13/09/16

Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (3): Pengumpulan Dana Masyarakat dan Proses Pembangunan yang Membutuhkan Waktu

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Masjid Istiqlal dalam blog ini Klik Disin

Sejak digulirkan gagasan ke dalam proses pembangunan masjid besar Jakarta, Masjid Istiqlal tahun 1953 hingga tahun 1956 telah banyak berubah. Perubahan yang utama adalah perkiraan anggaran pembangunan masjid. Pada tahun 1953 panitia memperkirakaan anggaran sekitar Rp 20 Juta, tetapi pada tahun 1956 anggarannnya sudah menjadi Rp 68 Juta. Kenaikan anggaran ini boleh jadi disebabkan harga-harga bahan yang meningkat atau detail masjid yang tercermin dari desain masjid yang telah ditetapkan (pemenang hasil sayembara).

Sejak 1953 hingga 1856 di berbagai daerah terjadi pemberontakan yang penyelesaiannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara itu, sumber pendapatan Negara belum signifikan meningkat. Belum lagi di sana-sini terjadi smokkel (penyelundupan) yang mengakibatkan kerugian Negara. Pada tahun 1955 diadakan pemilu pertama yang notabene membutuhkan anggaran Negara.  Dengan memperhatikan berbagai peningkatan kebutuhan Negara dengan beragamnya alokasi pengeluaran membuat alokasi anggaran pembangunan masjid Istiqlal terpengaruh. Peningkatan nilai pembiayaan pembangunan masjid besar itu tentu saja akan mengalami dampak.  

Namun demikian, keinginan pembangunan masjid sudah begitu kuat. Untuk membantu anggaran pemerintah dalam alokasi pembangunan masjid dipercepat proses pengumpulan dana masyarakat. Kegunaan utama inisiatif penggalangan dana masyrakat lebih awal agar panitia memiliki cash-flow yang baik ketika proses persiapan, proses awal pembangunan masjid sudah dimulai. Beruntung, bahwa lahan yang dipilih merupakan lahan Negara (yang dapat dialokasikan) sehingga biaya lahan tidak lagi membutuhkan anggaran besar kecuali untuk keperluan seperti land clearing.

Pemberian Penghargaan bagi Perancang Masjid Istiqlal

Salah satu inisiatif panitia dan arahan Presiden Sukarno agar desain masjid disayembarakan sudah terpenuhi. Demikian juga pemberian hadih bagi para pemenang sudah ditunaikan. Sebagaimana diketahui, pemenang pertama adalah F. Silaban dari Bogor. Pemberian hadiah langsung diberikan Presiden Sukarno di Istana Merdeka.

De nieuwsgier, 05-04-1956: ‘Upacara pemberian penghargaan Masjid Istiqlal Jakarta di Istana Merdeka. Dalam memberikan hadiah kepada pemenang untuk desain bangunan masjid Istiqlal, yang akan dibangun di eks Wilhelmina Park di Jakarta, Presiden Soekarno Selasa, dalam kapasitasnya sebagai ketua dawan juri menghibau bagi semua bagian dan kelompok orang-orang di seluruh negeri untuk berkontribusi pada pembiayaan pembangunan masjid Istiqlal, yang dibanderol sebsar Rp 68 Juta. Ini akan menjadi salah satu masjid terbesar di Asia. Upacara penghargaan berlangsung di Istana Merdeka, dimana dalam kesempatan ini hadir tokoh di ibukota dan sejumlah besar orang dari bisnis (pengusaha). Komite pembangunan telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 2,5 Juta. Untuk pemenang hadiah pertama, F. Silaban dari Bogor sebesar Rp 25.000 dan medali emas. Pemenang lainnya, yakni R. Utoyo (kedua) dan Han Groenewegen (ketiga) dari Jakarta. Untuk peserta lainnya, termasuk mahasiswa di Universitas Teknik (ITB). H. Anwar Tjokroaminoto, Ketua Jajasan Mesdjid Istiqlal berbicara. Hadir untuk penerima disampaikan oleh Ketua Komisi Sayembara, Mr. Assaat’.

Dalam kesempatan pemberian hadiah di istana tersebut, Presiden Sukarno menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk turut memberikan kontribusi dalam suksesnya proses pembangunan masjid Istiqlal. Pihak yang pertama mendengar himbauan ini adalah para Tokoh dan para pengusaha.

Peletakan Batu Pertama

Dalam proses memulai pembangunan masjid, kontraktor yang ditunjuk adalah Kantor Insinyur Penabatu di Menteng, pimpinan Ir. Tarip Abdullah Harahap. Langkah pertama yang dilakukan setelah land clearing adalah peletakan batu pertama. Pembangunan masjid ini direncanakan akan menelan biaya Rp 68 Juta dan memakan waktu lima tahun.

De nieuwsgier, 05-04-1956: ‘Masjid Istiqlal. Peletkan batu fondasi akan berlangsung segera, seluas dua meter persegi di eks Wilhelmina Park yang berada di Jalan Pintu Air. Menurut rencana, pembangunan akan berlangsung dalam waktu lima tahun diselesaikan. Ketua Jajasan Mesdjid Istiqlal menyatakan kepada pers, biaya diperkirakan Rp 68 Juta. Ruang dalam masjid akan mengakomodasi 20.000 orang, sedangkan di halaman masjid disedikan galeri untuk 10.000 orang. Jajasan telah sejauh ini telah mengumpulkan dana Rp 10 Juta’.

Pengumpulan Dana

Panitia mulai melakukan penggalangan dana masyarakat. Kegiatan pertama adalah menarik retribusi kepada masyarakat yang akan mengunjungi Taman Wijayakusuma (eks Wilhelmina Park). Sebagian dana retribusi taman digunakan untuk pembangunan masjid. Sejauh ini sudah ada sebesar Rp 145.000 yang diterima panitia.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-02-1957: ‘Mesdjid Istiqlal. Dewan yayasan untuk pembangunan masjid Istiqlal mengumumkan bahwa taman Widjaja Kusuma di mana masjid akan berlokasi, masih terbuka untuk umum. Mereka yang ingin mengunjungi taman untuk, sejumlah kecil (dari mana uang itu dimaksudkan untuk mendanai pembangunan masjid) akan diizinkan di taman. Hal ini lebih lanjut dokatakan bahwa sejak pembukaan taman tersebut sudah sebesar Rp. 145.000 diterima’.

Untuk memperluas cakupan penggalangan dana pembangunan masjid, panitia merencanakan untuk mangdakan pasar malam besar di Taman Wijayakusuma, lokasi dimana masjid Istiqlal akan dibangun. Satu pengumuman dari panitia bahwa biaya pembangunan masjid menjadi Rp 135 Juta. Angka ini telah meningkat tajam sejak diumumkan tahun 1956 yang masih sebesar Rp 68 Juta.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-04-1957: ‘Taman Widjaja Kusuma. Jajasan Mesdjid Istiqlal telah membuat rencana untuk mengatur Pasar Malam Besar di Taman Widjaja Kusuma (Citadel) pada bulan Juli dan Agustus tahun ini untuk mengumpulkan ke dalam dana untuk pembangunan masjid di sana. Pihak yang berkepentingan dapat memperoleh informasi yang diperlukan dari tangga 15 April. Sekretaris lembaga berada di Jalan Sawah Besar 32, Gambir, Jakarta, Tel. 2327. Biaya konstruksi untuk pembentukan masjid diperkirakan 135 juta rupiah, menurut pernyataan panitia’.

Untuk memperluas lagi cakupan penggalangan dana pembangunan masjid, panitia menerbitkan majalah berkala. Dalam edisi percobaan, majalah yang diberi nama Istiqlal, Presiden Sukarno menghimbau masyarakat yang memebeli majalah ini sebagian diperunttukkan untuk pembangunan masjid Istiqlal.

Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 12-04-1957: Masjid Istiqlal. Presiden Sukarno telah muncul dalam edisi hari percobaan majalah berkala ‘Istiqlal; yang menghimbau kepada masyarakat untuk berkontribusi pembangunan Masjid Istiqlal di Jakarta melalui bagian dari penjualan majalah’.

Tentu saja cara pengumpulan dana yang disebut di atas hanya beberapa cara yang dapat dilakukan. Pembiayaan masjid yang cukup besar masih diperlukan daya upaya yang lain.

Parlemen Desak Pemerintah

Sebagaimana pada awalnya direncanakan pembangunan masjid merupakan anggaran pemerintah dan dana hasil penggalangan dari masyarakat. Dalam perkembangannya, pemerintah pusat telah menyediakan lahan sehingga panitia tidak perlu membeli lahan dan membebaskannya. Dalam hal ini boleh jadi pemerintah pusat menganggap telah mengalokasikan anggaran senilai harga lahan eks Wilhelmina Park tersebut. Pantia tampaknya merespon pembangunan masjid itu harus dilakukan lewat penggalangan dana masyarakat.

Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 05-06-1957: ‘Senin di parlemen menjadi periode kedua dari perdebatan umum di parlemen yang mengakhiri laporan pemerintah. Pada pertemuan ini berbicara tujuh anggota, salah satu Anwar Musadat (NU). Di akhir sambutannya, anggota Partai NU ini mendesak pemerintah dan ingin agar memberikan dukungan terhadap pembangunan masjid Istiqlal di ibukota’.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: