Minggu, Juli 04, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (62): Orang Seko, Luwu dan Toraja, Orang Bugis dan Orang Makassar; Pohon Seko dan Dalihan Na Tolu

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelum ini. Sebagai bagian dari wilayah navigasi pelayaran perdagangan di pulau Sulawesu, tanda-tanda peradaban zaman kuno juga ditemukan di selatan Sulawesi di wilayah Toraja yang sekarang. Dibanding dengan wilayah Minahasa, tanda-tanda zaman kuno ini lebih banyak yang ditemukan di Toraja, terutama di wilayah Seko yang sekarang. Jika sebelumnya melihat kaitan antara Minahasa dengan Manado, pada artikel ini kita melihat kaitan prasast-prasasti di Seko di wilayah Toraja dan Luwu dengan kota-kota pelabuhan di Sulawesi Selatan terutama kota Somba Opu di Makassar.

Di Minahasa, wilayah prasasti Watu Rerumeran ne Empung di dekat gunung Empung dan danau Tondano dalam bahasa lokal begitu banyak kosa kata elementer yang mirip dengan di Angkola Mandailing seperti inang dan amang. Lantas apakah demikian di wilayah Seko yang memiliki prasasti Daliang yang diartikan sebagai tungku empat bermusyawarah juga memiliki kosa kata elementer yang mirip dengan di Angkola Mandailing, Namun selain prasati Daliang, dua nama wilayah pada masa ini Toraja dan Luwu yang berdekatan seakan mengingatkan dengan nama gunung di Angkola yakni gunung Lubuk Raja. Dalam hal ini nama Toraja seakan merujuk pada nama Tor Raja (gunung Raja). Sedangkan Seko sendiri dalam bahasa Angkola diartikan sebagai kemenyan  (suatu produk zaman kuno yang hanya ditemukan di Tanah Batak terutama di Angkola Mandailing. Daliang di Seko, di Angkola Mandailing disebut Dalihan (na tolu),

Lantas bagaimana sejarah zaman kuno Toraja dalam hubungannya dengan prasasti Seko? Nah itu dia. Seperti disebut diatas terkesan ada beberapa aspek yang mirip dengan di Angkola Mandailing, paling tidak dengan nama-nama Seko, Toraja, Luwuk dan Daliang. Di Seko juga ditemukan terminologi Toroha dan Matua. Sebagaimana orang Batak memiliki marga, tampaknya dari daftar marga di Toraja ada beberapa nama marga yang mirip di Tanah Batak. Lalu dari itu semua apakah ada kaitan wilayah selatan Sulawesi dengan Kerajaan Aru di wilayah Angkola Mandailing pada zaman kuno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Prasati Seko: Daliang Toraja Toroha dan Luwuk

Sebelum memahami bagaimana peradaban bermula di zaman kuno di wilayah Sulawesi bagian selatan, kita harus lebih dahulu melihat ke suatu titik terpenting sejarah Sulawesi bagian selatan pada tanggal 12 Juni 1669 yang mana benteng kerajaan Makassar di Somba Opu direbut VOC (Belanda) di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman. Tamat sudah Kerajaan Makassar atau Kerajaan Gowa (federasi kerajaan Goa dan kerajaan Tallo). Tahun inilah jika bisa dikatakan sebagai batas zaman kuno dan zaman selanjutnya. Satu yang penting dicatat dalam penaklukkan Kerajaan Makassar ini adalah peran penting Aru Palakka yang berkolaborasi dengan VOC.

Tumbuh kembangnya Kerajaan Makassar (Goa-Tallo) dibagi dalam dua tahap. Pertama, Kehadiran Eropa yang mana pelaut-pelaut Portugis menaklukkan dan menduduki Malaka sejak 1511. Setelah Raja Malaka yang melarikan diri ke pulau Bintan dan tidak mendapat dukungan dari Kaisar Tiongkok maka Kerajaan Malaka di pengasingan (kelaj terbentuk Kerajaan Johor) mulai merintis jalan ke bagian selatan di pantai timur Sumatra bagian selatan, pantai utara Jawa dan pantai barat Sulawesi). Kebetulan wilayah ini tidak ada lagi kekuatan yang berarti pasca kejayaan Kerajaan Majapahit. Yang menjadi pangkal perkara adalah wilayah Sulawesi sudah sejak lama menjadi kawasan navigasi pelayaran perdagangan Kerajaan Aru yang bahu membahu dengan para pedagang-pedagang Moor. Pengaruh yang mulai menguat dari pedagang-pedagang Melayu menjadi awal terbentuknya Kerajaan Goa tALLO (federasi kerajaan Goa dan Tallo) dengan pusat perdagangan (di Makassar) dan pusat kerajaan di Somba Opu. Sementara itu, kehadiran pelaut-pelaut Beland (VOC) menyebabkan pelabuhan Makassar berkembang pesat seiring dengan kota-kota pesisir Jawa kehilangan arti penting mereka sebagai pelabuhan perantara, terutama sebagai akibat dari perang terus-menerus di Jawa (antara satu pihak dan pihak lainnya dan kehadiran Eropa Belanda sendiri). Sejak kahadiran Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman tahun 1596, jalur navigasi pelayaran Belanda sudah terbentuk dari pantai utara Jawa hingga Nusa Tenggara terus berakhir di Maluku (yang berpusat di Amboina). Setelah memudarnya pamor Kerajaan Aru di muara sungai Barumun (Padang Lawas) peran itu digantikan oleh pedagang-pedagang Melayu. Hal itulah yang menyebabkan di wilayah Hindia Timur semakin menguat tiga kekuatan navigasi pelayaran perdagangan (Melayu, Atjeh dan VOC) lebih-lebih setelah VOC berhasil mengusir Portugis dari Malaka pada tahun 1641 (yang juga dibantu Kerajaan Johor). Pada fase ini Kerajaan Atjeh yang telah menguasai dua lautan (timur Sumatra, selat Malaka dan pantai barat Sumatra) dan peran Melayu mulai digantikan oleh pedagang-pedagang Makassar (Goa dan Tallo). Dalam posisi Makassar semakin menguat posisi pedagang-pedagang Melayu kembali mereduksi hanya sekitar Riau dan Semenanjung serta pantai barat Borneo. Sedangkan Makassar mengembalikan ke kawasan tradisional ke utara (Filipina) yang sejak zaman kuno wilayah navigasi pelayaran Kerajaan Aru. Ekspansi Kerajaan Goa yang cepat (seluruh Sulawesi, Maluku, pantai timur Borneo dan Nusa Tenggara) menjadi pangkal perkara timbulnya perselisihan dengan VOC di Maluku (VOC yang berbasis di Jawa dengan ibu kota Batavia)

Gambaran tersebutlah yang mengindikasikan begitu kuat hubungan dan relasi navigasi pelayaran perdagangan di wilayah utara (Sumatra bagian utara, Borneo utara) dan timur laut (Sulawesi dan Maluku) Hindia Timur sejak era Kerajaan Aru pada zaman kuno; yang dibedakan dengan wilayah selatan (Jawa, Borneo selatan) dan Nusa Tenggara) dan barat laut (Sumatra bagian selatan) yang dipimpin oleh Singhasari dan diteruskan oleh Majapahit dan Demak. Hancurnya Kerajaan Makassar (Goa Tallo) berawal dari benih-benih perseteruan yang bersaudara di Sulawesi bagian selatan (Makassar dan Bugis) karena faktor (kerajaan) Melayu.

Peta kekuatan berubah dengan jatuhnya Malaka. Kerajaan Johor di atas angin. Sebaliknya Portugis tersudut di Makao, lebih-lebih setelah Kamboja juga jatuh ke tengan VOC dari Portugis pada tahun 1643. Sisa Portugis lainnya di Hindia Timur hanya di Timor bagian timur. Meski demikian jalur navigasi pelayaran perdagangan Portugis masih ada antara Makao dan Timor via Manila dan  Makassar.

Hancurnya Kerajaan Goa tahun 1669, semakin menguatnya VOC (Belandsa) atas Portugis (bahkan dengan Spanyol di Filipina), Aru Palaka dari Bugis mendapat tempat. Namun demikian pengaruh Melayu (Johor) di Makassar masih ada, namun berbeda rezim (yang awalnya rezim Makassar kini rezim Bugis). Rezim Bugis yang mengambil alih Makassar, sejatinya hanya terbatas di wilayah Bugis dan Kota Makassar (pantai barat Sulawesi di utara Makassar di bawah kontrol VOC), karena sisa pengaruh Kerajaan Goa diambilalih VOC seperti Ternate. Boeton, pantai timur Borneo dan Nusa Tenggara (Bima). Wilayah Utara seperti Manado sudah diambil alih VOC dari Spanyol sejak 1657. Lantas mengapa Borneo Utara tidak dapat di penetrasi? Karena masih ada hubungan yang kuat Portugis antara Makao dan Borneo via Manila (Spanyol). Jadi. Secara keseluruhan Hindia Timur sudah berada di bawah kontrol VOC (menus Timor bagian timur, Borneo Utara dan Aceh yang masih independen). Seperti kerajaan-kerajaan lainnya seperti Banten dan Ternate, Aru Palaka di Bugis-Makassar serta Riau (Johor) hanyalah pelengkap sebagai pemain domestik (yang semuanya berlabuh ke Batavia). Ini berarti kekuatan lama di Hindia Timur telah berakhir sejak zaman kuno. Portugis digantikan Belanda. Untuk kali pertama seluruh wilayah Hinda Timur dikontrol dari selatan (Jawa) di Batavia (VOC-Belanda).

Saat kehadiran Eropa pertama (Portugis dan Spanyol) wilayah Hindia Timur terbagio dalam dua wilayah navigasi pelayaran perdagangan. Wilayah utara di bawah kontrol Kerajaan Aru dari ujung utara Sumatra di barat laut hingga ujung tenggar di selat Torres yang meliputi selat Malaka, Laut China Selatan, Borneo Utara, pulau-pulau di Filipina, Sulawesi dan Maluku. Di wilayah selatan (Sumatra bagian selatan, Jawa dan Bali) secara bergantian mulai dari Sriwijaya, Singhasari dan Majapahit (plus Demak). Wilayah utara ini dari tangan Kerajaan Aru yang didukung pedagang-pedagang Moor, satu persatu lepas yakni dimulai dari terbentuknya Kerajaan Aceh, Malaka dan Kamboja (yang jatuh ke tangan Portugis), di Filipina yang dimulai di Zebu dan menyusul Manila (Spanyol), terbentuknya Ternate dan terbentuknya Kerajaan Goa-Tallo. Kerajaan Ternate dan Kerajaan Goa terbentuk karena pengaruh Melayu (setelah Malaka jatuh) yang mana Kerajaan Malaka adalah musuh Kerajaan Aru.

Munculnya Aru Palaka (Bugis) di Sulawesi bagian selatan pada dasarnya hanya pindah dari tangan kiri ke tangan kanan. Perbedaannya adalah Makasar bermula dari pengaruh Melayu untuk menggantikan Kerajaan Aru dan sedangkan Bugis (Aru Palaka) bermula dari pengaruh VOC (belanda). Sejatinya Makassar dan Bugis merujuk pada wilayah di utara (Seko dan Toraja) dengan terbentuknya kerajaan-kerajaan kecil seperti Makassar dan Luwu (masih pada era Kerajaan Aru dan Kerajaan Majapahit). Jatuhnya Malaka, dan semakin banyaknya pelarian Melayu di Makassar maka pelabuhan Makassar menjadi kota pelabuhan baru yang sangat berkembang. Perdagangan di pelabuhan Makassar diambil dari pedagang-pedagang Melayu oleh aliansi (federasi) Kerajaan Hoa dan Kerajaan Tallo yang menjadi cikal bakal Kerajaan Makassar (yang juga disebut Kerajaan Gowa). Kerajaan Gowa yang telah menjadi Kesultanan menjadi alamat Kerajaan Luwu dan penduduk Bugis menjadi sasaran. Namun wilayah Bugis segera terpulihkan dengan munculnya tokoh Aru Palaka.

Kerajaan Aru tidak bersedia pemaksaan islamisasi oleh Kerajaan Aceh yang diperkuat Kerajaan Turki, lalu terjadi perang dan wilayah Kerajaan Aru tergerogoti, lepasnya Barus dan Pasai. Namun kehadiran Portugis di Malaka, penetrasi Kerajaan Aceh hanya sampai di Pasai dan Barus. Kerajaan Melayu yang menjadi musuh Kerajaan Aru yang terusir dan terbentuk kerajaan di Bintan (dan Johor) menyebabkan pengaruh Kerajaan Aru di Filipina, pantai utara Borneo, Sulawesi dan Maluku. Kerajaan Aru mulai memudar dan Kerajaan Melayu Johor berbagi dengan navigasi pelayaran perdagangan denga Portugis dan Spanyol hingga Maluku. Saat Kerajaan (Kesultanan) Gowa menguat, idem dito dengan Kerajaan Luwu, dalam aneksasi Kerajaan Goa di Kerajaan Luwu tidak bersedia Islamisasi. Akibatnya para pemimpin Bugis melarikan diri termasuk ke Batavia (Aru Palaka). Di Batavia inilah terjadi dabn terbentuk kolaborasi Bugis dengan VOC (Belanda) yang menjadi pangkal perkara jatuhnya Kerajaan Makassar (Gowa) tahun 1669. Dalam hal ini Bugis da Aru Palaka pulang kampong, selain memulihkan wilayah Bugis, Aru Palaka menjadi pimpinan di Makassar (yang mana para pemimpin Makassar yang melarikan diri) termasuk ke Riau.

Aru adalah gelar yang terbentuk pada penduduk Bugis pada era Kerajaan Aru. Demikian juga dengan gelar Karaeng di Makassar. Dua gelar ini diduga kuat merujuk pada nama (Kerajaan) Aru. Dalam konteks Kerajaan Aru inilah sejarah Bugis dan sejarah Makassar terhubung dengan prasasti Seko di wilayah Toraja (dan sejarah Minahasa dengan prasasti Watu Rerimeran ne Empung).

Tunggu deskripsi lengkapnya


Toraja dan Luwu: Bugis dan Makassar di Somba Opu

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar: