11/09/16

Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (1): Belum Ada Namanya Ketika Persiapan Pembangunannya Dimulai

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Masjid Istiqlal dalam blog ini Klik Disin

Masjid Istiqlal adalah masjid terbesar di Indonesia. Di awal persiapan pembangnannya masjid ini hanya disebut masjid besar atau masjid agung. Begitu besarnya, maka setiap orang membicarakannya. Liputan media tentang masjid besar ini juga dari waktu ke waktu tidak ketinggalan. Oleh karena itu, sejarah pembangunannya dapat ditelusuri dengan baik dan benar.
Saat saya menulis serial artikel Sejarah Istiqlal ini, teman saya sewaktu sekolah menengah di Padang Sidempuan, Zulfan Efendi Harahap yang kini bermukim di Houston, Texas tengah menggagas bersama teman-temannya pendirian sebuah masjid Indonesia terbesar di Amerika Serikat. Masjid di tengah warga Amerika Serikat itu mereka berikan namanya Masjid Istiqlal (Masjid Merdeka). Semoga Sejarah Masjid Istiqlal ini mengilhami dan memperkuat semangat mereka membangun masjid Istiqlal (masjid Merdeka) di Houston sebagaimana prosesnya pernah terjadi pada masa lampau dalam pembangunan Masjid Istiqlal di Djakarta. 
Persiapan Pembangunan

Ide pembangunan masjid besar di Jakarta baru direalisasikan dengan dibentuknya panitia yang disebut Panitya Kerdja Persiapan Pembikinan Masdjid Agung yang diketuai oleh Sjamsuridzal (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-04-1953). Untuk pembangunannya dibutuhkan dana sebesar Rp 20.000.000,- yang mana pembiayaannya sebagian ditanggung pemerintah dan sebagian yang lain oleh masyarakat. Kapasitas masjid ini direncanakan untuk 25.000 orang yang merupakan masjid terbesar di Indonesia. Anggaran yang ditaksir termasuk untuk pembelian lahan seluas 17.1 Ha.

Pembangunan masjid besar ini tentu tidak mudah karena anggarannya sangat besar. Untuk itu panitia memerlukan perhatian berbagai pihak. Lantas panitia mengadakan pertemuan di Gedung Pertemuan Umum Jakarta dengan mengundang berbagai pihak untuk memberikan pendapat termasuk Walikota Sjamsuridzal dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 02-10-1953). Dari pertemuan ini diputuskan untuk membentuk komite interim yang terdiri dari tiga orang yang bertugas untuk memutuskan untuk menunjuk sejumlah orang untuk pembentukan komite pendirian masjid.

Sjamsuridzal adalah Walikota Jakarta. Mr. Sjafruddin Prawiranegara adalah Gubernur Bank Indonesia.

Kemudian pertemuan berikutnya dilakukan komite yang diketuai oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara (De nieuwsgier, 30-11-1953). Dalam pertemuan ini sejumlah tamu dan tokoh dalam masyarakat Islam. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Wakil Perdana Menteri II, Zainul Arifin Pohan dan Menteri Dalam Negeri, Prof. Hazairin. Setelah terjadi pembicaraan, Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengusulkan komposisi komite permanen yang terdiri dari: Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua dan anggota adalah Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Mr. Assaat dan KH Taufiquarrahman. Lokasi pembangunan masjid tersebut direncanakan di Wilhelmina.

Zainul Arifin Pohan adalah mantan Panglima Hisbullah di era perang kemerdekaan. Zainul Arifin Pohan adalah pemimpin politik NU (Partai NU). Hazairin sendiri adalah anggota Partai PIR. Mr. Assaat adalah mantan Ketua KNIP.

Komite yang terbentuk ini kemudian mendirikan yayasan yang disebut Jajasan Pendirian Mesdjid. Para pendiri yayasan terdiri dari berbagai pihak. Untuk merealisasikan masjid besar ini Walikota Jakarta langsung berkoordinasi dengan Presiden Soekarno.

Taman Wijayakusuma (eks Wilhelminapark)
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 27-11-1954: ‘Presiden Soekarno, Walikota Sudiro, dan anggota dewan dan pihak berwenang lainnya, mengunjungi Taman Widjajakusuma (sebelumnya bernama Wilhelminapark) di Jakarta dalam rangka untuk meninjau taman sehubungan dengan niat untuk membangun sebuah masjid besar untuk Indonesia. Setelah observasi menyatakan Presiden Sukarno. bahwa taman adalah tempat terbaik dimana lapangan masjid besar ini dibangun…

Selanjutnya pengurus yayasan yang terdiri dari tujuh orang antara lain Anwar Tjokroaminoto, Mr. Assaat, Kiai Masjkur, Hasmuni dan Rashid Komite akan mendatangani Presiden Soekarno di Istana Merdeka (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-12-1954). Dalam kunjungan ini walikota Jakarta Sudiro turut hadir. Tujuan kunjungan ini untuk konsultasi yang difokuskan pada kompetisi desain masjid. Disebutkan nama masjid besar Jakarta adalah Masjid Istiqlal yang berarti masjid merdeka. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-12-1954 melaporkan presiden minta arsiteknya yang paham budaya.

Awalnya lokasi yang dipilih adalah kebun binatang Tjikini. Namun rencana ini ditinggal karena terkait dengan relokasi dan dalam perkembangannya telah mendapat akses ke Taman Wijayakusuma (De nieuwsgier, 18-03-1955).


Bersambung:
Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (2): Desainnya Diperlombakan, Pemenangnya F. Silaban dari Bogor

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: