03/06/11

Chaidir Ritonga: Politikus, Pebisnis dan Penulis Sejati

Chaidir Ritonga lahir 13 Januari 1962 dan dibesarkan di Padang Sidempuan. Di kota salak ini, Chaidir menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah sebelum akhirnya menempuh pendidikan tinggi di Kota Bogor. Di kota hujan ini, Chaidir tidak hanya menekuni dengan sangat serius perkuliahan di Institut Pertanian Bogor, tetapi juga secara intensif menaruh perhatian terhadap dunia informasi seluas-luasnya. Energinya yang cukup berlebih, memungkinkannya bisa membagi waktu untuk berpartisipasi dalam bidang keorganisasian mahasiswa, baik di dalam kampus, antara lain  (sebagai Sekjen BPM, DPRnya) Himpunan Mahasiswa Fakultas Ferikanan, maupun di luar kampus, antara lain (Pengurus) HMI Cabang Bogor  dan (Wakil Ketua) Imatapsel Bogor.

Kini, Chaidir Ritonga telah matang sepenuhnya menjadi Manusia Indonesia seutuhnya. Ia tidak hanya konsisten dalam kompetensinya, baik dalam dunia bisnis (pebisnis) di bidang  perikanan tetapi juga tetap menjaga dirinya sebagai seorang akademisi tulen (yang telah mendapat pendidikan doktor), yang di dalam waktu senggangnya tidak pernah berhenti memproduksi tulisan untuk menyebarkan informasi bagi masyarakat luas. Karakteristik dasar yang dimilikinya itu (penulis), membuat penampilannya sebagai anggota dewan di Pemerintahan Sumatera Utara terasa berbeda dibanding anggota-anggota dewan (politisi) lainnya. Yang menarik, perhatianya terhadap Tapanuli Bagian Selatan tidak pernah luntur dari dulu hingga pada masa ini. Semboyan ‘dari huta ke huta’ pas bagi dirinya dan cocok dalam konteks pembangunan nasional di Sumatera Utara: ‘Marsipature Hutana Be’.

***

Saya mengenal baik dengan ‘abang’ yang satu ini. Kini ia menjadi seorang politikus sejati padahal dulunya ketika ia saya kenal adalah sebagai seorang ‘golput’. Perkenalan saya pertama kali dengan beliau, ketika acara penerimaan anggota baru Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan (Imatapsel) Bogor. Saya melihat sosoknya yang berbeda dibanding senior yang lain. Penilaian saya itu ternyata terbukti ketika kami para anggota baru mendapat satu paket majalah Imatapsel terbitan perdana yang namanya HATIHA. Saya membaca di dalam susunan anggota redaksinya, bahwa Bang Chaidir ini (demikian saya selalu menyebut namanya) tidak hanya sebagai Pemimpin Usaha yang sekaligus Pemimpin Redaksi, juga di bagian dalam halaman terdapat sebuah ‘kolom’ yang ditulisnya sendiri. Selama acara penerimaan anggota baru itu, sengaja saya sisakan waktu dan mengesampingkan dulu keinginan untuk berkenalan dengannya. Toh, juga masih banyak waktu besok lusa.

Pada minggu-minggu berikutnya, selepas ujian di hari Sabtu, saya mencari tahu dimana tempat kosnya dan langsung menemuinya untuk berkenalan. Kebetulan lokasi tempat kosnya tidak jauh dari kampus dan hanya beberapa ratus meter ke arah Pasar Bogor yang berada di sebelah timur Kebun Raya Bogor. Di ruang tamu tempat kosnya (terdiri dari beberapa kamar mahasiswa dalam sebuah rumah) saya disambutnya dengan hangat sebagaimana lazimnya antara senior dan junior ‘dongan sahuta’. Singkat cerita, kami berdua banyak ‘ngobrol’ kesana kemari tentang Padang Sidempuan dan dunia perantauan. Di sela-sela ‘perbualan’ itu beliau sering menunjukkan topik-topik tertentu pemberitaan di majalah Tempo—suatu majalah yang baru pertama kali saya kenal—yang lalu kami bahas walaupun sesungguhnya saya lebih banyak mendengar daripada ikut menanggapi.

Dari sini saya mulai sengaja mengumpulkan majalah Tempo bekas yang banyak dijual di lapak-lapak buku/majalah di Kota Bogor. Begitu murahnya hanya seratus perak sampai pada akhirnya rak saya sudah penuh jauh melampaui jumlah buku-buku kuliah yang ada. Tapi untuk urusan terbitan baru majalah Tempo, kalau tidak di perpustakaan saya bisa membacanya di tempat kos abang yang satu ini—mungkin satu-satu mahasiswa yang berlangganan majalah Tempo ketika umumnya mahasiswa beli koran eceran saja enggan. Tapi, tidak dengan Chaidir Ritonga. Suatu kali, ia juga menunjukkan salah satu tulisannya di bagian ‘surat pembaca’ dalam majalah Tempo terbaru. Saya yang hanya terbiasa mengisi TTS harian Kompas (dan beberapa kali menang dapat hadiah 10-15 ribu) lambat laun tergoda juga untuk menulis di ‘surat pembaca’ di harian Kompas. Jalan pikiran Chaidir Ritonga (yang saya anggap dia dari dulu sebagai pemikir yang inovatif) secara tidak sadar mempengaruhi saya.

Kevakuman penerbitan majalah Imatapsel HATIHA setelah era Chaidir Ritonga berlalu pada tahun berikutnya saya berinisiatif meneruskan majalah ini kembali dan bertindak sebagai pemimpin redaksinya. Nama HATIHA dapat diduga dan sudah barang tentu, dipilih pemimpin usaha/pemimpin redaksi yang pertama (Bang Chaidir) yang kurang lebih mirip dari majalah Tempo. Bukankah ‘hatiha’ dalam bahasa Tapanuli Selatan sebagai arti dari kata ‘waktu’ atau ‘tempo’? Ini jelas lahir dari pepatah ‘jika kenal maka akan sayang’ dari Chaidir Ritonga terhadap majalah Tempo menjadi nama majalah HATIHA. Setelah beberapa edisi dalam satu tahun, posisi saya sebagai pemimpin redaksi digantikan yang lain ketika saya diangkat menjadi Ketua Imatapsel Bogor.    

***

Inilah sisi awal dari Chaidir Ritonga yang saya kenal. Setelah dia lulus sarjana dia ‘mulak tu huta’ dan memulai karir sebagai pegawai perusahaan asing di bidang perikanan. Sejak itu, saya tidak pernah ketemu lagi secara langsung dengan dia sampai sekarang. Entahlah kalau nanti. Tapi, sejak era handphone komunikasi diantara kami masih tetap berlangsung sampai sekarang. Di awal tahun 2000 an, saya berkesempatan melakukan riset ke Medan dan kami jadwalkan akan bertemu, namun karena kesibukan masing-masing yang waktunya tidak bersesuaian pertemuan yang kami janjikan sebelumnya terpaksa batal. Inilah kunjungan saya yang terakhir ke Kota Medan. Dalam sisa waktu ini, saya hanya menduga pada sisi akhir beliau sudah pasti dia ingin membangun kampung halaman Tapanuli Bagian Selatan. Selamat berjuang Bang, semoga sukses. Mumpung ‘hatiha poso’. Dan, saya akan terus pantau dari sini di Depok (Akhir Matua Harahap).

Tidak ada komentar: