Sabtu, Agustus 11, 2012

Mayjen TNI Erwin Hudawi Lubis, Pangdam Jaya: Congratulation

*Untuk melihat semua artikel Tokoh Tabagsel Masa Kini dalam blog ini Klik Disini

Mayjen TNI Erwin Hudawi Lubis, kini menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya sebelumnya beliau pernah menjabat sebagai Pangdam XII/Tanjungpura. Erwin Hudawi Lubis lahir di Padang Sidempuan, 7 Agustus 1956 dan menamatkan sekolah menengah di SMA Negeri 1 Padang Sidempuan tahun 1975. Setelah tamat SMA, pemuda bersahaja ini diterima di AKABRI tahun 1976 dan lulus tahun 1980.

Mayjen TNI Erwin Hudawi Lubis diangkat sebagai Pangdam Jaya berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/504/VIII/2012 tanggal 1 Agustus 2012. Sebelum menjabat Pangdam Tanjungpura, Mayjen TNI E Hudawi Lubis adalah Komandan Pusat Kesenjataan Infantri (Pussenif) 2011.
***
Pada tanggal 27 Juni 2012 Irjen Pol Saud Usman Nasution menjadi  Wakil Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Wakabareskrim) Polri. Saud Usman Nasution yang alumni SMA Negeri 2 Padang Sidempuan (lulus 1977) sebelumnya menjabat sebagai Kadiv Humas Polri.

Dua junior mereka, yakni Kombes Pol Drs Marsuli Siregar kini menjabat sebagai Direktur Reserse dan Kriminal Polda Sulawesi Tengah dan Kolonel Inf Syamsul Rizal bertugas di Kodam Tanjungpura. Marsauli Siregar dan Syamsul Rizal adalah sama-sama alumni 1980 SMA Negeri 1 Padang Sidempuan.Kolonel Syamsul Rizal Harahap sebelumnya adalah Komandan Korem 052/Wijayakrama Jakarta.

Rabu, Juli 18, 2012

Topografi ‘Sosial Ekonomi’ Tapanuli Selatan: Situasi dan Kondisi Jelang Kemerdekaan Republik Indonesia


Oleh Akhir Matua Harahap

Permukaan bumi (topografi) Tapanuli Selatan pada dasarnya tampak sebagai laut, pantai, pegunungan dan lembah-lembah yang diantaranya terdapat sungai-sungai dan danau-danau. Kondisi umum di atas permukaan bumi Tapanuli Selatan sekitar kemerdekaan Indonesia adalah vegetasi yang terdiri dari hutan (jungle dan forest), kebun-kebun rakyat (tanaman keras dan tanaman pangan) dan persawahan (padi). Yang sering terlupakan adalah situasi sosial dan ekonomi wilayah yang direpresentasikan oleh area-area pemukiman penduduk (kota/urban dan desa/rural); jembatan dan jalan yang menghubungkan arus orang dan barang; dan bangunan-bangunan lain (perumahan, perkantoran, perpasaran, candi-candi dan lain sebagainya).

Pada masa seputar kemerdekaan Indonesia, Tapanuli Selatan adalah bagian dari Provinsi Sumatera. Pada tahun 1946. Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi yakni: Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Provinsi Sumatera Utara terdiri dari tiga keresidenan yaitu: Aceh, Sumatera Timur dan Tapanuli. Keresidenan Tapanuli dibagi lagi menjadi empat kabupate yakni Nias, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan dengan ibukota berkedudukan di Sibolga. Pada saat perang kemerdekaan (angresi Belanda ke dua) Kabupaten Tapanuli Selatan sempat dipecah menjadi tiga kabupaten, yaitu:

  • Kabupaten Padang Sidempuan dengan ibukota Padang Sidempuan (terdiri dari Kewedanaan Padang Sidempuan dan Kewedanaan Sipirok).
  • Kabupaten Batang Gadis dengan ibukota Panyabungan (terdiri dari seluruh Mandailing, Ulu, Pakantan dan Batang Natal),
  • Kabupaten Padang Lawas dan Barumun dengan ibukota Gunung Tua (terdiri dari Padang Lawas dan Barumun).

Rabu, Juli 11, 2012

Kecamatan Batahan: Sumatera Utara vs Sumatera Barat

Pantai pasir putih Batahan, latar P. Tamang
Nama Kecamatan Batahan tidak hanya terdapat di Provinsi Sumatera Utara tetapi nama Kecamatan Batahan juga terdapat di Provinsi Sumatera Barat. Sungguh sangat unik. Mungkin di tempat lain boleh jadi ditemukan nama kecamatan atau nama desa yang sama. Akan tetapi nama Batahan adalah sesuatu yang sangat menarik untuk diperhatikan. Bahkan sangat menarik sekali untuk diperbandingkan. Dua kecamatan ini berada di daerah aliran sungai (DAS) Batang Batahan.  Sungai ini berada di perbatasan dua provinsi (Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Barat) yang bermuara ke pantai barat Sumatera. Kecamatan Batahan, Sumatera Utara terletak di hilir (pantai/laut) merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Pantai Barat Mandailing, sementara Kecamatan (ranah) Batahan, Sumatera Barat terletak di hulu (gunung) merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Pasaman Barat. Persamaan kedua kecamatan ini hanya satu: Mayoritas penduduknya beragama Islam. Lantas apa yang membedakan?


Minggu, Juli 01, 2012

Kabupaten Pantai Barat Mandailing: Data dan Informasi

Oleh Akhir Matua Harahap


Kabupaten Pantai Barat Mandailing dan Kabupaten Mandailing Natal (induk)
DATA dan INFORMASI. Kabupaten Pantai Barat Mandailing adalah kabupaten pemekaran dari induknya Kabupaten Mandailing Natal yang berada di Tapanuli Bagian Selatan. Pada saat ini, pembentukan kabupaten baru ini baru tahap pengesahan oleh DPRD Parovinsi Sumatera Utara. Langkah selanjutnya dalam proses pembentukan ini adalah pengesahan oleh Departemen Dalam Negeri yang selanjutnya diproses di DPR untuk ditetapkan sebagai Undang-Undang.

Dalam rangka proses pembentukan Kabupaten Pantai Barat Mandailing ini sudah barang tentu banyak pihak yang membutuhkan data awal untuk memperhatikan secara spesifik mengenai situasi dan kondisi yang ada saat ini di kabupaten baru tersebut. Artikel ini menyediakan data sejumlah aspek tahun 2008 yang diolah berdasarkan data Potensi Desa (Podes) yang dikeluarkan BPS. Kepada pembaca, semoga data yang disajikan berikut ini dapat membantu. Mari kita bangun Kabupaten Pantai Barat Mandailing agar sejajar dengan kabupaten-kabupaten lainnya di Tapanuli Bagian Selatan.

Minggu, Juni 24, 2012

Letnan Sahala Muda Pakpahan (‘Jenderal Naga Bonar’) vs Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor (Sipirok, 1949): Lahirnya Tokoh-Tokoh Militer Utama di Indonesia


*Dikompilasi dari berbagai sumber: Akhir Matua Harahap




Prakondisi di Tapanuli Selatan dan Padang Sidempuan

Belanda pertama kali masuk ke Tapanuli Selatan tahun 1833 dari arah Natal yang ketika itu di Tapanuli masih suasana Perang Paderi (1825-1838). Pihak Belanda lalu mendirikan benteng Fort Elout di Panyabungan untuk menyatakan keberadaannya di Tanah Batak sekaligus basis untuk mengepung perlawanan Imam Bonjol di daerah Pasaman. Setahun kemudian, Belanda memulai pemerintahan sipil di Tapanuli yang dipimpin Asistent Resident berkedudukan di Natal. Waktu itu wilayah Tapanuli masih bagian dari keresidenan yang berkedudukan di Air Bangis. Sebelum Belanda masuk ke Tapanuli Selatan  kawasan selatan Tanah Batak ini terdiri dari berbagai luhat--dimana setiap luhat  mempunyai pemerintah sendiri dan berdiri secara otonom dan belum pernah berada dibawah pengaruh siapapun. Luhat-luhat yang dimaksud adalah Sipirok, Angkola, Marancar, Padang Bolak, Barumun, Mandailing, Batang Natal, Natal, Sipiongot dan Pakantan.

Selasa, Juni 19, 2012

Pertempuran ‘Benteng Huraba’ di Padang Sidempuan: Peran Laskar dan Rakyat Tapanuli Selatan dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap


Prakondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Benteng Huraba, latar hutan

Pembentukan pemerintahan dan pertahanan Republik Indonesia terjadi hampir bersamaan waktunya. Ini sangat mungkin, karena Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah (Jepang) dalam suasana euphoria pasukan Sekutu, dimana Belanda yang dikalahkan Jepang yang bernafsu kembali untuk menjajah telah datang kembali dengan memanfaakan kehadiran pasukan Inggris ketika tengah melucuti pasukan Jepang dan membebaskan tawanan perang yang ada di Indonesia. Dengan situasi dan kondisi tersebut, maka pembentukan dan penyusunan struktur pemerintahan RI dilaksanakan dari pusat ke daerah-daerah (top down), tetapi tidak demikian dalam proses terbentuknya struktur pertahanan RI, justru pertahanan rakyat sudah dimulai dan terbentuk dari kalangan rakyat (bottom up) yang kemudian disempurnakan dan dilegitimasi oleh pemerintah pusat..

Pada awalnya, inisiatif membentuk pertahanan rakyat muncul sporadis. Mereka yang dulunya eks pasukan militer/polisi penjajah (Jepang/Belanda) dan rakyat--pihak yang paling menderita selama penjajahan spontan mengangkat senjata dan mempersenjatai rakyat. Semua yang disebut para ‘pentolan’ rakyat ini bercermin pada pahlawan-pahlawan pendahulu dan tentu saja karena di depan mata adanya potensi ‘chaos’ karena kurang jelasnya estafet kaum penjajah, yang mana pasukan penjajah Jepang sudah ‘lesu darah’ sementara pasukan Inggris mewakili sekutu tampaknya kurang berminat terhadap keelokan bumi Indonesia—mungkin dengan dalih untuk menjaga rasa hormat terhadap mantan penjajah Belanda yang boleh jadi terus ‘merayu’ atau ‘dirayu’ untuk masuk kembali ke Indonesia. Situasi dimana Belanda ingin menjajah kembali dan pasukan Jepang sudah mati kutu di markas masing-masing, maka kesempatan inilah yang ingin diraih oleh rakyat untuk membentuk kekuatan bersenjata dimana-mana.

Sabtu, Juni 16, 2012

Laskar ‘Pelangi’ Sipirok, Letnan Sahala Muda Pakpahan dan Benteng Huraba di Padang Sidempuan: Lahirnya Tokoh-Tokoh Militer dari Tapanuli Bagian Selatan

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disin
 
Oleh Akhir Matua Harahap


Bagian-1: Laskar ‘Pelangi’ dari Sipirok Merantau Menuju Medan

Kafilah ‘Padati’ Trayek Sipirok-Sidimpuan

Seorang pemuda belia (lima belas tahun) kelahiran desa Sunge Durian, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan. Kehidupan di desanya di jaman pendudukan Jepang tidaklah begitu sulit, bahkan berkecukupan, karena letak desa ini jauh dari jalan raya di tengah hutan (luat harangan). Akan tetapi pemuda ini selalu gelisah jika berdiam di huta, karena ia sendiri tidak ingin selalu disuruh ibunya ke sawah-ladang. Jika waktunya tiba hari poken (hari pasar) setiap hari kamis ia mendapat tugas untuk mengangkut hasil-hasil bumi dengan kuda beban ke suatu tempat di pinggir jalan raya Sipirok-Padang Sidempuan di desa Situmba.

Padati jaman 'doeloe' (Illustrasi/foto Basyral Hamidy Harahap) 
Hasil-hasil bumi ini ditampung oleh pedagang pengumpul untuk diteruskan ke pasar Padang Sidempuan. Pada masa Jepang transportasi mobil (truk dan bis) dari Sipirok ke Sidempuan digantikan dengan padati (pedati). Konon, bis-bis yang ada di Sipirok semuanya disita oleh militer/polisi Jepang untuk kebutuhannya sendiri. Karena itu, angkutan barang dan orang dilakukan dengan pedati. Jumlah pedati ini sangat banyak. Biasanya perjalanan Sipirok-Padang Sidempuan (dan sebaliknya) ditempuh dalam dua malam. Dari Sipirok/Situmba berangkat malam hari dan pagi hari tiba di Aek Pargarutan. Siang hari para kafilah ini beristirahat (memasak, tidur, mengumpulkan rumput dan memberi kesempatan kerbau untuk beristirahat juga). Malam hari kafilah berangkat lagi dan tiba di Kantin/Padang Sidempuan pagi hari. Pedati di parkir di dekat jembatan Siborang (kerbau di arahkan ke sungai, para crew padati beristirahat, memasak dan bongkar muat barang. Untuk sarana angkutan dari terminal padati ke pasar Sidempuan dilakukan oleh para kuli angkut dengan menggunakan osaka. Pada sore hari memuat barang dan malam hari perjalanan kembali ke Sipirok dilakukan lagi. Diharapkan pagi hari tiba di sub terminal di Aek Pargarutan dan malam harinya perjalanan dilanjutkan ke Sipirok.