17/10/14

SMP Negeri 1 Padang Sidempuan: MULO Padang Sidempoean di Era Belanda’



MULO Padang Sidempuan (KITLV. foto sekitar 1936-1939
MULO adalah Sekolah Menengah Pertama pada era kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) berarti pendidikan dasar lebih luas. Sekolah MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap ibu kota kabupaten di Jawa. Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO, salah satunya terdapat di Padang Sidempuan. Sekolah MULO ini kini menjadi SMP Negeri 1 Padang Sidempuan.

Sejarah awal MULO Padang Sidempuan

Di Tapanuli, sudah terdapat MULO yang ditempatkan di Tarutung. Pada tahun 1926 MULO Tarutung dan beberapa muloschool yang lain di Jawa diizinkan untuk mendapat bantuan (subsidi) dari pihak partikelir (swasta). Sekolah MULO yang kedua akan didirikan di Keresidenan Tapanuli.

Bataviaasch nieuwsblad, 08-10-1929: ‘Residen Tapanuli ingin menambah satu MULO setelah sebelumnya MULO pertana di Tapanuli telah didirikan di Tarutung. Namun masalahnya adalah apakah lokasinya di Padang Sidempuan atau di Sibolga (ibukota Residen Tapanuli). Peluang ini dimanfaatkan oleh persatuan kuria (Koeriabond) di Padang Sidempuan dengan mengirimkan telegram meminta Direktur Pendidikan di Batavia agar MULO itu ditempatkan di Padang Sidempuan. Belakangan, warga Sibolga juga mengirmkan telegram ke Batavia agar sekolah ‘elit’ itu ditempatkan di Sibolga. Melihat persaingan itu, Direktur O dan E lantas mempertimbangkan dan harus memilih antara dua tempat tersebut. Di Sibolga cukup tersedia perumahan yang lebih baik kepada mahasiswa, guru dan juga untuk gedung sekolah sementara yang lebih nyaman, sementara di Padang Sidempuan standar hidup jauh lebih mahal, tetapi georafinya berada tempat yang lebih tinggi dan iklim yang lebih baik daripada Sibolga’.

Akhirnya, MULO ditetapkan di Padang Sidempuan. Pada awal tahun 1930 MULO dibuka di Padang Sidempuan. Lokasi bangunan yang dipilih adalah lahan yang dulunya merupakan bekas kantin (tempat makan) para tentara Belanda. Nama kampung Kantin diambil dari lahan ini.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 31-01-1930: ‘ada dua MULO dibuka tahun ini yang ini akan dibuka pada awal tahun ajaran 1930/1931. Pembukaan MULO Padang Sidempuan ini bersamaan dengan MULO di Jember’.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 18-06-1930: ‘P.K. Erkelens ditunjuk untuk menjadi guru di MULO afdeeling der AMS di Padang Sidempuan’.

De Indische courant, 23-07-1930: ‘Diumumkan bahwa posisi Direktur Muloschool ke Padang Sidempoean, diangkat K.A. Venselaar seorang guru di Mulo Bandung’.

Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 19-08-1930: ‘ditunjuk untuk menjadi Direktur MULO Padang Sidempuan, T. Mayering’.

Jalur masuk MULO Padang Sidempuan

Siswa yang diterima di MULO Padang Sidempuan adalah lulusan HIS Padang Sidempuan (sekolah bahasa pengantar bahasa Belanda). Namun pada tahun kedua setelah pendirian, siswa yang diterima juga diambil dari lulusan sekolah rakyat, namun seleksinya sangat ketat.

De Sumatra post, 05-05-1931: ‘Sebanyak 60 anak laki-laki dan perempuan mengambil bagian dalam ujian masuk di MULO Padang Sidêmpoean, yaitu mantan murid dari sekolah dasar di sekitar Padang Sidempuan dan juga dari Pematang Siantar. Dari jumlah 60 anak laki-laki dan perempuan hanya  empat yang berhasil, seorang diantaranya gadis dari Sibolga, sementara yang lain ditolak. Keempat lulus seleksi ini di tempatkan di kelas pertama’.

De Sumatra post, 27-05-1931: ‘Menurut telegram dari Aneta Batavia, Mr. F. Meyering Direktur MULO Padang Sidempoean, dipindahkan menjadi guru di MULO Surabaya’.

Bataviaasch nieuwsblad, 23-06-1931: ‘L.F. Flipse guru di MULO Djokja ditempatkan menjadi Direktur di MULO Padang Sidempuan’.

De Indische courant, 07-09-1931: ‘ditunjuk H.J. van dern Berg untuk menjadi guru di MULO Padang Sidempuan, sebelumnya adalah guru Eropa di Malang’.

De Indische courant, 15-12-1931: ‘Karena layanan selesai sebagai 30 Juni 1932 permintaan terhormat dan - hak untuk pensiun dari PHK layanan negara A. Rookhuizen, direktur sekolah MULO di Padang Sidempoean. Atas permintaan, karena layanan selesai dengan efek dari 30 Juni 1932 dan terhormat berhak untuk pensiun dari PHK layanan di negara tersebut’.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 17-05-1932: ‘Resmi dilaporkan dari Buitenzorg, yang mengatakan atas nama rakyat Tapanoeli Selatan pada pembukaan gedung baru sekolah MULO di Padang Sidempoean oleh Residen Tapanoeli atas permintaan melalui telegraf dari anggota Volksraad Abdul Rashid, diucapkan terima kasih’.

De Sumatra post, 18-06-1932: ‘guru M. Hagenaars dari MULO Fort de Kock ke MULO Padang Sidempuan’.

Lulusan pertama MULO Padang Sidempuan

De Sumatra post, 13-05-1933: ‘telah dilakukan ujian akhir di MULO Padang Sidempuan. Mereka yang lulus adalah Hakim Pane, Lolatan Pane, Maratoea, Petrus, Masarip, Idris dan Firman’.

De Sumatra post, 08-07-1933: ‘Ditransfer sekolah menengah umum di Padang Sidempoean (Tapanoeli) untuk sekolah menengah umum di Bandung, J. van Hinte’.

De Sumatra post, 21-12-1933: ‘E. Looman, guru sekolah menengah ditempatkan pada sekolah menengah sekolah umum di Padang Sidempoean’.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 09-07-1938: ‘Diangkat Direktur sekolah MULO di Padang Sidempoean, J.S. Krenning, sekarang dia adalah direktur sekolah MULO di Medan. Diangkat Direktur untuk sekolah MULO di Poerwokerto J. Rondhuis yang saat ini menjabat Direktur sekolah MULO di Padang Sidempoean’.

Bataviaasch nieuwsblad, 23-07-1938: ‘Bertanggung jawab atas persepsi hubungan sekolah-guru sekolah menengah di sekolah menengah Gouvernements sekolah di Padang Sidempuan B.H. Schoorenberg, sebelumnya kepala sekolah di Bandung’.

De Indische courant, 25-07-1938: ‘ditransfer guru sekolah MULO di Batavia ke sekolah MULO di Padang Sidempuan, W.P.G.H. Kratochwill’.

Tim sepakbola MULO Padang Sidempuan ke Medan

De Sumatra post, 14-10-1938: ‘tanggal 15 Oktober akan dilansungkan pertandingan sepak bola di lapangan Glugur (Gloegoer-veld) antara tim sepakbola MULO Medan melawan tim sepakbola MULO Padang Sidempoean’.

De Sumatra post, 27-08-1940: ‘ditempatkan di Muloschool Padang Sidempoean L. Loemban Tobing, sekarang Europeesch schoolhoofd der Hollandsch- Inlandsche School di Dolok Sanggoel’.

De Sumatra post, 06-03-1941: ‘..rencana pendirian A.M.S di Fort de Kock di dasarkan pada semakin banyaknya lulusan MULO di Padang dan Bukit Tinggi. Untuk meningkatkan kapasitas sebuah sekolah A.M.S dapat didukung tamatan dari MULO Padang Sidempuan terutama murid yang berasal dari Mandailing dan bahkan dari MULO Palembang. Karena kenyataannya selama ini bahwa telah banyak tamatan MULO di empat sekolah itu yang melanjutkan ke A.M.S di Jawa. Selain terlalu jauh, juga menjadi penghambat bagi anak-anak gadis. Namun persoalannya, hal yang dihadapi pendirian sekolah ini adalah kekurangan ketersediaan guru..’.

Soerabaijasch handelsblad, 28-07-1941: ‘ditransfer guru sekolah MULO di Padang Sidempuan, W.P.G.H. Kratochwill ke sekolah MULO di Palembang’.’

Berita-berita tentang MULO Padang Sidempuan menghilang, apakah sekolah menengah pertama ini masih eksis tidak diketahui. Namun pada tahun 1941 merupakan awal invasi Jepang ke Indonesia temasuk ke Padang Sidempuan.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo ‘doeloe’.


Tidak ada komentar: