Rabu, Juli 14, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (72): Apa yang bisa dilihat hingga sekarang; Pelajaran-pelajaran masa zaman kuno di Angkola Mandailing

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Perhatikanlah apa yang dapat dilihat sekarang. Bahasa yang digunakan, adat istiadat yang masih eksis, sistem aksara yang mungkin masih ada yang menggunakan bahkan cara berpikir penduduk Angkola dan Mandailing. Seperti halnya prasasti dan candi, itu semua tidak muncul sekarang, tidak datang tiba-tiba atau terbentuk begitu saja. Itu semua telah berlangsung lama, diwariskan dan diteruskan. Jika masih bisa melihatnya masa ini, itu adalah gambaran zaman kuno yang masih hadir di depan kita, masih kita rasakan dan dalam banyak aspek masih kita terapkan secara tidak sadar.

Orang Angkola Mandailing bukan penduduk kemarin sore. Penduduk Angkola Mandailing adalah penduduk yang sudah tua, bahasa yang sudah tua, berperilaku dan berpikir yang sudah sangat tua, teruji, masih relevan namun banyak diantara kita yang tidak menyadarinya. Penduduk Angkola Mandailing adalah penduduk asli, entahlah darimana asalnya di zaman purba, bagaimana ilmu dan pengetahunnya melompat ke era zaman kuno ketika muncul pengaruh asing (terutama dan terawal dari India). Ilmu dan pengetahuan ini terus diperkaya seiring dengan perjalanan waktu dari era Hindoe Boedha, era Islam dan era Eropa. Meski demikian, penduduk Angkola Mandailing yang cenderung berada di pedalaman, tidak semua yang baru diserap begitu saja seperti di kota-kota pantai, akan tetapi disaring agar sesuai dan dapat dikembangkan sendiri untuk kebutuhan (yang belum tentu sesuai dengan orang asing di negara asalnya). Proses penyaringan, pelembagaan dan pewarisan ini yang kini dikenal sebagai kearifan lokal di Angkola Mandailing.

Sejarah penduduk Angkola Mandailing yang sudah tua, sesungguhnya peradaban yang dibentuk baru pada zaman kuno yang sudah teruji dan masih bisa dilihat sekarang tidaklak kaku, justru sebaliknya praktis dan karena itu masih banyak yang relevan (bertahan) di zaman modern ini. Oleh karena itu kini lihatlah kembali apa yang dimiliki dan lalu ambillah pelajaran-pelajaran dari masa zaman kuno di Angkola Mandailing yang dapat dijadikan pedoman dalam dunia dan perubahan zaman yang dinamis ini. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, pelajaran-pelajaran yang bersumber dari sumber-sumber tempo doeloe semoga masih berguna.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pelajaran-pelajaran dari masa zaman kuno di Angkola Mandailing

Tunggu deskripsi lengkapnya

Apa yang masih bisa digunakan kini dan apa yang harus dierkuat ke masa depan

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar: