Jumat, Juni 25, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (53): Memudarnya Kerajaan Aru; Kembali ke Awal Lagi, Dunia Harajaon di Wilayah Angkola Mandailing

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Kerajaan Aru? Siapa yang peduli. Meski demikian, Kerajaan Aru pernah eksis di nusantara. Kerajaan Aru tidak hanya yang pertama (tertua). Kerajaan Aru juga riwayatnya terlama, bahkan usianya lebih dari satu milenium. Pengaruhnya tidak hanya di Sumatra, bahkan hingga Indochina, Filipina, Sulawesi dan Maluku. Semua elemen zaman kuno dimiliki Kerajaan Aru, pemerintahan, religi, aksara, seni dan arsitektur. Kerajaan Aru tidak hanya menguasai daratan, tetapi juga menguasai navigasi pelayaran perdagangan. Kerajaan Aru juga memiliki kekuatan militer yang sangat besar. Akhirnya setelah melalui perjalanan waktu satu milenium mulai memudar dan lalu ke awal dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan Aru sendiri bersifat federasi.

Kerajaan Aru mendahului terbentuknya Kerajaan T-aru-ma di Jawa. Kerajaan Taruma eksis sejak abad ke-4. Jejak pertama Kerajaan Aru dapat dibaca pada prasasti Vo Cahn Vietnam abad ke-3. Wilayah dimana Kerajaan Aru terbentuk di Sumatra bagian utara dicatat oleh Ptolomeus pada abad ke-2 sebagai sentra produksi kamper..Literatur Eropa abad ke-5 menyebut kamper diekspor melalui pelabuhan Barus (pelabuhan Kerajaan Aru di pantai barat). Pelabuhan Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra di Binanga. Ini dapat dibaca pada prasasti Kedukan Bukit 682 M yang menceritakan pembentukan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Aru di utara ekuator, Kerajaan Sriwujaya di selatan ekuator. Kerajaan Sriwijaya kemudian menyerang Kerajaan Taruma (lihhat prasasti Kota Kapur 686 M). Kerajaan Taruma tamat. Seperti halnya Kerajaan Aru, Kerajaan Sriwijaya membentuk kerajaan di Jawa bagian tengah (prasasti Sojomerto) dan terbentuk dinasti Seilendra (prasasti Canggal 732 M). Kerajaan Aru membentuk Kerajaan Khmer (Kamboja) dan Kerajaan Luzon (lihat prasasti Laguna 900 M). Pada tahun 1022 Kerajaan Aru dan Kerajaan Sriwijaya diserang Kerajaan Chola (dari India selatan). Pasca invasi Chola keduanya bangkit lagi. Kerajaan-kerajaan di Jawa bergseser dari tengah (dinasti Seilendra, Mataram Kuno0 ke timur (terbentuk Kerajaan Kadiri). Suksesinya adalah Kerajaan Singhasari yang dibentuk tahun 1222 yang mana rajanya yang terkenal Kertanegara menjalin hubungan dengan Kerajaan Aru. Pada tahun 1292 Raja Kertanegara terbunuh dan lalu muncul Kerajaan Majapahit dan menyerang Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Sriwijaya tamat. Kerajaan Aru terus berkibar hingga Sulawesi dan Maluku, sementara Kerajaan Majapahit mulai memudar setelah meninggalnya raja yang terkenal Hayam Wuruk tahun 1392. Kerajaan Majapahit akhirnya tamat setelah serangan Kerajaan Demak (kerajaan yang terbentuk pada tahun 1490an). Saat kehadiran Eropa dimana Portugis menduduki Malaka 1511, Kerajaan Aceh berkembang pesat. Kerajaan Aru mulai kehilangan daya saing dan akhirnya menyusut menjadi kerajaan-kerajaan kecil (seperti semula). Kerajaan Aru tidak pernah mati: hanya mengembang dan menyusut. Sisa-sisa Kerajaan Aru masih terlihat pada tahun 1838 ketika federasi kerajaan-kerajaan Angkola, Mandailing dan Padang Bolak bekerjasama dengan Pemerintah Hindia Belanda mengentaskan Kaum Padri. Pemerintah Hindia Belanda masih mengidentifikasi Kerajaan Aru pada Peta 1818.

Lantas bagaimana sejarah memudarnya Kerajaan Aru? Seperti disebut di atas, itu dimulai seiring dengan pengaruh asing: Portugis sejak 1511 dan Kerajaan Aceh yang diperkuat militer Kerajan Turki. Lalu apakah Kerajaan Aru tamat, seperti sebelumnya Kerajaan Taruma, Kerajaan Dinasti Seildenra, Kerajaan Singhasari, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit? Tidak pernah mati. Bagaiman bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Perjalanan Panjang Kerajaan Aru: Tertua dan Terlama

Tunggu deskripsi lengkapnya

Awal Memudarnya Kerajaan Aru: Faktor Asing

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar: