22/04/15

Sejarah Marah Halim Cup (2): Langkat Sportclub, Klub Sepakbola Kedua di Sumatera Utara



Bindjei, 1890
Sepakbola Medan sudah mulai tumbuh. Oost Sumatra Sportclub sudah secara resmi diformalkan dan juga dinobatkan sebagai klub Medan. Sportclub yang didukung pemerintah kota ini lalu mulai berkokok, unjuk diri, adu taji, adu sayap dan adu patuk. Pemain-pemain Sportclub bukanlah pemain amatir, tetapi para mantan pemain dari klub professional di Nederland. Hanya saja kini mereka bermain di klub amatir di Medan. Boleh jadi setelah tenaga mereka tidak terpakai di Nederland, merantau ke Medan untuk mengadu nasib. Betul untuk mengadu nasib dengan bekerja di perusahaan atau menjadi pegawai pemerintah—tetapi minat untuk sepakbola juga tetap jalan.

***
Setelah sekian lama tidak ada berita sepakbola di Medan, Algemeen Handelsblad, 10-11-1901 melaporkan telah berlangsung pertandingan di Medan pada tanggal 6 Oktober 1901 antara Tim Deli (Deli Elftal) dengan tamunya dari Penang.

Tim Penang ini semuanya adalah bangsa Inggris. Pertandingan berakhir dengan skor 4-1 untuk tuan rumah. Tim Deli merupakan gabungan yang terdiri dari G. J. Stok (kiper), J. P. van Hellen A. B.ick (achtei), A. van Reesema, Percy Pinkncy, W. Jone. (midden), A. Vervloet, F. Wegerman, P. Langeveld, J. Witteveen en P. v. d. Wel (vóór). Melihat komposisi tim Deli ini didominasi pemain-pemaian dari Sportclub. Percy Pinkncy seperti diketahui adalah pemain belakang dari tim Langkat yang berbangsa Inggris.

Kini, tim Deli yang keluar kandang. Sebab selama ini mereka hanya didatangi oleh tim Langkat dan tim Penang. De Sumatra post, 02-12-1901 melaporkan lawatan tim Deli ke Bindjey.

Yang berangkat ke Bindjey tidak hanya pemain dan official tetapi juga para suporter. Pada tengah hari terlihat banyak yang menuju Stasion Medan. Begitu banyaknya calon penumpang, tikel kelas pertama segera langsung habis terjual. Bangsa Belanda yang tidak kebagian tiket kelas pertama harus puas dengan tiket kelas kedua. Ini memang tidak lazim karena kelas kedua biasanya untuk kalangan Tionghoa dan kaum pribumi. Namun mereka tidak peduli turun kelas, karena mereka yang berada di kelas kedua menganggap pertandingan di Bindjey ini akan seru.

Peta Medan-Bindjei, 1895
Tepat pukul tiga sore, kereta sampai di stasion Bindjey. Di stasion rombongan Deli yang terdiri dari pemain, official dan suporter (Delische) disambut oleh controleur Muller dan perwakilan Langkat. Lalu rombongan diarak dengan prosesi dimana di depan Manila-band, sedangkan di belakangnya berturut-turut sado, sepeda dan alat-alat transportasi lainnya yang memiliki roda menuju ruang pertemuan internasional (societeit). Controleur Muller menyambut tamunya dengan sampanye. Lalu rombongan Tim Medan diarahkan ke lapangan untuk melakukan orientasi. Lapangan yang ada berbeda dengan Esplanade di Medan yang agak basah, sedangkan lapangan di Bindjey ini cukup kering dan keras. Untuk pemain Deli akan merasa kesulitan karena sulit adaptasi dengan bola yang dapat bergerak lebih cepat.

Pada pukul lima sore pertandingan segera akan dilangsungkan dan kedua tim sudah hadir di lapangan. Wasit yang memimpin pertandingan adalah Mr. Lagaay. Susunan pemain Deli: Chaufepié. keeper; van Heil en Buck back, Jones, Reesema en Witteveen, halfback; P. Langeva'd, Wichers, VervJoet, WoJs v. d. Well en Meijer, voorwaarts. Sedangkan Tim Langkat adalah sebagai berikut: Stock, keeper; Pinckney en Wrange, backs; Grüschke, V. Braam en Schoutendorp, halfbacks; Cowan, Fitzwilliams, Hotchkiss, Smoutziger en Thompson, voorwaarts.

Setelah pluit dibunyikan tanda pertandingan dimulai, dalam lima menit pertama Langkat mempimpin dan menguasai bola di daerah pertahanan Deli. Namun karena pertahanan Deli cukup baik, sehingga gol belum tercipta. Lalu kemudian Langkat berhasil melesakkan dua gol, tetapi Deli juga memiliki perlawanan sehingga skor 2-2 pada saat turun minum. Pada babak kedua di awal permainan Langkat kecolongon satu gol tetapi akhirnya mampu membuat dua gol balasan. Pada akhir pertandingan Deli mampu menyarangkan satu gol sehingga skor akhir menjadi 4-4. Pertandingan ini berjalan keras dan wasit harus bekerja ekstra

Setelah pertandingan usai pada malam hari dipersatukan dalam suasana persaudaraan dengan makan malam bersama di tempat menginap yang telah disediakan.

Langkat Sportclub Diresmikan

Pertumbuhan sepakbola di Nederlansch Indie tampak lambat tetapi setidaknya tetap berada di arah yang benar. Sepakbola adalah suatu permainan yang baru. Kini sepakbola tidak hanya menguat di Medan, tetapi juga di Batavia.

Berita sepakbola dari iklim tropis rupanya membuat para gibol di Eropa sedikit kaget. Mereka yang berada di daerah iklim dingin tidak membayangkan bahwa sepakbola dapat tumbuh dan berkembang di daerah bersuhu panas. Koran Amsterdamsche Handelsblad pernah memuat sebuah tulisan yang menyebutkan sebagaimana kutipan berikut: ‘bahkan dalam hobi iklim yang panas di Hindia untuk sepakbola tampak ada, setidaknya hal ini dapat dilihat di Batavia, Penang dan Deli’. 

Mereka selama ini beranggapan bahwa di zona beriklim musim panas menemukan terlalu panas di sini sepakbola untuk dipraktekkan. 

Sosialisasi pembentukan klub Langkat
De Sumatra Post, 18-12-1901 memberi ulasan sebagai berikut: Anggapan bahwa sepakbola tidak bisa berkembang di daerah panas sesungguhnya karena mereka tidak mengerti. Padahal, kenyataannya, setidaknya di Medan ini terbukti bahwa permainan sepakbola maju pesat. The Sportclub Sumatra’s Oostkust-meski baru didirikan tetapi sudah menunjukkan pertumbuhan yang baik. Sekarang diketahui bahkan ada rencana untuk mendirikan klub baru, yakni: Langkat Sportclub. Dalam  pertandingan terakhir di Bindjey menunjukkan lagi bahwa ada kekuatan dalam sepakbola untuk selamanya di Langkat. Oleh karena itu kami yakin bahwa ada ide ide yang dapat ditangkap untuk dilembagakan ke dalam kompetisi. Sebab selama ini  niat bermain sepakbola baru sebatas pertandingan di hari-hari besar sebagaimana di Esplanade, Bindjey, sementara di hari-hari lain juga dengan sendirinya akan ada kesempatan untuk dilakukan pertandingan lebih banyak.

Pemain-pemain yang selama ini tergabung dalam tim Langkat membulatkan tekad untuk mendirikan klub secara formal. Para penggagas lalu menyosialisasikan pendirian klub tersebut dan berharap banyak calon pemain yang mendaftar. Di dalam iklam mereka yang dimuat di Sumatra Post 20-12-1901 dinyatakan bahwa anggota klub dikenakan uang pangkal sebesar lima dollar yang digunakan untuk peralatan dan lainnya dan setiap bulan dipungut iuran sebesar satu dollar. Setelah tanggal yang ditetapkan akan dilakukan pemilihan anggota Dewan dan Pengurus serta penyusunan AD/ART.

Langkat Mengalahkan Sumatra’s Ooskust

Setelah Langkat Sportclub berhasil mengukuhkan organisasi mereka menjadi sebuah klub formal, klub dari Bindjei ini ingin mengundang Sportclub Sumatra’s Oostkust yang diagendakan pada tanggal 16 November 1902 di Esplanade, Bindjei. Dari markas Medansche diperoleh kabar akan menurunkan tim yang terdiri dari Gerritsen (doel), Back en van Reesema (achter), v. Gogh, Schoevers en van Reenen (midden), Langeveld, Wichers, Muiier, Samson en Vervloei (lihat De Sumatra post, 21-10-1902). Koran ini edisi 14-11-1902 melaporkan susunan pemain kedua tim. Langkat Sportclub: Stok (doel), Pinckney en Prange (achter), Gray, Young en Schnoutzinger (midden), Hotchkis, Thomson, Scboutendorp, Stewart en Rettray (voorhoede). Sportclub Sumatra's Oostkust: Gerritsen (doel), Buck en van Reesema (achter), van Gogh, Schoevers en van Reenen (midden,) Langeveld, Wichers, Muiier, Samson en Vervloet (voorhoede).

De Sumatra post, 17-11-1902 melaporkan hasil pertandingan. Pertandingan antara Langkatters en Medanners yang dilangsungkan di Esplanade, Bindjei itu sangat seru dan keras. Ini adalah pertandingan antara Inggris melawan Belanda. Tim Langkat sebanyak tujuh pemain adalah anak Albion. Sebelum Langkat turun ke tengah lapangan sempat khawatir karena mereka belum pernah menang dan takut kalah besar. Kemudian, baru peluit dibunyikan, tim Medan sudah mengurung pertahanan Langkat dan tidak lama Medan berhasil membuahkan gol. Namun sebelum turun minum, Langkat berhasil membalas dan kedudukan menjadi imbang. Pada babak kedua, Langkat pelan tapi pasti berhasil menguasai keadaan dan kemudian berhasil menghasilkan dua buah gol dan kedudukan akhir menjadi 3-1. Inilah kemenangan pertama Langkat atas Medan. Sans rancune!

Seorang wisatawan Medan menceritakan kisah mereka di Bindjei yang dimuat di De Sumatra post, 17-02-1903. Kisahnya begini: 
Sociëteit Bindjei (1900)
‘Saya telah mendengar ada festival di Bindjei dan kedengarannya istimewa. Kemarin sore kami dengan kereta terakhir ke Bindjey, kami memiliki kesempatan untuk melihat kembang api yang megah. Kereta sesaat sebelum Timbang, Langkat melewati hutan terbakar. Kami turun. Lalu kereta menunggu dan kami naik lagi. Kami penumpang dan kereta tampak kotor, karena lidah api juga menyentuh kereta. Ternyata itu tentang hamparan hutan besar dan lalang yang mungkin dipicu oleh percikan api oleh lokomotif kereta yang sebelumnya. Ketika kami tiba di desa, kami melihat kegembiraan, tertawa, di sana sini berbagai bendera dan lentera, mereka lakukan dengan alasan sepak bola (mungkin maksudnya tim mereka baru saja meraih kemenangan). Pertandingan sepak bola antara Belanda dengan orang Inggris yang tinggal disini. Pertandingan itu dihadiri khalayak yang lebih besar, termasuk banyak wanita. Setelah tiba, kami melihat Manila Band di Taman Wilhelmina yang mana di sisi lain dari jalan masyarakat telah menyalakan lentera dan ratusan lampu kecil. Taman yang biasanya gelap menjadi taman yang menghasilkan taman yang indah, dan satu-satunya tontonan yang fantastis. Manil Band berada di titik yang lebih tinggi dari taman. Manila Band, yang memberikan juga untuk menikmati telinga dengan musik yang bagus. Festival dimulai pukul 8.30 dan pada pukul 9.00 oleh tuan rumah disediakan makanan. Almond, kismis dan jahe kering, dll, yang ditujukan untuk hidangan penutup. Di panggung, Presiden dari klub (sepakbola) tidak henti-henti berceloteh. Pukul 1.00 para tamu sudah banyak yang bangkit dari mejanya. Pukul 2.00 terdapat permainan dengan taruhan, seperti roulette. Ketika kami akhirnya meninggalkan partai itu, masih sempat dapat beristirahat beberapa jam sebelum keberangkatan kereta pertama ke Medan’.

Sportclub Sumatra’s Ooskust Menantang Langkat Sportclub

Rupanya kekalahan Sportclub membuat suasana tidak nyaman di Medan. Sportclub tidak puas. Raja sepakbola dikalahkan oleh tim kampong dari Langkat. Supporter, pemain dan official sepakbola Medan gerah. Tampaknya emosi yang muncul. Tidak lama setelah pertandingan yang berakhir kekalahan itu, Sportclub mengajak bertanding lagi, mengajak tarung di kandang Langkat sendiri. Kubu Langkat Sportclub tampaknya dingin-dingin saja menerima tantangan yang tidak lazim ini. De Sumatra post, 26-02-1903 melaporkan, bahwa: ‘hari Minggu tanggal 1 Maret akan dilakukan pertandingan sepakbola yang dimainkan di Esplanade, Bindjey, Sportclub Sumatra’s Oostkust akan datang. (tidak seperti biasanya) Sebuah kereta api khusus dari Bindjey pukul 7:00 malam dipesan khusus untuk membawa pulang segera pemaian Medan kembali ke ibukota (biasanya tim Medan ke Bindjei akan menginap). Perkiraan susunan pemain, Langkat: Stock (doel); Hinlopen en Young (achter); Van Kesteren van Rimburg, Pinckney en Schmoutzinger (midden); Schoutendorp, Weyerman, Hotchkiss, Thomson en Rattray (voorwaarts);  Medan: Ferguson (doel); Back en van Heil (achter); Jongencel, Schoevers en van Goch (midden); Langeveld, Wichers, Vervloet, Wols van der Wel en Samson (voorwaarts)’. 

Hasil pertandingan dilaporkan De Sumatra post edisi 02-03-1903:

‘Hujan petir yang terjadi sejak kemarin masih terasa hingga pagi hari ini. Tidak menyenangkan, tapi efeknya ada terasa, bahwa atmosfer mengalami pendinginan yang akan menyenangkan tim Langkat dan Deli di lapangan Esplanade, Bindjey yang indah. Dcli telah benar-benar datang untuk membalas dendam, karena dalam pertemuan terakhir Langkat Sportclub menang, dan kini Medan ingin menjemput kemenangan. Namun, apa dikata, Langkat memenangkan 2-1. Awalnya Medan langsung menyerang, Langkat kewalahan, untungnya kipper Langkat cukup sigap. Akhirnya terjadi gol, skor menjadi 0-1 buat Medan. Setelah interval istirahat, Medan nyaris membuahkan gol. Tapi sebaliknya, Langkat bangkit dan berhasil menyarangkan gol. Pemandu sorak lalu berteriak, Langkat 1 (Langkat one). (elemen bahasa Inggris di sini sangat kuat dan olahraga merupakan anak-anak dari Inggris). Akhir pertandingan Langkat menang dengan skor 2-1. Orang-orang berpikir, Medan menyiapkan keretanya untuk membawa pulang kemenangan, tetapi ternyata itu adalah kereta yang membawa tim yang kalah’.

***
Apakah kekuatan sepakbola di Sumatra Utara telah bergeser dari Medan ke Langkat? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Terus ikuti kisahnya pada artikel berikutnya bagaimana tumbuh kembang sepakbola pada awal munculnya semangat sepakbola di Sumatra Utara.

Siswa-siswa Docter Djawa School, Batavia
Sebagai perbandingan, di Soerabaija sudah diadakan kompetisi (reguler) sejak tahun lalu (1902). Sedangkan di Batavia baru akan diadakan pada tahun depan (1904). Jumlah klub yang akan ikut kompetisi perdana di Batavia sebanyak enam klub, yakni: Vios, BVC, Oliveo, Hercules, Vooruit, dan Dr. Djawa (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 18-07 -1904). Klub Dr. Djawa boleh jadi 100 persen pemainnya pribumi. Hal ini karena Docter Djawa School hanya diperuntukkan untuk mendidik anak-anak pribumi menjadi tenaga kesehatan yang lulusannya dikenal sebagai Dokter Djawa*.

Lantas, kapan kompetisi dimulai di Medan? Apakah cukup dengan dua klub yang ada, Sportclub Sumatra’s Oostkust dan Langkat Sportclub? Atau masih adakah klub baru yang muncul? Perlu dilacak!
*Docter Djawa School didirikan (secara terstruktur) tahun 1853 yang gelarnya disebut Dokter Djawa (Dr). Pada tahun kedua, 1854 sekolah kedokteran ini menerima dua siswa yang berasal dari Afdeeling Mandheling en Ankola dan kedua siswa ini (Si Asta dan Si Angan) adalah siswa pertama yang diterima dari luar Djawa (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855). Karena prestasi kedua siswa ini (kemampuan kognitif yang tinggi dan kemampuan bahasa Belanda yang memadai), pimpinan Docter Djawa School (yang rata-rata pertahun mendidik 8-10 siswa) meminta siswa yang berasal dari Mandheling en Ankola untuk didatangkan. Pada tahun 1856 dua siswa dari Mandheling en Ankola yang bernama Si Toga gelar Dja Dori dan Si Napang gelar Dja Bodi diterima dan telah mengikuti pendidikan (lihat Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad: algemeen advertentie-blad, 02-04-1857). Demikian seterusnya secara reguler anak-anak Mandheling en Ankola mengikuti pendidikan di Docter Djawa School ini.
Javasche Bank, Medan (1880)
Kurikulum Docter Djawa School ini diubah tahun 1875 yang mana lama pendidikan berubah dari tiga tahun menjadi tujuh tahun. Beberapa anak-anak Mandheling en Ankola yang menonjol (memiliki publisitas yang tinggi) adalah Si Ahmat (Nasoetion) yang seangkatan dengan Dr. Wahidin. Selain itu, dua anak Padang Sidempoean yang bernama Abdul Hakim (Harahap) dan Abdul Karim (Harahap) yang sekelas dengan Dr. Tjipto (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 28-01-1899). Beberapa tahun sebelumnya dua siswa asal Padang Sidempoean yang diterima Docter Djawa School bernama Haroen Al Rasjid dan Muhamad Hamzah. Keduanya lulus di tahun yang sama tahun 1903. Haroen Al Rasjid Nasoetion setelah selesai masa dinas di Padang dan Sibolga membuka klinik dokter praktek di Telok Betong. Dua anak Dr. Haroen yang terkenal adalah Ida Loemongga (dokter pertama pribumi yang meraih gelar PhD pada 1932 di Universiteit Utrecht) dan Mr. Gele Haroen (sarjana hukum lulus Universiteit Leiden 1938 yang kemudian menjadi Residen pertama Lampung).
Sedangkan Dr. Muhamad Hamzah (Harahap) setelah usai berdinas di Telok Betong kemudian pindah dan membuka klinik di Pematang Siantar. Dr. Muhamd Hamzah selama di Pematang Siantar pernah tiga periode menjadi anggota Dewan Kota (gementeeraads). Di Dewan Kota hanya ada tiga pribumi, selain Mugamad Hamzah adalah Madong Lubis dan Soetan Martoewa Radja (Siregar). Dr. Muhammad Hamzah di dalam masyarakat menjadi pembina Siantar Voetbal Bond. Dr. Muhamad Hamzah bersama teman-temannya yang lain (Soetan Pane Paroehoem, Alimoesa Nasoetion, Soetan Hasoendoetan Siregar) dari Padang Sidempoean mendirikan Bataksche Bank, bank pribumi pertama (lihat De Sumatra post, 23-11-1920).
Satu lagi yang terkenal dan sudah disebutkan sebelumnya adalah Dr. Radjamin Nasoetion, angkatan pertama STOVIA tahun 1902 yang lama pendidikan menjadi sembilan tahun, lulus tahun 1912. Dr. Radjamin Nasoetion berdinas di bea dan cukai, setelah dinas di berbagai tempat akhirnya ditempatkan di Medan. Radjamin Nasoetion adalah pendiri asosiasi sepakbola pribumi di Medan yang diberi nama Deli Voetbal Bond (lihat De Sumatra Post terbitan 13-02-1923). Setelah lama di Medan, Radjamin pindah ke Batavia lalu ke Soerabaija. Di kota tempat kelahiran teman akrabnya, Dr. Soetomo yang  sesama aktivis di STOVIA di masa lalu, kemudinan Radjamin Nssoetion terpilih menjadi anggota Dewan Kota. Di tengah masyarakat, Radjamin Nasoetion  melanjutkan hobinya menjadi pembina sepakbola pribumi di Soerabaija. Pada tahun 1942 Dr. Radjamin diangkat militer Jepang menjadi walikota Soerabaija dan ditunjuk lagi ketika era Republik. Dr. Radjamin Nasoetion adalah pribumi pertama yang menjadi Walikota Surabaya.
Sekadar tambahan: Abdul Hakim, SE, gubernur Sumatra Utara yang ketiga selain pelopor dibangunnya Stadion Teladan Medan, juga menjadi pelopor pendirian Fakultas Kedokteran yang menjadi cikal bakal Universitas Sumatera Utara (USU) dan menjadi Presiden pertama yayasan yang menaungi fakultas tersebut, sedang wakilnya adalah Dr. Mansoer (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-06-195). Yang membuat akte pendirian fakultas  kedokteran tersebut adalah Soetan Pane Paroehoem, anak Batoe na Doewa yang merupakan satu-satunya orang Sumatra (satu dari enam pribumi di Nederlansch Indie) yang berlisensi Notaris hingga tahun 1941. Hasan (Harahap) gelar Soetan Pane Paroehoem lulusujian notaris di Batavia tahun 1927 (lihat Het nieuws van den dag voor Nedelandsch Indie, 22-08-1927).


(bersambung)


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: