27/10/14

Bag-2. Generasi Pertama Mahasiswa Tapanuli Selatan: Soetan Casajangan, Pendiri Perhimpunan Pelajar di Eropa


Radjioen gelar Soetan Casajangan Soripada
Willem Iskander pelopor pendidikan di Nederlansch-Indie dari Mandailing telah tiada, meninggal di Negeri Belanda (1876) dalam tugas belajar untuk mendapatkan akte kepala sekolah. Sementara itu, Kweekschool Padang Sidempuan telah pula selesai dibangun. Pada tahun ajaran pertama (1879) di Kweekschool Padang Sidempuan, posisi kandidat Willem Iskander diberikan kepada seorang Belanda bernama L.K. Harmsen, kepala sekolah di Kweekschool Fort de Kock. Pada tahun ajaran baru ini murid yang mengikuti pelajaran sebanyak 18 orang yang datang dari berbagai daerah. Salah satu murid dari angkatan pertama ini adalah Si Saleh dari Sabungan yang kemudian dikenal dengan nama Dja Endar Moeda di kemudian hari menjadi seorang Raja Persuratkabaran di Sumatra.

Sejak keberangkatan Willem Iskander ke Negeri Belanda hingga selesainya Kweekschool Padang Sidempuan, aktivitas belajar mengajar di Kweekschool Tano Bato vakum dan konsekuensinya selama beberapa tahun tidak ada murid baru dan calon guru baru di Tapanoeli. Figur sentral Willem Iskander pada Kweekschool Tano Bato menjadi alasan utama mengapa ditutup. Tidak demikian dengan Kweekschool Padang Sidempuan. Setelah penunjukan Direktur Kweekschool Padang Sidempuan, sejumlah guru bangsa Belanda berdatangan. Salah satu guru yang ditunjuk untuk mengajar di sekolah guru ini adalah Charles Adriaan van Ophuysen (1881).

Adriaan van Ophuysen bukan hanya berprofesi guru, tetapi juga seorang terpelajar yang terus belajar (ilmuwan). Secara struktural selama di Kweekschool Padang Sidempuan Adriaan van Ophuysen dipromosikan menjadi direktur sekolah, secara fungsional (akademik), Adriaan van Ophuysen terus melakukan tugas mengajar dan juga tugas riset mandiri (mempelajari sastra Batak dan Melayu) mempublikasikan karya-karyanya sebagai buku-buku bacaan di sekolah maupun bukua bacaan umum. Semasa Adriaan van Ophuysen menjadi direktur (1885-1890) salah satu muridnya yang paling bersemangat adalah Si Radjiun dari Batunadua. Setelah lulus kweekschool, Radjiun menajdi guru dan kemudian kepala sekolah di Simapilapil. Di lain hal, karena alasan keuangan Negara, Menteri Pendidikan menutup Kweekschool Padang Sidempuan tahun 1893, guru-guru dan calon murid baru diarahkan ke Kweekschool Fort de Kock (Bukittinggi). Salah satu lulusan terakhir dari kweekschool ini adalah Soetan Martoewa Radja dari Sipirok yang dikenal kemudian sebagai ayah dari Mangaradja Onggang Parlindungan, penulis buku Tuanku Rao yang controversial itu.

***
Radjiun gelar Soetan Casajangan mulai galau di Simapilapil. Kweekschool Padang Sidempuan akan ditutup. Ini berarti cita-cita Willem Iskander yang ingin mendapat akte kepala sekolah dan akan diproyeksikan menjadi Direktur Kweekschool Padang Sidempuan tidak tercapai. Di dalam kegalauan itu, Radjiun menangkap cita-cita Willem Iskander ini untuk direalisasikan. Soetan Casajangan mulai mempersiapkan diri dengan meningkatkan kemampuan bahasa Belanda dengan belajar privat. Dengan tidak ada beasiswa namun didukung ekonomi keluarga yang kuat di Batunadua, Soetan Casajangan berketetapan hati dan berangkat studi ke Negeri Belanda. Willem Iskander sendiri mendapat akte guru sekolah pada studi ke Belanda yang pertama, namun pada studi yang kedua ke negeri Belanda untuk mendapatkan akte kepala sekolah gagal karena meninggal dunia di Belanda. Soetan Casajangan berencana untuk mendapatkan akte guru sekolah dan juga akte kepala sekolah (hoofdacte). Pendek kata, Soetan Casajangan ingin meraih cita-cita dari Willem Iskander serta menjadi Direktur Kweekschool Fort de Kock.

***
Singkat cerita, Soetan Casajangan berangkat dari Batavia 5 Juli 1905 dan tiba di Rotterdam 30 Juli 1905. Soetan Casajangan merupakan akademisi kedua yang datang ke negeri Belanda untuk menempuh pendidikan tinggi. Sehari kemudian Soetan Casajangan berkunjung ke rumah mantan gurunya (di Kweekschool Padang Sidempuan) yang sudah menjadi guru besar di Universiteit Leiden yakni Profesor Charles Adriaan van Ophuysen. Sebelum Soetan Casajangan memulai kuliah di Rijkskweekschool (setingkat IKIP sekarang) di Haarlem, Soetan Casajangan mengajak pemuda-pemudi pribumi untuk datang menuntut ilmu jauh ke negeri Belanda yang diceritakannya dalam sebuah artikel singkat di Bintang Hindia yang terbit 1905.

Deskripsi yang menarik tersebut nyata-nyata meningkatkan minat pemuda terpelajar di Indonesia dikemudian hari. Jumlah yang datang ke Belanda semakin meningkat dan pada tahun 1907 diperkirakan jumlahnya sebanyak duapuluhan akademisi muda yang tengah belajar di Belanda [bandingkan dengan akhir tahun 1905, jumlah mahasiswa baru enam orang]. Sebagai mahasiswa senior dan berprofesi guru di tanah air, Soetan Casajangan merupakan pelajar pertama di luar negeri yang tidak berbicara lagi tentang dirinya sendiri tetapi juga tentang soal kebangsaan dan nasib bangsanya sendiri. Bangsa pribumi harus ditingkatkan pendidikannya juga perlu mempelajari bahasa asing (waktu itu bahasa internasional adalah Bahasa Belanda). Menurut Soetan Casajangan, memiliki pengetahuan bahasa asing melalui pendidikan merupakan kunci untuk memperoleh pengetahuan secara luas.

Soetan Casajangan memulai memperjuangkan pendidikan untuk bangsanya sendiri melalui perlunya mendidirikan sebuah organisasi mahasiswa. Gagasan pendidirian organisasi mahasiswa ini dapat diwujudkan dengan berdirinya Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) yang disahkan pada tanggal 25 Oktober 1908 di Leiden. Soetan Casajangan menjadi presiden pertama. Organisasi ini menggalang persaudaraan orang Indonesia yang berada di negeri Belanda yang dikemudian hari menjadi cikal bakal Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Eropa.

Soetan Casajangan juga menjadi mentor para mahasiswa baru asal Indonesia (termasuk Todung Sutan Gunung Mulia Harahap dan Mangaraja Soangkupon Siregar). Soetan Casajangan akhirnya lulus dan menderima diploma (akte) guru sekolah 1909, sebagaimana telah diperoleh Willem Iskander. Selanjutnya Soetan Casajangan mengambil akte kepala sekolah (hoofdacte) selama tiga tahun. Ketika tengah sibuk-sibuk kuliah, sepak terjang Soetan Casajangan sudah diketahui umum, karena itu Soetan Casajangan diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien (Organisasi para ahli/pakar bangsa Belanda di negeri Belanda dan di Hindia Belanda) untuk berpidato dihadapan para anggotanya.

Dalam forum yang diadakan pada tahun 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi’. Akhirnya Soetan Casajangan berhasil meraih akte kepala sekolah pada tahun 1912. Berita kelulusan Soetan Casajangan ini dimuat di koran De Sumatra Post yang terbit tanggal 26 September 1912. Soetan Casajangan sendiri adalah mahasiswa non Belanda yang pertama kali diizinkan berkuliah di Rijkskweekschool. Setelah Soetan Casajangan lulus, di sekolah yang sama di Haarlem waktu itu adalah Ibrahim gelar Datoek Tan Malaka yang berasal dari Fort de Kock (Bukittinggi). Pengakuan terhadap Soetan Casajangan diwujudkan dalam berbagai bentuk. W. J. Giel mengungkapkan kekaguman terhadap potret seorang pelopor pribumi di Hindia Belanda bernama Soetan Casajangan di dalam sebuah artikel berjudul ‘Een Inlandsch pionier in Nederland' yang ditulis tanggal 23 Maret 1913. Artikel ini (n.l.de Batakker M. Soetan Casajangan Soripada)’ diterbitkan di Weekblad.voor Indie 10 (1913-14).

***
Soetan Casajangan sendiri di negeri Belanda pernah tercatat menikah dengan seorang janda bernama Johanna Henriette van den Dop (lahir di Zoeterwoude, 1887) pada tanggal 6 Mei 1913 di Leiden. Soetan Casajangan pada saat menikahi Johanna Henriette sudah berumur 38 tahun. Soetan Casajangan Soripada Harahap sendiri kemudian kembali ke tanah air bulan Juli 1913. Soetan Casajangan sebelum ditempatkan untuk menjadi guru di Sekolah Raja di Fort de Kock, untuk sementara waktu ditugaskan di sekolah Eropa di Bogor. Dari Bogor Soetan Casajangan ditempatkan ke Kweekschool Fort de Kock. Di Fort de Kock, dari istrinya Johanna Henriette van den Dop, Soetan Casajangan memiliki satu anak yang bernama Johnny (lahir di Fort de Kock atau Bukittinggi 28 April 1914).

Selama di Fort de Kock, Soetan Casajangan kerap datang ke Padang Sidempuan. Di kampung halamannya ini, Soetan Casajangan sempat  menerbitkan surat kabar berbahasa Batak yang bernama Poestaha (yang kemudian diteruskan oleh Parada Harahap). Kehadiran koran berkala ini, tidak saja telah memberikan pengetahuan bagi rakyat di Padang Sidempuan dan sekitarnya, tetapi juga telah membangkitkan kesadaran kebangsaan atas ketidakadilan Belanda.Parada Harahap sendiri dikemudian hari menjadi Raja Surat Kabar di Jawa (The King of Java Press).

Kiprah Soetan Casajangan terus dipantau akdemisi bangsa Belanda baik yang berada di Nederland maupun yang berada di Nederlansch-Indie. Pada tahun 1920, Soetan Casajangan diundang kembali oleh Vereeniging Moederland en Kolonien dari tanah air untuk berpidato di hadapan para anggota organisasi pada tanggal 28 Oktober 1920 dengan makalah 19 halaman yang berjudul :'De associatie-gedachte in de Nederlandsche koloniale politiek (modernisasi dalam politik kolonial Belanda). Setelah kunjungan yang terakhir ke Belanda, Soetan Casajangan karena kesibukannya tidak pernah kunjung kembali ke negeri Belanda, tetapi istrinya pulang ke negeri Belanda. Mungkin karana adat yang berbedza, berdasarkan pengadilan di Hague pada tanggal 24-07-1925 Henriette van den Dop dan Rajiun Gelar Soetan Casajangan Soripada Harahap dianggap bercerai.

Di tanah air, Soetan Casajangan juga pernah mengajar di berbagai tempat, seperti di Ambon, Dolok Sanggul dan terakhir di Meester Cornelius di Batavia. Selama tugas-tugas mengajar, mata pelajaran yang diajarkan oleh Soetan Casajangan meliputi matematika, ilmu ukur, sejarah, biologi, botani, fisika dan geografi. Tentu saja Soetan Casajangan mengajar bahasa Melayu dan bahasa Belanda.

Soetan Casajangan lalu mengundurkan diri sebagai guru karena mulai lelah dan sakit. Permintaan Soetan Casajangan kemudian dikabulkan dan diberhentikan dengan hormat sebagai  Direktur  Normaal School di Meester Cornelis (Jakarta) yang dimuat di koran De Indische Courant yang terbit tanggal 18-03-1927. Tidak lama kemudian, tersebar luas Soetan Casajangan pada tanggal 2 April 1927 telah menghembuskan nafas terakhir, meninggal dunia karena stroke. Berita meninggalnya Soetan Casajangan dimuat di koran De Indische Courant yang terbit tanggal 08-04-1927.

***
Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan Soripada telah memainkan peran yang penting di awal pergerakan politik mahasiswa Indonesia utamanya di luar negeri. Prestasinya sangat gilang gemilang di mata bangsa Belanda. Sangat disayangkan, Soetan Casajangan berumur pendek sebagaimana Willem Iskander meninggal di usia muda. Namun demikian, Soetan Casajangan keluar Soetan Casajangan telah menunjukkan potensi pelajar Tapanuli Selatan (Zuid Tapanoeli), Soetan Casajangan ke dalam sudah menunaikan cita-cita Willem Iskander. Dengan demikian, Soetan Casajangan telah  melengkapi  kepeloporan Willem Iskander dan dalam dunia pendidikan di Nusantara. Bravo!

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempoe doeloe.

Tidak ada komentar: