26/12/14

Bag-12. Sejarah Padang Sidempuan: 'Kota Padang Sidempuan Tempo Doeloe Dalam Gambar'



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan (klik foto jika ingin memperbesar gambar)

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana kronologi Padang Sidempuan ditemukan lalu dibangun Belanda dan berkembang sejak Indonesia merdeka? Mari kita lacak!

Peta tertua sekitar Kota Padang Sidempuan masa kini adalah peta militer Belanda pada masa awal pendudukan Ankola. Peta ini berupa sketsa,yang mengindikasikan rute (tahapan) menuju Pertibie dalam rangka melumpuhkan kekuatan pengikut Tuanku Tambusai di sekitar Sosa dan Dalu-Dalu. Untuk mencapai target tersebut, pasukan Belanda disiapkan dari tiga pos militer yakni Siboga, Panjaboengan dan Rao yang masing-masing pasukan menuju Pertibie. Pasukan gabungan yang terbentuk di Pertibie menjadi kekuatan utama untuk mengepung pengikut Tuanku Tambusai.
                              
Peta tertua, Peta militer, 1837
Dalam peta ini terdapat tiga benteng (Siboga, Panjaboengan dan Rao). Asal-usul dibangun benteng ini bermula ketika militer Belanda masuk pertama kali ke Tanah Batak tahun 1833 untuk memberi perlindungan terhadap gangguan keamanan penduduk di Mandailing. Militer Belanda lalu membangun Benteng Elout di Panjaboengan tahun 1834. Benteng ini kemudian digunakan sebagai salah satu basis militer dalam rangka melumpuhkan pengikut Tuanku Imam Bonjol khususnya di Benteng Bonjol. Benteng Elout dirancang dalam satu garis pertahanan Panjaboengan, Kotanopan dan Rao ke arah selatan. Sementara ke arah utara dibangun pos militer di Siaboe dan Soeroematinggi (1835). Setelah Benteng Bonjol ditaklukkan tahun 1837, pada tahun itu juga militer Belanda merangksek menuju Ankola dan Sipirok. Tujuan ekspedisi ini adalah untuk membebaskan gangguan keamanan di Ankola dan Sipirok dari keonaran oleh pengikut Tuanku Tambusai. Untuk mengusir pengikut Tambusai di Ankola dan Sipirok, lalu militer Belanda membangun dua benteng sekaligus yakni di Pijor Koling (Ankola Djoe) dan Tobing (Ankola Djoeloe). Pasukan militer menuju Tobing berasal dari Siboga, sedangkan pasukan militer menuju Pijor Koling berasal dari Panjaboengan.

Pasukan Belanda yang dibantu para ‘hulubalang’ dari Mandailing dan Ankola dan didukung penduduk Padang Lawas sebelum memulai serangan terlebih dahulu membangun di Benteng Pertibie. Pasukan gabungan ini akhirnya berhasil melumpuhkan perlawanan pengikut Tuanku Tambusai di Sosa dan Dalu-Dalu (1838). Peta rute inilah yang menjadi sebuah peta militer yang didokumentasikan yang dianggap sebagai peta tertua tentang lanskap Madheling, Ankola dan Pertibie. Di dalam ‘peta kuno’ ini belum mengindikasikan keberadaan Padang Sidempuan. Sebab rute dari Siboga menuju Pijor Koling masih melalui Sigumuru, Sisundung, Sidangkal, lalu Pijor Koling.

Lukisan Aek Batang Toroe dan Loeboek Raja, 1840
Peta kuno ini kemudian digunakan oleh banyak pihak. Yang pertama menggunakan peta ini adalah dr. Junghun dalam suatu ekspedisi geologi yang dimulai dari Siboga tahun 1840. Ekspedisi awal di selatan Tapanoeli ini selesai pada tahun 1845. Dua lukisan Junghun adalah ‘Batang Toroe en Loeboek Raja’ dan ‘Rambin Rotan di atas Batang Toroe’. Ini seakan-akan Junghun ingin menceritakan bahwa di sebelah timur Loeboek Raja terdapat lembah yang subur dengan populasi penduduk yang besar dan kalau menuju kesana harus dilakukan melalui rambin (jembatan gantung).

Jembatan terbuat dari rotan di atas Batang Toroe, 1840
Peta awal ini juga menjadi referensi Gubernur Michiels berkunjung ke Padang Sidempoen pada tahun 1846. Gubernur berangkat dari Padang, menuju Fort de Kock lalu Kotanopan, Panjaboengan, Soeroematinggi lalu di Padang Sidempoean (di Padang Sidempoen sudah ada garnisun / markas militer). Rombongan ini kemudian berangkat menuju Batang Toroe, Loemot dan kemudian ke Siboga. Selain itu, yang menggunakan peta awal ini adalah tim topografi yang mengumpulkan bahan-bahan peta topografi Tapanoeli antara tahun 1843 hingga 1847. Peta topografi Tapanoeli diterbitkan pada tahun1852.

Nama Padang Sidempoen pada Peta Tapanoeli, 1852
Nomenclature nama Padang Sidempoean secara resmi muncul pertamakali tahun 1842 ketika seorang controleur secara defacto sudah berada di Ankola yang berkedudukan di tempat dimana garnisun Belanda sudah didirikan (1839-1841). Benteng Pijor Koling yang dibangun 1837 tidak sesuai sebagai tempat dimana akan dibangun sebuah garnisun (markas militer). Pada tahun 1840 sempat diberitakan di koran nama onderafdeeling Ankola sebagai onderafdeeling Ankola en Pitjar Kelling. Namun di dalam Almanak Nederlansche Indie 1842 yang ditulis secara resmi adalah onderafdeeling Ankola.

Herman Neubronner van der Tuuk dan Ida Pfeiffer menggunakan kombinasi peta awal (peta militer) dan peta topografi terbaru. Mr. van der Tuuk memasuki Mandheling en Ankola dalam rangka bagian suatu ekspedisi linguistic yang dilakukan sekitar 1851-1857. Sedangkan nona Ida Pfeiffer melakukan perjalanan wisata yang dilakukan tahun 1852 dari Padang, Fort de Kock, Panjaboengan hingga Padang Sidempoen lalu meneruskan ke Silindoeng dan Toba via Sipirok. Satu lagi yang menggunakan peta awal tersebut adalah sebuah tim ekspedisi geologi yang dilakukan dari Siboga menuju Padang Lawas yang laporannya dimuat dalam sebuah chapter di dalam buku ‘Bijdragen tot de taal-, land-en volkenkunde van Nederlandsch-Indie’ terbitan tahun 1855. Isi chapter ini secara garis besar dideskripsikan sebagai berikut:

Ekspedisi ini dilakukan pada awal tahun 1853 yang dimulai dari Sibolga melalui jalur Lumut, kemudian Batangtoru, Huraba Panabasan, Sisoendoeng hingga akhirnya sampai ke Pijor Koling. Di dalam benteng Pijor Koling, tim ekspedisi ini hanya bertemu dengan seorang sersan berbangsa Belanda bernama  Scheeren dengan anak buah sebanyak dua puluh tentara Jawa. Dari Pijor Koling ekspedisi ini melanjutkan perjalanan ke Padang Lawas melalui Batang Onang hingga akhirnya sampai di komplek percandian di Sibuhuan. Ekspedisi ini juga menyusuri aliran sungai Baroemoen hingga Kotapinang.

Ekspedisi geologi kedua ini sangat rinci mendeskripsikan perjalanan yang dilalui. Jalan yang dilalui persis seperti yang digambarkan dalam peta kuno dalam ekspedisi militer dari Siboga ke Pertibie. Ketika tim geologi ini sampai di sekitar wilayah antara Sisoendoeng dengan Siondop masih ditemukan jejak sekawanan gajah dan badak. Kemudian tim ini menyusuri sisi barat sungai Aek Batang Ankola dan lalu menyeberanginya. 

Aek Batang Angkola ketika kemarau tempo doeloe
Ada dua jalur lintasan ke Pijor Koling yakni via Sidangkal lalu ke Sihitang dan terus ke Pijor Koling atau dari Siondop menuju Pijor Koling. Kedua jalur ini secara tradisional lebih mudah dilalui karena di hulu sungai Batang Ankola lebar sungainya sempit dan terdapat banyak jembatan yang terbuat dari bamboo. Kemungkinan besar militer dan pejabat Belanda pada masa-masa awal datang dari Pijor Koling menuju garnisun di dekat kampong Sidimpoen melalui Sihitang membelok ke Sidangkal.  

***
Pada tahun 1838 wilayah Sumatra’s Westkust ditingkatkan dari keresidenan menjadi provinsi. Pimpinan pemerintahan dari sebelumnya Residen menjadi Gubernur. Afdeeling Mandheling en Ankola sebagai sebuah wilayah pemerintahan baru dibentuk tahun 1840 dengan menempatkan seorang asisten Residen yang berkedudukan di Panjaboengan. Selanjutnya dilakukan proses pembentukan pemerintahan di Ankola (termasuk Sipirok) dengan menempatkan seorang Controleur di Ankola. Proses ini sudah ada sejak 1839. Awalnya Controleur akan ditempatkan di Pijor Koling. Namun realisasinya baru pada tahun 1842 seorang controleur secara defacto berkedudukan di Padang Sidempuan.

Ibukota Ankola tempat dimana controleur berkedudukan pada akhirnya bukan di Pijor Koling, melainkan dipilih di Padang Sidempoen. Hal ini terkait sehubungan dengan pembentukan sebuah garnisun (markas militer) di Afdeeling Mandheling en Ankola yang lokasinya dipilih di sebuah area strategis dekat dengan kampung Sidimpoen (tIdak jauh dari Pijor Koling). Garnisun ini pada masa kini letaknya di kantor Kodim yang kini menjadi mal. Pilihan lokasi garnisun tentu tidak saja karena alasan strategis pertahanan, tetapi juga karena alasan logistic untuk kebutuhan militer yang jauh lebih banyak. Sebab di Batoe na doewa, Oetarimbaroe, Saboengan merupakan areal persawahan yang sangat luas dan menjadi sentra beras di Angkola Djoeloe.

***
Rumah Controleur Ankola di Padang Sidempoean, 1844
Pada tahun 1844 rumah Controleur yang lebih representatif telah selesai dibangun. Bangunan terbuat dari bahan lokal, kecuali kaca (untuk jendela). Lokasi rumah Controleur ini disamping garnisun yang pada masa ini persis berada di lokasi Pasar Baru  yang kini menjadi Pasar Sangkumpal Bonang. Bangunan ini cukup lama bertahan (Foto). Setelah beberapa tahun, pada tahun 1846 Gubernur Sumatra’s Westkust di Padang, Jenderal Michiels berkunjung ke Padang Sidempoen. Nama kampong Sidimpoen kemudian menjadi Kota Padang Sidempoean.  Dalam peta topografi (1843-1847) yang dipublis pertamakali 1851, nama Padang Sidempoean sudah tercetak sebagai identifikasi sebuah kota.  

Jalan poros dari Mandheling menuju Padang Sidempoean
Pada pertengahan  tahun 1850an, jalan dan jembatan dibangun. Jalan dari Pijor Koling melintas di atas sungai Batang Angkola dan Batang Joemi dan Aek Sibontar. Di Tiga lintasan sungai ini dibangun jembatan kayu yakni Jembatan Sihitang, Jembatan Siborang, dan Jembatan Sigiring Giring. Adanya jembatan ini membuat jalan poros Padang, Fort de Kock, Kotanopan, Padang Sidempoean, Loemot, Siboga menjadi terealisasi dan lebih lancar. 

Pasar Siteleng di Padang Sidempoean
Lalu lintas barang utamanya kopi menuju gudang kopi di Padang Sidempoen  yang semakin intensif memicu munculnya dua pasar: Pasar Siteleng dan Pasar Siborang. Pemerintah kota lalu membuat pasar semi permanen di Pasar Siteleng yang lokasinya dan cikal bakal Pajak Batu. Foto Pasar Siteleng diambil pada tahun 1890.

Sebuah pemukiman baru di Padang Sidempoean
Meski namanya kota, tetapi suasana kota masih tampak lengang dan lebih mirip pedesaan daripada cirri perkotaan. Akan tetapi adanya Pasar Siteleng ini juga menyebabkan derasnya arus masuk penduduk dari pedesaan. Proses urbanisasi pun mulai berlangsung. Sekitar Pasar Siborang, Pasar Siteleng dan Pasar Mudik (Pangkal Jalan Merdeka, sekitar sentral losmen) bermunculan rumah-rumah penduduk bagaikan deret ukur.

Kantor Asisten Residen di Padang Sidempoean
Pada tahun 1860-an jalan poros dikembangkan ke arah Sipirok dengan membuka jalan tembus Sitamiang, Tanggal ke Batunadua. Pada saat pembangungan jalan ini juga dibangun irigasi untuk mengairi lahan sekitar Sitamiang dan sekitar Losung menjadi areal persawahan baru. Pada akhir tahun  1870-an  kualitas jembatan ditingkatkan menjadi jembatan yang terbuat dari besi. Pada tahun 1971 ibukota Mandheling en Ankola dipindahkan dari Panjaboengan ke Padang Sidempoean. Kantor asisten residen yang baru dibangun di suatu lokasi yang pada masa kini menjadi lapangan tenis Garuda (seberang Gedung Nasional). Kantor Asisten Residen ini garis lurus dengan rumah Controleur yang menjadi rumah kediaman asisten residen.

Pada tahun 1972 kantor pos dibangun yang mengambil lokasi di sudut jalan Sitombol/Jalan Sudirman dan seberang Bank Bumidaya (Bank Mandiri) yang sekarang. Lokasi kantor pos ini sangat strategis karena di timur berada kantor Asisten Residen, di selatan pasar Siteleng, di barat pemukiman penduduk. Fungsi kantor pos ini tidak hanya soal paket pos tetapi kemudian juga telegraf. Lalu kemudian, tata ruang wilayah kota kira-kira serupa ini:

  • Pusat pemerintahan antara jembatan Siborang dengan  Jalan Sitombol yang sekarang dan antara jalan Sudirman dan Jalan Thamrin yang sekarang.
  • Pusat perdagangan (bisnis) di sekitar jembatan Siborang (Pasar Siborang) dan di Pasar Siteleng dekat masjid raya lama yang sekarang dan kemudian berkembang ke arah utara  masjid  di pangkal jalan Merdeka sekarang  yang kala itu disebut Pasar Moedik.
  • Pusat postel dan keuangan ujung jalan Sitombol.
  • Pemukiman penduduk di sekitar Pasar Siborang dan sekitar Pasar Siteleng (Pasar Moedik dan Kampung Bukit).
  • Selebihnya adalah pedesaan yang masih hijau, jauh di sana di sebelah utara ada kampung-kampung terpencil, seperti Batang Ajoemi, Tanobato, Boeloe Gonting dan Sitataring; sebelah barat seperti Sigiring-giring, Sihadabuan dan Panyanggar; di sebelah timur; seperti Batoe nadoewa dan Oejoeng Goerap; sebelah selatan seperti Sidangkal dan Batang Toehoel

Area Kweekschool di Padang Sidempoean, 1880
Pada tahun 1873 ini juga dari Departement Onderwijs di Batavia bahwa akan disetting sejumlah sekolah rakyat menjadi sekolah dasar pemerintah (Inlandsche School) sebanyak 10 unit sekolah di Tapanoeli. Menariknya, dari 10 Sekolah Dasar Pemerintah yang telah dibangun di Residentie Tapanoeli delapan diantaranya berada di Afdeeling Mandheling en Ankola. Salah satu sekolah dasar pemerintah itu berada di Padang Sidempuan. Sekolah dasar pemerintah di Padang Sidempuan ini merupakan sekolah yang dibangun benar-benar baru. Sekolah dasar ini berada di utara Kampung Bukit yang letaknya dekat persawahan. Lokasi yang dipilih untuk sekolah dasar ini di Padang Sidempuan adalah di pinggir kota (kala itu) yang kini menjadi Jalan Sutomo (SD N 2 yang sekarang). 'Sikola Topi Saba' ini menjadi tempat tujuan baru untuk bersekolah anak-anak dari pemukiman di pusat kota dan anak-anak yang berasal dari kawasan 'parsabaan' seperti Batang Ajoemi, Tanobato, Sigiring-giring, Sihadabuan, Panyanggar dan juga dari Sidangkal.

Gedung kweekschool menjadi HIS (1914)
Kweekshool Padang Sidempoean adalah sekolah guru pribumi di era Hindia Belanda. Lokasi Kweekshool Padang Sidempoean ini (lihat, Peta-1880) adalah di luar pusat kota, antara Kampung Bukit/Pasar Moedik dengan Kampung Sigiring-giring tepatnya dipinggir jalan poros Padang Sidempuan-Siboga dengan persawahan yang kini merupakan area yang menjadi lokasi SMA-1, SMA-2, SPG, SD-16, SD-23, SD-14 dan SMP-3. Sementara bangunan lama kweekshoolnya sendiri pada masa ini masih terlihat dan menjadi gedung SMA Negeri 1 Padang Sidempuan.

Bentuk justitie (pengadilan) awal di Padang Sidempoen
Kota Padang Sidempoean terus tumbuh, tetapi juga perkembangan sosial semakin meningkat seperti pendidikan, transportasi, pos dan telegraf. Juga terjadi ekses semakin banyaknya masalah-masalah sosial yang tidak tertangani secara adat yang lalu diganti dengan sistem peradilan Belanda. Karena itu penjara di bangun di Mandheling en Ankola yang ditempatkan di Padang Sidempuan. Pembangunan penjara ini dilakukan akhir tahun 1870-an. Lokasi penjara ini terletak di seberang Pasar Baru yang sekarang (tahun 1980-an awal, penjara ini masih eksis).

Surat dari Padang Sidempoean, stempel pos 1889
Selain itu, komunitas orang-orang Eropa di Padang Sidempuan. sejak 1857 yang tinggal sudah silih berganti dan jumlahnya dari waktu ke waktu makin banyak. Orang-orang Belanda yang tinggal di Padang Sidempuan selain pejabat pemerintah juga dari kalangan para guru-guru bangsa Belanda plus para wisatawan, para peneliti dan para investor. Tentu saja jumlah pasukan militer yang makin membengkak. 

Pesanggrahan (losmen asing) di Padang Sidempoean
Di dalam kota dengan sendirinya fasilitas-fasilitas orang Eropa makin lengkap. Dalam perkembangannya, fasilitas untuk orang Eropa/Belanda di Padang Sidempuan adalah dibangunnya rumah sakit yang cikal bakalnya sesungguhnya adalah klinik militer. Keadaan pada tahun 1880, selain yang sudah disebutkan terdahulu (Garnisun/markas militer, rumah/kantor Residen, Kantor Postel, Kweekschool, Pasar dan Penjara) adalah sebagai berikut:

  • Pesanggrahan, tempat para tamu, para pejabat yang belum memiliki tempat tinggal dan para wisatawan. Lokasi pesanggrahan ini berada di lokasi Kantor Walikota yang sekarang.
  • Sekolah Eropa, sekolah dasar yang diperuntukkan bagi anak-anak bangsa Eropa yang lokasinya terletak pada bangunan BPDSU/Bank Sumut yang sekarang.
  • Kuburan orang Eropa yang lokasinya antara Pasar Siborang dengan Kampung Losung yang sekarang.
  • Kantin militer, semacam cafĂ©, lokasinya lahan dimana SMPN 1 yang sekarang. Nama Kampung Kantin timbul dari fasilitas militer ini.
  • Alun-alun kota yang menjadi ‘alaman bolak’ yang sekarang
  • Pos polisi ditempatkan di antara alun-alun kota dengan pasar yang lokasinya pos polisi kota (pos kota) yang sekarang.
  • Kantor Topografi yang berada di ujung jalan Sitombol.
  • Perumahan pegawai bangsa Belanda berkembang di sekitar jalan sudirman yang sekarang antara Gedung Nasional dengan Bank Bumi Daya/Bank Mandiri yang sekarang.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe

LAMPIRAN:  Foto-foto tentang Padang Sidempoen dalam perkembangan lebih lanjut

Jembatan dari kabel telegraf di atas Batang Toroe, 1860
Jembatan dari besi dan kayu di atas Batang Toroe, 1879-1883

Jembatan dari baja di atas Batang Toroe, 1915
Jembatan dari baja kuat di atas Batang Toroe, 1935

Pasar Siteleng Padang Sidempoean
Pasar Siteleng Padang Sidempoean terbakar
Pasar Siteleng yang baru di Padang Sidempoean
Pajak Batu pengganti Pasar Siteleng Padang Sidempoean
Pos polisi dan sentral losmen Padang Sidempoean
Pangkalan sadu dekat lokasi penjara Padang Sidempoen
Terminal bis jarak dekat di Padang Sidempoean
Terminal bis jarak jauh di Padang Sidempoean
Stasion sadu di Padang Sidemnpoean
Bioskop Ankola jaman Belanda di Padang Sidempoean
Bioskop Angkola setelah merdeka di Padang Sidempoean
Tengah kota Padang Sidempoen dari arah Pasar Baru
MULO Padang Sidempoean cikal bakal SMP N 1
Transportasi dari Padang Sidempoean ke Siantar via Siboga

Alat transpor dari Padang Sidempoean ke seluruh Sumatra
Bangsa Belanda dan elit pribumi di Padang Sidempoean
Peta kota Padang Sidempoean, 1880
Peta Tapanoeli, 1852








1 komentar:

Rahmean Farozsky mengatakan...

Amangboru...izin download,copy dokumentasi & artikelnya ya...salam kenal ramean siregar dimedan...