15/09/16

Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (5): Orang Jawa Naik Haji (Sukarno); Orang Batak Naik Haji (Zainul Arifin Pohan)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Masjid Istiqlal dalam blog ini Klik Disin

Hanya ada dua etnik di Indonesia yang heboh naik haji, yakni Orang Jawa dan Orang Batak. Etnik lainnya biasa-biasa saja. Tentu saja itu dikaitkan dengan buku berjudul Orang Jawa Naik Haji karya Danarto dan buku berjudul Orang Batak Naik Haji karya Baharuddin Aritonang. Lantas mengapa dua judul buku itu muncul? Inilah jawabnya! Orang Jawa dan orang Batak yang dimaksud memang benar-benar naik haji, yakni: Presiden Soekarno dan Wakil Perdana Menteri Zainul Arifin Pohan. Dalam kapasitas mereka, Soekarno dan Zainul Arifin Pohan adalah dua petinggi negara tertinggi Republik Indonesia yang pertama yang naik haji. Karena itu, mereka disambut sukacita oleh Raja Arab Saudi.
***
Soekarno dan Zainul Arifin Pohan berangkat naik haji ke Mekah setelah tiga urusan Negara yang sangat penting selesai. Urusan Negara itu adalah: pertama,  Zainul Arifin Pohan telah berhasil meredakan pemberontakan di Jawa Barat (Kartosuwirjo), Aceh (Daud Beureuh) dan Sulawesi Selatan (Kahar Muzakkar). Saat pemberontakan itu terjadi yang menjadi panglima secara dejure adalah Presiden Sukarno tetapi secara defacto yang menjadi panglima adalah Wakil Perdana Menteri, Zainul Arifin Pohan. Kedua, persiapan pelaksanaan Pemilu 1955 yang juga cukup menyita banyak perhatian, karena Zainul Arifin Pohan telah banyak menangkis berbagai usulan yang tidak sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dari peserta pemilu, terutama dari Partai PKI. Ketiga, Urusan lainnya yang tidak kalah penting sebelum berangkat naik haji adalah bahwa proses pembangunan Masjid Istiqlal sudah berjalan. Soekarno dan Zainul Arifin Pohan adalah dua orang penting di depan yang memulai merealisasikan gagasan pendirian masjid besar di Jakarta (yang kemudian dikenal sebagai Masjid Istiqlal).



Sukarno adalah perancang masjid yang andal sejak mahasiswa, sedangkan Zainul Arifin adalah anak santri yang menjadi Panglima Hisbullah (di era perang melawan Belanda) yang menjadi ketua komisi pertahanan di parlemen (pemimpin politik tertinggi dari kalangan NU).


Kebetulan dua hal yang pertama berada di bawah tanggungjawab Zainul Arifin Pohan sebagai Wakil Perdana Menteri II. Setelah Wakil Perdana Menteri I mengundurkan diri dan Zainul Arifin Pohan menjadi Wakil Perdana Menteri urusan pendirian masjid Istiqlal menjadi otomatis urusan Zainul Arifin Pohan. Dengan demikian, Sukarno dan Zainul Arifin Pohan lega dan menjadi fokus untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah.


Perjalanan Menuju Mekah



Untuk tujuan utama Presiden Sukarno menunaikan haji ke Mekah ada sejumlah agenda yang akan dilakukan sepanjang perjalanan di India, Pakistan, Mesir dan Arab Saudi. Kebetulan empat Negara ini termasuk yang merupakan penyokong utama kemerdekaan Indonesia, membantu dalam perang kemerdekaan dan rakyat di empat negera itu terjanyata sangat mengapresiasi hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan.


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-06-1955: ‘Presiden Naik Haji. Presiden Sukarno akan menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada 14 Juli tahun ini. Selain itu Presiden dan rombongan akan mengunjungi Pakistan dan Mesir, juga singgah di New Delhi, dimana Presiden berada untuk setengah hari sebagai tamu pemerintah India. Di New Delhi, Presiden Sukarno akan berbicara kepada publik. Dari New Delhi, Presiden akan berangkat presiden ke Karachi, dimana Presiden juga akan diterima sebagai tamu negara. Presiden Soekarno bermaksud untuk melanjutkan perjalanan setelah dari Pakistan terus ke Kairo dalam rangka memenuhi undangan dari Perdana Menteri Gamal Abdel Nasser. Di Mesir, Presiden Sukarno akan berada selama lima hari. Sekali lagi, presiden akan menyampaikan pidato kepada publik. Presiden juga berencana untuk mengunjungi piramida, sungai Nil, bekas istana Farouk dan lainnya. Setelah ini, berangkat haji ke Mekkah dan akan diterima juga sebagai tamun Negara di Arab Saudi yang akan mengadakan pidato. Rombongan Presiden akan terdiri dari sekitar 30 orang yang akan berangkat pada 14 Juli dan tanggal 5 Agustus kembali ke Jakarta’.

Setelah dari India, Presiden Sukarno ke Pakistan Diibukota Karachi, Presiden mengatakan bahwa langkah-langkah lebih lanjut pemerintah Indonesia akan melakukan pengembangan hubungan budaya antara Pakistan dan Indonesia. Dalam kunjungan Presiden pada hari terakhir, Jumat di Mesir Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Gamal Abdel Nasser melakukan sholat Jumat di Masjid Al Azhar yang telah berusia 1000 tahun. Di masjid ini Presiden sekaligus berdoa sebelum berangkat ke tanah suci. Antara istana Gamal Abdel Nasser hingga ke bandara dielu-elukan ribuan penduduk Mesir. Di bandara Presiden dan rombongan diantar oleh Ketua Dewan Revolusi Mesir dan Rektor Universitas Al Azhar. Rektor memberikan kepada Presiden Sukarno salinan Quran langka yang dicetak di atas kertas linen (lihat Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 25-07-1955).

Setelah berakhir kunjungan di Mesir (Kamis), rombongan Indonesia lainnya yang bergabung dengan rombongan Presiden Sukarno untuk menunaikan ibadah haji dipimpin oleh Wakil Pernana Menteri Zainul Arifin Pohan. Rombongan Wakil Perdan Menteri Zainul Arifin Pohan tiba di Kairo hari Jumat dan secara bersama-sama berngkat dari Kairo ke Jeddah. Di Kairo Zainul Arifin Pohan melakukan pembicaraan dengan Wakil Perdana Menteri Mesir, Gamal Salim.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 25-07-1955: ‘Wakil Perdana Menteri Mesir diundang (Wakil Pernana Menteri Zainul Arifin Pohan) sebagai tamu negara dari Pemerintah Indonesia untuk menghadiri 17 Agustus di Jakarta. (Gamal Salim) akan tinggal di Indonesia dua minggu dimana Mesir juga akan berpartisipasi dalam pameran perdagangan internasional ketiga di Jakarta yang akan dibuka 18 Agustus sekaligus untuk mengkonsolidasikan hubungan perdagangan antara Mesir dan Indonesia’.‘

Di Tanah Suci

Kehadiran Presiden dan Rombongan di Tanah Suci tidak terlaporkan di surat kabar. Namun berita-berita di tanah suci baru muncul kemudian. Satu hal yang menarik perhatian ketika Presiden Sukarno berada di makam nabi Muhammad SAW.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-12-1955: ‘Presiden mengatakan sesuatu tentang penemuannya selama ziarah ke Mekah. Presiden Soekarno mengatakan ia menangis seperti anak kecil, ketika ia berada di makam Nabi dan sejak saat itu pikiran presiden  menjadi hidup untuk bekerja keras pada pembangunan masjid. Menurut kepala negara syarat mutlak agar mampu membangun konstruksi berkelanjutan masjid yang besar, seperti masjid-masjid di Kairo yang sudah berusia ribuan tahun. Jadi, untuk membangun masjid Istiqlal di Jakarta harus dibangun dari ‘batu hidup’, beton dan marmer dan fitur pintu dari logam yang dapat menantang waktu’.

Ini berarti desain Masjid Istiqlal yang dirancang oleh F. Silaban harus dibangun sangat kuat agar bisa dilihat berpuluh-puluh generasi sebagaimana Masjid Al Azhar. Kekuatan hati Sukarno ini terpancar saat Presiden berziarah ke makam nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana diketahui bahwa baru ada beberapa masjid besar dan megah yang sudah lama dibangun di Indonesia yang berada di Medan (Masjid Maimun) dan di Banda Aceh (Masjid Baiturrahman) serta Masjid Tandjongpoera di Langkat. Namun ketiga masjid ini keterlibatan Belanda masih sangat dominan. Dua masjid yang sudah dibangun di era Presiden Sukarno baru ada di Bandung dan di Yogyakarta. Masjid besar di Jakarta yang tengah berproses direncanakan menjadi masjid terbesar di Indonesia. Baru-baru ini, ketika Sukarno melakukan kunjungan ke Semarang, Presiden juga membicarakan pendirian masjid besar yang baru dengan Gubernur Jawa Tengah. Sebagai ketua panitia sudah ditunjuk Moch, Bachrum (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 23-11-1955).

Dalam rangkaian kerja pertama petinggi Negara (Sukarno dan Zainul Arifin) yang keduanya menganut paham kesatuan murni (NKRI), Dua tokoh penting ini dapat dianggap sebagai tokoh pemersatu yang di awal rekonstruksi pembangunan bangsa yang baru dapat dimplementasikan adalah pembangunan masjid. Sebagaimana pernah dikatakan Presiden Sukarno saat meresmikan Masjid Suhada di Yogyakarta bahwa masjid dari sudut pandang agama, karena masjid, meskipun kecil, itu akan menjadi pusat kehidupan beragama. Sementara dari sudut pandang sosial-religigus karena Islam bisa mengejar tujuan sosialnya, sedangkan dari sudut pandang politik, karena masjid adalah merupakan pusat perjuangan nasional (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 22-09-1952).

Sebagaimana diketahui, ketika Zainul Arifin Pohan masih di parlemen (menjadi ketua komisi pertahanan), Mantan Panglima Hisbullah (pasukan sayap kanan Jenderal Sudirman) ini mempelopori dibentuknya Biro Konstruksi Nasional dan menjadi ketua (untuk memulihkan para mantan pejuang perang baik yang masih hidup maupun yang sudah gugur serta para keluarganya). Dua upaya biro ini adalah mendirikan Masjid Suhada di Yogyakarta dan pembentukan Makam Pahlawan Kalibata. Biro ini menunjuk Mr. Assaat (mantan Ketua KNIP) untuk Ketua Panitia Pembangunan Masjid Suhada. Setelah Zainul Arifin Pohan diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri II, biro yang dulunya otonom ditransfer menajadi berada di bawah Kementerian Dalam Negeri.

Zainul Arifin Pohan (Wakil Perdana Menteri RI) ‘Menemani’ Gamal Salim (Wakil Perdana Menteri Mesin) Selama di Jakarta

Gamal Salim, Wakil Perdana Menteri Mesir benar-benar memenuhi undangan Wakil Perdana Menteri Indonesia, Zainul Arifin Pohan. Di bandara Kemajoran Gamal Salim langsung disambut oleh Zainul Arifin lalu melakukan kunjungan ke Presiden Sukarno di Istana Merdeka. Setelah usai tugas Gamal Salim di Jakarta, Presiden Sukarno mengajak Gamal Salim dan rombongannya beristirahat ke Bogor di Istana Bogor.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 22-08-1955: ‘Gamal Salem di Bogor. Didampingi oleh Presiden Soekarno, Wakil Perdana Menteri Mesir, Gamal Salem Jumat pagi tiba di Bogor. Setelah beberapa waktu di Jakarta untuk berkesempatan ke istana di Bogor untuk santai.  Presiden Sukarno dengan tamu tinggi Mesir berangkat ke  masjid besar Empang di Bogor untuk melaksanakan Salat Jumat. Jumat sore, Presiden dan tamunya membuat tur sekitar satu setengah jam di dalam kota, juga termasuk di Kebun Raya Bogor. Mobil Sukarno dan Gamal Salim sepanjang jalan berdiri warga Bogor menyambut sehingga iring-iringan mobil Presiden dan tamnunya hanya bisa maju sangat lambat maju. Jumat malam diadakan pegelaran seni istana’.

Sebagaimana diketahui, Wakil Perdana Menteri Indonesia, Zainul Arifin Pohan yang tidak hanya fasih berbahasa Batak (Mandailing/Angkola) juga fasih berbahasa Belanda, Inggris dan bahasa Arab. Karenanya, dua Wakil Perdana Menteri dari dua Negara bersahabat itu menjadi lebih akrab, tidak kaku karena komunikasi menjadi lancar. Kemampuan bahasa Arab dari Zainul Arifin sudah ada sejak dari kampong halaman di Tapanuli.

Tentang Haji di Indonesia dari Masa ke Masa

Konon, orang pribumi pertama naik haji adalah orang Batak (cf. MO Parlindungan (1964). Sebagaimana diketahui sebelum Belanda menguasai Sumatera (traktat London 1824), salah satu pelabuhan terawal orang-orang Inggris adalah pelabuhan Natal. Kapal-kapal Inggris yang lalu lalang antara Sumatra, India dan Mesir adakalanya dimanfaatkan oleh orang Batak yang berada di pesisir (khususnya di Natal) yang sudah beragama Islam untuk pergi naik haji.

Oleh karenanya, tidak aneh, ketika Willem Iskander (orang pribumi pertama studi ke Belanda, 1957) pernah menyatakan bahwa di Natal sudah sejak lama terdapat sekolah agama yang terkenal. Kota Natal pada masa ini dipandang strategis di masa lalu, karena dari kota inilah pendidikan agama Islam berdifusi ke pedalaman Tanah Batak terutama di Mandaling dan Angkola (kini Tapanuli Selatan). Orang Batak sendiri, dengan melihat sejarah kuno, sebagian sudah beragama Islam: di sebelah barat menyebar dari Barus, dan di sebelah timur menyebar dari Panai (Kerajaan Aru).

Boleh jadi para pembaca kaget dan tidak sependapat. Tapi, jawabannya karena kita kurang mengetahuinya saja. Demikian juga, para pembaca dulunya kaget ketika mengetahui bahwa yang mendesain Masjid Istiqlah adalah orang Batak. Bahkan pembangunan masjid Suhada di Jogjakarta (masjid pertama yang dibangun RI) dan Masjid Istiqlal paling besar di Indonesia di Jakarta banyak yang tidak menyadarinya yang mempelopori adalah orang Batak (Zainul Arifin Pohan). Lantas, semua itu, lambat laun dapat dibuktikan.

Daftar pionir orang Batak semakin banyak jika ditambahkan hal berikut: siswa pertama dari luar Jawa yang kuliah di Docter Djawa School (cikal bakal STOVIA) pada tahun 1854; pribumi pertama studi ke negeri Belanda (1857); editor surat kabar pribumi pertama yahun 1897 (bukan Tirto Adhi Soerjo, 1903); pendiri pertama organisasi social di Padang, Medan Perdamaian tahun 1900 (bukan Boedi Oetomo, 1908); pendiri organisasi mahasiswa pertama di Belanda tahun 1908 bernama Indisch Vereeniging (cikal bakal PPI); perempuan pertama berpendidikan modern (sekolah Belanda); perempuan pertama bergelar doctor (PhD) tahun 1930 di Leiden); dan lain-lain banyak lagi; termasuk orang Indonesia pertama ke Jepang (1932), walikota pribumi Surabaya (1942); residen Lampung pertama (1945).

Namun bukan itu yang ingin dikatakan, tetapi orang pertama yang menyusun buku panduan naik haji ke Mekah. Buku pedoman naik haji itu ditulis oleh Haji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, alumni sekolah guru di Padang Sidempuan (1884), seorang mantan guru yang menjadi editor surat kabar pribumi pertama (1897). Buku pedoman itu awalnya diterbitkan pertama kali tahun 1900 di surat kabar Pertja Barat di Padang lalu dibukukan (semacam buku saku). Setelah memperhatikan gunanya, pemerintah colonial Belanda mengadopsi buku tersebut sebagai buku pedoman naik haji secara nasional. Buku tersebut dicetak secara massal dan dikirimkan kepada masing-masing kota di nusantara untuk dibagikan kepada calon jamaah haji. Buku pedoman naik haji ini juga pernah diterbitkan di majalah Bintang Hindia yang terbit di Belanda secara berseri tahun 1904.  

Orang Batak Naik Haji (foto di Jeddah tahun 1870)
Sejak 1850an secara kasat mata orang Indonesia naik haji sudah mulai kelihatan secara berkelompok pergi naik haji melalui kapal-kapal dagang Arab, Persia baik yang melalui semenanjung Malaya (Singapore, Malaka dan Penang) maupun pantai barat Sumatra (Bengkulu, Baros dan Singkel). Setiap pelabuhan dokumen para jamaah dicatat oleh para sjahbanbdar. Dokumen-dokumen inilah yang menjadi sumber statistik haji Indonesia di awal pencatatan haji Indonesia. Oleh karena, jumlah jamaah haji dari nusantara meningkat dari tahun ke tahun lalu pemerintah Belanda sejak 1870 mengambil alih fungsi kapal-kapal dagang itu menjadi bagian dari pelayaran Belanda untuk haji yang berasal dari Nusantara. Pada kloter pertama (1870) pusat pemberangkatan haji di pantai barat ditempatkan di Padang. Jamaah haji asal Tapanuli (khususnya Mandailing dan Ankola) menuju embarkasi di Padang.

Salah satu jamaah haji Indonesia tersebut adalah Dja Endar Moeda. Namun demikian, pada saat itu, pemerintah colonial hanya sekadar mengantarkan ke Jeddah dan mengembalikan ke Indonesia dan tentang urusan haji, apa yang harus dipersiapkan, bagaimana gambaran tentang selama di perjalanan ke Jeddah, perjalanan dari Jeddah ke Mekkah maupun selama menunaikan haji di Mekah dan Madina menjadi urusan masing-masing (kelompok) jamaah haji. Akibatnya, banyak jamaah yang tidak bisa kembali ke tanah air, karena kekuarangan biaya, meninggal atau ingin berdiam di Arab Saudi. Melihat situasi dan kondisi jamaah haji asal Indonesia ini Dja Endar Moeda menyusun buku pedoman naik haji: buku pedoman yang tidak dimaksudkan untuk orang Batak naik haji tetapi untuk seluruh jamaah Indonesia (buku pedoman ditulis dalam bahasa Melayu dengan bahasa yang mudah dipahami).

Orang-orang Indonesia yang pergi naik haji banyak juga diantaranya setelah berhaji tidak lantas pulang tetapi ingin berdiam di Mekkah untuk belajar tentang (pendidikan) agama Islam. Bahkan ada yang bertahun-tahun baru pulang ke tanah air dan bahkan ada juga yang berdiam di tanah suci untuk selamanya. Salah satu jamaah haji Indonesia orang Batak adalah Mustafa Husein: tidak hanya mengikuti pendidikan agama Islam di Mekkah tetapi juga di Cairo, Mesir. Setelah lama tinggal di Mekkah, Sjech Mustafa Husein kembali ke tanah air dengan maksud untuk mendirikan sekolah agama di Mandailing tahun 1913. Sekolah itu kini dikenal sebagai Pesantren Purbabaru, Kotanopan, afd. Padang Sidempuan sebuah pesantren terbesar di Sumatra sejak masa pendiriannya hingga pada masa ini). Sekolah agama yang di jaman dulu berada di Kota Natal (pelabuhan) kini telah bergeser ke Kotanopan (pedalaman)

Sejaman dengan pesantren Purbabaru ini juga bermunculan pesantren di Jawa, khususnya di Jawa Timur, seperti Jombang dan Ponorogo. Boleh jadi, para pendiri pesantren tersebut di Indonesia merupakan alumni-alumni yang saling kenal satu sama lain baik di Mekkah maupun Cairo.

Di pesantren Purbabaru, Kotanopan inilah Zainul Arifin Pohan mulai mendapat pendidikan agama Islam. Zainul Arifin Pohan yang telah menjadi Wakil Perdana Menteri, ayahnya berasal dari Barus dan ibunya berasal dari Kotanopan. Setelah remaja, Zainul Arifin Pohan hijrah ke Jawa di Batavia. Sebagaimana diketahui, Zainul Arifin Pohan adalah pemimpin politik tertinggi NU (Partai NU). Pada tahun 1954, dua kandidat NU dapil Sumatra Utara dalam Pemilu 1955 hanya dua orang: Haji Muda Siregar dan Sjech Mustafa Husein. Haji Muda Siregar saat itu adalah Walikota Medan dan Sjech Mustafa Husein sebagai tokoh agama di Tapanuli Selatan.

Lantas mengapa muncul buku berjudul Orang Jawa Naik Haji dan Orang Batak Naik Haji? Sepintas isi buku ingin menggiring pembaca bahwa Orang Jawa dan Orang Batak sangat awam tentang naik haji. Hanya untuk tujuan mengagetkan saja atau boleh jadi untuk tujuan komersil. Akan tetapi, di balik judul buku itu terkandung pesan bahwa orang Jawa dan orang Batak sungguh-sungguh memang naik haji. Tidak hanya pendiri pesantren yang sangat besar tetapi juga pionir-pionir dalam urusan haji Indonesia dan bahkan untuk usrusan pembangunan masjid.

Last but not least: Pada saat sholat Indul Adha (hari raya Haji) tahun 1963 terjadi kejadian yang luar biasa di Masjid Istiqlal. Sukarno dan Zainul Arifin Pohan (berdampingan) yang berada di barisan depan tiba-tiba kaget: Sekelompok orang yang awalnya tidak dikenal yang ingin menembak Presiden Sukarno tetapi yang tertembak adalah Kiai Haji Zainul Arifin Pohan. Saat itu, Zainul Arifin Pohan, tidak lagi Wakil Perdana Menteri tetapi Ketua DPR Gotong Royong (Ketua DPR yang pertama). Setelah sepuluh bulan Zainul Arifin Pohan tertembak saat menunaikan salat Idul Adha dikebarkan telah meninggal dunia (masih sebagai Ketua DPR).


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: