Minggu, Mei 09, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (5): Candi Padang Lawas, Terbesar di Sumatra; Kota-Kota Aru Berkembang Pesat, Saat Sriwijaya Memudar

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Keberadaan candi pada masa kini dapat dikatakan representasi suatu kota di zaman  kuno, Candi tidak hanya pusat reliji (persebahan) di dalam kota dan sekitar, juga menjadi tempat pemakaman orang-orang terhormat. Candi adalah struktur terbesar dan terkuat di dalam kota, seperti halnya masjid pada kota-kota masa kini. Seperti halnya di Jawa, di Padang Lawas (Tapnuli) sebaran candi-candi banyak. Ini mengindikasikan banyak kota-kota di Padang Lawas. Kota-kota ini adalah kota-kota pelabuhan.

Wilayah Padang Lawas yang sekarang terdiri banyak sungai. Sungai utama adalah sungai Barumun, yang berhulu di pegunungan Bukit Barisan dan beruara ke pantai timur  (pulau) Sumatra. Cabang-cabang sungai ini di wilayah hulu, yang terbilang besar antara lain sungai Batang Pane, sungai Sangkilon dan sungai Sirumambe. Di hilir sungai Barumun bermuara sungai Kanan dan sungai Bila. Sungai-sungai di wilayah hulu sungai Barumun zaman kuno dapat dilayari kapal-kapal seperti sungai Batang Pane hingga Gunung Tua. Garis pantai (laut) pada saai itu tidak sejauh yang sekarang. Sungai Barumun, sungai Kanan dan sungai Bila telah menyatukan pulau-pulau kecil dan teluk-teluk sempit sehubungan dengan terbentuknya daratan (proses sedimentasi jangka panjang). Proses sedimentasi jangka panjang di daerah aliran singai Barumun dapat diperhatikan pada peta satelit wujudnya berbelok-belok. Secara umum, bentuk pulau Sumatra lebih ramping (bentuk pulau Jawa) dan compang-camping (bentuk Sulawesi atau Halmahera) pada zaman dulu jika dibandingkan dengan sekarang. Pembengkakan pulau ini sangat signifikan di pantai timur pulau Sumatra mulau dari Gajo hingga Lampong. Kota Palembang dan Kota Jambi, zaman dulu berada di pantai (muara sungai Musi dan muara sungai Batang Hari.

Lantas bagaimana sejarah percandian Padang Lawas (kota-kota) di hulu sungai Barumun? Seperti disebutkan pada artikel sebelum ini, kota-kota di hulu sungai Barumun bermula di pedalalaman (pergunungan dekat danau-danau) kemudian berkembang ke arah muara-muara sungai (pelabuhan). Hal serupa ini juga dengan kota-kota di Palembang dan Jambi. Lalu bagaimana kota-kota Padang Lawas berkembang? Terjadi pada saat kota-kota Palembang (Sriwijaya) memudar, sementara Jambi mulai berkembang. Bagaimana semua itu terhubung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, Mei 08, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (4): Kota Pelabuhan Binanga atau Minanga di Sungai Baroemoen; Pelabuhan Laut, Bukan Pelabuhan Sungai

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Pada artikel sebelum ini telah dideskripsikan Candi Simangambat. Sebelum mendeskripsikan candi Padang Lawas, perlu dideskripsikan terlebih dahulu tentang pelabuhan Angkola Mandailing. Candi Simangambat pada zaman kuno merujuk pada pelabuhan di pantai barat (seperti di Siais atau Sangkoenoer). Dalam perkembangannya, pelabuhan Angkola Mandailing ini bergeser dari barat bergeser ke timur di Binanga. Pelabuhan Binanga tidak hanya simpul perdagangan (baru) dari Mandailing dan Angkola, juga dari Toba (seputar danau Toba). Perkembangan yang sangat pesat inilah kemudian menyebabkan banyaknya candi-candi di sekitar Binanga (percandian Padang Lawas).

Pada masa ini kota Binanga adalah sebuah desa yang menjadi ibu kota kecamatan Barumun Tengah di kabupaten Padang Lawas. Sedangkan ibu kota kabupaten Padang Lawas berada di Sibuhuan (yang juga menjadi ibu kota kecamatan Barumun. Dua kota ini berada di daerah aliran sungai Barumun. Sungai besar ini berhulu di sebelah barat di pegunungan Bukit Barisan dan bermuara di pantai timur Sumatra (selat Malaka) melalui kota Binanga dan kota Sibuhuan. Di kota Binanga bermuara sungai Batang Pane, sungai yang berhulu di sebelah utara di pegunungan Bukit Barisan melalui kota Gunung Tua (ibu kota kabupaten Padang Lawas). Pada masa ini Binanga, Sibuhuan dan Gunung Tua adalah titik GPS terpenting di wilayah Padang Lawas. Gambaran ini juga representasi masa lampau bahkan zaman kuno. Dalam hal ini sungai Barumun dan sungai Batang Pane berada di sisi timur pegunungan Bukit Barisan, sedangkan di sisi barat adalah sungai Batang Angkola dan sungai Batang Gadis yang bertemu di Siabu dan bermuara ke pantai barat Sumatra. Empat daerah aliran sungai inilah yang membentuk wilayah Angkola dan Mandailing.

Lantas bagaimana sejarah asal usul pelabuhan Binanga di sungai Batang Baroemoen? Tentulah pertanyaan ini kurang mendapat perhatian bahkan tidak ada yang peduli. Padahal kota Binanga pada masa lampau adalah pelabuhan besar di Tanah Batak, pelabuhan yang setara dengan pelabuhan Palembang dan pelabuhan Kedah (di Semenanjung). Lantas apa hubungan tiga pelabuhan zaman kuno ini? Tampaknya Binanga pernah menduduki  Sriwijaya Palembang. Bagaimana, bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.