21/10/14

‘Bange’ di Tapanuli, ‘Ampo’ di Jawa: Tanah yang Bisa Dimakan, Enak dan Lezat



Dalam buku Prof dr. G.A. Wilken berjudul ‘Handleiding voor de vergelijkende volkenkunde van Nederlandsch-Indie’ tidak menyebut tentang geopbagie (tanah liat yang bisa dimakan). Seseorang merasa perlu melengkapi yang terdapat dalam buku Wilken tersebut dengan sebuah tulisan yang berjudul ‘Eenige Medeelingen Omtrent Het Voorkomen van Geophagie in de Resitentie Tapanoeli’ yang dimuat dalam koran Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad yang terbit pada 25-06-1894. Sumber tulisan ini berasal dari sebuah chapter dalam Tijdschrift voo Indische Taal-, Land- en Volkenkunde yang diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap van Konsten en Wetenschappen dengan redaksi J.H. Abendanon en P.J.F Louw dengan nara sumber A.L. van Hasselt, Resident Tapanoeli, E.W.L von Faber abtenaar dan Direktur van O, E,N plus catatan J. Baak, seorang apoteker militer.

Tulisan tersebut intinya sebagai berikut:

Ada kebiasaan makan tanah liat (yang disebut tano bange) di sebagian besar Tapanuli, seperti di Baros, Siboga, Batang Taroe, Ankola, Sipirok, Padang Lawas,  Groot and Klein Mandheling, Batang Natal, Oeloe en Pakanten, Natal, Toba, Silndoeng dan Nias. Namun, kebiasaan ini hanya ditemukan pada aat terjadi bencana kelaparan. Di Sipirok, kebiasaan ini muncul ketika kerap terjadi di masa lalu perang antar kampong. Untuk memenuhi kebutuhan darurat para pria mencoba mencari dan menemukan tanah liat yang memang tersedia di daerah itu—enak dimakan dan memang lezat. Mereka menyebutnya bange, bangei, atau tano bango. Bange ini dapat ditemukan di lapisan tanah liat sepanjang lereng gunung, tepi sungai dan dataran yang kurang subur dengan vegetasi minim seperti ilalang. Spesies bange ini berbeda dalam warna dan kandungan air: abu-abu merah (lereng gunung); abu-abu terang putih kekuningan (sungai). Yang paling dicari adalah yang di sungai karena memang jumlahnya terbilang banyak. Di Toba bango ini lazim diperdagangkan di pasar (onan).

Rasa bange ini bermacam-macam. Ada yang rasa asam, kadang-kadang asin. Sedang aroma bange ini unik (harum). Untuk penggunaannya disiapkan dengan cara yang sangat sederhana yakni dipotong menjadi semacam biscuit kecil yang dibentuk menjadi berupa bola. Dapat ditambahkan garam atau dalam beberapa hari di dalam sebuah wadah direndam dengan air yang ditaburi garam lalu dikeringkan. Di Mandheling bange ini diproduksi dalam bentuk pipa bambu dan kemudian dikeringkan di bawah matahari. Juga ditemukan di Mandheling dan Batang Taroe disimpan dalam keranjang yang terbuat dari pandan lalu dikeringkan.

Dalam masa damai, bange ini banyak dikonsumsi oleh para ibu hamil yakni sebanyak dua potong ‘biskuit’ setiap hari. Adakalanya anak-anak juga memakan biscuit alam ini. Untuk jumlah kecil misalnya makan bange dapat memperbaiki pencernaan,  tetapi menggunakan terlalu banyak justru kadang-kadang menyebabkan sembelit yang parah. Di Sipirok bange ini digunakan sebagai cara mencegah diare (baramoenji). Prosesnya direndam dalam air kunyit ditambah garam.

Konsekuensi dari bange ini sebagai pengobatan belum terjelaskan. Juga disebutkan bahwa bahan bange ini dapat mengobati penyakit mata. Kontraindikasinya adalah jika hanya dikomsumsi relatrif sedikit, memang benar-benar tidak berbahaya. Yang jelas tampak sekali kebiasaan mangan bange ada pada wanita-wanita. Di dalam sebuah majalah, perihal ini pernah dibahas dan hanya ada di Residentie Tapanoeli. Kebiasaan makan tanah liat ini bukan baru karena sudah ditemukan di dunia kuno (dahulu kala).

Uniknya, tanah pemberian bumi ini juga dapat sebagai anti penyakit dalam perut dan mampu meredakan rasa lapar untuk beberapa waktu. Namun demikian bange ini sebagai pengganti makanan benar-benar tidak cocok.  Menurut seujumlah pihak penggunaan yang juga sering tidak selalu mempengaruhi kesehatan, namun bagaimanapun pada kenyataannya tidak selalu demikian.

***
Ampo
Bange di Jawa, Ampo (timlo-net)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Ampo adalah makanan yang terbuat dari tanah liat yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat,  dan Jawa Timur, terutama wilayah Tuban. Bahan dasar makanan ini murni terbuat dari tanah liat tanpa ada campuran bahan apapun.  Ampo biasanya dikonsumsi sebagai makanan ringan atau camilan, terutama digemari oleh kalangan wanita yang sedang hamil. Kebiasaan makan lempung ini disebut juga dengan geofagi, dilakukan oleh beberapa masyarakat di belahan dunia, biasanya dimiliki oleh orang yang tinggal di daerah tropis dan hangat. Kebiasaan ini banyak dimiliki oleh masyarakat dari berbagai negara di dunia, meski sebagian besar negara yang memiliki kebiasaan memakan tanah liat ini tidak pernah mengakuinya.

Mitos. Makanan dari tanah liat yang diberi nama "Ampo" ini sudah menjadi makanan tradisional yang dipercaya oleh masyarakat di Pulau Jawa, terutama masyarakat di Jawa Tengah dan Jawa Timur dipercaya dapat menguatkan sistem pencernaan. Bahkan memakan tanah liat juga dipercaya sebagai obat yang dapat mengobati beberapa macam penyakit.

Keuntungan. Sebuah studi menyebutkan bahwa ternyata tanah liat atau lempung yang steril tersebut memiliki efek menyamankan perut dan membantu melindungi dari serangan virus dan bakteri. Tanah liat juga bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikroba, patogen dan virus. Sehingga lempung yang dimakan itu bisa menjadi semacam pelindung, semacam masker lumpur untuk usus.

Kerugian. Ada risiko yang jelas dalam konsumsi tanah liat yang terkontaminasi oleh kotoran hewan atau manusia, khususnya risiko dari telur parasit, seperti cacing gelang yang dapat tinggal selama bertahun-tahun di dalam tanah dan dapat menimbulkan masalah. Juga dapat meningkatkan risiko terjangkit Tetanus. Namun, risiko ini umumnya sudah dipahami oleh sebagian besar masyarakat atau suku yang mengonsumsi tanah liat. Kegemaran anak-anak untuk terlibat dalam mengonsumsi ampo membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi cacing. Bahaya lain yang terkait dengan mengonsumsi tanah liat mencakup kerusakan enamel gigi, menelan berbagai bakteri, berbagai bentuk pencemaran tanah, dan obstruksi usus. Namun proses pengolahan tanah liat yang cukup bagus dengan cara memasak atau dipanggang dapat mengurangi risiko tersebut.

Cara Pembuatan. Cara membuat Ampo sangat sederhana dan mudah. Namun, tanah yang digunakan sebagai bahan baku membuat ampo tidak bisa sembarangan, melainkan harus berjenis tanah liat yang bertekstur lembut dan bebas dari pasir, kerikil, atau batu. Dari tanah yang sudah dikumpulkan, pembuat kemudian membentuk semacam adonan berbentuk kotak atau bentuk tertentu lainnya dengan menambahkan air secukupnya agar adonan tanah menjadi kalis dengan ciri tidak lengket di tangan. Untuk membuat adonan kotak tersebut, tanah ditambah air sedikit demi sedikit sambil sesekali ditumbuk dengan alat semacam palu besar dari kayu. Setelah adonan kotak siap, proses berikutnya adalah mengikis atau menyerut tanah di bagian atas adonan sedikit demi sedikit dengan menggunakan bilah pisau bambu. Hasil serutan tanah yang berbentuk seperti stik wafer dengan panjang 6-8 cm itu yang disebut ampo. Ampo kemudian dikumpulkan dan ditempatkan pada semacam periuk gerabah tanah liat untuk diasapi di atas tungku kayu bakar.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempp doeloe dan sumber masa kini.

Tidak ada komentar: