12/09/16

Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (2): Desainnya Diperlombakan, Pemenangnya F. Silaban dari Bogor

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Masjid Istiqlal dalam blog ini Klik Disin

Pembangunan masjid besar Masjid Istiqlal sudah barang tentu tidak mudah: butuh dana besar dan daya upaya yang besar. Untuk desain masjid juga butuh pemikiran besar untuk menghasilkan karya besar. Pemenang desainnya telah bekerja keras dengan pemikiran besar, karena desainernya sendiri beragama Kristen tetapi desain masjid itu harus sesuai dengan aspek budaya Islam. Untuk pengumpulan dana, selain dana pemerintah juga dilakukan sejumah cara mulai dari retribusi taman, pembuatan majalah hingga pengadaan pasar malam.

Masjid Istiqlal adalah masjid semua umat, tidak hanya untuk orang Batak, juga orang Jawa, Betawi, Sunda atau siapapun. Masjid Istiqlal benar-benar masjid ala Indonesia, semua individu apapun agamanya telah memberi kontribusi. Masjid Istiqlal telah meniru cara-cara yang sudah sejak dari dulu dilakukan di Sipirok: Islam dan Kristen, pribumi dan Tionghoa telah mengambil perannya selama proses pembangunan masjid di Sipirok. Masjid Sipirok cukup toleran mempersilahkan membangun gereja di seberang jalan masjid itu.

Pemenang Sayembara Pembuatan Desain Masjid Istiqlal: F. Silaban

Pemenang sayembara pembuatan desain masjid Istiqlal, bukan orang Jawa, Sunda atau Madura dan juga bukan orang Minang, Aceh atau Melayu, tetapi justru orang Batak. Uniknya, pemenang desain masjid itu yang bernama F. Silaban adalah beragama Kristen. F. Silaban bahkan dalam sayembara mengalahkan para lulusan institut (universitas) dan arsitek-arsitek Belanda. Padahal pendidikan formal F. Silaban hanya sampai pada tingkat SMA saja.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-07-1955: ‘Kontes Desain Berhadiah Masjid of Peace. Di Istana Negara berlangsung Selasa malam pengumuman pemenang kompetisi untuk desain untuk Masjid Istiqlal, yang akan dibangun di Jakarta di bekas Wilheknina Park. Upacara ini untuk dihadiri oleh Presiden Soekarno dan Menteri Agama, Haji Kiai Masjkur. hadiah pertama dimenangkan oleh F. Silaban arsitek di Bogor, dengan desain, yang disampaikan berdasarkan motto "Percaya pada Tuhan", Upacara penghargaan akan berlangsung oleh Presiden Soekarno setelah kembali dari Mekkah (5 Agustus). Selanjutnya, akan disajikan untuk menunjukkan tiga pemenang pertama dan hadiah hiburan untuk lima mahasiswa dari departemen arsitektur Fakultas Teknik di Bandung dan hanya membangun kanstruksi adalah kantor Asosiasi Insinyur di Jakarta.

Kompas, 21 Februari 1978 pernah mewawancarai F Silaban: ‘Arsitektur Istiqlal itu asli, tidak meniru dari mana-mana, tetapi juga tidak tahu dari mana datangnya’. Lebih lanjut, F. Silaban mengatakan: ‘Patokan saya dalam merancang hanyalah kaidah-kaidah arsitektur yang sesuai dengan iklim Indonesia dan berdasarkan apa yang dikehendaki orang Islam terhadap sebuah masjid’ (lihat Kompas.com). Pernyataan F. Silaban tampaknya sesuai dengan keinginan Presiden Sukarno (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-12-1954).

Pada saat F. Silaban memenangkan desain Masjid Istiqlal, Wakil Perdana Menteri adalah Zainul Arifin Pohan. Kedua orang ini sama-sama berasal dari Tapanuli. Zainul Arifin Pohan adalah pemimpin politik tertinggi NU, yang memulai pendidikan pesantren di Kotanopan (afdeeling Padang Sidempuan), lalu menjadi Panglima Hisbullah di Jawa semasa agresi militer Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan RI, Zainul Arifin Pohan terjun ke bidang politik lalu menjadi ketua komisi parlemen bidang pertahanan. Ketika NU keluar dari Masyumi, Zainul Arifin Pohan menjadi tokoh terpenting Partai NU hingga akhirnya menjadi Wakil Perdana Menteri. Zainul Arifin Pohan dan F. Silaban meski berkarir di jalan yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama telah memberi kontribusi besar bagi umat Islam.

Yang akan membangun konstruksi Masjid Istiqlal adalah Kantor Asosiasi Insiyur di Jakarta. Pada saat itu, konsultan terkenal di Jakarta adalah Kantor Insinyur Penabatu yang beralamat6 di Menteng. Direktur Kantor Insinyur ini adalah Ir. Tarip Abdullah Harahap, alumni Technische Hoogeschool (kini ITB) alumni tahun 1939.

Soekarno Ingin Menjadi Masjid Abadi

Soekarno adalah seorang yang futuristic: memikirkannya sekarang tetapi menempatkannya jauh di masa datang. Ini juga yang terjadi pada pembangunan masjid agung Masjid Iseiqlal. Sukarno menginginkan Masjid Istiqlal adalah bangunan abadi di Indonesia. Inspirasi ini muncul ketika Soekarno tengah menjalankan ibadah haji di Mekah.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-12-1955: ‘Presiden mengatakan bahwa "tiga dimensi" semangat rakyat Indonesia mungkin sejak periode wali mulai memudar, yang dapat dibuktikan dari kenyataan bahwa sejak saat itu seperti konstruksi berkelanjutan Borobudur tidak dibangun oleh Indonesia. Mengenai keinginannya untuk berkarya untuk bangunan masjid, ia menyatakan bahwa ia masih bisa mengingat dengan baik bahwa ia bekerja selama bertahun-tahun mahasiswa di pengasingan di Flores, di Bengkulu dan tempat-tempat lain untuk membangun beberapa masjid. Masjid ini masih utuh sampai hari ini, menurut kepala negara. Dalam hal ini, dia mengatakan sesuatu tentang penemuannya selama ziarah ke Mekah. Presiden Soekarno mengatakan ia menangis seperti anak kecil, ketika ia berada di makam Nabi dan sejak saat itu pikiran presiden lagi menjadi hidup untuk bekerja sama pada pembangunan masjid. Memiliki daya tiga dimensi, menurut kepala negara merupakan syarat mutlak agar mampu membangun konstruksi berkelanjutan yang besar, seperti masjid-masjid di Kairo, sudah berusia ribuan tahun. Jadi, ini harus dengan membangun masjid Istiqlal di Jakarta, yang akan dibangun dari ‘batu hidup’, beton dan marmer dan fitur akan menjadi pintu dari spesies logam yang dapat menantang waktu’, lanjut Presiden Sukarno’.

Yang mendampingi Sukarno dalam menemukan inspirasi abadi ini adalah Zainul Arifin Pohan. Presiden Sukarno dan Wakil Perdana Menteri Zainul Arifin Pohan berangkat sama-sama untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah tahun 1955. Keduanya, meski berbeda partai (Sukarno anggota Partai PNI dan Zainul Arifin Pohan anggota Partai NU) tetapi dalam banyak hal sangat akrab. Konon, Sukarno sangat mempercayai NU karena sangat mempercayai Zainul Arifin Pohan. Perkawanan mereka tidak abadi di dunia politik karena Zainul Arifin Pohan telah meninggal dunia setelah tertembak di Masjid Istiqlal ketika sekelompok orang ingin membunuh Sukarno justru yang tertembak adalah Zainul Arifin Pohan.

Siapa yang membimbing Sukarno untuk merealisasikan gagasan pembangunan masjid agung tersebut? Gagasan pembangunan masjid besar di Jakarta adalah orang-orang dari kalangan Masyumi (NU masih bagian dari Masyumi). Untuk mempengaruhi Sukarno agar mendirikan masjid terbesar di Indonesia adalah Zainul Arifin Pohan. Soekarno dan Zainul Arifin Pohan telah mendiskusikan pendirian masjid itu, sejak gagasan, persiapan, peletakan batu pertama hingga proses pembangunannya berlangsung. Sayang, keduanya tidak melihat hasil akhirnya. Namun demikin, keduanya telah memikirkannya untuk bangsa Indonesia hingga di masa yang akan datang.

Bersambung:
Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (3): Pengumpulan Dana Masyarakat dan Proses Pembangunan yang Membutuhkan Waktu


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: