02/11/14

Mangaradja Onggang Parlindoengan: Anak Soetan Martoea Radja dan Cucu Mangaradja Naposo dari Sipirok



Soetan Naposo di Mandailing dan Mangaradja Naposo di Sipirok. Yang dibicarakan sekarang adalah Mangaradja Naposo dari Sipirok. Siapa itu Mangaradja Naposo? Dia adalah kepala kampong dari Sipirok yang memiliki nama lain: Thomas Siregar atau Muhammad Junus Siregar. Thomas Siregar dulunya adalah salah satu dari tiga murid pertama dari sekolah dasar yang didirikan van Asselt (1861) dengan gurunya Nommensen (1862) di Prau Sorat. Dua murid yang lain adalah Petrus dan Markus. Kedua anak muda ini aktif di dalam kegiatan zending di Sipirok dan juga mereka termasuk asisten Nommensen dalam kegiatan misi di Bataklanden.

Ketika, kebutuhan guru semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah usia sekolah yang memerlukan pendidikan di Sipirok, sekolah-sekolah rakyat (yang yang dulunya inisiatif para guru lulusan Kweekschool Tanobato kemudian diakuisisi pemerintah dan ditambah sekolah baru) ternyata tidak mencukupi. Lantas, tiga orang terpelajar (murid Nommensen dulu) ini diangkat menjadi guru yang dibayar pemerintah untuk menambah kekurangan guru yang diperlukan. Thomas ke Sipirok, Petrus ke Prau Sorat dan Markus ke Arse. Selanjutnya ketika pemerintahan di Sipirok dibentuk, diperlukan sejumlah pegawai untuk membantu Controleur dalam menjalankan pemerintahan. Salah satu calon pegawai tersebut adalah Thomas Siregar, yang sebelumnya adalah guru yang diangkat pemerintah. Dengan kata lain, ketika Thomas Siregar diangkat sebagai mantri-politie di Sipirok, sebenarnya Thomas hanya berpindah posisi: dari guru menjadi pegawai. Di dalam sisa hidupnya, Thomas Siregar hanya berkarir sebagai pegawai pemerintah.

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 17-06-1890 memberitakan pengumuman pemerintah sebagai berikut: ‘diangkat dari mantri kelas-1 menjadi mantri kelas-2 (salah satu): Thomas gelar Mangaradja Naposo di standplaats Tapanoeli’.

***
Pada tahun 1890, anak Thomas Siregar yang bernama Si Julius masuk sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuan. Tidak lama, setelah Si Julius masuk sekolah guru ini, pemerintah segera menutup sekolah ini karena defisit anggaran pemerintah dan pendaftaran murid baru ditutup. Si Julius gelar Soetan Martoea Radja lulus Kweekschool Padang Sidempuan tahun 1893.

Bataviaasch nieuwsblad, 17-06-1893: ‘dari tanggal 21 hingga 24 Maret 1893 di sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean dilakukan ujian. Dari tujuh kandidat, semuanya lulus ujian. Mereka yang lulus ini (diantaranya) adalah Si Loehoet galar Raja Enda Boemi dari Baringin, Si Julius galar Soetan Martoewa Radja dari Si Pirok, Si Raja Dangijang galar Regar Indo Mora dari Sijala Goendi dan Si Tirem galar Dja Ali Saman dari Si Pirok’.

Soetan Martoea Radja dan kawan-kawan adalah lulusan terakhir di Kweekschool Padang Sidempuan. Soetan Martoea Radja kemudian menjadi guru dan kepala sekolah di Pargarutan. Pada tahun 1899, Soetan Martoea Radja dipindahkan ke Sipirok. Sekolah dasar Sipirok ini merupkan sekolah lama yang direnovasi dan ditingkatkan kapasitasnya. Selanjutnya, pada tahun 1914, Soetan Martoea Radja sehubungan dengan pembukaan sekolah guru Normaalschool (pengganti kweekschool) di Pematang Siantar diangkat menjadi kepala sekolah. Setelah 10 tahun menjadi guru di Pematang Siantar, Soetan Martoea Radja pension dengan pangkat guru pribumi kelas-1.

Pada tahun 1924, Soetan Martoea Radja kemudian diangkat menjadi anggota dewan kota (gementeeraads) Pematang Siantar. Di dewan kota hanya tiga orang yang berasal dari pribumi, yakni: Soetan Martoea Radja Siregar, Madong Loebis (guru Normaalschool) dan Muhammad Hamzah Harahap (pegawai pertanahan). Soetan Martoea Radja dan Muhammad Hamzah Harahap gelar Soetan Batoe na Doea ditunjuk lagi menjadi anggota dewan kota periode kedua dan berakhir tahun 1937. Namun pada tahun 1938, kedua anggota dewan senior ini ditunjuk lagi untuk periode ketiga. Sedangkan Saulus gelar Soetan Maradja penganti Madong Loebis ditunjuk juga untuk periode yang kedua. Madong Loebis setelah tidak menjadi anggota dewan, diangkat sebagai Inlandsen Schoolppziener di Medan. Soetan Martoea Radja sendiri selama menjadi anggota dewan juga ‘nyambi; menjadi konsultan di Handel Mij. Indische Drukkerij yang berkantor di Medan.

***
Pada tahun 1931 anak Si Julius gelar Soetan Martoea Radja yang namanya disingkat sebagai A.F.P. Siregar masuk MULO di Medan. Pada tahun 1935 A.F.P Siregar melanjutkan pendidikan HBS di Medan. Pada tahun 1936 A.F.P Siregar dipromsikan dari kelas empat ke kelas lima afdeling-B (jurusan IPA sekarang). Pada tahun 1037, A.F.P. Siregar dinyatakan lulus ujian akhir (eindexamen).

Setelah lulus sekolah HBS, A.F.P. Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindoengan berangkat ke Batavia untuk selanjutnya melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri. Dari Batavia, yang terdaftar di dalam manifest M.O. Parlindoengan dengan menumpang kapal Indrapoera berangkat dari Batavia tanggal 28 Juli 1937 menuju Marseile (Prancis). Dari kota pelabuhan ini, Parlindoengan melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke Jerman.

Orang pribumi yang melanjutkan pendidikan tinggi selalu ke Negeri Belanda. Tidak demikian dengan M.O. Parlindoengan, ia justru ke Jerman. Mungkin Parlindoengan adalah orang Indonesia pertama yang sekolah ke Jerman. Setelah lulus dan memperoleh gelar akademik insinyur (Ir), A.F.P. Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindoengan pulang ke tanah air. Sesampainya di tanah air, situasi berubah dengan adanya pendudukan oleh militer Jepang. Keahlian Parlindoengan dibutuhkan oleh militer Jepang. Setelah Belanda kembali (angresi militer Belanda), Parlindoengan bergabung dengan laskar di Surabaya dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel.
Berita duka Soetan Martoea Radja

Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda, Mangaradja Onggang Parlindoengan pada tahun 1950 ditunjuk pemerintah untuk menjadi direktur Pabrik Sendjata dan Mesiu (PSM) di Bandung. Pada tahun ini juga (1951) ayahnya Soetan Martoea Radja meninggal dunia di Pematang Siantar. Sepulang dari Pematang Siantar, M.O.Parlindoengan memasang berita duka di koran Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode (mulai edisi 16-06-1951) dan De nieuwsgier (mulai edisi 19-06-1951) dengan bunyi beritanya sebagai iklan di koran tersebut.

Tahun dan bulan ini (Juni 1951) adalah suasana duka cita dan juga sekaligus suka cita. Ayahnya meninggal, juga kelahiran putrinya yang kedua sebagaimana di dalam sebuah iklan koran Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode (edisi 28-06-195). Selanjutnya, pada tahun 1954, M.O. Parlindoengan pension dari PSM. Kemudian pada tahun itu juga Parlindoengan pindah ke Jakarta. Di Jakarta lahir anak yang ketiga, yang ditunggu-tunggu, seorang putra yang disebut Sonny. Di masa pension ini, Mangaradja Onggang Parlindoengan menulis buku yang terkenal tetapi kontrovesial yang berjudul: Pongkinangolngolan Sinambela Gelar Tuanku Rao: ‘Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833’. Buku ini ditulis, kata penulisnya, untuk Sonny jika kelak dia sudah dewasa.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: