14/09/16

Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (4): Mengapa Sukarno Termotivasi Membangun Masjid? Kisahnya Dimulai Sejak 1925 di Bandung

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Masjid Istiqlal dalam blog ini Klik Disin

Presiden Sukarno tidaklah awam soal pembangunan masjid. Soekarno sebelum menjadi Presiden RI, sudah berpengalaman membangun masjid. Bahkan rancangan masjid yang dibuatnya sendiri sudah ada sejak 1925. Rancangan masjid Sukarno itu baru dibangun tahun 1950 di Bandung. Dalam perjalanannya ke Sumatera Utara (1951), Presiden Soekarno sangat iri melihat kemegahan Masjid Maimun (yang dibangun oleh Belanda). Dua bulan kemudian, ketika Presiden Sukarno berada di Yogyakarta, secara spontan Soekarno mulai membangun masjid besar, Masjid Suhada di Yogyakarta. Setahun kemudian (1952) Presiden Sukarno meresmikan Masjid Suhada. Lalu tahun 1953 di Jakarta, Presiden Soekarno mulai merealisasikan masjid yang sungguh sangat besar: tidak hanya mengalahkan Masjid Maimun di Medan, bahkan Presiden Soekarno akan membuat masjid yang terbesar di Asia Tenggara: masjid itu kemudian dikenal sebagai Masjid Istiqlal.

Desain Masjid Sukarno yang Dibuat Tahun 1925


Soekarno lulus Technische Hoogeschool (kini ITB) tahun 1926. Pada tahun 1925 Soekarno diketahui telah membuat desain masjid di Bandung. Akan tetapi desain masjid itu tidak diterangkan untuk dibangun dimana. Pada tahun 1950 ketika Ir. Soekarno telah menjadi Presiden RI di Bandung akan dibangun masjid setelah disetejui oleh Kementerian Agama. Desain masjid yang digunakan adalah hasil karya desain Sukarno yang telah dibuat 25 tahun yang lampau. Dengan kata lain desain masjid Sukarno itu dibuat sekitar tahun 1925.



Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 06-12-1950: ‘Masjid baru Ir. Soekarno di Bandung. Ada rencana untuk membangun sebuah masjid baru di Bandung dan telah disetujui oleh Kementerian Agama pada konferensi di Istana tanggal. 10 Juli tahun ini. Rencana dan gambar yang 25 tahun yang lalu oleh Ir. Sukarno dirancang. Sekarang telah dibentuk untuk tujuan ini komite yang akan berusaha untuk mengumpulkan dana untuk mencapai keinginan ini. Warga Bandung, Kepala Kantor Pemerintah, dan Perusahaan Swasta dihimbau untuk rela memberikan sumbangan sukarela yang dialamtkan ke: Sekretariat Panitia Mesdjid Quatal Islam di Jalan Sultan Agung 3, Bandang Bendahara Panitia Mesdjid Quatal Islam di Jalan Trunodjojo No. 40 Bandung 6F atau langsung ke Rekeneing Bank Rakyat Indonesia di Bandung. Atas nama Panitia Mesdjid Quatal Islam diucapkan semua kerjasamanya’.


Informasi bahwa Sukarno telah membuat desain masjid sudah diketahui sebelumnya. Setelah lulus kuliah di Bandung, Sukarno dikenal sebagai aristek. Desainnya banyak digunakan untuk pembuatan rumah-rumah orang Tionghoa. Selain itu, Sukarno juga dilaporkan pernah membuat desain sebuah masjid. Profesinya sebagai aristektur tetap ditekuninya meski Sukarno sudah terjun ke dunia politik.

De West: nieuwsblad uit en voor Suriname, 23-12-1946
De West: nieuwsblad uit en voor Suriname, 23-12-1946: ‘Soekarno lulus dari Technische Hoogeschool di Bandung, dimana ia menerima gelar di bidang teknik sipil, yang memberinya hak ‘Ir’ (siingkatan Engineer). Namanya pertama kali muncul sebagai arsitek yang telah merancang beberapa rumah Cina dan juga membuat gambar ddesai dari sebuah masjid muslim. Sukarno tetap merancang meskipun ia benar-benar telah terjun ke politik, ia tidak kehilangan minat dalam seni’.

Berdasarkan informasi tersebut, Ir. Sukarno jelas bukan awam soal desain masjid. Boleh jadi kunjungannya yang pertama ke Medan setelah pengakuan kedaulatan RI membuat Sukarno menjadi sadar dan melihat iri tentang kemegahan Masjid Maimun di Medan. Sebagaimana diketahui, Sukarno tidak asing dengan Medan, Sumatera Timur dan Tapanuli. Dengan kata lain, Sukarno sudah mengetahui keberadaan Masjid Maimun sebagai masjid terbesar di Indonesia sejak 1905.

Sukarno bercerita kepada Abdul Hakim Harahap di Marihat (1951)
Het nieuwsblad voor Sumatra, 28-07-1951: ‘Presiden di Parapat. Setelah sembilan pidato dalam satu hari di Sumatera Timur, setelah pidato yang terakhir dari sembilan pidato tersebut Presiden beristirahat ke Marihat di Danau Toba, di mana ia terakhir tahun 1949 diasingkan sebagai tahanan Belanda. Atas permintaanya, Presiden Sukarno teratrik dan akan bermalam di ruangan yang sama ketika Sukarno diasingkan antara 1 Januari sampai 26 Februari 1949 dengan furnitur yang sama persis sama. Dalam pidato singkat di Marihat di depan penduduk mengingatkan Presiden untuk keadaan yang sangat berbeda dimana ia ditahan  tahun 1949 ketika ia melihat danau Toba. Dalam perjalanan ke Marihat, sekali lagi, Presiden harus berhenti beberapa kali untuk orang-orang yang menunggu - meskipun hujan - untuk berbicara dan lalu dimana Presiden sendiri langsung pergi ke Marihat. Namun ia mencatat bahwa pinggir jalan Medan-Prapat sangat banyak bendera, tetapi beberapa spanduk terlihat  tarian malam terakhir dilakukan di lobi Hotel Parapat. Presiden Soekarno didampingi Gubernur Sumatera Utara Abdul Hakim Harahap dan Kolonel Simbolon, Komandan Teritorial Sumatera Utara dan Sekretaris dari Kementerian informasi, Ruslan Abdulgani.

Selama bermalam di tempat dimana Sukarno pernah diasingkan di pinggir Danau Toba boleh jadi Sukarno tertegun dengan kemegahan Masjid Maimun yang baru saja dilihatnya kembali di Medan. Sebagaimana diketahui Masjid Maimun yang megah itu bukanlah hasil karya bangsa sendiri dan hasil jerih payah bangsa Indonesia. Masjid Maimun adalah pemberian yang dilakukan oleh Asosiasi Perusahaan Perkebunan asing di Sumatera Timur. Arisitek dari Masjid Maimum adalah orang Belanda. Mungkin Sukarno mengganggap Masjid Maimun bukanlah kebanggan bangsa Indonesia. Sukarno boleh jadi ingin menandinginya untuk menunjukkan bangsa Indonesia juga dapat melakukan kebajika yang serupa terhadap pembangunan Masjid Maimun.

Sukarno Berambisi Membangun Masjid Besar Setelah Bermalam di Marihat, Danau Toba

Soekarno betul-betul menyadarinya. Sebab tidak lama kemudian (hanya dua bulan kemudian), Soekarno membuktikannya ketika berkunjung ke Jogjakarta untuk menerima gelar kehormatan Doktor HC dari Universitas Gajah Mada. Di sela-sela kunjungan akademik ini di Jogjakarta, Soekarno yang diagendakan untuk melihat pameran terpaksa dibatalkan karena Sukarno melihat adanya pembangunan masjid di Jogjakarta. Presiden Sukarno turun langsung untuk melihat pembangunan masjid tersebut.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-09-1951: ‘Doktor kehormatan untuk Presiden Soekarno di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dalam kunjungan ke Jogja untuk menerima gelar Doktor HC, Soekarno diarahkan untuk melihat pameran yang diadakan yang memaerkan karya-karya visual yang dibuat setelah tanggal 17 Agustus 1945. Tapi kemudian, untuk melihat pameran itu dibatalkan. Presiden Soekarno, di luar program resmi dan hanya karena efek yang kecil, Soekarno berkunjungan ke struktur yang menarik, yang dibangun di persimpangan jalan Batana Warsa dan Tjode. Di sebuah bukit yang mendominasi bagian dari kota, berdiri Masjid Suhada. Masjid ini akan menampung ribuan umat muslim, dirancang oleh arsitektur Supono, yang dikerjakan oleh perusahaan Belanda. Dalam hal ini perusahaan konstruksi Belanda itu diminta untuk membantu dalam pengembangan teknis dari rencana. Ini terjadi keadaan bahagia yang bisa memenuhi perusahaan Belanda itu dalam permintaan yang ditujukan bagi umat Islam. Masjid ini memiliki beton bertulang besar dan detail arsitektur telah bekerja dalam kolaborasi antara aristek Supono dan perusahaan konstruksi. Di bagian bawah bangunan besar ini dibangun sekolah agama, gedung kantor dan area untuk mandi ritual. Sebuah tangga lebar mengarah ke masjid yang sebenarnya,yang diatapi oleh kubah megah. Biaya masjid ini berjumlah delapan belas juta rupiah, pemerintah memberikan kontribusi setengah sedang setengah lainnya dikumpulkan dari berbagai individu. Dalam sepuluh bulan diharapkan bangunan masjid itu untuk menyelesaikan pembangunan. Kunjungan (Sukarno) tanpa pemberitahuan oleh presiden berlangsung selama sisa terhadap para pekerja. Di sekitar masjid Presiden berkeliling ke berbagai bagian dari pekerjaan dalam pembangunan, sementara para pekerja yang tengah bekerja di sana-sini tidak mengetahuinya padahal itu adalah kunjungan yang tinggi (kenegaraan). Para pekerja tetap bekerja. (kunjungan) Itu sangat tidak resmi’.

Presiden Soekarno boleh jadi terus mengolah pikirannya. Di Medan terdapat masjid besar dan megah, buatan arsitek Belanda dan pemberian Asosiasi Perusahaan Perkebunan (Asing/Belanda), sedangkan pembangunan masjid yang di Jogjakarta sentuhan Belanda jelas masih terlihat. Boleh jadi ketika Soekarno berada di lokasi pembangunan masjid di Jogjakarta berbalik pemikiran: ‘apakah bangsa Indonesia tidak bisa melakukan pembangunan seperti ini?’. Boleh jadi Presiden Sukarno menyimpan hasratnya untuk soal yang satu ini hingga pembangunan masjid besar di Jogjakarta ini usai.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 15-09-1952: ‘Pakistan menyumbangkan 24 karpet untuk Mesdjid-Sjuhada. Kuasa usaha dari Pakistan, Mr. KF Khalil, Sabtu, di sebuah upacara singkat di Kementerian Luar Negeri sebanyak 24 karpet diserahkan kepada Mr. Assaat ditawarkan sebagai hadiah oleh Pakistan atas nama Mesdjid-Sjuhada di Yogyakarta, yang dibangun tetap berada di memori pejuang kemerdekaan. Mr. Assaat yang duduk sebagai Ketua Komite untuk pembangunan masjid (Yogjakarta) mengatakan (masjid besar Jogjakarta) akan dibuka pada tanggal 20 September ini, yang mana Presiden Sukarno, yang saat ini membuat klaim akan hadir dalam upacara peresmian yang turut dihadiri oleh Menteri Perdagangan, Mukarto, Menteri Agama Fakih Usman dan undangan lainnya pejabat tinggi negara’.

Sebagaimana diketahui, setelah selesai pembangunan masjid Jogjakarta, Presiden Sukarno di Jakarta bersama Wakil Perdana Menteri Zainul Arifin Pohan intens mendiskusikan upaya pembangunan masjid besar di Jakarta. Lantas, Walikota Jakarta, Sjamruridjal dipanggis ke Istana Merdeka untuk mendiskusikan keinginan pembangunan masjid besar di Jakarta. Sejak itu, Sjamsuridjal mulai bekerja untuk mempersiapkannya. Sebagaimana diketahui, walikota mengusulkan pembentukan yayasan pembangunan masjid dimana diketahui salah satu anggota komite dan juga yang menjadi pengurus yayasan adalah Mr. Assaat. Soekarno sendiri diketahui telah membangun masjid di beberapa tempat.


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-12-1955: ‘…Mengenai keinginannya untuk membangun masjid, Sukarno menyatakan bahwa ia masih bisa mengingat dengan baik bahwa ia bekerja selama bertahun-tahun sejak mahasisw dan di pengasingan di Flores, di Bengkulu dan tempat-tempat lain untuk membangun beberapa masdjid. Masjid tersebut masih utuh sampai hari ini, menurut kepala Negara...’.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: