24/11/14

Bag-3. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Pembangunan Infrastruktur, Ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola Pindah ke Padang Sidempuan’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Komodi kopi dari gudang besar di Padang Sidempuan sudah menembus pasar Amerika Serikat dengan harga tertinggi pula. Akan tetapi bagaimana kopi-kopi terbaik dunia (Ankola dan Mandheling) itu sampai di manca Negara, sangatlah memilukan di tempat asalnya. Asisten residen Mandheling en Ankola, A.P. Godon ketika mulai bertugas di Mandheling 1848 harus memulai angkutan kopi ke pelabuhan Natal dengan cara dipikul, kemudian menggantikannya dengan cara gerobak yang ditarik kerbau setelah jalan Tanobato-Natal dibangun. Sepuluh  tahun kemudian Controleur Ankola, Hennij melakukan hal yang sama dengan memikul dari Padang Sidempuan ke Loemoet dan baru kemudian dengan gerobak setelah jalan setapak Padang Sidempuan Loemoet berhasil ditingkatkan.

Namun jalan tetap harus jalan. Kebutuhan jalan tidak hanya sekadar untuk prasarana pengangkutan kopi, tetapi juga untuk kebutuhan yang lain. Hal ini sudah menjadi wacana di dalam surat kabar. Dengan kata lain, infrastruktur jalan dan jembatan harus lebih ditingkatkan di Mandheling en Ankola.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 11-10-1862: ‘menyoal tentang rute perjalanan antara laut dan darat. Selama ini hanya angkutan barang dan orang melalui laut dari pantai ke pantai di Sumatra’s Westkust. Tidak adanya infrastruktur darat yang memadai membuat orang khawatir (terutama pedagang) untuk memasuki wilayah pedalaman seperti di Mandheling dan Ankola yang indah. Pengembangan layanan transportasi laut tidak akan maksimal dan perlu memperhatikan layanan untuk angkutan daratan’.

Bagaikan gayung bersambut, pemerintah di Batavia juga sudah membuat rencana pengembangan infrastruktur di Tapanoeli. Dalam Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda No. 22, tanggal 21 November I862 yang dimuat dalam lembaran pemerintah (Staatsblad) No. 141, jalan poros (jalan Negara) ruas Tapanuli merupakan bagian dari dari jalan poros Sumatra’s Westkust dari Padang ke Fort de Kock, lalu Kotanopan, Padang Sidempoean dan Sibolga. Dalam keputusan ini, diantaranya dinyatakan, jalan poros (utama) di wilayah hukum Gouvernement Sumatra’s Westkust adalah sebagai berikut:

·         dari Kotta Nopan ke Laroe (½ etappe)
·         dari Laroe ke Fort Elout (Penjaboengan) (1 etappe)
·         dari Fort Elout (Penjaboengan) ke Siaboe (1 etappe)
·         dari Siaboe ke Soeroematingi (1 etappe)
·         dari Soeroematingi ke Sigalangan (1 etappe)
·         dari Sigalangan ke Padang Sidempoean (1 etappe)
·         dari Padang Sidempoean ke Panabassan (1 etappe)
·         dari Panabassan ke Batang Taro (1 etappe)
·         dari Batang Taro ke Loemoet (1 etappe)
·         dari Loemoet ke Parbirahan (1 etappe)
·         dari Parbirahan ke Toeka (½ etappe)
·         dari Toeka ke Sibogha (½ etappe)

Rute jalan poros dalam hal ini sesunguhnya adalah ratifikasi yang dilakukan terhadap jalan yang sudah ada sejak era perdagangan awal (era pertukaran: garam dengan komoditi lainnya). Sedangkan ukuran jarak hanya didasarkan pada titik persinggahan jika perjalanan dilakukan dengan menggunakan kuda (etappe). Namun persoalannya, kapan realisasi pembangunan jalan tersebut belum diketahui dengan pasti.

Dalam perkembangan selanjutnya, jalan-jalan poros tersebut diperluas untuk mencakup wilayah-wilayah baru. Ini dapat dilihat pada Keputusan Pemerintah Sumatra’s Westkust tanggal 24 September 1864 yang diberitakan Javasche Courant edisi 18 Oktober 1864 yang dilansir oleh Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 13-05-1865. Isinya antara lain, bahwa jalan poros (Negara) Padang-Sibolga di wilayah Tapanoeli dari Rau, Kotta Nopan, Penjaboengan, Padang Sidempoean, Batang-taro, Loemoet, Toeka tot Siboga. Sedangkan jalan provinsi disebutkan diantaranya Padang Sidempuan ke Sipirok. Selanjutnya diuraikan dari Padang Sidempoean, Tamian, Aik Simirik, Pageroetan, Si Toemba, Aik Mandoerana, Sipirok.

***
Sementara itu, dengan pekembangan yang terjadi di Ankola dan Padang Sidempuan pada tahun 1865 pemerintah mulai memperluas tatakelola pemerintahan. Gewestelijk Bestuur di Residentie Tapanoeli membagi enam afdeeling, dimana Afdeeling Mandheling en Ankola terdiri dari 31 lanskap (lihat Almanak 1865). Lanskap-lanskap ini  nantinya akan dikoordinasikan oleh seorang pemimpin lokal, yamg kemudian diketahui lanskap tersebut sebagai koeria dan pimpinannya disebut kepala koeria (koeriahoofd). Dalam Almanak 1868 dinyatakan bahwa Residentie Tapanoeli terdiri dari tiga afdeeling: Siboga, Mandheling en Ankola dan Natal. Di dalam afdeeling Mandheling en Ankola dibagi menjadi tiga onderafdeeling: (1) Groot Manheling en Batang Natal, (2) Klein Mandheling, Oeloe en Pakanten, dan (3) Ankola en Dollok. Onderafdeeling Ankola en Dollok meliputi tiga lanskap, yaitu: (1) Lanskap Ankola-djoeloe terdiri dari enam koeria, yakni: Kampong-baroe, Si Mapil-Apil, Saboengan Djai, Batoe-nadoea, Oeta Rimbaroe, SI Ondop; (2) Lanskap Ankola-djai terdir dari lima koeria, yakni: Soeroemantigi, Pintoe Padang, Si Galangan, Moeara Thais, Pitjar Koeleng; (3) Lanskap Dollok terdiri dari tiga koeria, yakni: Si Pirok, Bringin, Praoe Sorat. Dalam Almanak 1869 nama onderafdeeling Ankola en Dollok menjadi Ankola en Sipirok (Angkola-djoeloe, Ankola-djai dan Dollok).

***
Jalan Pos di Mandheling

Pengembangan ekonomi, penataan pemerintah dan pembangunan infrastruktur menjadi semacam program utama dalam mempercepat laju pengembangan wilayah Ankola en Sipirok. Trilogi pembangunan ini pada gilirannya akan memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk di Kota Padang Sidempuan. Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan menjadi kunci segalanya. Sekitar tahun 1870 jalan poros dikembangkan dari jalan-jalan yang dulunya sebagai jalan setapak/jalan padati. Di dalam kota Padang Sidempuan, saat pengembangan jalan poros ini dibangun jembatan baru yang lebih kuat di atas Sungai Batang Ayumi (jembatan Siborang), Sungai Aek Sibontar (jembatan Sigiring-Giring), dan Sungai Batang Angkola di Sihitang (lihat Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 15-02-1873). Ketiga jembatan ini menggantikan jembatan sebelumnya  yang menggunakan sistem suspensi (rambin) yang terbuat dari kawat telegraf.

Lalu kemudian jalan poros baru dikembangkan ke arah Sipirok dengan membuka akses dari Siborang via Batunadua [Sebelumnya akses ke Sipirok dilakukan dari Silandit ke Batunadua via Oejoeng Goerap (sisi selatan) dan dari Hutarimbaroe via Siboengan dan Siharang Karang]. Untuk akses ke Batunadua sendiri dari Pasar Siborang melalui pasar lama Sitamiang via Bakaran Batu (lewat bukit). Meski pada Keputusan Gubernur 1864 jalan poros disebutkan Padang Sidempoean, Tamian, Aik Simirik, Pageroetan tetapi dalam realisasinya adalah jalan poros baru ke Sipirok ini tidak mengikuti bukit, melainkan melalui Kampung Tanggal dengan cara membuka jalan baru sepanjang sisi Sungai Batang Ayumi dan lereng bukit yang agak terjal. Desain jalan akses baru ini bersamaan dengan rancangan pencetakan sawah baru di areal tanah kosong yang kemudian bernama Kampung Sitamiang dan Kampung Losoeng.

***
Akhirnya, pembangunan jalan dan jembatan pada poros Tapanoeli sudah terealisasi. Arus perdagangan (exit and entry) dan arus penduduk (imigration) ke Kota Padang Sidempuan semakin kencang yang mengakibatkan perkembangan Kota Padang Sidempuan melebihi kota-kota lain di Tapanoeli, seperti Panyabungan dan Siboga. Akibatnya, ibukota (hoofdplaats) Asisten Residen Mandheling en Ankola dipindahkan ke Padang Sidempuan dari Panyabungan pada tahun 1871. Cukup masuk akal karena sejumlah aspek: (1) Lanskap Mandheling dan lanskap Natal sudah kondusif untuk pemerintahan dan perekonomian dan bahkan pendidikan; (2) Lanskap Padang Lawas baru memulai system pemerintahan sipil, (3) Lanskap Silindoeng dan Toba masih ada ketegangan dan semakin intesifnya perlawanan Si Singamangaradja dan pengikutnya. (4) Positioning Kota Padang Sidempuan sangat strategis di satu sisi untuk mendukung ibukota Kresidenan Tapanoeli di Siboga dan di sisi lain untuk memfasilitasi penataan sistem pemerintahan di Padang Lawas dan upaya melumpuhkan kekuatan Si Singamangaradja dan membebaskan lanskap Silindoeng dan lanskap Toba.

***
Asisten Residen Mandheling en Ankola, A.A. Schonermarck dan bersama komisioner  J.H.C. Schultze, pindah tempat dari Panyabungan ke Padang Sidempuan. Hanya mereka berdua pejabat utama yang tersisa di Mandheling en Ankola. Hal ini karena Controleur Ankola en Sipirok dihapuskan, Controleur Groot Mandheling en Batang Natal di bentuk dan mengangkat pejabat baru, Controleur Klein Mandheling, Oeloe en Pakanten pejabatnya diganti. Asisten Residen Mandheling  en Ankola, A.A. Schonermarck  sudah menjabat posisi asisten residen ini sejak 1869. Sedangkan J.H.C. Schultze adalah pejabat senior di Mandheling en Ankola yang tetap memegang posisinya sebagai komisioner sejak 1865. Schultze sendiri sebelumnya adalah Komisioner kedua di Residentie Tapanoeli. Dengan demikian, Schultze adalah orang satu-satunya saat ini di Padang Sidempuan yang penuh pengalaman dan memahami betul perkembangan perekonomian di Mandheling en Ankola, Resientie Tapanoeli,

Di Padang Sidempuan, A.A. Schonermarck menempati rumah yang merangkap sebagai kantor Controleur Ankola en Sipirok yang sudah dibangun sejak 1843 untuk sementara. Kemudian A.A. Schonermarck menempati kantor Asisten Residen yang baru selesai dibangun yang lokasinya berada di Lapangan Tennis ‘Garuda’ yang sekarang. Dengan kata lain, rumah dan kantor Asisten Residen garis lurus melewati jalan di depan bioskop Angkola/Horas yang sekarang. Sementara itu, di lokasi Gedung Nasional yang sekarang (samping kantor asisten residen tentunya) sudah sejak lama sebagai lokasi perumahan para pegawai/pejabat Belanda.

***
Jalan poros di Moerasipongi

Dengan semakin ditingkatkannya kualitas jalan darat poros Padang, Fort de Kock, Panyabungan, Padang Sidempuan dan Siboga, maka akses dari dan ke Padang Sidempuan semakin mudah. Jalan yang ada semakin lebar dan kendaraan padati dikembangkan untuk alat angkutan jarak jauh untuk barang (komoditi pertanian dan perkebunan, barang industri dan lainnya). Tentu saja alat transportasi kuda masih diperlukan terutama untuk membawa orang dan surat-surat yang memerlukan waktu yang segera, Di dalam kota sendiri, jalan-jalan kota mulai di bangun untuk menghubungkan satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini karena fasilitas pemerintah semakin banyak dan lokasi pemukiman penduduk semakin meluas.

Kota Padang Sidempuan sebagai ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola dengan sedirinya menambah percepatan perkembangan kota. Pada tahun 1972 kantor pos dibangun yang mengambil lokasi di sudut jalan Sitombol/Jalan Sudirman dan seberang Bank Bumidaya (Bank Mandiri) yang sekarang. Lokasi kantor pos ini sangat strategis karena di timur berada kantor Aisten Residen, di selatan pasar Siteleng, di barat pemukiman penduduk. Fungsi kantor pos ini tidak hanya soal paket pos tetapi kemudian juga telegraf. Paket pos berupa surat-surat dan dokumen pemerintah yang berasal dari kantor Controleur (Kotanopan, Panyabungan dan Natal) maupun dari kantor Residen (Sibolga), dan bahkan dari kantor Gubernur di Padang dan kantor Gubernur Jenderal (bersama departemen-departemen di bawahnya) di Batavia. Tentu saja kantor pos/telegraf ini dimanfaatkan oleh para pegawai, pedagang dan wisatawan.


Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 09-11-1872 (iklan): ‘pengadaan dan  pelelangan umum terikat untuk transportasi wisatawan, bagasi, koflij, barang dan dana (yang meliputi): (d) Groot en Klein Mandheling, Oeloe dan Pakanten dan Natal. (e) antara Padang , Siboga dan Loemoet dan tempat yang berbeda dari onderafdeeling Ankola en Sipirok’.

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 04-12-1872 Kemarin di sini telah diumumkan dalam transportasi gouvernementi, penumpang bagasi, kopi, barang dan uang di Sumatra Westkust (diantaranya): untuk Mandheling adalah Dummler & Co, untuk Ankola adalah Lie Thong’.

(bersambung)

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama, antara lain:
  • Topographisch Bureau, Batavia, Batavia: Kaart van Padang Si Dimpoewan en Omstreken (1880).
  •  Kaart van het Gouvernement Sumatra's Westkust : opgenomen en zamengesteld in de jaren 1843 tot 1847 / door L.W. Beijerink met medehulp van C. Wilsen... et al. Beijerink, L.W., Topographisch Bureau, Batavia, 1852.
  • Peta 1830
  • Peta 1908
  • Peta 1943
  • Etappekaart Sumatra's West Kust, 1845
  • Almanak Pemerintahan Belanda
  • Koran-koran Belanda
  • Laporan Tahunan Pemerintahan Belanda
  • Observasi pribadi

Tidak ada komentar: