11/06/16

Sejarah Kota Medan (20): M. Arif Lubis, Editor Mimbar Umum; Pejuang Pers, Surat Kabar yang Masih Eksis Hingga Ini Hari



Hanya beberapa surat kabar lama (tempo doeloe) yang masih bisa bertahan hingga ini hari. Dua diantaranya: Mimbar Umum di Medan dan Pikiran Rakyat di Bandung. Editor terkenal Mimbar Umum adalah M. Arif Lubis dan editor terkenal Pikiran Rakyat adalah Sakti Alamsyah Siregar. Surat kabar Mimbar Umum didirikan pada tangga 6 November 1945. Ini berarti surat kabar (harian) Mimbar Umum merupakan koran tertua di Sumatera pada masa kini.

Siapa Muhamad Arif Lubis?

Padang Sidempuan adalah asal M.Arif Lubis. Di kota ini pada tahun 1919 diterbitkan surat kabar nasional yang bersifat revolusioner, Sinar Merdeka. Surat kabar ini dipimpin oleh editor Parada Harahap. Sejak itu, nama Padang Sidempuan terkenal sebagai pusat pergerakan politik. Salah satu tokoh politik di Padang Sidempuan adalah Abdul Karim (alumni Docter Djawa School, sekelas dengan Dr. Tjipto).

Surat kabar mingguan Soeara Sini terbit di Padang Sidempuan. Surat kabar ini terdeteksi tahun 1929 ketika wartawannya bernama Sahoeroem ditingkap di Padang karena menulis dan menyebarkan pamphlet berjudul Semangat Nasional Indonesia di Fort de Kock, dimana di dalam tulisan itu terdapat kata-kata yang menghina orang-orang ETI (Eropa). Tahanan ini kemudian dibawa ke Fort de Kock (De Sumatra post, 04-12-1929).

Nama M. Arif  Lubis muncul ke permukaan pada tahun 1931. Surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di Sibolga, Pertjatoeran mengalami delik pers di bawah editor M. Arif Lubis (De Sumatra post, 16-09-1931). Pangkal perkara diajukannya ke meajau hijau M. Arif Lubis karena melaporkan seorang kepala polisi Belanda melakukan tindakan kekerasan terjadap penduduk.

Surat kabar berbahasa Melayu, Pertjatoeran terdeteksi pada tahun 1925 di Sibolga (De Indische courant, 18-09-1925). Kota Sibolga adalah kota pertama di Sumatera Utara yang memiliki pers pribumi. Surat kabar pertama adalah Tapian Na Oeli yang terbit pertama tahun 1900 (lihat Soerabaijasch handelsblad, 12-11-1900). Surat kabar ini diterbitkan oleh Dja Endar Moeda, pemiliki surat kabar Pertja Barat di Padang. Sementara itu, surat kabar berbahasa Melayu di Medan baru terbit pertama tahun 1901 (anak perusahaan, investasi Belanda, Sumatra Post). Pada tahun 1910 surat kabar Pewarta Deli terbit di Medan. Surat kabar ini investornya adalah Dja Endar Moeda. Motto surat kabar Pertja Barat dan surat kabar Pewarta Deli sama persis: ‘Ontoek Segala Bangsa’. Editor-editor terkenal Pewarta Deli: Soetan Panoesoenan, Soetan Parlindoengan, Abdullah Lubis, Mangaradja Ihoetan dan Hasanoel Arifin. Surat kabar lainnya di Sibolga yang terkenal adalah Hindia Sepakat, surat kabar berbahasa Melayu, suksesi surat kabar Tapian na Oeli dengan editor Abdul Karim, seorang dokter kelahiran Padang Sidempuan. Tulisan-tulisan protes Abdul Karim di Hindia Sepakat terhadap pemerintah kerap memicu penduduk untuk berdemonstrasi terhadap kebijakan pemerintah kolonial. Abdul Karim, sekelas dengan Dr. Tjipto ini, digambarkan seorang intelektual (Bataviaasch nieuwsblad, 04-11-1920). Abdul Karim pindah ke Langsa, korannya Oetoesan Rakjat terkena delik pers di Langsa (De Sumatra post, 26-03-1923). Dr. Abdul Karim gelar Baginda Djoendjoengan sejak 1924 tinggal di Medan. Pada tahun 1926 kalah dalam pilkada untuk dewan kota (gementeeraad) dan salah satu yang terpilih adalah Abdulah Lubis (incumbent). Dr. Abdul Karim adalah pemimpin Partai Indonesia (Dr. Tjipto dkk) di Sumatera. Dr. Abdul Karim adalah mentor politik M. Arif Lubis.

Setelah kasus delik pers di Sibolga, M. Arif Lubis hijrah ke Medan. Pada tahun 1932 sebagaimana dilaporkan De Sumatra post, 19-01-1932 di Medan didirikan Partai Indonesia. M. Arif Lubis di dalam dewan Partai Indonesia Medan sebagai sekretaris.

Surat kabar berbahasa Melayu, Surja terbit di Sibolga. Surat kabar ini berukuran mini hanya seperempat lembar. Ukuran surat kabar ini terbilang terkecil di negeri ini. Surat kabar ini terdeteksi tahun 1932 yang memberitakan kedatangan Ir. Soekarno ke Tapanoeli  dalam rangka pembentukan divisi Partai Indonesia (De Sumatra post, 13-05-1932).

M. Arif Lubis yang merupakan wartawan sesungguhnya adalah motor dari Partindo Medan. M. Arif Lubis telah berkampanye ke sejumlah tempat dan membentuk organisasi-organisasi pendukungnya seperti Persatuan Motorist Indonesia Medan, Letterzetter Vereeninging (Persatuan karyawan percetakan).

Abdul Hamid Lubis adalah Presiden dari Letterzetter Vereeninging (De Sumatra post, 07-02-1933). Abdul Hamid Lubis juga adalah traveling propagandis (reizende propagandisten) dari Persatuan Motorist Indonesia Medan (De Sumatra post, 31-03-1932). Abdul Hamid Lubis sejak remaja sudah sangat revolusioner. Pada tahun 1928. Abdullah Lubis yang masih berumur 17 tahun menulis di surat kabar Pewarta Deli, atas tulisannya yang dianggap bermusuhan (terhadap pemerintah) diajukan ke mejahijau (De Sumatra post, 26-06-1928. Suksesi Abdul Hamid Lubis adalah Adam Malik Batubara (pada umur 17 tahun sudah ditangkap dan dibui),

Surat kabar Sinar Sipirok terbit di Sipirok. Editor mingguan Sinar Sipirok ini adalah Soetan Katimboeng (De Sumatra post, 26-05-1933). Surat kabar ini merupakan surat kabar paling radikal. De Sumatra post, 26-06-1933 Sutan Katimboeng mantan Loehathoofd dari Saromatinggi melakukan rapat besar tentang politik di Gunung Tua. Rapat itu dianggap pelanggaran secara hukum dan menjatuhkan hukuman sembilan bulan penjara. Surat kabar Sinar Sipirok berafiliasi dengan suatu partai dimana nama Adam Malik dikaitkan.

M. Arif  Lubis pernah menajdi editor Pewarta Deli (De Sumatra post, 19-10-1933). Pada tahun 1934 M. Arif Lubis melakukan aktivitas politik di Padang Sidempuan. Boleh jadi perpindahan M. Arif Lubis ke Padang Sidempuan untuk membangkitkan semangat pribumi untuk mencapai kemerdekaan.

De tribune: soc. dem. Weekblad, 26-06-1934: ‘Pada tanggal 11 Mei pukul 1 siang di dalam pemerintahan HPII (Himpunan Pemuda Islam Indonesia) di Padang Sidempoean dilakukan pencarian. Hal ini terjadi di rumah Moh. Arif Lubis, Presiden HPII Padang Sidempoean. Beberapa buku dan afdeelingsstukken lainnya disita, juga potret Mahatma Gandhi. Kemudian polisi menggeledah rumah Yusuf Djajat, Direktur divisi dari HPII Tapanoeli. Penyidik mengambil lebih banyak waktu. surat disita dari pusat administrasi dari afdeelingsbesturen, serta hak cipta pencetakan dan beberapa buku. Yang terakhir jiga disita gambar Sukarno, Sartono dan lain-lain. Alasan untuk pencarian tidak ditentukan, tetapi mungkin terkait dengan larangan pertemuan rapat antara HPII dan PMI (Indonesian Jeugdvereeniging) dept. Tapauoeli’.

De Sumatra post, 27-10-1934: ‘Larangan pertemuan. Minggu terakhir di Siantar ditangkap Adam Malik, anggota dewan dari partai politik di Siantar. Penangkapan itu terjadi atas permintaan hakim Sipirok sejak Adam Malik itu diduga mengadakan pertemuan partai ketika ia berada selama di Siporok. Di bawah polisi mengawal Adam Malik dibawa ke Sipirok’.

M. Arif Lubis kembali ke Medan. M. Arif Lubis terdeteksi di Medan tahun 1937 dimana dia tinggal di Jalan Hakka no. 69 (De Sumatra Post, 01-03-1937). Nama M. Arif Lubis tidak terdeteksi selama pendudukan Jepang. Namanya baru muncul setelah proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. M. Arif Lubis di Medan menjadi editor surat kabar untuk pemerintah, Soeloeh Merdeka (Oktober 1945), sementara di Jakarta surat kabar pemerintah Negara Baroe juga diterbitkan dibawah pimpinan Parada Harahap.

Surat kabar pemerintah ini dimaksudkan untuk mendampingi surat kabar-surat kabar lama yang terbit kembali seperti di Medan, seperti Pewarta Deli dan Sinar Deli. Pewarta Deli terbit kembali pada bulan September 1945 (editor Mohammad Said dan Amarullah Ombak Lubis. Surat kabar baru yang muncul adalah Mimbar Oemoem pada tanggal 6 November 1945 (pimpinan editor Abdul Wahab Siregar yang dibantu oleh Mohammad Saleh Umar dan M. Yunan Nasution). Kemudian menyusul sejumlah surat kabar baru seperti Waspada (terbit  mulai Januari 1947).


Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 26-06-1946: ‘Sebuah opini tajam dalam surat kabar Indonesia ‘Mimbar Oemoem’ melemparkan cahaya terang pada situasi saat ini di perusahaan Deli sebagaimana Aneta mentransmisikan dari Medan. Penulis membagi staf perusahaan menjadi tiga kelompok, yaitu, pertama, para pemimpin dan administrasi kedua yang mandur dan toekang, ketiga pekerja. Surat kabar lanjut mencatat bahwa kelompok pertama dan kedua tidak melakukan apa-apa. Mereka, menurut surat kabar tersebut, yang akan dilakukan di kursi atau berjalan-jalan di sekitar kebun dengan tongkat besar tanpa pernah kerja, sedangkan kelompok ketiga bekerja keras, tetapi kelompok ini memiliki pakaian hanya 10 persen dan anak-anak mereka berjalan dalam empat tahun terakhir hanya terlihat telanjang’.

Surat kabar yang menjadi kompetitor Mimbar Umum yang juga masih eksis hingga ini hari Waspada terbit  mulai Januari 1947. M. Arif Lubis menjadi editor Mimbar Umum sejak 1947.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 20-12-1948
Het nieuwsblad voor Sumatra, 20-12-1948: ‘Untuk kita dengar bahwa surat kabar dan majalah republik yang terbit di Medan diberlakukan larangan publikasi sementara. Mereka adalah surat kabar Waspada, Warta Berita dan Mimbar Urnurn serta juga mingguan Waktoe’

Pada tahun 1950 sejumlah editor tukar tempat. Editor Mimbar Umum tetap masih M. Arif Lubis, editor Waspada, M. Said (Het nieuwsblad voor Sumatra, 30-03-1950). Surat kabar lainnya di Medan adalah Rakjat, Warta Berita, Waktu dan Mestika. Surat kabar berbahasa Belanda adalah Het nieuwsblad voor Sumatra. M. Arif Lubis mendapat reaksi dari pimpinan PKI di Medan atas pemberitaan surat kabar Mimbar Umum.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 26-07-1950: ‘M. Arif Lubis dan Mimbar Umum diadukan Sarikat Buruh Perkebunan karena dianggap telah memberitakan keterlibatan unsur PKI di dalam sarikat. Sarikat meminta untuk permintaan maaf’.

Mimbar Umum adalah salah satu surat kabar nasional yang terbit di daerah (Medan). Surat kabar nasional lainnya adalah Untuk Jakarta termasuk: Indonesia Raya, Merdeka, Pedoman, Pemandangan, Sumber, Abadi dan Antara. (kantor berita). Untuk East Java: Express, Harian Umum. Massa, Suara Rakyat. Suara Masjarakat, Trompet Masjarakat. Mingguan di Djakarta: Merdeka, Siasat, Lembaran Minggu, Sikap, Garuda, Perwarta Jakarta, Mimbar Indonesia, Nasional, Aneka dan Suara Rakyat. Untuk East Java: Penyebar Semangat, Obor Surabaya, Zaman Baru, Demokrasi, Tindjauan dan Joyoboyo (De vrije pers: ochtendbulletin, 04-07-1951).

M. Arif Lubis termasuk salah satu wartawan yang mendapat kesempatan untuk melakukan kunjungan ke Amerika Serikat.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 03-09-1952: ‘Wartawan Medan ke Amerika. Mimbar Umum, dari departemen Medan diundang untuk perjalanan jurnalistik selama empat bulan ke America, termasuk pimpinan redaksi Mr Arif Lubis. Oleh karena surat kabar ini tidak ingin terdapat kekosongan begitu lama, sekarang Mr. Samsuddin Manan, ditunjuk menjadi editor. M. Arif Lubis akan berangkat pada pertengahan September’.

M. Arif Lubis tampaknya terlalu sibuk dengan perjuangan dan cita-cita kemerdekaan. M. Arif Lubis baru berpikir untuk menikah setelah usia agak tua. Pada tahun 1952 M. Arif Lubis menikah dengan Zahara Nasution binti Abdul Mutalib.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 02-12-1952: ‘Tadi malam di Grand Hotel Medan, pada kesempatan pernikahan direktur Mr. Arif Lubis, editor Mimbar Urnurn, dengan Ms. Zahara Nasution binti Abdul Mutalib menggelar resepsi dengan berbagai karangan bunga yang dihadiri lebih dari 600 tamu. Mr. Lubis adalah tokoh terkemuka di Medan..

M. Arif Lubis, Ketua Sarikat Perusahaan Suratkabar turut hadir dalam pembukaan pressroom di Medan.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 15-01-1953: ‘Tadi malam secara resmi pressroom di Medan dibuka. Abdul Wahab Siregar, Kepala Dinas Informasi Medan memberikan kata sambutan. Juga hadir Komisaris Polisi Mustafa Pane, Arif Lubis (Ketua Sarikat Perusahaan Surat kabar), Amarullah Ombak Lubis (mewakili Antara)’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 09-06-1953: ‘Di kantor pressroom Jalan Soetomo anggota SPS berkumpul untuk membicarakan tentang Sarikat Perusahaan Surat kabar Medan yang akan menghadiri Kongres SPS di Jakarta, 18-20 September. Delegasi medan tiga orang yang diketuai oleh M. Arif Lubis’.

Polemik antara sesama insan pers di Medan mulai muncul. Pers terbagi atas tiga haluan: nasionalis, agama dan komunis. M. Arif Lubis dan Mimbar Umum adalah koran berhaluan nasionalis.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 19-01-1955: ‘M. Arif Lubis dari Mimbar Umum dituntut PKI karena menyudutkan beberapa pemimpinnya’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 03-02-1955 M. Arif Lubis didemo di kantornya, Mimbar Umum’. Het nieuwsblad voor Sumatra, 03-03-1955 melaporkan M. Arif Lubis divonnis selama satu bulan dengan masa percobaan enam bulan.

M. Arif Lubis pendiri dan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia cabang Medan, Surat kabar Mimbar Umum adalah surat kabar terbesar di Medan. Beberapa surat kabar berhaluan komunis. Untuk membentengi pengaruh lainnya, PWI Medan mengumumkan daftar nama-nama anggotanya.

Algemeen I.dagblad: de Preangerbode, 30-01-1957
Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 30-01-1957 (Enam Belas koran di Medan): ‘Hari Minggu muncul di Medan, edisi pertama dari sebuah surat kabar Cina yang baru, Hsing Chung Jit Pao. Editor dari Koran Kuo Min Tang adala TL. Chang, terakhir sebagai editor dari Sumatra Times. Ada muncul di Medan sekarang enam harian Cina, yaitu tiga koran Kuo Min Tang (New China Times, The Sumatera Times dan Hsing Chung Jit Pao) dan tiga koran komunis (Sumatera Bin Poh, Demokratie Daily News dan Hwa Chiau Vit Poh). Selain itu di Medan muncul saat ini sembilan surat kabar Indonesia (Waspada, Mimbar Umum, Tjerdas, Lembaga, Patriot, Indonesia Baru, Suara Andalas, Pendorong, Mestika) dan satu surat kabar Belanda (Het Nieuwsblad Sumatera)’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 29-11-1957: ‘Daftar resmi PWI di Medan. Dalam menanggapi fakta bahwa sering nama jurnalis disalahgunakan, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) departemen Medan merasa perlu untuk mempublikasikan nama-nama anggota yang resmi. Daftar lengkap anggota PWI Medan adalah sebagai berikut: Ani Idrus (Duma Wanita) - (Waspada); Arif Lubis (Mimbar Umum); Amarullah Ombak Lubis (Antara); A. Manan Karim (Indonesia Baru); A. Halim (Mimbar Umum); Amir Hasan Lubis (Mimbar Umum); Ammary Iraby (Waspada); A. Dahlan (Lembaga); A. Marzoeki (Amarz) - (Pat'riot); Abdullah (Patriot); Anwar Effendi (Mimbar Umum); Arsjad Y. (Waspada); Aziz Harahap (Mimbar Umum); Amir Hamzah Tamin (Tjerdas); A. Rachman Toweran (Mestika); Bustamam (Mimbar Umum); Chamran S. .Waspada); Ja'far (Tjerdas); Hasan Dinar (Waspada); Imran Zouny (Patriot); Yusuf Sou'yb (Lembaga); Kaharuddin (Antara); Mohd Said (Waspada); Anwar Rawy (Anftara); Mhd. TWH. (Mimbar Umum); Narmin Suti (New China Times); Sjamsuddin Manan (Mimbar Umum); T. Jafizham (Mestika); Usman Siregar (Waspada); Wan Zahir Saros (Tjerdas); Zahari (Waktu); Zainuddin (Nieuwsblad voor Sumatra).

Surat kabar Mimbar Umum sejak awal penerbitannya adalah surat kabar besar (dan terbesar) di Medan. Surat kabar penerima iklan utama di Medan adalah Mimbar Umum, Waspada dan Warta Berita (cf. Het nieuwsblad voor Sumatra, 19-12-1949). Mimbar Umum juga termasuk surat kabar yang dikutip oleh surat kabar lain yang berbahasa Belanda (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 13-04-1954). Mimbar Umum, surat kabar nasional termasuk yang kritis terhadap pemerintah. Pada tahun 1959 Mimbar Umum termasuk salah satu surat kabar yang dibreidel.

De Telegraaf, 03-02-1959: ‘Kepala pemerintah di masa perang di Padang, Sumatera Tengah memberlakukan larangan publikasi terhadap surat kabar Pedoman, Abadi dan Indonesia Raya yang diterbitkan di Jakarta dan surat kabar Lembaga dan Mimbar Oemoem di Medan’.

M. Arif Lubis adalah editor legendaris dari Mimbar Umum, seorang pejuang pers. Surat kabar Mimbar Umum telah melalui perjuangan yang sangan panjang. Sudah sangat banyak surat kabar yang pernah diterbitkan di Indonesia, tetapi sudah banyak pula yang tutup. Hanya beberapa surat kabar yang masih bertahan. Surat kabar Mimbar Umum termasuk yang masih eksis hingga ini hari. Ini suatu pencapaian yang fantastis untuk suatu surat kabar nasional yang terbit di daerah. Boleh jadi, surat kabar Mimbar Umum sebagai surat kabar tertua yang masih hidup hingga sekarang. Suatu warisan nasional yang perlu dipertahankan.

Arif Lubis lahir di Medan pada tanggal 15 October 1911. Pada saat namanya muncul pertamakali tahun 1929 dalam delik pers sebagai editor surat kabar Petjatoeran (De Sumatra post, 16-09-1931), maka umur M. Arif Lubis kala itu adalah 20 tahun. Ketika diberitakan bahwa M. Arif Lubis menikah (Het nieuwsblad voor Sumatra, 02-12-1952) maka umurnya adalah 41 tahun. Pada tahun 1957 M. Arif Lubis memiliki putrid empat orang yang berumur masih kecil (tertua 1953 dan termuda 1957).

Pikiran Rakyat di Bandung Didirikan Sakti Alamsyah Siregar

Untuk urusan media surat kabar hampir semuanya terkait dengan orang-orang Padang Sidempuan. Editor pribumi pertama Dja Endar Moeda (1897), pemilik surat kabar pertama Tapian Na Oeli (1900), surat kabar revolusioner Sinar Merdeka di Padang Sidempuan (1919). Surat kabar besar bertiras paling tinggi di masanya: Pertja Barat di Padang (1901), Pewarta Deli (1910) dan Mimbar Umum (1945) di Medan, Bintang Timoer pimpinan Parada Harahap di Batavia (1926), Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis di Jakarta (1952), Pikiran Rakyat pimpinan Sakti Alamsyah di Bandung (1966) dan lain sebagainya. Untuk kategori tokoh: Dja Endar Moeda sebagai Radja Persuratkabaran Sumatra, Parada Harahap sebagai The King of Java Press dan Mochtar Lubis sebagai De Beste Jurnalist.

Satu kategori lagi adalah surat kabar tempo doeloe yang hingga ini hari masih eksis yakni: selain Mimbar Umum adalah surat kabar harian Pikiran Rakyat di Bandung yang didirikan oleh Sakti Alamsyah, seorang guru, seorang orang tua, dan seorang pahlawan bangsa. Sakti Alamsyah, nama lengkapnya Sakti Alamsyah Siregar gelar Patuan Sojuangon lahir di Sungai Karang, Sumatera Utara 27 Januari 1922. Ayahnya Sutan Kamala Martua Siregar berasal dan meninggal dunia di Desa Parau Sorat, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Tidak banyak orang tahu masa kecil Sakti Alamsyah, tetapi orang Jawa Barat hanya mengenal Sakti Alamsyah melalui suaranya. Ceritanya bermula ketika masa-masa awal revolusi kemerdekaan nama Sakti Alamsyah dikenal sebagai penyiar RRI. Sakti Alamsyah termasuk penyiar yang sangat disukai para pendengarnya. Boleh jadi para pendengarnya tidak banyak yang tahu bahwa Sakti Alamsyah juga terkenal di kalangan dunia musik sebagai pencipta lirik lagu yang andal.

Pada masa itu, kiprah fenomenal Sakti Alamsyah ketika membacakan teks proklamasi yang dapat didengar publik melalui Radio Bandung (cikal bakal RRI Bandung). Anehnya, ketika Sakti Alamsyah memulai membaca teks proklamasi tersebut, beliau justru memulainya dengan pengantar sebagai berikut: “Di sini Radio Bandung, siaran Radio Republik Indonesia...". Padahal waktu itu belum lahir Radio Republik Indonesia alias RRI. Pembacaan teks proklamasi oleh Sakti Alamsyah dilakukan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul tujuh malam. Teks proklamasi yang dibaca Sakti Alamsyah tersebut kemungkinan besar  diperoleh dari Radio Jakarta yang sudah terlebih dahulu memperoleh salinannya dari Adam Malik yang waktu itu beliau menjadi pemimpin Kantor Berita Antara. Pertanyaannya: Mengapa justru Radio Bandung yang berani menyiarkannya?

Selain itu, teks yang dibacakan Sakti Alamsyah—yang pada waktu itu Sakti Alamsyah masih berumur 23 tahun—ada perbedaan kecil dalam teks proklamasi yang disiarkan Sakti dengan teks sebagaimana dibacakan Soekarno di Pegangsaan Timur, Jakarta. Sakti Alamsyah justru menutupnya dengan kalimat "Wakil-wakil Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta". Padahal, Bung Karno membacakannya dengan kalimat yang jelas terdengar "Atas Nama Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta". Tidak ada yang mengetahui dengan pasti bagaimana asal muasal perbedaan teks dan yang dibacakan Soekarno dengan apa yang disuarakan Sakti Alamsyah Siregar.

Pengucapan ‘Radio Republik Indonesia’ untuk menamai diri dalam pengantar siaran, Sakti Alamsyah justru mengabaikan nama yang selama ini diucapkan dengan ‘Radio Bandung Hoshokyoku’. Sekalipun hari itu proklamasi sudah dikumandangkan, tetapi kenyataannya bentuk negara belum disepakati. Para pemerhati, menganggap ucapan Sakti Alamsyah sebagai pernyataan futuristik dari lubuk hgati dirinya. Padahal negara baru Indonesia justru setelahnya diputuskan berbentuk republik yang notabene juga nama radio nasional baru ditetapkan kemudian persis seperti yang diucapkan pertama kali oleh Sakti Alamsyah: “Di sini Radio Bandung, siaran ‘Radio Republik Indonesia’...".

Kita harus akui bahwa inisiatif para pekerja khususnya penyiar Radio Bandung Hoshokyoku, Sakti Alamsyah, untuk menyuarakan teks proklamasi di udara yang dapat didengar semua publik jelas-jelas  seuatu  keputusan yang berani. Tidak hanya sampai di situ para penyiar Radio Bandung Hoshokyoku tanpa rasa takut terus berulang-ulang menyiarkan naskah proklamasi itu setiap kali ada kesempatan untuk dibacakan kembali. Berkat siaran Radio Bandung itu yangdipancarkan dari Jalan Malabar, Bandung kabar kemerdekaan sebuah negara baru bernama Indonesia diketahui khalayak yang lebih luas, yang tak hanya dapat ditangkap di seluruh pelosok nusantara, tetapi juga tetangkap di seluruh  dunia.

Setelah beberapa lama menjadi penyiar RRI Bandung, Sakti Alamsyah memulai karir baru dan aktif sebagai wartawan di surat kabar Pikiran Rakyat yang terbit di Bandung. Ketika di dalam organisasi penerbitan tersebut terjadi gejolak internal akibat situasi politik saat itu, Sakti Alamsyah bersama sejumlah karyawan lainnya memisahkan diri dan mendirikan surat kabar baru dengan tetap menggunakan nama surat kabar tempat mereka sebelumnya bekerja yakni Pikiran Rakyat.

Bagi warga Jawa Barat, Sakti Alamsyah Siregar digambarkan sebagai sosok yang wajahnya berciri khas Batak, agak angker, dan seumur hidup beliau memang tidak juga pintar berbahasa Sunda. Tapi, ketika berita kematiannya diberitakan, yang tampak paling kehilangan justru orang Jawa Barat. Sakti Alamsyah meninggal dunia di Banjarmasin 28 April 1983) ketika menjalankan tugas dan jenazahnya dikebumikan di Taman Makaman Pahlawan Cikutra, Bandung. Besoknya, pada tajuk rencana harian Pikiran Rakyat (PR), koran terbesar di Jawa Barat meratapi kepergiannya dengan pernyataan "Pemimpin kami, guru kami, ayah kami, sahabat dan kolega kami, tiba-tiba pergi meninggalkan kita semua.".

Sakti Alamsyah Siregar, rupanya bukan cuma seorang pemimpin umum sebuah surat kabar yang kebetulan besar di daerah, seperti PR tetapi juga ketegasan dan keberaniannya bagaikan guru: mendidik dan membangun. Sejumlah koleganya menganggap Sakti Alamsyah adalah seorang yang  kaya dengan gagasan besar.  Ini bermula di awal tahun 1970-an ketika pers daerah khususnya di wilayah Jawa Barat mengalami masa-masa sulit atas penetrasi surat kabar nasional (Jakarta) merambah ke daerah. Jaringan transportasi dan komunikasi yang semakin membaik menyebabkan koran-koran ibukota mulai terasa menggeser keberadaan koran-koran yang terbit di daerah.

Tapi Sakti Alamsyah, punya resep sakti dengan PR-nya bahwa menghadapi koran-koran Jakarta tidak harus bereaksi dengan semangat berperang, tetapi justru dengan sikap yang proporsional. Sakti Alamsyah menyemangati bawahannya dengan pernyataan "Biar orang pegang koran Jakarta di tangan kanan, kita cukup di tangan kiri”.  Untuk mengantisipasinya, Sakti Alamsyah pun mulai memikirkan dengan memperbesar porsi berita daerah di harian Pikiran Rakyat. Resep skati dari Sakti Alamsyah Siregar diketahui pada akhirnya PR bukan koran tangan kiri lagi tetapi juga telah menjadi koran tangan kanan.

Sakti Alamsyah hingga akhir tetap sebagai wartawan dan pejuang pembangunan, khususnya pembangunan daerah melalui media tulisan. Sakti Alamsyah adalah perintis dan penyiar di RRI Bandung juga menjadi perintis dan pendiri PT. Pikiran Rakyat Bandung. Sakti Alamsyah merupakan tokoh penting peletak dasar Harian Umum Pikiran Rakyat sebagai media massa yang cukup digemari warga Jawa Barat.  Harian Pikiran Rakyat adalah salah satu koran daerah yang mampu tumbuh dan berkembang hingga saat ini. Sebelum tiba waktunya beliau di panggil yang Maha Kuasa, Sakti Alamsyah tetap bertindak sebagai Direktur PT. Pikiran Rakyat/Pemimpin Umum Harian Umum Pikiran Rakyat. Kini, Pikiran Rakyat Bandung dibawah kepemimpinan anaknya senidri: Perdana Alamsyah.



*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: