Jumat, Mei 07, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (3): Sejarah Candi Simangambat di Siabu, Candi Tertua di Pulau Sumatra; Awal Perkembangan Peradaban

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Candi Simangambat di Siabu diduga kuat adalah candi tertua di pulau Sumatra. Dalam hal ini tidak dalam perbandingan dengan di pulau Jawa.  Candi Simangambat berada di pusat peradaban zaman kuno di Angkola Mandailing. Lokasi candi Simangambat berada di suatu lembah pegunungan Bukit Barisan kecamatan Siabu, kabupaten Mandailing Natal, 200 meter dpl. Kawasan ini pada zaman kuno sebagai penghasil produk pertambangan (emas) dan produk hutan (seperti kemenyan dan kamper).

Penyelidikan awal candi Simangambat dimulai pada era Schnitger (1937). Pada dekade terakhir ini penelitian yang lebih mendalam telah dilakukan oleh Balai Arkeologi (Sumatera Utara) Medan. Gambaran tentang hasil penelitian yang terkini diantaranya dapat dibaca dalam artikel Ery Soedewo dan Andri Restiyadi berjudul CANDI SIMANGAMBAT: CANDI HINDU BERLANGGAM ARSITEKTUR JAWA, DI MANDAILING NATAL, SUMATERA UTARA (BAS Vol. 21 No. 2, 2018).  Penelitian ini hanya mengacu pada abad ke-9 hingga ke 11 atas dasar temuan botol kaca yang juga ditemukan di situs Lobu Tua. Perbandingan relatif inilah yang menjadi alasan mengapa ditambah frase ‘candi Hindu berlanggam arsitektur Jawa’. Tentu saja dunia candi di Sumatra khususnya candi Simangambat berbeda dengan dunia candi di Jawa yang terpisah secara geografi.

Lantas bagaimana sejarah candi Simangambat di Siabu? Artikel ini tidak membahas secara spesifik pada sisi arkeologis (pada situs), tetapi lebih luas sebagai kawasan (spasial) yang menjadi pusat awal peradaban (ekonomi dan sosial) di wilayah Angkola Mandailing yang sekarang. Sebagaimana diketahui bahwa candi Simangambat lebih tua keberadaannya jika dibandingkan candi-candi yang terdapat di wilayah Padang Lawas. Sebagai pusat perkembangan peradaban di Angkola dan Mandailing tentu saja peran candi Simangambat penting untuk dipahami. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Awal Perkembangan Peradaban

Candi Simangambat di pulau Sumatra dalam beberapa elemen memiliki kemiripan dengan candi yang ada di Jawa, seperti candi Prambanan dan candi Plaosan. Itu satu hal. Hal lain yang lebih penting adalah mengapa ada candi di Simangambat? Mengapa tidak dibangun di tempat lain?

Candi Prambanan, candi Hindoe dan candi Plaosan, candi Bndha dibangun pada abad ke-9. Candi-candi ini mewakili sebaran candi-candi yang terdapat di (pulau) Jawa apakah yang dibangun sebelumnya atau sesudahnya. Candi Simangambat juga mewakili candi-candi yang ada di (pulau) Sumatra apakah yang dibangun sebelumnya atau sesudahnya. Candi-candi yang dibangun sesudah di Simangambat antara lain adalah candi-candi di Padang Lawas. Sangat mungkin sudah ada candi sebelum di Simangambat yang dibangun, namun belum ditemukan.

Pembangunan suatu candi, tentulah ada peradaban yang sudah terbentuk jauh sebelum dibangunnya candi Simangambat. Peradaban yang dimaksud adalah peradaban di sekitar kawasan dimana candi dibangun. Oleh karena itu, adanya candi dari sudut pandang arkelogis tidak hanya membandingkan hal yang terkait yang serupa dengan candi di tempat lain (geografis), tetapi juga dari segi historis di tempat dimana candi dibangun. Aspek historis ini sudah barang tentu ada (dinamika) kehidupan yang mendahului sebelum adanya candi, bahkan kehidupan yang sudah berabad-abad berlangsung.

Kehidupan, berarti ada penduduk, jumlah penduduk yang banyak. Kehadiran penduduk terbentuk karena adanya sumberdaya (resources) yang berharga, tanah yang subur (untuk menyedikan pangan), sumberdaya alam dalam hubungannya dengan perdagangan seperti hasil-hasil pertambangan, kehutanan dan perburuan. Kehadiran penduduk asing (pendatang dari jauh, katakanlah dari India) di kawasan karena faktor perdagangan dari produk-produk perdagangan yang berharga. Penduduk asing yang berkoloni inilah yang memperkaya peradaban di kawasan seperti religi, bahasa dan aksara, kelembagaan (struktur pemerintahan), seni, arsitektur yang menjadi pangkal perkara dibangunnya candi. Faktor-faktor tersebut relevan dengan kawasan dimana terdapat candi Simangambat.

Candi Simangambat dibangun di atas tanah sedimen daerah aliran sungai Batang Angkola (lihat Ery Soedewo dan Andri Restiyadi). Informasi ini penting karena mengindikasikan adanya pengaruh arus sungai Batang Angkola dari hulu (arah utara) yang membawa material padat (lumpur tanah dan batu atau sampah tumbuhan) di masa lampau. Informasi ini juga sekaligus menjelaskan bahwa area candi dulunya adalah perairan, yang boleh jadi bagian dari permukaan danau besar (danau Siabu) seperti yang disinggung pada artikel sebelumnya.

Keberadaan danau Siabu diduga kuat terbentuk karena proses alam dimana dua sungai besar bermuara (sungai Batang Angkola dari utara dan sungai Batang Gadis dari selatan) dan sungai-sungai kecil seperti sungai Muara Sada (dari timur). Sisi timur danau Siabu ini sudah terbentuk jalur lalu lintas zaman kuno (kuda) lintas Sumatra mulau dari Lampong hingga Gajo. Danau ini kemudian karena proses alam apakah pengaruh gempa vulkanik atau tektonik yang menyebabkan jalan air (danau) menuju laut runtuh (melebar) yang mengakibatkan permukaan danau menyusut. Area-area kawasan danau yang mengering menjadi tanah-tanah yang padat dan menjadi pemukiman. Di sekitar pemukiman eks danau inilah kemudian dibangun candi Simangambat. Sementara itu proses hilangnya danau, wujud sisa danau pada era kolonial Belanda masih ditandai sebagai kawasan rawa-rawa besar (rodang). Faktor hilangnya danau, yang diduga terjadi erupsi besar gunung (Sorik Marapi) yang menyebabkan terjadinya endapan material padat sehingga teluk di sisi barat menjadi daratan. Jarak antara Simangabat dengan laut menjadi sangat jauh dan tidak bisa dilalui lagi.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Candi Simangambat di Siabu, Candi Tertua di Pulau Sumatra

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar: