03/06/16

Sejarah Kota Medan (16): Abdullah Lubis, Tokoh Pers, Pejuang Kemerdekaan, Orang Indonesia Pertama ke Jepang Membuat Belanda Gerah (1933)



Siapa Abdullah Lubis? Abdullah Lubis memiliki sejarah yang panjang dan lengkap di Medan. Nama Abdullah Lubis muncul kali pertama sebagai redaktur Benih Mardeka (1916). Abdullah Lubis kemudian menjadi bagian dari Pewarta Deli, mulai dari redaktur hingga menjadi pemimpin perusahaan. Ketika popularitasnya meningkat, Abdullah Lubis terpilih dalam ‘pilkada’ untuk menjadi anggota dewan (gementeeraad) Medan (1920).

Abdullah Loebis ke Jepang (1933)
Abdullah Lubis, seorang mantan guru ini, kerap menyuarakan soal permasalahan pendidikan dan pers di kota Medan. Ketika mulai sangat sibuk untuk urusan pro kemerdekaan (dan kehilangan editornya, Mangaradja Ihoetan dan Hasanoel Arifin karena delik pers). Abdullah Lubis meminta kepada koleganya Parada Harahap (pemimpin surat kabar Bintang Timoer di Batavia) agar Adinegoro pindah tempat dari ‘desk’ editor Bintang Timoer menjadi editor Pewarta Deli (1930). Parada Harahap, mantan editor Benih Mardeka dan Pewarta Deli ini setuju dan Adinegoro kemudian hijrah ke Medan. Pertemanan Abdullah Lubis dan Parada Harahap sangatlah dekat.

Dalam pilkada 1931, Abdullah Lubis kalah bersaing dengan rekannya Dr. Ma’moer Al Rasjid di putaran akhir pemilihan. Abdullah Lubis yang sudah satu dasawarsa di dewan memerlukan tenaga baru. Dr. Ma’moer Al Rasjid Nasution menjadi prioritas penduduk karena kala itu tingkat kesehatan masyarakat lagi memburuk. Yang sudah lebih dahulu terpilih adalah Abdul Hakim dan GB Josua

Parada Harahap di Batavia telah menjadi tokoh sentral dalam perjuangan mendapatkan kemerdekaan. Pada tahun 1927 Parada Harahap telah berhasil menyatukan semua organisasi-organisasi pribumi (ketua M. Husni Thamrin dan sekretaris Parada Harahap) dan menggagas diadakannya Kongres Pemuda tahun 1928 dimana Parada Harahap sebagai pembina. Dengan mulai besatunya pribumi, Parada Harahap yang telah memiliki tujuh surat kabar di Jawa  mencoba memprovokasi pemerintahan kolonial Belanda untuk berkunjung ke Jepang.

Pada tahun 1932 Parada Harahap berinisiatif ‘merekrut’ sejumlah tokoh revolusioner muda Indonesia. Awalnya Parada Harahap mengajak Soekarno, namun berhalangan karena masih sibuk mempersiapkan diri (teori politik) di Club Studi di Bandung. Untuk menggantikan posisi akademisi Parada Harahap berhasil mengajak Mohamad Hatta (yang tengah mempersiapkan kepulangan ke tanah air setelah selesai studi di Belanda). Untuk posisi wartawan, Parada Harahap sudah memiliki nominator kuat yakni Abdullah Lubis. Lalu pada Desember 1933 tujuh orang pertama Indonesia berangkat ke Jepang yang dipimpin Parada Harahap (termasuk di dalamnya Abdullah Lubis dan Mohamad Hatta). Di Jepang, pers setempat menjuluki Parada Harahap sebagai The King of Java Press.

Sepulang dari Jepang, rombongan tidak langsung ke Batavia karena khawatir diciduk sebab keberangkatan ke Jepang membuat orang-orang Belanda (termasuk pers) gerah. Rombongan turun di Surabaya (dan cukup lama berdiam di kota ini (wait and see) sambil mempelajari situasi di Batavia). Yang menjadi tuan rumah di Surabaya adalah Dr. Radjamin Nasution, anggota dewan kota Surabaya. Pada tahun 1927, Dr. Radjamin Nasution berperan penting melobi Boedi Oetomo melalui Dr. Soetomo untuk bergabung ke dalam organisasi trans nasional. Dr. Radjamin Nasution dan Dr. Soetomo adalah berteman akrab sejak kuliah di STOVIA. Dr. Radjamin Nasution pernah bertugas di bea dan cukai Medan dimana tahun 1926 Radjamin Nasution menyatukan semua klub sepakbola pribumi menjadi wadah sendiri sebagai perserikatan dengan nama Deli Voetbal Bond. Dengan begitu: di Surabaya terjadi reuni tiga ‘anak Medan’ (Harahap, Lubis dan Nasution) yang sama-sama revolusioner untuk memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan.

Di Medan, untuk anggota dewan kota, Abdullah Lubis sudah dianggap terlalu tua, apalagi Abdullah Lubis sudah menjadi anggota dewan sejak 1920. Pada pilkada tahun 1934, dua incumbent didampingi oleh pendatang baru Adinegoro yang telah menyingkirkan incumbent Tengkoe Dzulkarnaen. Incumbent tersebut: Abdul Hakim (pejabat bea dan cukai, penerus Dr. Radjamin Nasution) dan GB Josua (pemilik sekolah swasta Josua Instituut. Sedangkan new comer Adinegoro adalah editor Pewarta Deli (yang mana sebagai direktur Abdullah Lubis). Abdul Hakim dan GB Josua keduanya berasal dari Padang Sidempuan (Abdul Hakim kelak menjadi Residen Tapanoeli dan Gubernur Sumatra Utara yang ketiga). Komposisi anggota dewan pribumi dari lima orang empat berasal dari Tapanoeli ditambah satu orang dari Minangkabau (Melayu tidak terwakili lagi)

Pada tahun 1935 Abdullah Lubis memperkuat persatuan karena di Medan sendiri masyarakat terbelah dan terdapat dua paksi (pro Belanda dan kontra Belanda). Abdullah Lubis mengajak Dr. Pirngadi (anak Banten) dan kemudian diperkokoh organisasi Taman Persahabatan. Susunan pengurus organisasi multi etnik ini adalah sebagai berikut: Ketua, Dr. Pirngadi (kelahiran Banten), Wakil ketua: Abdullah Lubis, Sekretaris: Mohamad Joesoef (asal Minangkabau) dan Madong Lubis (mantan guru dan mantan anggota dewan kota Pematang Siantar). Lalu perjuangan trans nasional di Medan dimulai.

Dua lagi ‘anak Medan’ dalam urusan ‘bernegara’ ini adalah SM Amin dan Amir Sajarifoedin, yang dalam Kongres Pemuda 1928 SM Amin (mahasiswa Rechschool) duduk sebagai anggota panitia dan Amir Sjarifoedin (mahasiswa Rechtschool) duduk sebagai bendahara. Kedua pemuda revolusioner tersebut kebetulan asal Padang Sidempuan kelahiran Medan dan Kotaradja. Pada saat itu Parada Harahap adalah ketua Kadin pribumi di Batavia. Dalam kongres itu lagu Indonesia Raya diperdengarkan, karya WR Supratman (teman dekat Parada Harahap, mantan editor kantor berita Alpena yang didirikan dan dipimpin oleh Parada Harahap). Ini mengindikasikan Abdullah Lubis, Parada Harahap dan Radjamin Nasution adalah tiga tokoh utama dalam memperjuangkan kemerdekaan poros Medan, Jakarta dan Surabaya. Amir dan Amin sebagai tokoh pemudanya. Untuk sekadar diketahui saja: Parada Harahap adalah mentor dari tiga tokoh revolusiner generasi kedua: Soekarno, Hatta dan Amir. Di dalam sistem yang terhubung ini, tokoh sentral Parada Harahap sangat special. Demikian juga dengan Abdullah Lubis, sangat special di Medan. Tentu saja Radjamin sangat spesial di Surabaya (kelak menjadi walikota pribumi pertama di Surabaya)..

Abdullah Lubis adalah salah satu guru-guru dari Padang Sidempuan yang dipindahkan dari Residentie Tapanoeli ke Medan dan Sumatra's Oostkust. Abdullah Lubis adalah ketua Sarikat Goeroe-Goeroe di Medan. Ketika diadakan Rapat Umum di Medan tahun 1916, salah satu keputusan adalah membentuk media perjuangan yang kemudian diterbitkan Benih Mardeka. Para pengasuh media perjuangan ini adalah Mohamad Samin dan Mohamad Joenoes dari SI dan Abdullah Loebis dari SG. Penilik sekolah waktu itu adalah Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng yang cakupan tugasnnya selain Medan juga seluruh Sumatra's Oostkust. Radja Goenong pada tahun 1918 (ketika diterapkan pertama kali pilkada) terpilih menjadi anggota pribumi untuk dewan kota (gementeeraad) Medan. Radja Goenoeng kelahiran Hoetarrimbaroe Padang Sidempoean adalah anggota dewan kota pribumi yang pertama (lewat pemilihan langsung). Pada tahun 1920 kuota pribumi ditambah yang mana yang terpilih adalah Abdullah Lubis.

Setelah masuknya investor baru, dalam perkembangannya surat kabar Benih Mardeka menjadi ‘layu sebelum berkembang’. Sementara, surat kabar Pewarta Deli (yang terbit kali pertama 1910) yang awalnya berada pada jalur mainstream bergeser lebih revolusioner (di bawah pimpinan Abdullah Lubis)..

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-09-1923: ‘Ulang tahun surat kabar pribumi berbahasa Melayu yang muncul di Medan, Benih Mardeha yang diterbitkan oleh NV. Setia Bangsa (yang kini) di bawah direksi Tengkoe Badja Sabaroedin pada tanggal 31 Agustus tahun ini dirilis sejumlah kegiatan yang dihiasi oleh berbagai potret termasuk anggota keluarga kerajaan dan otoritas administratif tertinggi dan pemerintah SOK (Sumatra’s Oostkust), pelopor perkebunan Deli Cramer dan Nienhuys’.

Tengkoe Radja Sabaroedin dikabarkan meninggal dunia tahun 1924 dalam usia 63 tahun di Batavia (De Sumatra post, 21-07-1924). Deze was in den Atjeh-oorlog bekend en verkreeg de Militaire Willemsorde 4de kl. (De Preanger-bode, 23-07-1924).

Benih Mardeka terkesan berkolaborasi dengan pihak-pihak yang yang dulu menjadi seteru dari Benih Mardeka.
Untuk anggota dewan pusat (Volksraad) baru pada tahun 1920 Sumatra terwakili. Pada saat pertama pilkada Sumatra ini hanya dibuat satu dapil dan satu orang perwakilan. Pada tahun 1924 kuota Sumatra ditambah menjadi empat dapil masing-masing satu orang, yakni dapil: Sumatra's Westkust, Zuid Sumatra, Sumatra's Oostkust dan Noord Sumatra (Residentie Tapanoeli en Residentie Atjeh). Yang terpilih untuk wakil Noord Sumatra adalah Dr. Alimoesa, sedangkan untuk Sumatra's Oostkust yang terpilih adalah Mr. Abdul Firman. Kedua anggota Volksraad ini berasal dari kampung yang sama: Alimoesa Harahap (alumni Buitenzorg) dari huta Batoenadoea dan Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon (alumni Leiden) dari huta Panjanggar di Padang Sidempoean. Untuk periode berikutnya yang terpilih dari Noord Sumatra adalah Dr. Abdul Rasjid (alumni STOVIA), sedangkan dari Sumatra's Oostkust yang terpilih incumbent Abdul Firman. Kedua abang-adik ini sejak itu hingga berakhirnya pemerintahan kolonial Belanda selalu terpilih ke Pedjambon (kini di Senayan). Dua anak Padang Sidempuan yang pernah berada di Pedjambon adalah Dr. Radjamin Nasoetion (alumni STOVIA) dari dapil Oost Java pada tahun 1938 dan Mr. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (alumni Leiden) dari dapil Batavia sejak 1934.
Abdullah Lubis telah melakukan banyak hal sejak terpilih menjadi anggota dewan kota Medan tahun 1920 hingga tahun 1930. Pada tahun 1929 Abdullah Lubis sebagai direktur Sarikat Tapanoeli yang menerbitkan Pewarta Deli. Pada tahun 1936 Abdullah Lubis dilengserkan di Sarikat Tapanoeli karena dianggap tidak memberikan keuntungan bagi pemegang saham. Namun Abdullah Lubis menggugat perusahaan bahwa hal itu karena kebijakannya telah memberikan gaji yang lebih baik kepada para karyawan. Seperti diketahui bahwa sebelum berangkat ke Jepang, Abdullah Lubis menjadi fasilitator Partai Nasional di Medan yang mana Abdullah Lubis sempat disidangkan dalam kasus delik pers. Dalam kasus itu editornya Hasanoel Arifin dilarang pemerintah untuk menjadi editor Pewarta Deli (Abdullah Lubis merekrut Adinegoro sebagai penggantinya). Abdullah Lubis meninggal dunia tanggal 11 Agustus 1938 telah lama menderita penyakit perut.

Sejarah Marah Halim Cup (15): Parada Harahap, Pers dan Sepakbola, Pertja Barat vs Pertja Timor, Pewarta Deli vs Sinar Deli, Benih Mardeka vs Sinar Merdeka

Bag-6. Sejarah Tapanuli: Sejarah Pers Tapanuli, Raja-Raja Persuratkabaran di Padang, Medan, Jakarta dan Bandun

Sejarah Kota Medan (21): Abdul Hamid Lubis, Mentor Adam Malik; Pemuda Paling Revolusioner yang Mendahului Soekarno

Mochtar Lubis: The Musketeer in International Press; Penghargaan yang Diterima dari Negara Hanya Sebatas Penjara

Simpang Siur Sumpah Pemuda, Ini Faktanya (4): Analisis yang Keliru dan Hasil Analisis yang Seharusnya; Sukarno dan Hatta Menghormati Parada Harahap

Bapak Pers Indonesia: Dja Endar Moeda, Kakek Pers Nasional dan Parada Harahap, Cucu Pers Nasional

Sejarah Kota Medan (44): Orang-Orang Jepang di Medan Sejak 1900; Mendapat ‘Teman Duduk’ Selama Pendudukan Jepang

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber lama tidak disebut lagi kecuali sumber baru. Untuk sumber lama dapat ditelusuri dalam berbagai artikel di dalam blog ini.

Tidak ada komentar: