Sabtu, Februari 09, 2013

UI Gratiskan Uang Pangkal Mahasiswa S1 Reguler


Universitas Indonesia (UI) membebaskan uang pangkal bagi mahasiswa baru program pendidikan S1 Reguler tahun akademik 2013/2014. Kebijakan tersebut adalah salah satu bentuk komitmen dan upaya UI dalam pemerataan kesempatan bagi seluruh anak bangsa dari berbagai lapisan masyarakat untuk dapat berkuliah di UI dengan kemampuan akademik (bukan kemampuan ekonomi).Pembebasan uang pangkal bagi mahasiswa program pendidikan S1 Reguler dimungkinkan karena kebijakan UI untuk mengalokasikan beban biaya uang pangkal dari dana BOPTN (Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri) yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. BOPTN bertujuan untuk mendorong peningkatan kualitas perguruan tinggi negeri. Anggaran tersebut dapat dialokasikan untuk membantu biaya operasional PTN seperti gaji tenaga pendidik dan tenaga kependidikan non-PNS (Pegawai Negeri Sipil), biaya listrik, serta biaya penelitian.

Pada tahun 2013, seluruh mahasiswa baru program pendidikan S1 Reguler hanya akan dikenai Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan (BOP-B) yang dibayar per semester dengan kisaran Rp 100.000 s.d. maksimal Rp 5.000.000 untuk jurusan IPS, atau Rp 100.000 s.d. maksimal Rp 7.500.000 untuk jurusan IPA. Jumlah biaya BOP-B disesuaikan dengan kemampuan orang tua/wali mahasiswa sebagai penanggung biaya.

Program pendidikan S1 Reguler UI sendiri terbuka bagi lulusan SMA/sederajat tahun kelulusan 2013, 2012, dan 2011. Di program pendidikan S1 Reguler UI ada 56 pilihan program studi (prodi) yang terdiri dari 25 prodi IPA dan 31 prodi IPS. Calon mahasiswa dapat menempuh tiga jalur seleksi untuk masuk program pendidikan S1 Reguler, yaitu SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), SBMPTN (Seleksi Bersama masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan SIMAK UI (Seleksi Masuk UI).Pendaftaran klik disini

Rabu, Januari 23, 2013

Etnik Batak di Sumatra Utara: 46.35 Persen Menganut Agama Islam dan 47.30 persen Agama Kristen

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini
 
Baca juga
Sejarah Kota Medan (24): Pewarta Deli, Surat Kabar Legendaris di Medan (1909-1946); Didirikan oleh Dja Endar Moeda (1861-1926)
Gelar Doktor Pertama di Indonesia: Dr. Ida Loemongga, PhD, Doktor Perempuan Pertama di Indonesia

Populasi etnik Batak di Indonesia merupakan sub populasi terbanyak ketiga setelah etnik Jawa dan etnik Sunda. Jumlah etnik Batak di Indonesia hasil Sensus Penduduk 2010 adalah sebanyak  8,432,328 jiwa. Berdasarkan kode etnik BPS, etnik Batak terdiri dari tujuh sub etnik. Populsi masing-masing sub etnik adalah sebagai berikut:  Batak Angkola (623,214 jiwa), Batak Karo (1,232,655 jiwa), Batak Mandailing (1,742,673 jiwa), Batak Pakpak Dairi (180,393 jiwa), Batak Simalungun (441,382 jiwa), Batak Tapanuli/Sibolga (539,567 jiwa) dan Batak Toba (3,672,443 jiwa).


Di Sumatra Utara terdapat tujuh etnik yang terbilang signifikan jumlahnya yakni etnik Batak, etnik Jawa, etnik Melayu, etnik Nias, etnik Tionghoa, etnik Minang dan etnik Aceh. Etnik Batak sendiri yang paling banyak jumlahnya, terdapat sebanyak 46.35 persen beragama Islam, sementara sebanyak 47.30 persen menganut agama Kristen dan 6.25 persen menganut agama Katolik. Sedangkan sisanya sebanyak 0.08 persen terdiri dari agama Hindu, Budha, Khonghucu dan lainnya. Ini menunjukkan di Sumatra Utara bahwa etnik Batak penganut agama Islam dan agama Kristen tampak berimbang.

Jumat, Januari 11, 2013

ULTAH Kedua BLOG ‘Tapanuli Selatan Dalam Angka’: 100.000 Pageview

Blog ini diperkenalkan (launching) pada tanggal 11 Januari 2011 (11-1-11). Ini berarti bulan Januari 2013 adalah ulang tahun yang kedua (Ultah-II) blog ‘Tapanuli Selatan Dalam Angka’. Pada Ultah-I, artikel penutup adalah artikel dengan judul “ULTAH Pertama BLOG ‘Tapanuli Selatan Dalam Angka’: 100 Artikel dan 26.000 Pageview”. Pada Ultah-II hari ini ditutup dengan judul tersebut di atas: “ULTAH Kedua BLOG ‘Tapanuli Selatan Dalam Angka’: 100.000 Pageview”. Dalam satu tahun ini jumlah artikel hanya bertambah sebanyak 25 artikel. Jumlah ini terbilang sedikit jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 100 artikel. Namun secara kuantitas produksi tulisan tetap konstan karena pada waktu yang sama saya juga harus membagi waktu untuk tiga blog yang lain. Blog-blog tersebut adalah:


Minggu, Desember 09, 2012

Populasi Etnik Mandailing di Nusantara: Suatu Sketsa Daerah Aliran Migrasi

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini

Oleh Akhir Matua Harahap


Di Tapanuli bagian selatan terdapat dua subetnik Batak yakni: Etnik Angkola dan Etnik Mandailing. Hasil Sensus Penduduk 2010 populasi etnik Angkola di Tapanuli Bagian Selatan sebanyak  493,785 jiwa dan etnik Mandailing sebanyak  475,196 jiwa. Etnik Angkola dominan di Kabupaten Tapanuli Selatan (60.14 persen), di Kabupaten Padang Lawas Utara (73.18 persen) dan Kota Padang Sidempuan (44.81 persen). Sedangkan etnik Mandailing dominan di Kabupaten Mandailing Natal (77.71 persen). Ini berarti, secara spesifik daerah asal (origin) etnik Mandailing hanya satu-satunya di Kabupaten Mandailing Natal. Di Kabupaten Padang Lawas, populasi etnik Mandailing cukup besar dengan persentase sebesar 42.79 persen, sementara etnik Angkola sebesar 37.23 persen. Ini berarti wilayah Kabupaten Padang Lawas boleh jadi merupakan daerah tujuan migrasi etnik Angkola maupun Etnik Mandailing.

Populasi etnik Mandailing di Kabupaten Mandailing Natal sesungguhnya hanya sebanyak 314.700 jiwa. Jika di wilayah Tapanuli Bagian Selatan populasi etnik Mandailing sebanyak 475,196 jiwa maka terdapat sebanyak 160.496 jiwa yang tersebar di empat kabupaten/kota lainnya di wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Distribusinya adalah   sebanyak 19,462 jiwa di Kabupaten Tapanuli Selatan, sebanyak 5,857 jiwa di Kabupaten Padang Lawas Utara, sebanyak 96,396 jiwa di Kabupaten Padang Lawas dan sebanyak 38,502 jiwa di Kota Padang Sidempuan. Jika tiga kabupaten/kota yang dominan etnik Angkola dianggap sebagai gabungan daerah asal (origin) etnik Angkola, maka etnik Mandailing sesungguhnya telah bermigrasi ke wilayah etnik Angkola. Sebaliknya, jumlah etnik Angkola  di Kabupaten Mandailing Natal yang sekarang hanya terdapat sebanyak 2,088 jiwa. Ini mengindikasikan bahwa Kabupaten Mandailing Natal bukanlah daerah tujuan utama migrasi bagi etnik Angkola.

Rabu, Desember 05, 2012

Bahasa Angkola vs Bahasa Mandailing di Tapanuli Bagian Selatan

*Semua artikel Budaya Angkola Mandailing dalam blog ini Klik Disini

Di Tapanuli Bagian Selatan terdapat dua subetnik Batak yakni etnik Angkola dan etnik Mandailing. Secara statistik dua etnik ini dianggap memiliki bahasa yang dapat dibedakan yakni: bahasa Angkola dan bahasa Mandailing. Penggunaan bahasa Angkola sebagai bahasa sehari-hari di rumah sebanyak 87.93 persen untuk etnik Angkola dan 7.52 persen untuk etnik Mandailing. Sementara bahasa Mandailing digunakan etnik Mandailing sebanyak 84.79 persen untuk etnik Angkola sebanyak 5.81 persen. Ini menunjukkan adanya pertukaran penggunaan bahasa di dalam dua subetnik serumpun. Selain kedua etnik ini bertukar tempat dalam pengguna bahasa serumpun, dalam kenyatannya masing-masing etnik Angkola dan etnik Mandailing juga mengadopsi bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari di rumah. Etnik Angkola yang menggunakan bahasa Indonesia sebanyak 6.01 persen, sedangkan etnik Mandailing sebanyak 4.63 persen. Sementara itu, diantara etnik Mandailing juga ditemukan yang menggunakan bahasa lainnya, khususnya bahasa Pesisir (1.93 persen) dan bahasa Minangkabau (0.51 persen).


Senin, Desember 03, 2012

Bahasa Ibu Menurut Etnik di Sumatera Utara

Penggunaan bahasa etnik sebagai bahasa ibu lambat laun semakin menyusut. Sementara penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari di rumah semakin meningkat. Ini seakan mempertegas bahwa telah terjadi promosi bahasa Indonesia dan degradasi bahasa daerah. Perubahan penggunaan bahasa tersebut terdapat perbedaan diantara beberapa etnik di Sumatera Utara. 


Minggu, Desember 02, 2012

Lulusan Perguruan Tinggi Menurut Etnik di Kota Medan

Lulusan Perguruan Tinggi menurut etnik di Kota Medan persentase tertinggi adalah etnik Karo sebesar 19.94 persen. Kemudian persentase tertinggi berikutnya adalah etnik Simalungun (17.60 persen) dan etnik Toba (15.63 persen).