mengusahakan produksi lada hitam.

Laboehan Deli (1863)
Bandar (pelabuhan laut atau pelabuhan sungai) adalah simpul ekonomi antara lautan dan daratan. Tidak akan muncul bandar jika tidak ada economic exchange. Dari pedalaman penduduk membawa komoditi untuk dipertukarkan dengan barang-barang dari seberang lautan, sebaliknya dari seberang lautan saudagar membawa komoditi untuk dipertukarkan dengan penduduk pedalaman. Penduduk Batak sudah ratusan atau ribuan tahun hidup di pedalaman, sementara penduduk yang menempati bandar(-bandar) telah beberapa kali berganti orang. Yang tidak berubah: penduduk Batak tetap memerlukan pembeli siapapun (rezim) yang menduduki bandar.

Deskripsi Laboehan Deli, sebagai bandar (pelabuhan komoditi) tampaknya telah terabaikan dalam literatur masa kini (sengaja atau tidak sengaja). Artikel ini akan mengungkapkan fakta-fakta yang dikesampingkan dan juga menguraikan fakta-fakta baru. Fakta-fakta baru ini didasarkan pada laporan Residen Riaow (1861-186?), E. Netscher yang pernah berkunjung ke Deli awal tahun 1863. Kemudian didukung laporan Baron de Raet van Cats (controleur Deli yang pertama) yang pernah berkunjung ke Bataklanden akhir tahun 1866. Controleur Deli yang kedua, C. de Haan (bersama fotografer Denmark) yang pernah melakukan eskpedisi ke Bataklanden pada akhir tahun 1870 (sebelum de Haan, ekspedisi ke Bataklanden dilakukan oleh Nienhuys tahun 1868).

Fakta-fakta baru ini ditambah dengan laporan J.S.G. Gramberg (seorang investor), laporan Willer (asisten residen di Mandheling en Angkola, 1845-1847) dan buku Junghuhn (1847), peneliti yang dikirim ke Tapanoeli). Tentu saja fakta-fakta baru ini masih ada yang tercecer yang bisa dipungut dalam buku Marsden (1811) dan buku Anderson (1826).

Semua sumber-sumber tersebut akan disajikan dalam suatu sketsa (analisis sederhana) untuk memperkaya pemahaman kita tentang afdeeling (kebupaten) Deli di Residentie (provinsi) Sumatra’s Ooskust, yakni: penduduk Melayu di Laboehan Deli di onderafdeeling (kecamatan) Laboehan Deli dan penduduk Batak di Medan di onderfadeeling (kecamatan) Medan.

Kamis, Desember 03, 2015

Marah Halim Harahap, Mantan Gubernur Sumatra Utara, Wafat

*Untuk melihat semua artikel Sejarah TOKOH Tabagsel dalam blog ini Klik Disini

Turut berdukacita*: Kita telah kehilangan tokoh besar:Marah Halim Harahap


Marah Halim Harahap meninggal dunia dalam usia 94 tahun. Meninggal pada hari Kamis, 3 Desember 2015 pukul 06.00 WIB di rumah sakit Permata Bunda, Medan. Dimakamkan pada hari yang sama di Taman Makam Pahlawan, Medan.

*saya tidak pernah melupakan pertemuan dengan beliau tahun 1987, 'Saya akan mengenangmu Amangtua melalui tulisan'. Serial sejarah Marah Halim Cup baru 15 artikel, saya akan teruskan pada artikel ke-16 dan seterusnya. Artikel pertama adalah: Sejarah Marah Halim Cup (1): Sepakbola Indonesia Bermula di Medan

Akhir Matua Harahap

Kamis, November 26, 2015

Sejarah Kota Medan (7): Bulu Cina, Kota Lama, Kota China, Dua Kali Hilang Dari Peradaban



Peta Boeloe Tjina 1862
Nama Bulu Cina pada masa ini adalah nama sebuah desa di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara. Nama desa ini telah menerima waris dari sebuah nama lanskap (kecamatan/kabupaten) di masa doeloe yang disebut Onderafdeeling (kecamatan) Baloe Tjina. Lanskap (kecamatan) Baloe Tjina sendiri yang berada di Pantai Timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) berdasarkan peta 1862 berbatasan langsung dengan lanskap (kecamatan) Langkat di sebelah utara dan lanskap (kecamatan) Deli di sebelah selatan. Nama bandar (pelabuhan) terkenal di Boeloe Tjina di masa doeloe bernama Sampei yang berada di sisi sungai Boeloe Tjina. Bandar Sampei adalah salah satu dari tiga bandar terkenal (Panai, Haroe dan Sampei) yang ditaklukkan oleh Majapahit (sebagaimana disebut dalam buku Negarakertagama oleh Mpu Prapanca).Bagaimana nama pelabuhan kuno itu hilang dan bagaimana nama Boeloe Tjina dihilangkan menarik untuk dipelajari. Mari kita lacak!

De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-06-1873: ‘Kekaisaran Atjeh meliputi bagian utara pulau Sumatra.. di pantai timur dibatasi sungai Tamiang yang menjadi batas antara Atjeh dan dependensi dari bawahan kami, Sultan Siak… selatan sungai Tamiang di sepanjang pantai timur terletak lanskap Langkat dan Baloe Tjina, yang termasuk dependensi Siak…Sesuatu yang diketahui baik adalah gunung Batoe Gapit, gunung dekat perbatasan Baloe Tjina dengan ketinggian 6.155 kaki di atas laut dan, konon, orang Batak yang menghuni lingkungan itu, yang mampu memberikan begitu besar jumlah sulfur yang mereka gunakan untuk pembuatan mesiu… Saya telah membuat keterangan di peta Sumatra (bagian utara) ini terutama didasarkan pada laporan dari para pelancong Inggris..’

Peta Boeloe Tjina, 1870
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-04-1873: ‘Dari Singkel dilaporkan bahwa orang Atjeh dan orang Batak di pedalaman sudah agak lama tidak muncul, sehingga tidak ada perdagangan kamper yang menguntungkan. Ketidakhadiran mereka akan mendeklarasikan fakta bahwa mereka terlalu sibuk dengan persiapan mereka untuk perang (melawan Belanda). Para pedagang di Aceh berpendapat bahwa seluruh penduduk Tampat Tuan (Tapaktuan) dan penduduk di NW (noordwest) Baloe Tjina akan bergabung dengan Sultan Aceh (melawan Belanda)’.

Peta Boeloe Tjina 1880
Baloe Tjina atau Boeloe Tjina, sebagai sebuah nama sesungguhnya telah dua kali hilang dari peradaban. Pertama, peradaban di masa lampau sebelum era kolonial yang diduga kuat terdapat koloni Tjina yang boleh jadi menjadi munculnya nama Boeloe Tjina. Misteri kota Cina masa lampau ini tengah dipelajari oleh sejumlah kalangan. Kedua, peradaban di masa era kolonial yang mana Baloe Tjina atau Boeloe Tjina diberi nama sebagai suatu lanskap (wilayah administratif yang belum terukur secara akurat). Nama lanskap ini kemudian dihilangkan dan wilayahnya di satukan ke dalam lanskap Deli ketika fase perkebunan besar dimulai di Deli dan Langkat. Nama Boeloe Tjina bukan lagi nama onderafdeeling (kecamatan) tetapi menjadi nama plantation (onderneming). .

Jumat, November 13, 2015

Prof. Dr. Mr. Todung Harahap gelar Sutan Gunung Mulia, Kelahiran Padang Sidempuan: Menteri Pendidikan RI yang Kedua

*Untuk melihat semua artikel Sejarah TOKOH Tabagsel dalam blog ini Klik Disini


Prof. Dr. Mr. Todoeng Harahap
Todung Harahap gelar Sutan Gunung Mulia pernah menjadi Menteri Pendidikan RI (setelah Ki Hajar Dewantara). Sutan Gunung Mulia lahir di Padang Sidempuan 1896 dan meninggal tahun 1968. Sutan Gunung Mulia adalah orang Indonesia ketujuh bergelar doktor dan orang Indonesia kedua bergelar profesor. Sutan Gunung Mulia adalah pendiri dan rektor pertama Universitas Kristen Indonesia (UKI). Sutan Gunung Mulia adalah orang Indonesia pertama menulis Eksiklopedia Indonesia. Sutan Gunung Mulia adalah pendiri dan ketua pertama Dewan Gereja- Gereja di Indonesia. Sutan Gunung Mulia adalah sepupu dari Amir Sjarifoedin (mantan Perdana Menteri RI). Kronologisnya sejak 1911 disarikan di bawah ini.

***
Todung Harahap lahir di Padang Sidempuan tahun 1896. Memulai pendidikan dasar di Sekolah Eropa (Europeesche Lagere School=ELS) Padang Sidempuan tahun 1903. Namun ketika naik kelas dua, ELS Padang Sidempuan ditutup karena dipindahkan ke Sibolga. Todung Harahap mau tak mau ikut pindah sekolah ke Sibolga. Pada tahun 1910, Todung menyelesaikan pendidikan di ELS dan ayahnya Mangaradja Hamonangan seorang pengusaha perkebunan di Padang Sidempuan menyekolahkan Todung ke Negeri Belanda.

Di negeri Belanda sendiri, sudah ada dua anak Padang Sidempuan yang studi, yakni: Rajioen Harahap gelar Soetan Casajangan Soripada dan Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon. Sutan Casajangan tiba di Belanda tahun 1905 dan Mangaradja Soangkoepon tahun 1910. Sutan Casajangan pada tahun 1908 mendirikan dan presiden pertama Perhimpunan Hindia (Indisch Vereeniging) dan kembali ke tanah air tahun 1914 dan jabatan terakhir sebagai Direktur Normaal School di Meester Cornelis, Batavia. Mangaradja Soangkoepon kembali ke tanah air tahun 1917 dan memulai karir sebagai pejabat di Sumatra Timur dan jabatan terakhir anggota Volksraad tiga periode berturut-turut mewakili ‘dapil’ Sumatra Timur.

Setelah semua urusan selesai, Todung Harahap berangkat dari Batavia menuju Negeri Belanda tahun 1911. Dari Batavia menumpang kapal Prinses Juliana tanggal 2 November 1911 dengan nama tertulis di dalam manifest kapal sebagai Si Todoeng (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 27-11-1911). Setelah menyelesaikan sekolah hukum dengan gelar Meester (Mr) tahun 1919 Todoeng pulang ke tanah air..

Kamis, November 05, 2015

Pelopor Pendidikan dan Pendiri Organisasi Sosial di Indonesia: Suatu Refleksi dalam Pengembangan Pendidikan, Agribisnis dan Ekonomi Kreatif di Tapanuli Bagian Selatan [1]



Oleh Akhir Matua Harahap[2]

Pada masa ini Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) terdiri dari empat kabupaten dan satu kota, yakni: Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas dan Kota Padang Sidempuan.Lima wilayah ini meski kini berbeda secara administratif namum dari sudut pandang mana pun kelima wilayah ini memiliki karakteristik yang sama: bahasa, budaya, sosial, ekonomi dan sebagainya. Oleh karenanya kelima wilayah ini tetap terikat dalam satu kesatuan sosial dan ekonomi yang disebut Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

Tiga isu utama pada masa kini di Tapanuli Bagian Selatan, yakni pendidikan, agrisbisnis dan ekonomi tengah mengalami permasalahan yang akut: tingkat kualitas pendidikan (penerimaan siswa di PTN terbaik) sudah sangat menurun, gerak pembangunan sektor pertanian dan pengembangan bisnis pertaniannya mengalami perlambatan, dan juga produk-produk unggulan telah lama kalah bersaing, sementara produk yang dapat diandalkan masih belum teridentifikasi dengan baik.

Padahal di masa doeloe dua dari tiga tiga isu utama tersebut memiliki success story di Afdeeling Mandheling en Ankola (nama lain Tabagsel tempo doeloe) yang dibicarakan di tingkat nasional (Hindia Belanda), yakni: pendidikan dan agribisnis.