23/11/14

Bag-2. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Dari Sebuah Kampong Kecil Menjadi Pusat Pemerintahan dan Pusat Perdagangan di Angkola-Sipirok’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Afdeeling Mandheling en Ankola sudah sejak 1840 dibentuk sebagai suatu wilayah pemerintahan baru di Residentir Aijer Bangie, Sumatra;s Westkust yang berkedudukan di Panjaboengan. Pada tahun 1842 di Afdeeling Mandheling en Ankola dibentuk Controleur di Ankola dan Controleur di Oeloe en Pakanten. Controleur Ankola berkedudukan di Padang Sidempuan, sementara Asisten Residen berkedudukan di Panyabungan. Selanjutnya, pada tahun 1845, Afdeeling Mandheling en Ankola menjadi bagian dari Residentie Tapanoeli.

Pada bulan Juni 1946, Padang Sidempuan mendapat kehormatan dikunjungi oleh Jenderal von Gagern (utusan Ratu) dan Jenderal Michiels (Gubernur Sumatra’s Westkust). Situasi kota saat kunjungan ini, sudah ada beberapa orang Belanda yang tinggal di Padang Sidempuan plus sejumlah anggota militer berbangsa Belanda yang sudah ada lebih dulu. Di dalam komunitas Belanda ini sudah ada rumah sakit dan apotik (tentunya buat kebutuhan aparatur pemerintah dan militer). Jenderal von Gagern sempat berpidato di dalam suatu acara puncak yang juga dihadiri oleh para pemimpin-pemimpin lokal dengan pengikutnya yang datang dengan mengendarai kuda.

Kehadiran para pemimpin-pemimpin lokal ini adalah salah satu dari tugas pokok dan fungsi Controleur di wilayah Ankola dalam menjalankan misinya. Para pemimpin-pemimpin lokal ini di satu sisi menjadi partner pemerintah (dalam hal ini Controleur) untuk menfasilitasi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari orang Belanda dan para tentara di garnisun. Di sisi lain Controleur, para komandan tentara dan para pemimpin lokal tentu saja mulai merancang pembangunan infrastruktur Ankola seperti jalan, jembatan dan irigasi.

Misi para pelopor Belanda di Padang Sidempuan adalah untuk mempromosikan kekuatan Belanda dan tentu saja sambil mengidentifikasi sumber-sumber ekonomi penduduk Ankola. Selain itu, pihak Belanda juga memfasilitasi arus masuk barang yang dibutuhkan penduduk (melalui partnership dengan pedagang-pedagang Tionghoa yang berada di kota-kota pantai di Sumatra’s Westkust). Penduduk juga diinisiasi untuk menghasilkan komoditi-komoditi perdagangan sebagai alat pertukaran seperti kopi, gula, beras dan sebagainya. Kemudian, dengan begitu, pemerintah dapat mengontrol arus perdagangan (entry and exit). Atas dasar itu, timbul pusat-pusat perdagangan alias pasar-pasar.

Budidaya Kopi di Sekitar Padang Sidempuan

Ketika di Mandheling perkebunan kopi sudah sangat luas dan telah menghasilkan kopi serta siap untuk diperdagangkan, di Ankola justru belum melakukan apa-apa tentang komoditi perdagangan ini. Controleur Polanen Patel memperkenalkan tanaman kopi di Ankola (1846-1847) dan diteruskan oleh Controleur Stijman (1848-1850). Pada tahun 1848 kopi Mandheling sudah ikut lelang di Padang. Selain kopi, di Ankola (1852) juga mulai dikembangkan gambir untuk komoditi perdagangan.

Potensi ekonomi Afdeeling Mandheling en Ankola sudah mulai terlihat. Karena itu, 1854 perlu menambah seorang pengawas (opziener) untuk membantu Controleur Hammers yang ditempatkan di Loemoet. Struktur pemerintahan di Mandheling en Ankola pada tahun 1855 pemerintah juga perlu mengangkat seorang komisioner untuk membantu asisten residen. Komisioner ini bertugas untuk mengawasi keluar dan masuk barang dan lainnya di wilayah Mandheling en Ankola, juga meliputi pelabuhan dan gudang induk di Aier Bangies. Untuk lanskap  Mandheling menggunakan pelabuhan Natal dan untuk lanskap Ankola menggunakan pelabuhan Loemoet.

Pada tahun 1856 Controleur W.A. Hennij didatangkan ke Padang Sidempuan untuk menggantikan Controleur Hammers. Hennij adalah seorang Controleur yang berpengalaman di lanskap-lanskap produsen kopi sebelumnya. Hennij melakukan ekspor perdana kopi dari Ankola tahun 1857. Pada tahun 1858 kopi dari Sipirok juga menyusul memasuki pelabuhan Loemoet. Kopi dari Ankola Djoeloe, Ankola Djai dan Sipirok sebelum diteruskan ke pelabuhan Loemoet, semua dipoolkan di gudang besar yang dipersiapkan di Padang Sidempuan. Dari Padang Sidempuan diangkut dengan gerobak ke Loemoet dan kemudian dengan perahu-perahu ke Djaga-Djaga dan pelabuhan Sibolga dan seterusnya ke Padang.

Nieuw Amsterdamsch handels-en effectenblad, 01-12-1857: ‘Hasil pengepulan kopi di Padang,  yang ditutup pada 30 September, terdapat sebanyak 5.172 picols dari Mandhaling  dengan harga van ƒ36 tot f 36 15/120; 1.143 picols dari Ankola dengan harga van f 36 5/120  tot f  36 10/120’.

Ternyata hasil kopi dari Ankola dan Sipirok tidak kalah jauh dari kopi Mandheling. Kedua jenis kopi ini ternyata mendapat apresiasi tinggi di pusat lelang di Padang. Tidak lama, harga kopi Mandheling dan kopi Ankola langsung meroket harganya. Hennij pun semakin bersemangat. Melihat aliran komoditi perdagangan yang semakin deras, Hennij mulai meningkatkan kualitas jalan dari Padang Sidempuan menuju Loemoet dari jalan setapak sebelumnya (angkutan kuda beban) diperlebar dan dirapikan agar gerobak (tanpa roda) yang ditarik kerbau bisa berjalan mulus.

Hennij juga mengambil kebijakan baru, yakni pembatasan penyembelihan kerbau utamanya yang dilakukan dalam perayaan orang meninggal. Hal ini dapat mengurangi populasi ternak dan orang harus membayar sangat mahal. Kesepakatan dengan para kepala-kepala kampong tidak sulit, hal ini karena bercermin dari sukses di Mandheling pada tahun 1849. Aturan ini akan diberlakukan di semua tempat sebanyak mungkin, dan khususnya  di Padang Lawas. Secara tak langsung, kebijakan pembatasan penyembelihan kerbau juga akan mampu menambah armada angkutan kopi.

Pasar di Padang Sidempoean, 1890
Singkat cerita, perdagangan kopi telah menggerakkan ekonomi penduduk di seluruh Ankola dan Sipirok, khususnya di Padang Sidempuan. Penduduk yang terpencil sekalipun di lereng-lereng Gunung Lubuk Raya dan Sibualbuali sudah memegang uang. Ada uang ada barang. Jika kopi terus mengalir ke pelabuhan, maka dengan sendirinya barang-barang sekunder juga mengalir ke padalaman. Fungsi kota Padang Sidempuan pun semakin beragam: tidak hanya pusat pemerintahan, juga pusat perdagangan. Pusat-pusat transaksi muncul dengan sendirinya. Pasar Siborang mewadahi transaksi untuk mewakili lanskap Ankola Djai, dan Pasar Siteleng untuk mewadahi kegiatan transaksi dari Ankola Djoeloe dan Sipirok. Petani-petani sawah di sekitar kota juga mendapat imbas dan mengalami percepatan perputaran uang. Para petani kopi yang tidak memiliki sawah membutuhkan komoditi beras. Ditemukannya tambang emas di Siondop ikut meramaikan perputaran uang di Padang Sidempuan.

Berkembangnya pasar-pasar di Padang Sidempuan mengakibatkan tumbuhnya jasa-jasa baru. Aliran komoditi yang memusat di Padang Sidempuan khususnya di Pasar Siteleng dan Pasar Siborang  juga mengakibatkan aliran orang yang awalnya bermukim di pedesaan lalu menjadi penduduk sementara atau penduduk permanen di Padang Sidempuan. Pemukiman penduduk di sekitar pasar lambat laun semakin meluas dengan cepat bagaikan deret geometris.

***
Controleur Ankola terus bekerja. Selain menata pemerintahannnya, Controleur juga ingin segera menggerakkan pembangunan. Dia tidak bisa sendiri harus melibatkan semua penduduk.

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-02-1862: ‘di distrik Ankola (Tapanoeli) masih terbelakang, namun penanaman sawah mereka berkembang dan umumnya cukup baik, pemerintah disana membuat setiap usaha untuk mengakhiri ketertinggalan mereka’.

Salah satu prioritas Controleur setelah berkembang budidaya dan perdagangan kopi adalah ekstensifikasi pertanian sawah. Akibat adanya urbanisasi di Padang Sidempuan, ketersediaan pangan harus tetap dijaga untuk mendukung ekonomi kopi yang terus menggeliat.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 14-06-1862: ‘diadakan outsourcing untuk evakuasi koffij ke Padang dari tempat-tempat sebagai berikut (antara lain): dari Ankola en Si Pirok melalui Djaga-Djaga (dekat Loemoet) ke Padang dengan biaya sebesar ƒ 4.40 per picols. (Pemberi kerja: Li Thong)’.

Pengalihan fungsi lahan sawah di dalam kota menjadi tidak terelakkan. Controleur bekerja dengan kepala-kepala kampong di luar kota untuk memperluas lahan sawah. Akibatnya sawah-sawah di Batunadua semakin meluas ke timur hingga mencapai Silandit, sawah-sawah di Hutarimbaru dan Sabungan semakin meluas ke hulu hingga Siharang Karang. Demikian juga di Dollok dan Ankola Djai. Satu areal pencetakan sawah baru justru terjadi di tengah kota yang pada gilirannya kemudian menjadi persawahan Pasar Sitamiang dan Kampong Losung.

(bersambung)

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama, antara lain:

  • Topographisch Bureau, Batavia, Batavia: Kaart van Padang Si Dimpoewan en Omstreken (1880).
  • Kaart van het Gouvernement Sumatra's Westkust : opgenomen en zamengesteld in de jaren 1843 tot 1847 / door L.W. Beijerink met medehulp van C. Wilsen... et al. Beijerink, L.W., Topographisch Bureau, Batavia, 1852.
  • Peta 1830
  • Peta 1908
  • Peta 1943
  • Etappekaart Sumatra's West Kust, 1845
  • Almanak Pemerintahan Belanda
  • Koran-koran Belanda
  • Laporan Tahunan Pemerintahan Belanda
  • Observasi pribadi

Tidak ada komentar: