06/06/11

Prof. Ir. Hermanto Siregar, MEc., PhD : Wakil Rektor IPB, Ekonom dan Tokoh Tapanuli Bagian Selatan


Hermanto Siregar adalah akademisi yang sempurna. Jabatan akademisnya saat ini adalah sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB di Department of Economics, Faculty of Economics and Management IPB Bogor. Sebagai dosen dia juga aktif sebagai peneliti. Hermanto Siregar adalah seorang peneliti yang disegani teman-temannya. Minat utamanya adalah Econometrics, Macroeconomics dan Advance Macroeconomics. Beliau juga aktif dalam berbagai organisasi profesi seperti ISEI, Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia dan pernah menjabat Sekretaris Jenderal di Asia Pacific Agriculture Policy Forum. Karirnya yang cepat di bidang akademik turut memperkuat positioningnya untuk menjabat dalam berbagai jabatan publik.

Ini semua berasal dari buah keuletannya dan ketekunannya dalam belajar yang sangat luar biasa selama mahasiswa tingkat sarjana yang membuatnya menjadi asisten dosen untuk berbagai matakuliah. Setelah lulus (1986) dia diangkat menjadi dosen di almamaternya: Program Studi Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi di Fakultas Pertanian IPB. Dengan bakat pintar dan kerja kerasnya, dia dengan mudah menyelesaikan pendidikan lebih lanjut hingga mendapat gelar MEc in Agricultural Economics dari University of New England, Australia, 1991 dan meraih  Ph.D in Economics dari Lincoln University, New Zeland, 2003.

Pembangunan Daerah Tapanuli Bagian Selatan

Dalam acara Tabagsel Gathering yang digelar Forum Peduli Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) di Hotel JW Marriott, Medan 22 Januari 2011 hadir sejumlah tokoh nasional yang berasal dari Tapanuli Bagian Selatan (Sindo, 23 Januari 2011). Pertemuan tersebut bertujuan untuk menyatukan persepsi seluruh masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Kab. Mandailing Natal, Kab. Tapanuli Selatan, Kab. Padang Lawas Utara, Kab. Padang Lawas dan Kota Padang Sidempuan) terkait strategi untuk mempercepat pembangunan di kawasan tersebut. 

Tokoh Tapanuli Bagian Selatan di perantauan yang hadir pada pertemuan itu antara lain Chairuman Harahap (Ketua Komisi II DPR), Mulia P. Nasution (Sekjen Departemen Keuangan), Arifin Siregar (mantan Gubernur BI), Ansyari Ritonga (mantan Dirjen Pajak), Dr. Adnan Buyung Nasution (pengacara), Letjen (Purn) Ahmad Rivai Harahap (mantan Ka Kwarnas Pramuka), Dr. Todung Mulya Lubis (pengacara) Bomer Pasaribu (mantan Menakertrans), Prof Panusunan P Lubis (mantan Rektor USU Medan), Dr. Darmin Nasution (Gubernur BI) dan Wakil Rektor IPB: Prof Dr Hermanto Siregar.

Siapa Hermanto Siregar? Dia bukanlah orang baru dalam hubungannya dengan  Tapanuli Bagian Selatan. Sejak mahasiswa dia sudah banyak terlibat dan berpartisipasi dengan Kabupaten Tapanuli Selatan waktu itu. Dia adalah anggota Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan (Imatapsel) Bogor, pernah menjadi pengurus dan selalu bersedia didaulat menjadi salah satu penasehat/pembina Imatapsel di masa kini. Keteladanan  Hermanto Siregar bagi Imatapsel pada masa kini menjadi suksesi Alm Bapak Andi Hakim Nasoetion di masa lalu. Dua tokoh beda generasi ini begitu penting membangun spirit belajar anggota Imatapsel Bogor. Sudah tentu, dalam kapasitasnya sebagai peneliti, dia juga sering terlibat dalam analisis dan pembahasan mengenai pembangunan di Sumatra Utara, khususnya pengembangan daerah Tapanuli Bagian Selatan.

Seorang Motivator yang Baik

Saya tidak bisa melupakan tokoh yang satu ini: Hermanto Siregar. Penampilan yang selalu bersahaja, kalem, tapi mampu memotivasi banyak orang yang diharapkannya untuk berkembang. Setelah tersiar kabar Hermanto Siregar menjadi wakil rektor IPB, rasanya tidak elok saya hanya berdiam diri. Saya bergegas mencari tahu nomor handphone beliau. Lewat Prof. Dr. Ir. Iskandar Zulkarnaen Siregar, M.For.Sc— teman satu kelas (kelompok) di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB yang kini telah menjabat sebagai Direktur Riset dan Kajian Strategis IPB—saya tidak hanya mendapat nomor handphone Hermanto Siregar juga alamat emailnya. Saya langsung mengontak Bang Hermanto dan menyampaikan ucapan selamat menjadi Wakil Rektor.

Rupanya, dia punya daya ingat yang kuat, dengan cukup menyebut nama saya di kalimat pertama, dia spontan dan ternyata masih ingat betul dengan juniornya. Padahal kami sudah tidak pernah ketemu lagi sejak  23 tahun yang lalu—ketika saya lulus sarjana dan hijrah dari Bogor (karena lamaran saya jadi dosen di IPB ditolak) dan Bang Hermanto sendiri meninggalkan Bogor untuk sekolah ke Australia. Saat saya mengingatkan bahwa  buku yang diberikannya dulu masih saya simpan (dan kadang-kadang masih saya baca) tampaknya dia tidak terlalu menghiraukan. Dia lebih tertarik membuka pembicaraan tentang masa kini saya.

Boleh jadi dia lupa, karena Hermanto Siregar termasuk seorang guru  sejati: ‘apa yang diberikan dan kepada siapa diturunkan harus dilupakan, tapi saya adalah siswa junior yang baik yang tidak melupakan apa yang telah diberikan oleh guru-guru dan senior-senior saya di masa dulu. Bagi saya, pemberian buku itu justru saya anggap semacam symbol bagaimana saya memulai dengan tertatih-tatih dan bagaimana saya kelak menyelesaikannya. Riwayatnya begini:  

Di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB kata lain untuk mahasiswa tingkat satu bahwa setiap mahasiswa yang jumlahnya 1700 orang mutlak mengikuti matakuliah namanya Pengantar Ilmu Ekonomi (PIE)—selanjutnya saya singkat saja Ilmu Ekonomi. Ini jelas mata kuliah baru bagi semua mahasiswa karena mahasiswa yang diterima di IPB semua berasal dari jurusan IPA di SMA. Awalnya matakuliah ini sangat sulit bagi saya untuk memahami dengan cepat  tentang  konsep, definisi, model dan penerapan dari matakuliah baru yang masuk klaster ilmu sosial ini.

Perkuliahan yang saya ikuti di kelas (oleh Prof. Rudolf Sinaga) dan asistensi pada saat responsi (oleh Drajat Wibowo—ekonom bergelar doktor dari partai PAN sekarang) ternyata tetap sulit bagi saya untuk paham sepenuhnya. Bahkan ketika pengurus bidang pendidikan Imatapsel untuk mendatangkan Bang Hermanto Siregar untuk kegiatan responsi bagi semua anggota Imatapsel jelang ujian tetap tidak membuat saya siap untuk mengikuti ujian pertama Ilmu Ekonomi ini (waktu itu, setiap matakuliah diujikan tiga kali). Apakah karena saya tidak senang dengan ilmu sosial? Saya tidak tahu, tapi yang jelas waktu itu saya lebih menyukai matematika dan ilmu kimia—dari kampung ingin jadi insinyur pertanian. Untuk kedua matakuliah ini saya tidak terlalu kesulitan.

Setiap mahasiswa harus lulus matakuliah ini karena sifatnya wajib buat mahasiswa TPB. Mau tak mau, saya harus lulus mata kuliah ini. Pada jelang ujian kedua dan ujian ketiga saya berinisiatif ke tempat Bang Hermanto ini di Asrama Wisma Raya untuk ‘belajar khusus’. Singkat cerita, pada ‘kuliah khusus’ terakhir di asrama, Bang Hermanto berharap saya bisa lulus, kalau bisa dapat menggantikannya untuk memberikan responsi bagi mahasiswa Imatapsel pada tahun-tahun berikutnya. Dalam hati saya berpikir: “Ah, abang ini bercanda kali”. Lalu, akhirnya saya lulus mata kuliah Ilmu Ekonomi ini dengan nilai B (memuaskan). Setelah naik tingkat dari TPB saya berkunjung ke asrama dan saya ceritakan saya dapat nilai B untuk ilmu ekonomi. Dia tidak kaget, malah menganjurkan untuk memilih jurusan sosek (ilmu-ilmu sosial ekonomi). Dalam hati saya berpikir: “Ah, apa-apaan abang ini”. Ketika saya pamit untuk pulang ia berpesan agar saya belajar keras sambil mencari-cari buku di atas mejanya: “Khir, ini saya berikan kamu buku saya, mudah-mudahan bisa dimanfaatkan”. Buku itu berjudul: “Basic Macroeconomics: Principles and Reality” (David Lindsey and Edwin G. Dolan). Di halaman bagian dalam ditulis tangan: “Buat Akhir Matua”, ttd, Hermanto Siregar (A19.0899).
 
Singkat cerita, di hari terakhir (peminatan) pemilihan fakultas/jurusan bagi mahasiswa TPB, saya agak bingung jurusan/fakultas  apa yang mau dipilih. Setelah menimbang-nimbang saya memutuskan memilih tiga plihan (maksimal boleh mengusulkan tiga pilihan jurusan): pilihan pertama jurusan ilmu gizi masyarakat, kedua jurusan ilmu statistika pertanian, ketiga jurusan ilmu-ilmu sosial ekonomi. Tapi, saya keliru membaca formulir sehingga saya menuliskan pilihan sehingga menjadi ilmu sosial ekonomi di baris pilihan pertama dan ilmu gizi di baris pilihan ketiga sedangkan ilmu statistika sesuai di baris pilihan kedua. Karena saya menggunakan tinta basah dan sulit dihapus, akhirnya setelah dipikir-pikir saya ikhlaskan saja mengembalikan formulir yang telah diisi tersebut apa adanya tanpa berupaya untuk mengubahnya. Akhirnya beberapa hari kemudian diumumkan bahwa saya ditempatkan panitia dan diterima di jurusan ilmu-ilmu sosial ekonomi. Saya tidak merasa gembira, karena saya anggap hasil seleksi itu timbul dari kekeliruan.

Seminggu pertama kuliah di jurusan ilmu-ilmu sosial ekonomi (semester tiga) saya biasa-biasa saja. Tapi di minggu kedua mulai ada godaan dan mata saya tertuju pada papan pengumuman. Ada sebuah maklumat ditempel pada selembar kertas yang intinya: “Dibutuhkan sejumlah mahasiswa untuk menjadi asisten Ilmu Ekonomi untuk kelas Tingkat Persiapan Bersama (TPB) dengan syarat memiliki nilai Ilmu Ekonomi minimal B”. Wah, boleh juga, pikir saya dalam hati. Lantas saya melamar dengan mengisi formulir.

Sesaat setelah saya menyerahkan formulir itu dan mau menutup pintu kantor  koordinator matakuliah Ilmu Ekonomi tersebut Dr. Tjahjadi Sugianto yang telah melihat formulir lamaran saya menahan saya dan menegor saya dengan setengah marah: “apaan kamu ini, mau asisten, tapi nilainya cuma B”. Saya kaget dan apa yang salah dengan saya. Lantas saya balik bertanya dan berdalih: “syarat yang bapak buat kan perlunya hanya minimal B, apa Bapak keliru?”. Lalu dia tampaknya kesal dengan saya  sambil nyengir: “ya, udah. Pengumumannya minggu depan”.

Setelah ‘nanya sana sini’ baru saya tahu bahwa asisten yang diterima selama ini hanya pelamar yang memiliki nilai A, tapi anehnya dari dulu-dulu syaratnya tetap minimal nilai B. Karena itu, saya tidak terlalu berharap untuk diterima menjadi asisten Ilmu Ekonomi setelah tahu tradisi tersebut. Beberapa hari kemudian, ketika saya sudah melupakannya, datang seorang teman menemui saya dan memberitahu bahwa  saya diterima menjadi asisten ilmu ekonomi “Ah, masa. Kau ini keliru, salah lihat kali”. Untuk memastikan, saya bergegas untuk melihatnya. Benar saya diterima menjadi asisten dan nama saya termasuk diantara 18 nama yang diumumkan.

Saya tidak gembira. Saya ingat Pak Tjahjadi yang membuat saya setengah meradang waktu mendaftar, tapi juga saya ingat pesan Bang Hermanto yang pernah mendorong saya sebelumnya untuk menggantikannya menjadi asisten ilmu ekonomi di Imatapsel. Singkat cerita saya putuskan untuk memulai karir menjadi asisten dosen. Hal yang membuat saya tersenyum, karena inilah saatnya sebagai asisten Ilmu Ekonomi di IPB yang berasal dari SMA di Tapanuli Selatan (Bang Hermanto sendiri sesungguhnya lahir dan besar serta alumni SMA di Medan). Bahkan dengan menjadi asisten Ilmu Ekonomi ini justru terbuka mata  saya untuk memperpanjang daftar karir untuk menjadi asisten matakuliah lainnya. Tercatat selama mahasiswa di Program Studi Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi, saya telah menjadi asisten untuk empat matakuliah berbeda. Selain Ilmu Ekonomi ini, juga menjadi asisten dosen untuk Ilmu Kependudukan, Ilmu Ekologi Manusia dan Antropologi Pertanian (kelas D3).

Riwayat inilah yang membuat kesan saya begitu simpatik terhadap abang yang satu ini. Dia tidak hanya mampu memberi motivasi pada saat yang tepat, tetapi juga jeli menunjukkan arah yang benar kemana harus dituju. Awalnya, begitu sulit memahami konsep dan model ekonomi, tapi akhirnya lambat laun saya bisa juga memhamai sepenuhnya apa itu ilmu ekonomi. Sekalipun Hermanto Siregar—sadar atau tidak sadar—telah turut membelokkan cita-cita yang sebetulnya ingin jadi insinyur pertanian malah menjadi ekonom. Terus terang kini saya menikmatinya. Buku yang diberikan Bang Hermanto Siregar dulu seakan tetap hadir menjembatani kedua ‘habitat’ kami bekerja: Bang Hermanto di Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Bogor dan saya di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi (dan Binsis) di Depok. “Selamat dan sukses Bang”. Sumber: Dikompilasi dari berbagai media (Akhir Matua Harahap).

Baca juga:
Sejarah Kota Medan (17): Simpang Siur Sejarah Pendirian Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara (USU); Ini Faktanya
Medan Perdamaian: Organisasi Sosial Pertama di Indonesia (bukan Boedi Oetomo)
Sejarah Kota Medan (22): Madong Lubis, Guru van Ophuijsen dari Padang Sidempuan; Peletak Dasar Tatabahasa dan Ejaan Indonesia
Sejarah Kota Medan (26): Sutan Parlindungan; Tokoh Terkenal di Medan; Murid Willem Iskander yang Menjadi Editor Pewarta Deli
Sejarah Kota Medan (27): Sutan Gunung Tua, Murid Pertama Nommensen yang Menjadi Jaksa di Medan; Kakek PM Amir Sjarifuddin

Tidak ada komentar: