30/07/11

Mayjen TNI Azmyn Yusri Nasution: Like Father, Like Son


Mayjen TNI Azmyn Yusri Nasution, AY Nasution, anak mantan Bupati Tapanuli Selatan, lulusan Akabri 1977, ditetapkan sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) menggantikan Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo yang kini menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. Penetapan mantan Asisten Teritorial Panglima TNI menjadi Pangkostrad didasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/584/VII/2011 tanggal 25 Juli 2011, tentang Pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI. Mayor Jenderal TNI. H.Azmyn Yusri Nasution  sebelumnya menjabat sebagai Komandan Pusat Teritorial TNI AD dan sebelumnya sebagai Pangdam Cenderawasih Papua.

***
Mayjen Azmyn Yusri Nasution (gelar Mangaraja Enda Muda) lahir di Medan, 26 Maret 1954 adalah anak almarhum Kolonel inf. HM Nurdin Nasution, mantan Bupati Kabupaten Tapanuli Selatan yang menjabat sampai tiga periode. Sebelum menjabat Bupati, beliau adalah Komandan Kodim di Kabupaten Labuhan Batu. H M Nurdin Nasution memulai karir militer sebagai seorang pejuang kemerdekaan di Labuhan Batu dengan pangkat Lettu dan menjadi Komandan Resimen III Marbau, Labuhan Batu.

Di Tapanuli Selatan, nama H.M.Nurdin Nasution sangat dikenal dan dihormati. Beliau adalah sebagai sosok bupati yang sederhana dan bersahaja. Beliau semasa menjadi bupati di Kabupaten Tapanuli Selatan tidak membeda-bedakan status sosial, kedudukan dan kepangkatan warganya.  Bupati yang satu ini dikenal sebagai bupati yang gemar turun ke bawah, menemui rakyatnya di warung-warung kopi, pelosok desa, pusat pasar sambil menerima aspirasi dan mendengarkan keluhan rakyatnya untuk diwujudkan dalam sebuah program pemerintah demi meningkatkan taraf hidup dan kemajuan warganya serta daerahnya.

***
Saya masih ingat cerita ayah saya, suatu ketika di masa lalu, sebelum memulai pekerjaannya sebagai pedagang seperti biasanya melakukan ‘sarapan’   di sebuah warung kopi di Pasar Padang Sidempuan. Lalu, sang Bupati yang kebetulan lagi jalan pagi sekitar pasar mampir tanpa dikawal di warung kopi tersebut. Sang bupati tak segan-segan menyapa orang yang ada di warung. Ayah, saya yang kini masih hidup sehat diusia 84 tahun sengaja terakhir menyalam Bupati, sambil mengenalkan diri sebagai anggota veteran RI. Sang Bupati, mengajak ngobrol singkat sambil tetap berjabat tangan tentang kisah masing-masing selama perang kemerdekaan.

“Mengapa dulu tidak diteruskan” (maksudnya menjadi TNI) Tanya Bupati ke ayah saya. “Kelihatannya bakat dan panggilan jiwa lebih ke bidang ekonomi dan perdagangan” jawab ayah saya..”Bagus. itu sama-sama penting untuk mengisi kemerdekaan” lanjut Bupati dengan tegas. “Tapi kesejahteraan veterannya sudah diurus”. “Belum, masih terpenuhi dari berdagang” jawab ayah saya. “Tapi masih tersimpan kartu veterannya”. “Masih”. “Baiklah, suatu saat diurus saja, itu adalah hak setiap anggota veteran”. Beberapa tahun kemudian, karena permintaan bupati ini tidak dipenuhinya dan eggan mengurusnya, akhirnya Ketua Veteran Kota Padang Sidempuan mengurus sendiri karena ayah sayalah satu-satunya sisa anggota veteran di kota itu yang belum diberikan haknya.

Suatu waktu, Ketua Veteran Padang Sidempuan datang ke rumah dan memberitahukannya ke ayah saya bahwa penetapan hak ayah saya sebagai anggota veteran sudah ditandatangani di Jakarta dan sudah bisa mengambil tunjungan veteran sebesar sembilan ratus ribu rupiah sebulan di Kantor Pos. Terhadap berita itu, ayah saya yang masih aktif berdagang di usia 70an tahun mau-tak mau mulai berpikir untuk pensiun dari bidang ekonomi khususnya berdagang. Selama 10 tahun terakhir ini, ayah saya sudah menikmati hari tuanya dengan uang pensiun dari Pemerintah Republik Indonesia. Merdeka!. Kini, mereka yang anggota veteran di Kota Padang Sidempuan hanya tinggal beberapa orang lagi yang masih hidup.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, kiriman saya kepada sang ayah mulai ditolak. Saya bertanya-tanya, mengapa. Setelah saya desak, dikatakannya bahwa uang pensiun veterannya sudah cukup. “Tapi kan tidak ada salahnya dikirim”. jawab saya untuk mengubah pendiriannya.  “Jangan”, katanya. “Mengapa?” saya balik bertanya. Lalu dia menatap mata saya dan mangatakan “Hak saya dari Negara sudah mencukupi. Kirimanmu itu adalah hak cucu saya”. Saya kaget, tapi saya cepat paham: Mereka adalah pejuang, pejuang yang mampu berperang tanpa digaji, makan dari apa yang ada di hutan, tidak pernah berkeluh kesah sampai tua. Saya jadi malu dengan prinsip mereka yang begitu kuat untuk ikut memerdekakan Negara ini bahkan tak lupa pula memikirkan masa depan cucu dan cicit mereka.

***
Untuk mengenang nama besar H M Nurdin Nasution di Kota Padang Sidempuan, nama Stadion Naposo Padang Sidempuan yang merupakan kebanggan masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) resmi berubah nama menjadi stadion H.M Nurdin Nasution (Peraturan Daerah Nomor: 11/2005 tanggal 27 Oktober 2005). Ketika peresmian nama baru stadion ini, sang anak Mayjen TNI Azmyn Yusri Nasution (alumni SMP N 1 Padang Sidempuan dan SMA N 2 Medan) yang kini menjadi Pangkostrad tersebut berkisah sewaktu kecil dirinya kerap berolahraga lari dan latihan fisik di stadion Naposo sehingga membentuk dan membangun fisiknya yang sehat dan kemudian diterima menjadi tentara. Di stadion ini juga diselenggarakan Mayjen TNI AY Nasution Cup.

***


Nama-nama Bupati Kabupaten Tapanuli Selatan

No
Nama
Periode
1
Muda Siregar Gelar Sultan Doli  
1950-1951
2
Raja Junjungan Lubis
1951-1954
3
Abdul Azis Lubis               
1954
4
Wahid R
1954
5
Muhammad Nasib Nasution
1954-1955
6
Abdul Azis Lubis
1955-1956
7
M. Nurdin Nasution
1956-1961
8
M. Nurdin Nasution
1961-1969
9
Ahmad Negara Nasution 
1969-1970
10
M. Nurdin Nasution
1970-1974
11
Bgd. Syarif Hasibuan   
1974-1979
12
Hamzah Lubis
1979-1984
13
H. A. Rasyid Nasution  
1984-1989
14
Drs. Toharuddin Siregar 
1989-1994
15
Drs. Sualoon Siregar
1994-1999
16
Ir. Suangkupon Siregar, MSc
1999-2000
17
Drs. H. M. Saleh Harahap
2000-2004
18
Ir. Abdul Rahim Siregar 
2004-2005
19
Ir. Ongku P. Hasibuan 
2005-2010
20
H. Syahrul M. Pasaribu  
2010-

Tidak ada komentar: