09/09/16

Zainul Arifin Pohan (2): Membawa NU Keluar dari Masyumi dan Menjadi Wakil Perdana Menteri



Zainul Arifin Pohan, mantan Panglima Hisbullah terjun ke dunia politik bukan saja kehendaknya sendiri tetapi juga kehendak dari kalangan NU. Amanat itu sejauh ini dapat ditunaikan Zainul Arifin Pohan dengan baik. Namun dalam perkembangannya, NU mengharapkan hasil yang lebih baik dengan cara keluar secara baik-baik dari Masyumi dan NU lalu membentuk partai sendiri: Partai NU.

NU Keluar dari Masyumi

Secara resmi NU menarik diri dari Masyumi pada 31 Juli 1952. Pada sidang parlemen 17 September 1952, tujuh anggota parlemen dari NU menarik diri dari Masyumi. Di antaranya Wahab Chasbullah, Idham Chalid, Zainul Arifin.

Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 10-03-1952: ‘Dewan Nahdlatul Ulama, Zainul Arifin, melayani di dewan eksekutif Masyumi, Sabtu mengatakan dalam sebuah wawancara telepon dengan Ancta bahwa pernyataan kiai Wahab tidak mencerminkan posisi Nahdlatul Ulama lagi. Menurut dia, yang di pertemuan terakhir memutuskan dengan suara bulat untuk meninggalkan semua masalah politik kepada pimpinan Masyumi’.

De nieuwsgier,13-09-1952: ‘Posisi anggota parlemen dari Nahdlatul Ulama, Zainal Arifin dari permintaan Nahdlatul Ulama dikomunikasikan kepada PIA, bahwa dalam pertemuan Jumat antara Nahdlatul Ulama dan Masyumi akan diselenggarakan pada status anggota NU di parlemen. Sekarang NU telah dipisahkan sebagai anggota luar biasa dari Masyumi, status anggota NU di parlemen tidak tentu. Namun, kedua belah pihak sepakat bahwa untuk masa transisi tiga bulan - yang berakhir pada akhir Oktober - keanggotaan ganda diperbolehkan. Anggota NU yang juga anggota Masyumi tetap menjadi anggota fraksi Masyumi di parlemen. Mr Zainul Arifin menjelaskan lagi, bahwa masalah ini dengan cara yang paling bersahabat dengan Masyumi akan dibahas. Hal ini sangat mungkin bahwa sekarang, di masa mendatang akan membentuk kelompok mereka sendiri’.

De nieuwsgier, 23-09-1952: ‘Nahdlatul Ulama membentuk kelompok sendiri. Mr Zaiuul Arifin dari Nahdlatul Ulama dilaporkan PIA mengumumkan bahwa partai yang telah membentuk fraksi sendiri di parlemen. Para anggota Nahdlatul Ulama, sebelumnya bagian dari Masyumi "kelompok, datang ke sana dan telah membentuk kelompok mereka sendiri. Kelompok NU terdiri dari dan diketuai oleh Bapak Zainul Arifin. Permintaan ini, mengumumkan bahwa hubungan antara kelompoknya dan yang dari Masyumi hubungan yang baik. Ada tingkat kerjasama di mana kedua pihak dapat bertemu. Anggaran dasar Anggota Nahdatul Ulama menunjuk Bapak Zainul Arifin, A. Alas dan Kiai Wahab’.

Parlemen melakukan pemilihan ketua komisi untuk jabatan kedua tahun 1954. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-05-1953 Zainul Arifin menjadi ketua komisi Pertahanan.

Ini untuk kali pertama ketua komisi di parlemen yang berasal dari Sumatera Utara.

Wakil Perdana Menteri dan Pemberontakan di Aceh

NU makin popular setelah keluar dari Masyumi. Langkah-langkah strategis Zainul Arifin sudah mulai menghasilkan. Pada fase-fase akhir Kabinet Wilopo, NU yang dipimpin Zainul Arifin bertemu Presiden Soekarno. Koalisi Liga Muslimin Indonesia, Nahdlatul Ulama, PSII dan Perti menjadi mayoritas parlemen akan bisa menjamin pemerintahan yang kuat. Presiden tampaknya akan mengajukan formatur baru untuk pemerintahan baru (lihat De nieuwsgier, 09-06-1953).

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-07-1953: ‘Zainul Arifin dari NU setelah bertemu Burhanuddin Harahap pihaknya dengan formatur banyak poin kesepakatan dalam program untuk komposisi Kabinet’.


Java-bode, 30-07-1953
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-07-1953: ‘Desain formatur. Menurut informasi, formatur yang telah dirancang kabinet, yang terdiri dari 21 kursi, termasuk dua pos wakil perdana menteri. Pemerintah mengusulkan seperti ini: Perdana Menteri: Ali Sastroamidjojo; (PNI); Wakil Perdana Menteri I: Wongsonegoro (PIR), Wakil Perdana Menteri II: Zainul Arifin (NU).

Akhirnya, Zainul Arifin diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri RI. Nama Zainul Arifin langsung terangkat di Sumatera Utara. Surat kabar Het nieuwsblad voor Sumatra yang terbit di Medan untuk kali pertama melaporkan riwayat singkat Zainul Arifin sebagai kelahiran Baros, Tapanoeli.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 06-08-1953: ‘Para anggota pemerintah baru Indonesia (III). Zainul Arifin, lahir tahun 1909 di Baros (Tapanuli) dan milik Nahdlatul Ulama, bertindak dalam kabinet baru sebagai Wakil Perdana Menteri kedua. Selama pendudukan Jepang Zainul Arifin adalah kepala departemen umum MPRS Sjura Muslimin Indonesia. Setelah pelatihan selama tiga bulan, Zainul Arifin menjadi pemimpin Hisbullah. Selama revolusi Zainul Arifin adalah komandan kelompok pertempuran. Ketika Hisbullah termasuk di dalam TNI, Zainul Arifin menjadi sekretaris pimpinan TNI. Pada bulan Juli 1947 Zainul Arifin menjadi anggota panitia kerja KNIP. Zainul Arifin adalah sebelum perang secara resmi adala pegawi Kotamadya Batavia selama lima belas tahun’.

Ini dengan sendirinya Zainul Arifin Pohan telah menambah daftar nama perdana menteri RI yang berasal dari Tapanuli. Sebelum Zainul Arifin sudah ada dua orang: PM Amir Sjarifoedin Harahap dan Wakil PM Abdul Hakim Harahap. Baik Amir maupun Hakim kabinetnya masih berada di Jogjakarta. Abdul Hakim Harahap sebagai wakil PM adalah kabinet terakhir di Jogjakarta (ketika Republik Indonesia menjadi bagian Republik Indonesia Serikat).

  1. PM Amir Sjarifoedin Harahap 3 Juli 1947 s/d 29 Januari 1948
  2. Wakil PM Abdul Hakim Harahap dalam Kabinet Abdul Halim 21 Januari 1950 s.d 6 September 1950
  3. Wakil PM Zainul Arifin Pohan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo 30 Juli 1953 s/d 12 Agustus 1955
  4. PM Burhanuddin Harahap 12 Agustus 1955 s/d 24 Maret 1956      
  5. Wakil PM Abdul Haris Nasution dalam Kabinet Kerja Djuanda 6 Maret 1962 s/d 13 November 1963
  6. Wakil PM Adam Malik Batubara dalam Kabinet Dwikora Soekarno 22 Februari 1966 s/d 25 Juli 1966
  7.  selanjutnya Adam Malik menjadi Wakil Presiden: 23 Maret 1978 s/d 11 Maret 1983



*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: