Jumat, Mei 21, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (18): Makam Kuno di Tapanuli Bagian Selatan;Mata Rantai Data Paradaban Zaman Kuno dan Zaman Now

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Apalah artinya pemakaman tua pada generasi masa kini pada ini hari? Tidak ada yang peduli. Penduduk sekitar (pemakaman tua) hanya memandang situs-situs tersebut sebagai masa lampau. Kuburan tua dalam wujud gunungan tanah atau pagar dengan papan batu andesit tua sepi sendiri. Kuburan-kuburan tua itu semakin sepi karena letaknya di atas bukit atau di tengah hutan belantara. Tidak seorang pun sengaja mengunjungi, kecuali generasi sekarang yang memiliki bidang keilmuan sejarah atau benda-benda kepurbakalaan (arkeologi). Lewat mereka ini, sesungguhnya kita pada masa ini mengetahui apa yang pernah terjadi pada masa lampau bahkan di zaman kuno di sekitar pukuburan.

Di Depok ada sebuah pemakaman, dimana banyak kuburan-kuburan lama. Lokasinya tidak jauh dari pusat perbelanjaan Kota Depok, tepatnya di belakang rumah sakit Mitra dan rumah sakit Hermina. Jika ada keperluan di sekitar, saat saya sedang menunggu lama keluarga saya beberapa kali menyempatkan diri melihat-lihat kuburan tua karena nisannya masih ada (nama, tahun lahir dan tahun meninggal). Banyak diantara kuburan itu (berdasarkan tahun dimakamkan) yang berumur lebih dari satu abad. Tentu saja saya menemukan nama-nama yang saya cari, nama yang pernah diberitakan pada surat kabar tempo doeloe (era Hindia Belanda). Beberapa tahun lalu, seorang senior saya rutin taip tahun mengunjungi kuburan putra di sebuah pemakaman di Bogor. Selalu bertanya-tanya kuburan siapa yang berada disamping kuburan anaknya. Sebagai kuburan tua dia bertanya kepada saya. Tahukah siapa nama Radja Enda Boem? Saya langsung jawab: Itu adalah nama yang sudah saya kenal: ‘Mr. Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi meninggal tahun 1929. Itulah arti kuburan tua, menyimpan data sejarah dan saya menemukan yang satya butuhkan. Waktu kecil (masih SD), saya ingat betul pewaris keluarga raja, tetangga kami, melakukan kegiatan memidahhkan beberapa kuburan para leleuhur ‘mengongkal holi’ di suatu kebun mereka tidak jauh dari pemukiman. Saya melihat begitu banyak benda-benda kuno bahkan ada tombak dan perhiasan emas yang dikumpulkan. Tentu saja saya tidak tahu dikemanakan benda-benda itu. Yang jelas baru saya memahami sekarang jika di dalam benda-benda itu ada data sejarah masa lampau.  Itulah arti kuburan tua jika hanya dianggap sebagai kuburan tua saja. Yang jelas data sejarah telah hilang.

Lantas bagaimana sejarah pemakaman tua atau kuburan zaman kuno di Tapanuli Bagian Sekatan? Diantara yang sudah hilang karena ‘mengongkal holi’ tentu masih banyak yang ada, tapi entah dimana. Apakah itu tidak menjadi urusan dinas kebudayaan atau kepurbakalaan? Okelah itu satu hal. Hal yang lain ingin diperhatikan dalam hal ini adalah apa yang bisa dipelajari dari kegiatan-kegiatan dari rekan para arkeolog dalam ekskavasi kuburan tua atau kuburan kuno. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Memahami permulaan itu dapat dipelajari pada makam-makam tua atau kuburan-kuburan kuno. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe yang dalam hal ini makam kuno.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja* Lukisan makam kuno di Siabu, 1843

Apa yang Bisa Dipelajari dari Makam-Makam Kuno

Pada tahun 1843 Le Clereq yang ikut mendapingi Jenderal von Gagern, utusan Radja Belanda bersama Gubernur Province Sumatra’s Westkust mengunjungi wilayah (afdeeling) Angkola dan Mandailing, membuat beberapa lukisan. Salah satu lukisan tersebut berjudul Makam Raja-Raja di Siaboe. Dalam lukisan itu, memang tidak terinformasikan tentang siapa yang dimakamkan, kapan dan kedudkannya apa di masa lampau. Satu-satunya informasi yang ada pada lukisan itu hanya lah penyataan yang menjadi judul lukisan ‘makam raja-raja dari zaman kuno’.

Tentu saja dari lukisan itu tidak hanya soal raja bukan? Dengan memperhatikan lukisan itu kita dapat informasi wujud atap rumah yang melindungi makam pada masa itu. Bentuknya mirip dengan atap rumah (adat) yang sekarang di Angkola Mandailing tetapi berbeda dengan di wilayah Minangkabau. Dari bentuk makam sendiri, terkesan dari dua makam yang ada adalah bangunan makam sangat besar, bertingkat dua dari atas permukaan tanah. Di atas bangunan makam terlihat benda yang diduga patung-patung. Pada bagian luar makam ada tampak bentuk wujud orang (patung). Satu lagi yang terlihat pada lukisa itu adalah sebuah bangunan semacam sopo, tempat peristirahatan yang mungkin digunakan ketika keluarga raja sedang berziarah. Lukisan itu meski nampak sederhana, bukan benda kepurbakalaan, tetapi telah menggambarkan suatu sejarah. Lukisan tersebut pada masa kini dapat dikatakan sebagai data sejarah. Foto maka kuno di Sipirok (1895)

Sebelum ada alat potret, lukisan adalah alam perekam. Ajudan Jenderal van Gagern, Letnan Le Clere1, seorang tentara profesional asal Prancis itu yang bisa melukis menjadi kerja rangkap sebagai ‘tukang potret’ dengan melukis. Masih tentang gambaran tentang makam tua sebuah foto makam tua di Sipirok yang dibuat pada tahun 1895. Foto ini menggambarkan kondisi yang lebih jelas di atas makam kuno. Tentu saja saat itu, tidak hanya penduduk Siabu, penduduk Sipirok juga beragama Islam, namun gambaran pada dua makam itu keberadaan patung menjadi penanda bahwa kuburan di Sipirok juga adalah makam kuno.

Pada makam kuno Sipirok, wujud patung-patungnya tampak lebih jelas bentuk dan ukuran. Ada juga patung kuda yang ditanggangi orang. Pada dua nisan yang ada tampak ada pahatan yang mencerminkan ukiran motif Angkola. Pola nisan menggambarkan dua bentuk tanduk (kerbau). Ada juga tampak, namun tidak begitu jelas semacam tombak dengan mata tompak ke atas. Pada bagian pagar makam dan pagar bangunan makam tidak hanya mengindikasikan bentuk pagar juga polanya. Informasi itu juga harus diartikan sebagai data sejarah tentang arsitektur bangunan. Pada tiang bangunan maka juga tampaknya ada pahatan.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sebaran Makam-Makam Kuno di Tapanuli Bagian Selatan

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar: