16/04/16

Gajah Terbesar di Tapanuli Selatan: Gajah Soliter, Daya Jelajahnya dari Angkola (Batang Toru) hingga Mandailing (Huta Bargot)



Pada masa kini, gajah hanya ditemukan di perbatasan Padang Lawas. Dengan kata lain, gajah tidak ditemukan lagi di Tapanuli Selatan (Angkola, Mandailing dan Padang Lawas). Gajah yang terakhir ditemukan pada tahun 1936. Hanya tinggal satu: soliter, Gadingnya hanya tinggal satu (boleh jadi merupakan sisa gading yang dimilikinya ketika terjadi pertarungan yang terakhir dengan lawannya). Gajah ini boleh disebut gajah the last of mochican.

De Sumatra post, 22-05-1936.
Gajah terakhir ini, sang 'the last of mochican' terdeteksi pada bulan Mei 1936 di Batang Toru (Angkola) sebagaimana dilaporkan De Sumatra post, 22-05-1936. Gajah ini sudah sangat tua. Penduduk lokal menyebutnya ‘klamboe boeroek’ atau kelambu tua. Disebut demikian, karena puluhan tahun lalu dilaporkan telah menghancurkan kemah militer lalu menyeret semua barang dab orang didalamnya hingga masuk jauh ke dalam hutan. Sejak kejadian itu, sering ada laporan penduduk yang menyebut gajah besar itu menghancurkan sawah ladang dan perkampungan. Gajah itu kemudian menjadi target buruan. Gadingnya yan panjang dan bagus menjadi incaran setiap pemburu.

Wartawan De Sumatra post yang berhasil mewawancarai Mr. Pietersz, seorang pemburu gajah yang tengah berada di Padang Sidempoean telah menemukan jejak gajah itu dan ukurannya memang sangat besar, Sudah banyak pemburu yang coba melumpuhkannya tetapi senjata laras panjang tidak mempan. Sebagaimana disebut De Sumatra post, almarhum Tjong A Fie (orang kaya dan Mayor Tionghoa di Medan) bahkan pernah menjanjikan uang sebesar f2.500 untuk gading gajah soliter tersebut. Itu juga tetap tidak ada yang berhasil melumpuhkan gajah tersebut. Orang terus bertanya-tanya, apakah gajah soliter ini pada nantinya akan mati secara alamiah?

Tjong A Fie meninggal tahun 1921. Dengan memperhatikan harga (hadiah) dari satu buah gading gajah ini, besar kemungkinan gajah soliter ini boleh jadi merupakan gajah terbesar yang pernah dilaporkan pada masa itu. Mr. Pietersz yang tengah berada di Padang Sidempuan adalah pemburu professional yang mungkin hanya dating karena Klamboe Boeroek (dan tentunya tergiur dengan hadiah (harga) gading yang cukup menggiurkan.  

Pada bulan Juli gajah raksasa ini dilaporkan berada di Mandailing sebagaimana dilaporkan Sumatra post yang dilansir oleh Bataviaasch nieuwsblad, 01-08-1936. Menurut laporan penduduk, gajah soliter ini yang di Mandailing disebut Si Teleng (karena hanya memiliki sisa satu gading) beberapa waktu sebelumnya telah menghancurkan sawah, kebun dan pondok-pondok. Petugas dari Panjaboengan didatangkan tetapi tetap tidak berhasil melumpuhkannya. Juga dilaporkan bahwa gajah bergading satu itu telah berulang kali dating menghancurkan pondok-pondok ikan kering (dari orang-orang yang mengumpulkan ikan di sungai Batang Gadis), Gajah ini juga dilaporkan tahun lalu telah menginjak-injak mati seorang penambang emas hingga mati di Hutabarat.

Jika membandingkan saat ditemukan bulan Mei di Batang Toru dan kemudian kini di Mandailing serta kejadian tahun lalu di Mandailing, ini berarti bahwa gajah soliter ini telah bolak-balik antara Angkola dan Mandailing. Sebagaimana diketahui, bahwa gajah adalah hewan berkelompok, tetapi laporan-laporan dari Batang Toru di Angkola dengan yang di Mandailing gajah besar ini selalu sendiri (soliter). Ini juga mengindikasikan bahwa gajah lainnya sudah tidak ada lagi alias tidak ada lagi kelompoknya.

Mendengar kejadian-kejadian yang terakhir ini, seorang inspektur polisi yang sekarang berdinas di Koetanopan bernama Mr van Leuven diminta penduduk untuk turut membantu. Mr van Leuven bukanlah pemburu gajah, tetapi keahliannya adalah pemburu harimau. Mr van Leuven ini sudah kerap membantu penduduk yang merasa terancam dengan kehadiran harimau di kampong-kamnpung mereka. Dan selalu berhasil melumpuhkan harimau-harimau tersebut. Ketika bulan Juli sebagaimana dilaporkan Sumatra post/ Bataviaasch nieuwsblad gajah tersebut dilaporkan tengah berada di Aek Siajoe, Mr van Leuven diberitahu dan kemudian bergegas ke TKP.

Akhirnya sang pemburu harimau bertemu sang gajah soliter yang besar. Saat Mr van Leuven masih coba membuka koper (tempat senjatanya) dia sudah langsung di serang sang gajah, Mr van Leuven terpelanting dan senjatanya ala cowboy Arkansas tersebut hancur berantakan. Namun, Mr van Leuven masih ada revolver dipigangga. Pertarungan jarak dekat tidak terhindarkan. Mr van Leuven tidak bisa menyasar mata gajah (titik paling lemah) karena gajah yang besar tidak terlihat dari jarak dekat. Tapi Mr van Leuven masih sempat berpikir untuk membidik rahangnya: dor..dor..dor. Peluru revolver tentu tidak akan mempan sebab sebelumnya sudah banyak pemburu yang pernah menggunakan peluru yang lebih besar dari laras panjang (dari jarak jauh). Mr van Leuven yang kini bertarung dalam jarak dekat memiliki kesempatan untuk menembak rahang atas. Setelah pertarungan ini selesai, sang gajah mundur dan berkeliaran kemana-mana. Mungkin sang gajah mulai sempoyongan (karena sudah mulai kekurangan darah) dan baru dua hari kemudian gajah itu benar-benar jatuh dan mati. Mr van Leuven adalah pemenang dalam pertarungan itu. Gajah ini setelah tergeletak lalu diukur dan ternyata sangat  besar: tingginya 2.2 meter dan panjangnya 4.68 meter. Umurnya sangat tua, tetapi tidak diketahui berapa puluh tahun umurnya.

Good news dari hasil pertarungan gajah tersebut, semua penduduk bersukacita. Hama besar dan predator manusia telah mati. Semua desa lalu beramai-ramai memberikan upeti (baca: hadiah) kepada Mr van Leuven. Penduduk kini bernapas lagi. Bad news dari perburuan gajah tersebut adalah gajah di Angkola dan Mandailing tamat alias punah untuk selama-lamanya. Tapi mudah-mudahan saja masih ada gajah yang tersisa di sudut-sudut hutan di Angkola dan Mandailing yang belum terdeteksi. Namun sejak kematian the last mochican itu, tidak ada lagi gajah yang pernah dilaporkan di Mandailing dan Angkola.

Belum lama ini ditemukan fosil gajah purba yang berukuran raksasa di Blora, Jawa Tengah. Dilaporkan bahwa fosil gajah purba tersebut saat ini merupakan yang terbesar di dunia. Ukurannya: Tingginya empat meter dan panjangnya mencapai lima meter. Replika fosil ini akan dipajang di Museum Geologi Bandung, sedangkan yang asli akan dikirim ke museum internasional.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: