01/11/14

Maharadja Salamboewe from Mandailing: Anak 'Dokter Djawa' Pertama Luar Djawa, Djaksa yang Menjadi Wartawan Pemberani

Maharadja Salamboewe: 'Pena yang tajam'


Mahasiswa pertama dari Tapanuli Selatan adalah Si Asta dan Si Angan. Akan tetapi mahasiswa pertama dari Indonesia studi ke luar negeri adalah Si Sati. Ketiga anak remaja ini adalah sama-sama murid dari sekolah ala homeschooling yang diprakarsai istri A.P. Godon (Asisten Residen Mandheling en Ankola). Setelah Si Asta dan Si Angan sama-sama dinyatakan menyelesaikan pendidikannya (lulus) 1854, kedua anak pemimpin Mandailing ini melanjutkan studi ke Jawa pada akhir Novemper 1854. Di Batavia mereka mengikuti yang disebut Sekolah Dokter Jawa (cikal bakal STOVIA) dan berhasil mendapat gelar yang disebut Dokter Jawa dan langsung mengabdi di kampong halaman.

Sedangkan Si Sati yang merupakan adik kelas Si Asta dan Si Angan, setelah lulus, ia menjadi guru untuk menggantikan istri A.P. Godon. Karena minat yang besar terhadap pendidikan dan karena pendidikan tinggi di Batavia hanya satu-satunya Sekolah Dokter Jawa, Si Sati melanjutkan pendidikannya ke Negeri Belanda pada tahun 1857. Setelah mendapat akte diploma guru, Si Sati yang berganti nama menjadi Willem Iskander pulang kampong dan mendirikan sekolah guru (kweekschhol) di Tanobato.

Si Asta dan Si Angan adalah dua dokter djawa dari Sekolah Dokter Djawa pertama yang berasal dari luar Jawa. Sedangkan Si Sati alias Willem Iskanderr adalah mahasiswa pertama Indonesia yang studi ke luar negeri. Sekadar catatan: baru tahun 1897 orang kedua Indonesia yang datang studi ke (negeri Belanda). Ini berarti Willem Iskander mendahului yang lain selama 40 tahun.

***
Abdul Hasan lahir di Salamboewe, Mandailing adalah anak dari dr. Asta. Abdul Hasan setelah menyelesaikan sekolah pribumi di kampungnya, melanjutkan pendidikan guru di Kweekschool Padang Sidempuan. Setelah dua tahun di kweekschool (sekolah guru), Abdul Hasan gelar Maharadja Salamboewe menjadi siswa magang dan menjadi penulis di Kantor Residen Tapanoeli. Setelah lulus, Maharadja Salamboewe tidak menjadi guru, namun melamar menjadi pegawai pemerintah dan kemudian diangkat menjadi adjunctdjaksa (wakil jaksa) di Natal (Tapanoeli) pada tahun 1897. Dari Natal Maharadja Salamboewe dipindahkan dengan tugas yang sama ke Air Bangis (Bovenlanden) tahun 1899.

Tidak lama menjadi jaksa, Maharadja Salamboewe ‘desersi’ dan lalu dipecat.Ia malah bangga. Abdul Hasan gelar Maharadja Salamboewe tidak senang dengan kesewenang-wenangan pemerintah terhadap rakyat. Tahun 1903, Maharadja Salamboewe pindah haluan dan merantau ke Sumatra Timur di Medan. Di kota ini, Maharadja Salamboewe segera ditunjuk dan ditetapkan oleh penerbit J. Haliermann menjadi editor Koran Pertja Timor. Para pemilik penerbitan itu ternyata tertarik kepada Maharadja Salamboewe karena mereka sudah lama mempelajari kecerdasannya sewaktu menjadi jaksa. Anehnya, para petinggi penerbitan yang menerbitkan koran yang terbit dua kali seminggu ini sudah tahu pula mereka bahwa Maharadja Salamboewe sudah lama tidak berbicara dengan orang-orang Belanda bahkan di Medan—dia lebih dekat dengan rakyat.

Koran Sumtra Post yang dikutip juga oleh Bataviaasch nieuwsblad mengakui bahwa Maharadja Salamboewe memiliki keingintahuan yang tinggi, memiliki kemampuan jurnalistik yang hebat. Koran ini juga mengakui bahwa Maharadja Salamboewe memiliki pena yang tajam dan memiliki kemampuan menulis yang jauh lebih baik disbanding wartawan-wartawan pribumi yang ada. Hebatnya lagi, masih pengakuan koran ini, Maharadja Salamboewe selain sangat suka membela rakyat kecil, Maharadja Salamboewe juga sering membela insane dunia jurnalistik baik wartawannya maupun korannya. Kami juga respek terhadap dia, demikian diakui oleh koran Sumatra Post yang juga diamini oleh Koran Bataviaasch nieuwsblad.

***
Abdul Hasan gelar Maharadja Salamboewe adalah manusia langka di jaman itu, apalagi sudah jamak diketahui umum bahwa penindasan pemerintah terhadap rakyat di Sumatra Timur kala itu sangatlah kejam. Maharadja Salamboewe datang dan berada di tempat yang tepat. Sebagai editor koran berbahasa Melayu yang dimiliki orang-orang Belanda tidak ada kurangnya. Maharadja Salamboewe adalah anak dokter, guru yang tidak menjadi guru, tetapi penulis yang piawai di kantor pemerintah, lebih-lebih dengan pengalamannya di bidang justitie ketika dia masih menjabat sebagai adjunctdjaksa di Natal (tempat dimana Multatuli pernah menjadi Conroleur).

***
Abdul Hasan gelar Maharadja Salamboewe tidak berumur panjang. Maharadja Salamboewe meninggal pada usia muda pada tanggal 28 Mei 1908. De Sumatra post edisi 29-05-1908 memberitakan kematian wartawan pemberani ini. Dalam berita koran ini, editor juga mengungkapkan rasa duka cita yang dalam, karena Maharadja Salamboewe tidak hanya membela rakyatnya tetapi juga dunia jurnalistik (yang sebagian besar wartawan pada waktu itu berbagsa Belanda/Eropa). Editor ini melanjutkan bahwa  "Di dalam seratoes orang pribimu tidak ada satoe yang begitoe brani’.  Saat mana Maharadja Salamboewe di waktu pemakamannya hampir semua wartawan Medan hadir termasuk yang berbangsa Belanda. Abdul Hasan gelar Maharadja Salamboewe dimakamkan di tempat pemakaman Jalan Sungai Mati.

***
Koran Pertja Timor waktu itu adalah koran yang benar-benar koran. Setelah Maharadja Salamboewe tiada, 'pakem' koran ini tidak berkurang. Wartawannya ‘hilang satu tumbuh seribu’. Setelah Maharadja Salamboewe, muncul Soetan Parlindoengan dan Parada Harahap. Kedua yang disebut terakhir ini adalah memiliki ‘darah’ delik pers yang kuat dari Tapanuli Selatan.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: