08/06/16

Sejarah Kota Medan (18): Kweekschool Padang Sidempuan, Sekolah Guru Terbaik; Inspirasi Pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Sumatera Utara (UNIMED)



Universitas Negeri Medan (UNIMED) pada masa kini merupakan  ‘sekolah guru’ terbaik di Sumatera Utara. Universitas ini sebelumnya bernama IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan). Institut ini awalnya sebuah fakultas di Universitas Sumatera Utara (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau FKIP). Fakultas ini sebelumnya adalah Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Jauh sebelumnya, guru-guru di Sumatera Utara dihasilkan oleh Normaal School di Pematang Siantar. Sekolah guru ini adalah suksesi sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempuan.

Kweekschool menjadi HIS dan kini SMA N 1 Padang Sidempuan
Kweekschool Padang Sidempuan dibuka pada tahun 1879. Guru terkenal dari sekolah guru di Padang Sidempuan ini adalah Charles Adrian van Ophuijsen. Dari delapan tahun menjadi guru di sekolah guru terbaik di Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) ini, Ophuijsen lima tahun terakhir sebagai direktur sekolah. Salah satu alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1884) bernama Dja Endar Moeda adalah editor pribumi pertama, surat kabar Pertja Barat di Padang (1897) dan pada tahun 1910 mendirikan surat kabar Pewarta Deli di Medan. Alumni lainnya adalah Soetan Casajangan (1887) adalah mahasiswa pertama kuliah di Belanda (1905) yang pada tahun 1908 mendirikan Indisch Vereeniging (Perhimpunan Pelajar Hindia Belanda) di Leiden. Satu lagi alumni terkenal dari sekolah guru ini adalah Mangaradja Salamboewe, setelah berhenti menjadi jaksa beralih profesi menjadi editor pribumi kedua tahun 1902 (surat kabar Pertja Timor di Medan). Charles Adrian van Ophuijsen—guru dari Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, dan Abdul Hasan Nasoetion gelar Mangaradja Salamboewe— adalah penyusun tatabahasa Melayu yang ejaannya dikenal sebagai ejaan Ophuijsen. Di akhir karirnya, Charles Adrian van Ophuijsen diangkat menjadi guru gesar dalam bidang tatabahasa dan sastra Melayu di Universiteit Leiden (Soetan Casajangan diangkat menjadi asisten Prof. vn Ophuijsen).  

Pada tahun 1893 Kweekschool Padang Sidempuan menyelenggarakan ujian akhir (eindexamen) dari tanggal 21 hingga 24 Maret. Dari tujuh kandidat semuanya lulus (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 17-06-1893). Ketujuh siswa yang lulus tersebut adalah (1) Si Loehoet gelar Radja Enda Boemi dari Baringin, (2) Si Julius gelar Soetan Martoewa Radja dari Sipirok, (3) Si Tohir gelar Marah Talang dari Baroes, (4) Si Goenoeng gelar Radja Paloon Sotidijon, dari Pakantan Lombang, (5) Si Djaman gelar Marah Alam dari Goenoeng Sitoli,  (Nias) (Tapanoeli), (6) Si Dangjjang gelar Radja Siregar Indo Mora dari Sijala Goendi, dan (7) Si Tirem gelar Dja Ali Saman dari Sipirok.

Tujuh lulusan tersebut ternyata lulusan terakhir Kweekschool Padang Sidempuan. Satu angkatan di bawah mereka tidak sempat lulus dan diminta untuk meneruskannya ke Kweekschool Fort de Kock. Satu siswa tidak meneruskan tetapi melamar menjadi pegawai pemerintah dan diangkat menjadi penulis (schrijver) lalu kemudian diangkat menjadi jaksa. Siswa tersebut adalah Mangaradja Salamboewe. Kweekschool Padang Sidempuan terpaksa ditutup akibat dampak anggaran pemerintah deficit. Pers Belanda menyayangkan penutupan sekolah ini karena sepuluh tahun terakhir adalah sekolah guru terbaik di Hindia Belanda. Meski demikian, lulusannya sudah tersebar di Tapanoeli, Atjeh, Sumatra’s Ooskust, sebagian di Djambie dan Riaou.

Alumni Kweekschool Padang Sidempuan tidak hanya menjadi guru-guru yang hebat, juga mendidik putra-putri sendiri menjadi orang-orang yang hebat. Ternyata kemudian, alumni Kweekschool Fort de Kock asal afd, Padang Sidempuan juga menjadi guru-guru yang hebat. Dari Fort de Kock mereka meneruskan pendidikan yang lebih tinggi (Hogere Kweekschool) di Poeworedjo dan Bandoeng agar bisa mengajar di HIS. Diantara mereka yang mengajar di MULO harus sekolah guru ke Belanda seperti Gading Batoebara alias GB Josua (mengikuti Soetan Casajangan). Hadji GB Josua adalah pendiri Josua Institut di Medan tahun 1930 (masih eksis sekarang); Soetan Casajangan setelah pindah beberapa kali mengajar di HIS di berbagai kota diangkat menjadi Direktur Normaal School di Meester Cornelis, Batavia. Soetan Martoewa Radja setelah mengajar di Pargaroetan, Sipirok dan Tarutung kemudian diangkat menjadi Direktur Normaal School di Pematang Siantar (guru-gurunya adalah Madong Lubis dan Jansen Nasoetion).

De Sumatra post, 06-11-1907: ‘Dari sekolah pribumi di Tandjong Beringin (afd. Padang en Bedagei) dipindahkan ke Batoe na Doewa (Res. Tapanoeli) kepala sekolah, Si Loehoet gelar Radja Enda Boemi; dan dari sekolah Batoe na Doewa dipindahkan ke Tandjong Beringin sebagai kepala sekolah, Si Abdur Rahmat gelar Dja Manambin’.

Soetan Martoewa Radja adalah ayah dari AFP Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindungan, alumni sekolah teknik di Swiss/Jerman. Kolonel MO Parlindungan, Direktur Peroesahaan Sendjata dan Mesioe (kini PINDAD) adalah pengarang buku Tuanku Rao, buku yang menjadi kotroversial. Mohamad Taif, menjadi guru dan kepala sekolah di Atjeh yang kelak dikenal sebagai ayah dari Kroeng Raba Nasoetion atau SM Amin Nasution, Gubernur Sumatra Utara yang pertama. Si Loehoet gelar Radja Enda Boemi, guru dan kepala sekolah di Batang Toroe yang kelak dikenal sebagai ayah dari Mr. Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi, meraih gelar doctor (PhD) di Leiden tahun 1925 (ahli hukum pertama orang Batak dan orang Indonesia pertama ahli hukum bergelar PhD).

Si Dangjjang gelar Radja Siregar Indo Mora adalah ayah dari Prof. Dr. Mohamad Ildrem (salah satu pendiri Fakultas Kedokteran USU). Mangaradja Hamonangan guru di Sipirok dan Padang Sidempuan, ayah dari Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, alumni sekolah guru di Belanda, meraih gelar PhD tahun 1931. Prof. Mr. Soetan Goenoeng Moelia, PhD adalah Menteri Pendidikan RI yang kedua (menggantikan Ki Hadjar Dewantoro). Soetan Pangoerabaan Pane, guru di Moeara Sipongi, ayah dari Sanusi Pane, Armijn Pane dan Prof. Lafran Pane (pendiri HMI, 1947). Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng, guru di Tapanoeli yang diangkat menjadi penilik sekolah di Medan (1915) dan menjadi pribumi pertama yang terpilih menjadi anggota dewan kota (gementeeraad) Medan tahun 1918.

Kweekschool Padang Sidempuan, sekolah guru terbaik di Indonesia di jamannya. Kini, Universitas Negeri Medan sudah seharusnya melahirkan guru-guru yang hebat, seperti yang pernah ditunjukkan oleh Kweekschool Padang Sidempuan. Kota pendidikan di masa lampau adalah Padang Sidempuan, pada masa kini kota pendidikan di Sumatera Utara adalah Kota Medan. Kualitas guru yang baik berkorelasi dengan lulusan sekolah untuk diterima di universitas terbaik. Peran dari Universitas Negeri Medan untuk menghasilkan guru-guru berkualitas sangat diharapkan. Boleh jadi inspirasi pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru yang menjadi cikal bakal Universitas Negeri Medan (UNIMED) timbul dari success story Kweekschool Padang Sidempuan.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: