28/10/14

Bag-3. Generasi Pertama Pelajar Tapanuli Selatan: Alumni Negeri Belanda Merintis dari Bawah hingga Volksraad

Gedung Volksraads di Batavia



Success story Soetan Casajangan dari Batunadua yang sekolah di Negeri Belanda selalu mendapat perhatian media di Nederlandch Indie sejak 1905 dan tak terkecuali koran Sumatra Post yang terbit di Medan. Dari sedikit mahasiswa pribumi di Negeri Belanda, hanya Soetan Casajangan sendiri yang berasal dari Sumatra. Kerena itu, setiap kejadian yang dialami Soetan Casajangan, koran Sumatra Post juga memberitakannya. Namun demikian, berita itu tidak kunjung mampu memicu para pelajar Sumatra datang ke negeri Belanda untuk sekolah tinggi dan malah pelajar dari Jawa yang terus engalir.

Baru pada tahun 1910, seorang anak Sipirok bernama Abdoel Firman gelar Maharadja Soangkoepon  muncul di Negeri Belanda untuk studi. Tempat studi Soangkoepon berada di Leiden, sementara Soetan Casajangan tengah mengikuti kuliah untuk mengambil akte kepala sekolah di Harlem. Kemudian menyusul Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia lahir di Padang Sidempoean, 1896 dengan menumpang kapal s.s. Prinses Juliana berangkat 2 November 1911 dari Batavia menuju Genoa 25 November dengan nama Si Todoeng.

Abdoel Firman Siregar gelar Maharadja Soangkoepon: Macan Parlemen dua periode di Batavia

Kisah Abdoel Firman sangatlah menarik. Selesai sekolah rakyat di Sipirok lalu merantau ke Medan. Di Medan, 1903  Abdul Firman melamar dan sembilan orang mengikuti ujian untuk klein ambtenaar. Hanya dia sendiri yang pribumi. Hasilnya tidak diterima. Abdul Firman ternyata tidak patah arang. Modal sekolah rakyat tidak cukup. Tahun itu juga ia mengikuti ujian masuk ELS (Europeesche Lagere School) sehubungan dengan diperbolehkannya warga pribumi utama. Sekolah ini lamanya tujuh tahun. Setelah lulus di Medan (1910) ia tidak ke Batavia sebagaimana orang-orang kebanyakan melamar ke STOVIA. Abdul Firman justru menuju Belanda. Dari Belawan ia berangkat dengan kapal Prinses Juliana dan berlabuh di Rotterdam. Di pelabuhan besar ini, Abdul Firman dijemput Soetan Casajangan dan diantar ke Leiden untuk mencari sekolah tinggi.

Abdul Firman tiba-tiba menjadi terkenal di Negeri Belanda karena namanya diberitakan di koran-koran yang terbit sekitar Maret 1912. Apa pasal? Dua imigran dari Madura terlibat perkelahian dengan sesama imigran dari Jawa (oost java), korban akhirnya meninggal dunia akibat tusukan. Di pengadilan Amsterdam terdakwa disidangkan dan menghadirkan saksi-saksi. Aparat pengadilan bingung, karena para imigran (terdakwa dan saksi-saksi) tidak bisa berbahasa Belanda. Untuk mencari penerjemah sekaligus untuk pemandu sumpah (secara Islam) ternyata tidak mudah. Dari sejumlah mahasiswa yang ada hanya Abdul Firman yang bersedia dan sukarela (tanpa paksaan). Dari namanya memang pantas tetapi ternyata juga Abdul Firman adalah orang yang alim. Karenanya masyarakat Belanda menganggap Abdul Firman adalah pemimpin Islam dari para imigran dari Hindia Belanda. Abdul Firman tidak keberatan.

Selesai studi Abdul Firman coba membuka usaha firma di Amsterdam di awal 1914 (iklan di koran). Akan tetapi tidak berhasil. Ini kegagalan kedua Abdul Firman. Dia tidak patah arang. Lalu Abdul Firman pulang ke tanah air pada tanggal 27 Oktober 2014 dengan kapal s.s. Loudon langsung ke Jawa. Di Batavia, Soangkoepon melamar menjadi ambtenaar dan berhasil serta diterima. Abdul Firman lantas ditempatkan di kantor asisten residen Asahan, Sumatra Timur. Tidak lama, lantas kemudian, Soangkoepon dipindahkan ke kantor asisten residen Simalungun pada tahun 1915.

Pada tahun 1917, Abdul Firman yang kini menjadi pegawai di kantor Asisten Residen Simeloengoen dan Karolanden di Pematangsiantar mencalonkan diri untuk kandidat Volksraad dari wilayah pemilihan Pematang Siantar (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 07-12-1917). Di koran ini juga mentornya dulu di Negeri Belanda, Soetan Casajangan mencalonkan diri dari wilayah pemilihan Batavia. Keduanya sama-sama gagal. Abdul Firman tidak patah arang, lantas mencalonkan diri menjadi anggota Dewan Kota Pematang Siantar. Abdul Firman berhasil.

Setelah berhenti di dewan kota, Abdul Firman kembali bertugas sebagai pegawai negeri. Pada tahun 1920, Abdul Firman ditunjuk untuk menjadi commies opz.di kantor Residen di Sibolga. Tidak lama, lalu dipindahkan ke Kotanopan (Zuid Tapanoeli) dan kemudian 1922 dipindahkan lagi ke kantor Tanjung Baleh. Selanjutnya 1926, Abdul Firman ditunjuk menjadi anggota Dewan Kota Tandjong Baleh. Setahun kemudian, mencalonkan diri untuk Volksraad di Batavia mewakili wilayah pemilihan Oost Sumatra. Alhamdulilah, berhasil melenggang ke ‘Senayan’ (waktu itu di Pajambon).

Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia

Setelah selesai studi di Negeri Belanda, Todoeng Soetan Goenoeng Moelia langsung pulang ke tanah air. Karena kekuarangan guru di tanah air, Todoeng tidak sulit menjadi guru dan diangkat sebagai pegawai pemerintah. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 02-05-1921 memberitakan bahwa Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia, guru pangkat kelas-2 Europeesch lager onderwijs ditunjuk menjadi Kepala sekolah Hollandsch Inlandsche school (HIS) di Kotanopan (Tapanoeli).

Todoeng mendapat kesempatan menerima beasiswa untuk studi ke Negeri Belanda untuk mendaptkan gelar PhD. Nieuwsblad van het Noorden, 09-12-1933 mengabarkan bahwa Todoeng telah lulus di Rijksuniversiteit, Leiden mendapat doctor di bidang sastra dengan tesis berjudul: ‘Het primitive denken in de modern wetenschap’.

Pada pertengahan Oktober 1934 akan dilakukan pemilihan anggota dewan untuk Volksraads. Dalam fase penjaringan di wilayah Tapanoeli, terdaftar tiga orang kandidat yakni. Abdul Firman (kini menjadi guru HIS di Padang Sidempuan), Soetan Parlindoengan, demang di Kotanopan dan Radjamin, pegawai bea dan cukai di Surabaya. Persatuan kuria masih menginginkan Ali Moesa yang menjadi kandidat. Anggota Dewan Volksraad mewakili wilayah ini sebelumnya adalah Dr. Andul Rasjid. Untuk pemilihan mendatang, nama Abdul Rasjid belum ada yang mengusulkan. Namun pada ‘detik-detik terakhir’ muncul dan menguat dua kandidat yakni Abdul Rasjid dan Dr. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia. Akhirnya yang menang mewakili Tapanoeli di tahun 1935 adalah Abdul Rasjid. Sementara, Abdul Firman Siregar gelar Maharadja Soangkoepon menang meakili Sumatra Timur. Abdul Firman dan Abdul Rasjid merupakan periode kedua mereka di Volksraads.

Di Batavia, proses penyusunan kelengkapan anggota dewan Volksraads terus diolah. Anggota yang mewakili wilayah sudah final. Namun anggota dewan yang ditunjuk masih terus berlangsung. Nama Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia mengemuka di Batavia. De Sumatra post, 16-05-1935 memberitakan nama-nama lengkap anggota Dewan Volksraad dimana di dalamnya termasuk Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia.sebagai anggota dewan yang ditunjuk

Alineoddin Toengkoe Sutan gelar Mangaradja Enda Boemi: Ahli Hukum Pertama dari Tanah Batak

Alinoedin anak Batangtoru diterima di sekolah hukum (Rechts School) di Batavia pada tahun 1915. Pendidikan menengah (MULO) dilalui di Padang sebelum melanjutkan sekolah hukum di Batavia. Di sekolah ini, Enda Boemi adalah anggota tim catur kampusnya. Setelah lulus Rechts School, Enda Boemi diangkat sebagai pegawai pemerintah di Badan Pertanahan. Kemudian setelah beberapa tahun menjadi pegawai ia mendapat beasiswa untuk berangkat ke Negeri Belanda untuk mencapai rechtsstudiĆ«n. Sebelumnya ia juga berprofesi sebagai pengacara. Setelah lulus di Leiden dan mendapat gelar doctor (PhD), 1925, Enda Boemi diangkat menjadi Presiden Pengadilan di Semarang. Enda Boemi adalah Ahli Hukum pertama dari Batak dan yang kedua dari Sumatra. Selanjutnya Enda Boemi dipindahkan ke Surabaya untuk menjabat Wakil Presiden Landraad en Justitie. Setelah cukup lama di kota ini, Enda Boemi dipindahkan ke Buitenzorg. Enda Boemi anggota klub Catur Witte Paard Buitenzorg sempat menjadi kandidat Volksraad dari Tapanoeli, sebelum diberitakan telah meninggal dunia (1930). Enda Boemi meninggal di Buitenzorg dalam usia muda, 35 tahun karena sakit ginjal. Meninggalkan seorang istri J. H. ENDA Boemi – v. d. DOP dan anaknya bernama  JOHN. Sepeninggal Enda Boemi, istrinya melanjutkan kantor pengacara yang terdaftar di Batavia yang telah mereka rintis bersama.

Volksraad: Abdul Firman vs Abdul Rasjid

Pada tahun 1930 telah dilakukan penjajakan untuk Volksraad dari Tapanoeli. Sebelumnya yang mewakili Tapanoeli adalah Ali Moesa dari Koeriabond. Oetoesan Sumatra mengabarkan bahwa kandidat yang ada saat ini adalah Dr. Abdul Rasjid, M. Soangkoepon, anggota Volksraad, Abdul Azis Nasoetion, landbow leeraar direktur Muhamdiyah di Fort de Kock dan Mr. dr. Alinoedin di Buitenzorg. Dari nama-nama tersebut akhirnya anggota dewan mewakili Tapanoeli adalah Abdul Rasjid, sementara Abdul Firman mewakili wilayah Sumatra Timur..

Siapa Abdul Rasjid? Dia adalah sesungguhnya orang Melayu dari Sumatra Timur. Abdul Rasjid setelah lulus STOVIA ditempatkan di Tapanuli Selatan. Dia cukup lama bertugas untuk memebasmi endemik di daerah ini yang meliputi Padang Sidempuan, Panyabungan, Kotanopan dan Sipirok. Dia sangat dekat dengan masyarakat dan sangat dikenal. Permasalahannya, ketika panitia pemilihan pusat mengajukan kandidat untuk Tapanuli, ternyata tidak ada calon yang memiliki elektabiltas tinggi meski banyak anak-anak Tapanuli Selatan yang kapabel baik alumni STOVIA maupun Rechtschool. Sementara Abdul Firman sudah dimunculkan namanya di Sumatra Timur. Ternyata Abdul Rasjid mendapat respon positif di Tapanuli Selatan. Ketika nama Todoeng diusulkan oleh panitia pusat, untuk menyaingi Abdul Rasjid, Todoeng sudah kalah popular karena telat mengapungkan diri. Meski Todoeng adalah anak Padang Sidempuan, tapi Todoeng sendiri hanya dikenal terbatas di Kotanopan (pernah kepala HIS Kotanopan) sedangkan Abdul Rasjid walau dia seorang Melayu tapi lebih dikenal  karena pernah bertugas sebagai pengawas kesehatan di Kotanopan, Panyabungan, Padang Sidempuan dan Sipirok.

Abdul Firman dan Abdul Rasjid seakan-akan tukar tempat. Abdul Firman orang Batak dari Tapanuli Selatan dicintai rakyat di Sumatra Timur, sementara Abdul Rasjid orang Melayu dicintai oleh orang Tapanoeli khususnya di Tapanoeli Selatan. Keduanya yang bernama depan Abdul ini sama-sama bekerja keras untuk masing-masing konstituennya. Atas dasar inilah keduanya terpilih. Istilah sekarang, demokrasi dan pilihan rakyat sudah berjalan pada relnya di Tapanuli Selatan. Bhinnekan Tunggal Ika.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: