28/04/15

Sejarah Marah Halim Cup (4): Majalah Pertama Olahraga Indonesia, Edisi Perdana Melaporkan Sepakbola di Medan



Banyak kejadian-kejadian penting dalam dua tahun terakhir di blantikan sepakbola Noord Sumatra. Sportclub melawat ke Penang dan telah melakukan Rapat Umum Luar Biasa yang kedua. Ada klub baru Belanda L.Z. Club dan didirikannya klub pribumi pertama Toengkoe, dan juga didirikannya klub baru bernama Tiong Hoa. Kabar berskala internasional adalah kunjungan destinasi tunggal  oleh ‘Menteri Olahraga Belanda’ Dudoc de Wit ke Deli*.

Majalah Olahraga Pertama

Sepakbola yang awalya bermula di Deli (Belanda) dan Penang (Inggris) telah berkembang pesat, tidak hanya di Medan, tetapi juga di Batavia dan Soerabaija, Bahkan popularitas sepakbola telah melampaui popularitas pacuan kuda sebelumnya di Batavia dan Soerabaija. Perkembangan sepakbola di Semarang dan Bandoeng juga telah tumbuh dengan baik. Kompetisi sepakbola telah bergulir di Soerabaija (1902) dan Batavia (1904) dengan sendirinya mendongkrak frekuensi pertandingan sepakbola di Nederlansch Indie.

Tribun Penonton Sepakbola di Esplanade, Medan (1925)
Permainan sepakbola telah mendapat tempat di semua komunitas: Eropa (Belanda dan Inggris), Tionghoa dan pribumi. Pertandingan-pertandingan sepakbola yang kerap dilangsungkan telah pula mendapat tempat di dalam pemberitaan koran-koran. Surat kabar berskala ‘nasional’ dan bertiras besar seperti Bataviaasch nieuwsblad, Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië dan Algemeen Handelsblad di Batavia; Soerabaijasch handelsblad (Soerabaija), Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie (Semarang); De Sumatra post Medan (suksesi Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad) secara terus menerus melaporkan kejadian olahraga khususnya sepakbola.

Lantas pada tahun 1905 adalah Algemeen Handelsblad yang mempelopori perlu didirikannya majalah khusus olahraga. Nama majalah tersebut adalah Indische Sport: Weekblad voor Sport in Indie. Pendirian majalah ini dimaksudkan untuk memperkuat segmen olahraga dalam pemberitaan sehubungan dengan semakin intensnya pemberitaan olahraga khususnya sepakbola. Majalah ini tidak hanya menyatukan pemberitaan olahraga ‘nasional’ tetapi juga untuk menyediakan ruang yang lebih luas terhadap berita-berita olahraga/sepakbola internasional khususnya dari Negeri Belanda.

De Sumatra post, 13-03-1905 melaporkan majalah olahraga pertama: ‘Het Orgaan, Algemeen Sportblad voor Ned.-Indi├ź, majalah yang terbit dua kali sebulan yang bertindak editor R. Brons Middel. Sebuah "kata pengantar" dalam edisi perdana menyebutkan tujuan dari jurnal berita ini adalah untuk menyediakan cara yang umum bagi praktisi olahraga untuk tetap berhubungan dengan satu sama lain. Di Jawa, olahraga kuda hingga saat ini adalah olahraga utama, majalah khusus yang ada sebelumnya tentang sastra  kini bertambah lagi yang bersegmen olahraga, sehingga setiap orang dapat menemukan kejadian-keajdian dalam olahraga. Majalah ini juga akan mencakup selain olahraga berkuda, balap sepeda dan automobil, shooting game, olahraga air, senam dan atletik, tennis, permainan sepakbola dan kriket serta kompetisi lainnya di berbagai bidang. Para pembaca juga akan dapat menginformasikan hal apapun dari olahrga asing. Dalam edisi pertama, hal yang membuat menguntungkan untuk warga Sumatra adalah adanya laporan pertandingan sepakbola yang dilangsungkan pada tanggal 16 Januari di Medan antara Sportclub Medan vs Langkat Sportclub’.

Klub Pribumi Mengalahkan Klub Belanda, Klub Tiong Hoa Didirikan

Sejumlah kejadian-kejadian tentang sepakbola Sumatra Utara kembali menghiasa koran-koran, khususnya surat kabar De Sumatra Post yang terbit di Medan.

De Sumatra post, 15-05-1905: ‘Besok sore pukul 5 sore akan diadakan pertandingan sepakbola di Esplanade antara Medan Sportclub dan Langkat Sportclub. Nama-nama pemain kedua tim belum diketahui’

De Sumatra post, 02-06-1905: ‘Minggu tanggal 4 ini sejak siang hingga 4.30 akan diadakan pertandingan sepakbola di Medan mungkin antara klub Tamansafakat Bindjei melawan klub Letterzetters dari Medan.

De Sumatra post, 26-06-1905: ‘Sebuah pertandingan sepakbola tanpa pemberitahuan sebelumnya antara dua tim Medan dan Toengkoes kemarin sore di Esplanade. Pertandingan ini tampak seru. Tim Medan mengawali gol. Setelah turun minum Toengkoe memulai serangan pertempuran dan tercipta gol, yang lalu diikuti oleh tepuk tangan gemuruh dari penduduk asli. Medan kemudian mengambil alih segera,  dan tendangan sudut Antony disambut temannya lalu tercipta gol. Kedudukan skor tetap sampai berakhir yang mana Medan menang dengan 2-1. Pertandingan ini dipimpin wasit A.B.R. Verloet. Susunan pemain Medan: A. S. van Dorp, keeper; Munters Jr. en I. Cornfield, back-; G. L. Koek, J. P. Bjeke, en A. Ljlsz, half back, Bakkes, Autony, v. Druten, Munters Jr. en A. Flinznar, forward'.

De Sumatra post, 07-08-1905: ‘seorang pembaca menulis. Di Bindjai kemarin sore berlangsung pertandingan antara Tamansafakat melawan Letterzetters Medan. Pertandingan itu dihadiri banyak penonton. Kedua tim lengkap. Pertandingan dimulai pukul lima sore yang dipimpin wasit Jongencel. Pertandingan kedua tim berjalan sengit dan saling menyerang. Dua gol tercipta hingga turun minum dalam kadaan imbang. Pada babak kedua Tamansafakat muncul dengan sangat beringas dan pada akhirnya berhasil menciptakan gol. Raungan besar meledak dari penonton, semua topi dan pernik lainnya diterbangkan ke udara sambil berjingkrak, melompat dan berteriak histeris. Pertandingan berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Tamansafakat’.

De Sumatra post, 30-08-1905: ‘Besok, tanggal 31 Agustus, di Esplanade akan memainkan pertandingan  antara tim Sportclub Medan dan tim Medan lainnya, klub Toengkoe. Selanjutnya, pada hari Minggu, 3 September, sore pada pukul 4.30 juga memainkan pertandingan di Esplanade antara tim dari klub Taman Sefakat dari Bindjey melawan Letterzetters dari Medan’.

De Sumatra post, 01-09-1905: ‘Begitu banyak penonton di sisi-sisi lapangan. Banyak kepentingan yang muncul, dalam pertandingan sepakbola antara Medan Sportclub dan Medan Toengkoe Club. Penonton yang berdiri sepanjang sisi lapangan mengikuti dengan perhatian. Menariknya terutama banyak perempuan berada disana. Para pemain yang bermain tampak direbus oleh matahari Hindia yang indah kering. Para pemain bersemangat, banyak yang jungkir balik. Dalam game ini harapan tim Toengkoe telah menjadi kenyataan; hasilnya menang 2-1. Menurut penilaian penonton pertandingan itu idealnya seharusnya kemenangan Toengkoes 3-2. Koordinasi Toengkoe tampak jauh lebih baik daripada lawan. Hingga babak pertama berakhir, Toengkoe  sudah unggul dua gol. Namun pada babak kedua Toengkoe mulai memudar, dan bahkan mereka membuat kontra-gol akibat kesalahan pemain belakang mereka yang mengakibatkan gol bunuh diri. Seperti yang kami katakan, Toengkoe telah mendapatkan dan telah berhasil meningkatkan kinerjanya, namun masih perlu peningkatan koordinasi ke depan agar sesuai harapan penontonnya’.

De Sumatra post, 02-09-1905: ‘Wartawan kami menulis tentang perayaan Ratu Wilhelmina di Bindjei. Permainan popular, sepakbola dilangsungkan. Semua menyambutnya dengan semangat. Karena pertandingan ini ada hadiahnya. Pertandingan pertama dimulai pukul dua itu sempat terganggu karena ada kebakaran disamping pabrik es. Semua pihak membantu, termasuk pemain dan penonton. Pada pukul 3 permainan antartim rakyat ini dilanjutkan dan berlangsung sampai 4:30. Selanjutnya pada pertandingan sepakbola kedua antara tim Inggris dan tim Belanda dimulai pukul 5 memiliki hasil dengan rasio 1:1. Setelah pertandingan kami pergi bersama-sama ke Societeit, dimana cukup tempat sampai tiba saatnya untuk makan malam. Sekitar 140 orang hadir di dalam yang diiringin Manila-band yang membawa kami kegembiraan dengan melodi ceria, yang dinyanyikan dengan penuh semangat, yang semuanya berjumlah ± 15  lagu. Dr. De Jong berpidato untuk menghormati HM Ratu dan dengan harapan untuk kegembiraan. Sebagai moderator Mr Van den Bosch yang bertugas sebagai pimpinan bank sentral dan menyatakan bahwa ia selama bertahun-tahun di Langkat belum pernah Pesta Ratu dilaksanakan. Kali ini pembicara mengajak untuk dilakukan ke depan. Intinya: sosialisasi. Medan sejauh ini lebih baik dari Langkat. Di Medan perayaan semacam ini garis panjang Esplanade. Semua, ladies and gentlemen, melompat dan hosting yang satu dapat membayangkan diri pada adil Ratu Hollandscbe. Selanjutnya acara masuk ke hiburan, banyak yang menari, sementara yang lain roolette. Langkatters di Bindjey telah merayakan dengan cara yang megah’.


De Sumatra post, 11-09-1905: ‘Pertandingan sepak bola kemarin sore di Esplanade antara Letterzetters Club dan Toengkoe-club di Bindjey. Klub Medan ini lebih kuat, hasilnya adalah 3-0 untuk Medan. Tim Medan ini ada pemain yang mantan Medan Sportclub. Antusiasme para penonton warga Inlandsch tampak luar biasa’.

De Sumatra post, 23-10-1905: ‘Kemarin, Minggu, pertandingan sepakbola berlangsung antara klub China yang baru didirikan yang diberi nama Voetbal Club ‘Tiong Hoa’ dari Medan dan tim kedua pribumi Voetbal Club ‘Taman Sefakat’ dari Bindjey. Dalam hal ini tim Tionghoa diperkuat dengan empat pemain dari tim Taman Sefakat. Pertandingan dimulai pukul lima dibawah wasit Mr Avis. Hingga menjadi waktu istirahat tetap tanpa gol. Setelah sekitar 10 menit babak kedua mulai, Biudjeyers bertindak ofensif. Sebuah tembakan baik ditujukan dari pemain tengah TS berhasil diamankan  oleh kiper Tiong Hoa. Lalu selanjutnya Bindjei kerja sama tim yang sangat baik ditampilkan dibanding sebelumnya akhirnya mampu untuk unggul satu gol. Para penonton bersorak keras. Hal ini terjadi karena gol tercipta karena salah penanganan oleh kiper Medanner menangkap bola pada lutut dan karena itu melompat ke dalam gawang sendiri. Medan berusaha bangkit, tetapi Bindjei dapat bertahan bersama dengan baik, sehingga yang mana Bindjey menang 1-0. Seharusnya pertandingan memiliki rasio yang lebih baik. Setelah poewassa pertandingan kembali akan dimainkan di Medan. Analisis: kiper Medan bermain baik yang indah. Pemain gelandang cukup, tapi masih perlu ditingkatkan. Forwards tidak cukup terlatih, tetapi melalui latihan yang tepat dapat diperoleh dari banyak pemain bagus. Untuk Bindjey: kiper terbaik. Gelandang kondisi yang baik. Forwards baik, tetapi dapat melakukan jauh lebih baik, dan bermain koordinasi lebih bersama-sama’.

Tampak bahwa sepakbola Medan dan sekitarnya semakin berwarna-warni. Dua klub seteru yang berwarna putih sejak awal adanya pertandingan sepakbola di Deli antara tim Inggris (Langkat) vs  tim Belanda (Medan) sudah mulai mendapat lawan-lawan yang bervariasi. Klub putih lainnya adalah Letterzetters Medan yang awalnya kerap bermain dengan klub coklat Toengkoe dan Taman Sefakat mulai diterima public. Sebab selama ini LZ.Club selalu di bawah baying-bayang Sportclub. Lalu kemudian muncul lagi klub baru yang berwarna kuning yang diberi nama Tiong Hoa.

Sepakbola Deli saat itu sangatlah unik. Sangat beragam. Ini berbeda dengan di Batavia, Soerabaija, Semarang dan Bandoeng, dimana di tempat-tempat itu interaksi klub pribumi sulit terlaksana dengan klub lainnya. Di Medan dan Langkat (Deli) hal itu justru dapat dengan damai terlaksana: ada Belanda, ada Inggris, ada Melayu dan ada Tionghoa. Singkat kata, berbeda, unik dan menarik. Memang, ini Deli, Bung!

Bagaimana kelanjutan kisah sepakbola Deli (Medan dan sekitarnya) ikuti terus pada artikel berikutnya. Kompetisi pertama akan segera dimulai. Klub-klub apa yang berkompetisi? Simak terus, Bung!

***
*Dudoc de Wit datang dari Belanda ke Medan (1904), jauh sebelumnya ada seorang gadis wisatawan Austria yang datang ke Tapanoeli (1852). Pada waktu itu, wilayah Sumatra Utara yang sekarang pemerintahan kolonial Belanda secara administrasi hanya terdapat di Afdeeling Natal, Afdeeling Mandheling en Ankola, Afdeeling Baros dan Afdeeling Singkel. Semua wilayah itu disatukan dalam satu keresidenan, yakni Residentie Tapanoeli. Residen berkedudukan di Siboga dan seorang asisten residen ditempatkan di Panjaboengan (afd. Mandheling en Ankola). Di Padang Sidempoean sendiri baru ditempatkan pemerintah setingkat controleur.

Ida Pfeiffer
Wanita wisatawan itu bernama Ida Pfeiffer, seorang gadis yang tidak ada takutnya. Wanita pelancong ini awalnya tidak punya rencana ke Sumatra, akan tetapi karena dia menemukan peta Tapanoeli di Batavia, Ida Pfeiffer lalu memutuskan untuk menantang belantara Tanah Batak. Ida Pfeiffer memulai perjalanan dari Batavia dengan kapal uap ke Padang. Lalu dari Padang dengan seorang diri (bagaikan lone ranger), Ida Pfeiffer mengendara kuda setahap demi setahap menuju Fort de Kock dan Kotanopan lalu ke Saroematinggi ('pintu gerbang' Ankola).

Di kampong kecil Saroematinggi, Ida Pfeiffer mulai ciut. Dan oleh karena Ida Pfeiffer sudah memiliki rencana baru lagi ingin meneruskan perjalanan ke Toba, maka Ida Pfeiffer memerlukan seorang pemandu (kata lain pengawal). Seorang Belanda bernama Hamehs yang dengan istrinya yang sudah bermukin di kampong itu, coba mencari dan menemukan seorang pemandu ulung yang bernama Dja Pangkat. Konon, Dja Pangkat adalah mantan pemandu Franz Wilhelm Junghuhn. Dja Pangkat dipilih karena sudah mengenal baik sejumlah wilayah dan juga memiliki beberapa teman kepala kampong di Silindoeng. Ida Pfeiffer merasa lebih aman dan semakin bersemangat.

Kisah perjalanan Ida Pfeiffer yang dilakukannya pada bulan Agustus 1852 yang diceritakannya sendiri dapat dibaca pada Algemeen Handelsblad, 09-05-1853 dan dilengkapi cerita yang ditulis Hamehs yang dimuat dalam Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 21-04-1881. Ringkasannya, begini (tulisan Ida Pfeiffer):

‘Segera setelah tiba di Padang, Aku menghadap Gubernur Sumatra’s Westkust, lalu segera berangkat dengan menunggang kuda dan pemberhentian pertama Fort de Kock (kini Bukitttinggi). Aku dengan kuda, berjalan perlahan, lalu berlari kencang, keluar masuk hutan, di semak ditemukan penuh jejak untuk harimau, gajah dan badak, aku tidak takut pada siang hari bolong; Saya sering melaju selama berjam-jam melalui hutan semak dan alang alang. Untuk Padang Sidempoean di Ankola, aku menghadap Mr. Hammers, dimana aku berdiam dua hari. Dari Tuan Hammers (controleur Ankola) saya dapat beberapa panduan dalam perbedaan bahasa Bataksche. Setelah semua. diselesaikan, kataku yang terakhir kepada Europeer perpisahan hangat dan saya diantar pergi bersama sejumlah Batakchen untuk memandu jalan sekitar 20 tiang’.
‘Selama malam, saya dengan yang lain istrirahat  di hutan  dengan memasak beras semi kering yang direbus dengan sedikit tambahan garam, lalu saya melihat mereka mempersiapkan beras dalam cara yang sama sekali baru bagi saya. Mereka membungkusnya dengan 'daun besar (daun pisang), dan memasukkan beras ke dalam potongan bambu, kemudian menuangkan sejumlah kecil air, lalu meletakkan tongkat bamboo itu pada api pembakaran, mereka membiarkan berbaring begitu lama sampai bamboo kelihatan mulai terbakar, cukup lama berlangsung sejak bamboo segar dan isinya dipanggang’.
‘Menurut pernyataan dari pemandu saya, saya dilarang 15 sampai 20 pos ke arah danau. Tapi saya tidak peduli, saya berjalan sendiri, tetapi pemandu saya tetap setia mendampingi saya. Saya sekarang sudah sekitar selusin perjalanan di dunia dan hingga sampai ke negara Batak, sejauh ini berhasil seorang Eropa. Yang jelas memang satu hal saya tidak ada salahnya, saya hanya harus berterimakasih itikad baik saya dan keluarga saya. Nyatanya de Batakers mencintaiku, lebih dari duniawi. Bahwa saya yakin saya tidak akan berkelana tanpa bantuan mereka atau perlindungan mereka untuk usaha saya. Perjalanan saya di Sumatera berada jauh hingga 721 tiang (paal)’.

***
Diskusi tentang keberanian Id Pfeiffer sejak Maret 1881 di koran-koran membangunkan kesadaran Hamehs yang kini sudah bermukim di Padang. Hamehs memahami diskusi-diskusi itu ada yang tidak lengkap. Lalu Hamehs memberi kontribusi yang tulisannya dikirimkan ke surat kabar Sumatra Courant. Ringkasan tulisan Hameh sebagai berikut: ‘Awal perjalanan ke Tapanoeli ini pertama kali dimulai tahun 1852 di Panjaboengan. Di Panjaboengan ada Asisten Residen (Godon) dan Controleur di Ankola yang berkedudukan di Padang Sidempoean. Saya di Koeringgi (antara Soeroematinggi dan Sigelanggan) dapat kabar dari Mr. Godon tentang Ida Pfeiffer. Ketika jam 10 pagi saya ingin menaiki kuda saya, tiba-tiba di kejauhan ada seseorang datang dengan pakaian mencolok mendekat. ‘Saya adalah Ida Pfeiffer’. Dia memakai penutup kepala, mengenakan rok coklat yang penuh dengan lumpur dan stoking serta sepatu tentara di kakinya. Lalu kemudian dia mandi ke sungai yang lagi meluap. Dia bertubuh sangat kecil, rambut pirang, dan sangat ramping. Dia saya bawa ke tempat saya dimana istri saya menjamunya makan siang. Dia mengatakan membuat rencana perjalanan ke Toba. Malam kami menghibur untuk bermain bridge.

Keesokan paginya dia memberitahu saya keinginannya untuk sesegera mungkin perjalanan ke Toba dan meminta saya bahwa dia akan perlu pemandu. Saya mencari pemandu yang dapat dipercaya, sebab ini adalah perjalanan yang banyak bahaya (di Silndoeng dan Toba belum ada pemerintahan). Ketidaksabaran untuk segera berangkat sulit dimengerti untuk saya; dia absolutly tidak bisa sama sekali ada bahasa Hindia bahkan kata-kata Melayu hanya tahu sedikit, mungkin hanya sepuluh kata yang dipahaminya sendiri yang memang benar-benar dibutuhkan seperti makan, minoem, tidor dan djalan yang dianggapnya sudah memadai. lda Pfeilfer tinggal empat hari dengan saya. Saya telah berhasil mendapatkan pemandu yang baik untuk mendampinginya. Namanya Dja Pangkat, seorang kepala kampong dari Soeroemantinggi yang akan melakukan tugas berdiri di depannya. Dia terkenal, berteman dengan sejumlah kepala kampong di Silindoengsche.

Pada tanggal 5 Agustus, 1852, Ida Pfeiffer tiba di Padang Sidempoean (onderfadeeling Ankola). Dari tempat terakhir dimana ada orang Eropa di Padang Sidempoean, Ida Pfeiffer dipandu oleh Dja Pangkat (yang juga mantan pemandu terbaik Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, 1840-1845 dalam ekspedisi geologi di Zuid Tapanoeli / Tapanuli bagian selatan). Singkat kisah, setelah Ida Pfeiffer berhasil melongok danau Toba (orang Eropa pertama yang melihat danau Toba) langsung lekas pulang (karena sakit), Ida Pfeiffer tiba kembali di Padang Sidempoean tanggal 25 Agustus 1852. [Untuk lebih lengkapnya baca: Ida Pfeiffer, Gadis Pelancong Pemberani, Perempuan 'Bule' Pertama Memasuki Bataklanden

Ida Pfeiffer adalah wanita Eropa yang pertama kali melihat Danau Toba. Ida Pfeiffer di dalam perjalanan wisata menuju Silindoeng en Toba pada Agustus 1852 telah menyadarkan internasional bahwa Tanah Batak tidak seperti yang salah diceritakan secara horror oleh orang-orang sebelumnya. Publikasi perjalanan Ida ini telah dilansir oleh sejumlah koran yang terbit di Batavia, Semarang, Soerabaija dan Rotterdam. Sejauh yang diketahui, kisah perjalanan Ida Pfeiffer di Tanah Batak ini merupakan catatan yang terdokumentasi secara otentik bagaimana metode lemang dijelaskan secara lengkap. Seperti diakui sendiri Ida Pfeiffer bahwa metode memasak beras menjadi nasi ini juga disebutnya sebagai sesuatu yang unik dan baru seperti dikatakannya sendiri: ‘saya melihat mereka mempersiapkan beras dalam cara yang sama sekali baru bagi saya’.[Artikel terkait: Asal Usul Sejarah Lemang, Apakah Bermula di Tanah Batak?

***
*Dr Max Euwe adalah orang kedua Belanda yang datang  berkunjung ke Medan karena alasan olahraga. Dr Max Euwe adalah Grand Master, juara catur Belanda sengaja datang ke Medan pada Agustus 1930 hanya semata-mata karena ada dua orang anak Batak yang mampu mengalahkan semua pecatur Belanda di Kota Medan. Setelah merasakan kehebatan pecatur pribumi, Euwe melanjutkan perjalanan ke Djawa. Tapi sebelum dia pulang ke Belanda, rupanya Dr. Euwe penasaran dengan kejeniusan anak-anak Batak ini. Sebagaimana dilaporkan koran Het volk : dagblad voor de arbeiderspart─│, 09-10-1930:

Dr. Euwe vs pecatur Batak di De Wiite Societit, Medan (Sept-1930)
‘Dr Euwe melakukan pertandingan lagi dengan dua dari tiga anak Batak itu, yakni dengan Si Hoekoem dan Si Prang pada tanggal 7 Oktober 1930 di Medan. Anehnya, Dr. Euwe ingin memberi pelajaran malah mendapat hasil yang sebaliknya. Si Prang dapat dimenangkannya, tetapi malah Dr. Euwe kalah sama Si Hoekoem. Kemana Si Toemboek, tidak dilaporkan.Yang jelas, kekalahan dari Si Hoekoem inilah yang menyakitkan bagi Dr.Euwe selama turnya di Hindia Belanda. Klasemen terakhir (kumulatif) anak-anak Batak vs Dr Euwe sebagai berikut:.menang 3 kali, remis 1 kali dan kalah 1 kali.

Ternyata Dr. Euwe tidak kecewa. Keilmuannya mengalahkan gengsinya dikalahkan oleh anak Batak dari kampung di pedalaman Tanah Batak. Mr. Euwe yang seorang sarjana, malah ingin mengetahui lebih dalam mengapa ia kalah sama Si Hoekoem. Dr. Euwe ingin menganalisnya langsung bersama Si Hoekoem. Yang tadinya ingin segera hengkang dari Medan, malah Dr. Euwe menunda keberangkatannya. Dr. Euwe ingin mewawancarai langsung Si Hoekoem. Dengan bantuan penerjemah di gedung De Wit Societie Medan Dr. Euwe awalnya ingin wawancara tapi malah justru berdiskusi (dialog). Dr. Euwe tidak menyangka bahwa Si Hoekoem bisa menganalisis permainan, mulai dari pembukaan, gerakan dan endgame. Hasil wawancara, eh hasil diskusi yang ditulis sendiri oleh Dr. Euwe itu (termasuk notasi caturnya) dimuat di koran Het volk: dagblad voor de arbeiderspart─│, 25-10-1930 dengan judul beritanya: 'Dr. Euwe interviewt Si Hoekoem. De Batakker toont een zeldzaam juist oordeel. Besloten werd met een partij volgens de Bataksche spelregels'. Intinya: anak-anak Batak ini, terutama Si Hoekoem telah memberi saya banyak pemahaman. Awalnya saya yakin menang, sebagaimana juga menurut penonton, tetapi di akhir permainan Si Hoekoem melakukan gerakan diluar dugaan saya. Dan Si Hoekoem menang. Saya bisa menyimpulkan bahwa permainan game anak-anak Batak murni intuitif--tidak text book. Saya salut, dan saya banyak belajar dari mereka anak-anak yang cerdas ini. Lihat selengkapnya pada artikel: Sejarah Catur Indonesia: Bermula di Tanah Batak

(bersambung)

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: