04/07/16

Sejarah Kota Medan (30): Masjid Raya Al Mahsun, Pemberian Kapitalis Perkebunan untuk Menyingkirkan Pribumi dari Tengah Kota dan Menghilangkan Kekuasaan Sultan



Masjid Raya Medan, Al Mahsun selesai dibangun tahun 1909. Pendirian masjid megah ini ada ruginya tetapi lebih banyak manfaatnya di kemudian hari. Pembangunan masjid Al Mahsun pendanaannya yang cukup besar didukung kapitalis (planter Eropa/Belanda dan handelaar Tionghoa) dan prosesnya disokong penuh oleh pemerintah kolonial. Tujuannya adalah untuk menyenangkan sultan, tetapi yang letaknya di luar kota mengindikasikan untuk menyingkirkan pemukiman komunitas Muslim dan pusat kegiatan keagamaan (Islam) dari tengah..

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-08-1909 De nieuwe missigit te Medan. Masjid baru di Medan. Sebuah bangunan megah hampir selesai…..Grand desainer oleh kapten (zeni) Van Erp…Kapten van Erp yang dibuat pada pertengahan 1906 atas perintah dari desain Sultan…Mr. van Erp, diakui ahli dalam Oriental. Dia bertanggung jawab atas pemulihan Boroboedoe…missigit akan total biaya sekitar 4 ton….Dimensi bangunan pada 500,0 M, sementara bagian atas pel tengah 27 Mbangunan Moor Vau Granada (Alhambra) dan Seville stamping spesimen yang paling indah dari gaya Arabischen.....

Masjid Al Mahsun (1910): Jauh di pinggir kota dan sepi
Besar kemungkinan perencanaan dan penetapan lokasi masjid jauh dari tengah kota terkait dengan perencanaan perubahan status kota menjadi kotapraja (gemeente) yang diberlakukan pada tahun 1909. Dengan diangkatnya seorang walikota maka kota Medan sepenuhnya akan berada di bawah seorang walikota (burgermeester). Dan memang terbuki kemudian, kekuasaan Sultan yang sudah beberapa tahun pelan tapi pasti semakin dikurangi dan pada akhirnya wewenang kesultanan itu hanya terbatas pada bidang keagamaan saja. Istana Maimun dan Masjid Al Mahsun adalah scenario licik dari pemerintah kolonial di Residentie Sumatra’a Oostkust.

Pada tahun 1903 Esplanade (kini Lapangan Merdeka) ‘dibersihkan’ dari kegiatan sepakbola pribumi dan Tionghoa. Pemerintah hanya memberi lisensi hanya untuk klub-klub Belanda dan kegiatan orang-orang ETI (Eropa) untuk menggunakan lapangan. Akibatnya, lapangan sepakbola pribumi mulai dirintis ke arah lokasi dimana  Istana Sultan berada.   

Perencanaan kota ternyata kemudian ditawarkan kepada Sultan untuk membangun masjid. Gayung bersambut, karena Sultan sudah lama mengimpikan masjid yang besar dan megah (karena masjid terlalu jauh di tengah kota) tetapi tidak punya biaya (dan bahkan lahan, karena sudah habis dikonsesikan kepada para planter). Apalagi masjid besar dan megah Langkat di Tandjoeng Poera sudah lama dibangun. Untuk menaikkan gengsi, tawaran pemerintah ini disetujui Sultan dan Sultan berharap masjid Deli harus lebih besar dan lebih megah dari masjid Langkat.

De Sumatra post, 08-02-1907
Untuk merealisasikan dua pihak yang berkeinginan (pemerintah dan Sultan), pemerintah juga mengundang para planter. Deli Mij menyediakan lahan yang berada di seberang istana Sultan (tempat masjid Al Mahsun kelak berada). Lalu soal pembiayaan, pemerintah mengajukan ke dewan untuk dibiayai tetapi dengan kompensasi tertentu (yang nilainya sama). Pemerintah meminta Sultan menyediakan nilai tenaga kerja pembangunan jalan dan saluran air mulai dari Sibolangit hingga ke dataran tinggi Batak senilai 20.000 Dollar (bukan gulden) ditambah nilai tenaga kerja pembangunan pipa air di dataran tinggi Sibolangit untuk pengembangan sawah. Untuk pembiayaan saluran pipa air ini diambil alih oleh Deli Mij karena melihat warga kesulitan air. Tentu saja nilai 20.000 Dollar itu tidak mudah dipenuhi Sultan. Lalu Sultan meminta perhatian para planter untuk membantu, karena biaya sewa lahan yang selama ini boleh jadi terbilang rendah. Sultan berharap kepada para planter karena selama ini Sultan sudah sangat banyak membantu dalam hal pembebasan lahan dari penduduk asli (lihat De Sumatra post, 08-02-1907). Sultan dalam situasi terjepit: ada kebutuhan (dan gengsi) tetapi tidak memiliki financial apa-apa lagi. Bagaimana jalan keluarnya? Lihat penjelasan selanjutnya.

Desain masjid ini dibuat Sultan dan pihak kerajaan dan memberikannya kepada sang arsitek Kapten (zeni) van Erp. Untuk pengawasan arah kiblat Mr. van Erp meminta Mr. Schadee dari Meteorologisch Instituut di Batavia. Meski demikian Sultan tetap khawatir soal arah kiblat, lantas memanggil pihak Arab, seorang ulama Mufti dengan teknik yang berbeda dari Mr. Schadee. Hasilnya tidak berbeda. Ini menunjukkan ilmu pengetahuan Eropa dan ilmu pengetahuan Arab konsisten.

De Sumatra post, 14-08-1913: Masjid di Medan. Pada Engineering… pembangunan Missigit Sultats dilakukan di bawah pengawasan Mr Schadee..Mekkah dari bujur dan lintang dari kedua plaatseu, yang diperoleh dari Institut Meteorologi di Batavia, telah dihitung, berkeinginan Sultan diverifikasi dari pihak Arab dan ulama Mufti dipanggil…dari garis Medan-Mekka ..Akhirnya, masih tampaknya tidak ada konflik antara Nedtrlandsche dan ilmu pengetahuan Arab. .. Kedua azimutheu tampaknya suplemen masing-masing, karena itu baik perhitungan sebagai sepenuhnya konsisten.


Masjid pemberian para planter (N. v.h.Noorden, 09-06-1931)
Upaya pemerintah kolonial meminggirkan simbol Islam (masjid Al Mahsun) sebagaimana sebelumnya Istana Sultan lokasinya dipilih jauh dari tengah kota secara simultan pengaruh Sultan semakin dilemahkan yang otomatis membatasi pertumbuhan dan ruang gerak komunitas Muslim di tengah kota. Istana dan Masjid ini pada gilirannya akan menggiring perkembangan komunitas Muslim di tengah kota ke pinggir kota. Masjid kota Medan terdapat di jalan Masigit (lihat De Sumatra post, 19-04-1899). Masjid ini akan ditutup dan digantikan di tempat lain. Pada tahun 1909 pengganti masjid ini masjid yang baru di seberang Istana Sultan (disebut kemudian masjid Al Mahsun). Masjid ini adalah pemberian para planter di Deli (Deli-plantcrs vereeniging) kepada Sultan mewakili kaum muslim. Lihat teks di bawah gambar (Nieuwsblad van het Noorden, 09-06-1931). Meski biaya urunan para planter besar, tentu saja para planter telah dan akan mengambil manfaat dari gagasan pembangunan masjid di pinggir kota.

Masjid yang megah untuk menggiring komunitas ke dekatnya, tetapi selalu saja ada yang tertinggal karena bukan di situ dunianya, melainkan tetap di tengah pasar dan di tempat-tempat lainnya. Penampilan rumah-rumah tuhan menjadi tidak seimbang: ada yang megah sekali tetapi lebih banyak yang megap-megap untuk menampung umatnya.

De Sumatra post, 12-07-1927 Masjid untuk Laboean Deli. Sekarang kita telah mulai perbaikan ke masjid untuk Laboean Deli karena  sudah sejak lama rusak berat. Masjid itu  ketika hujan penduduk hanya sembahyang di rumah karena bocor dan basah. Sultan coba mediasi ke pemerintah agar masjid akan segera dapat layanan.

Algemeen Handelsblad, 23-08-1927: ‘Perbuatan simpatik di Deli. Deli Mij menaruh perhatian pada penduduk muslim di Deli dan Langkat, mungkin sebagai tanda penghargaan untuk keramahan dinikmati dari masyarakat Deli untuk bekerja di lanskap ini. Di Langkat misigit yang ada dimana baru-baru ini Sultan Langkat diperintahkan untuk menyediakan tanah untuk membangun  menara ramping dengan harga mahal, dengan cara yang sama di Medan. Untuk masjid tua yang sangat rusak di Laboeau Deli benar-benar akan dipulihkan dan diperbaharui dengan biaya dari Deli Mij.

Ini ibarat habis manis sepah dibuang. Kolaborasi Sultan, pemerintah colonial dan para planter yang dulunya, sejak di Labuhan Deli begitu mesra kini berakhir sudah. Dulu, bahkan ketiganya secara bersama-sama mendukung penuh penggunaan militer menghabisi perlawanan penduduk Batak yang beragama Islam di Sunggal atas penyerobotan tanah-tanah mereka. Kini giliran keluarga kesultanan yang ‘dihabisi’ dari tengah kota dengan konpensasi biaya yang sangat mahal: Istana yang megah dan masjid yang megah juga.

Istana Sultan (1910)
Di tengah kota, Medan akan dirancang sebagai kota internasional yang modern setara di Eropa. Medan akan menjadi pusat tujuan komunitas internasional: kegiatan perjudian semakin ditingkatkan, prostitusi dilegalkan (dengan mendatangkan lebih banyak PSK asal Tiongkok dan Jepang yang sudah lama mangkal di Singapore). PSK asal Tiongkok bertebaran dimana-mana (untuk pelanggan kuli China) dan PSK asal Jepang tinggal di hotel-hotel (untuk pelanggan para investor). Inisiator utamanya adalah para planter tetapi dengan ‘terpaksa’ harus disokong oleh pemerintah kolonial (yang lemah dalam financial). Akibat yang ditimbulkannya, penyakit kelamin muncul dimana-mana, untuk itu para planter dan handelaar Tinghoa urunan membangun rumah sakit prostitusi (mungkin satu-satunya ada rumah sakit prostitusi di Medan).

Tunggus deskripsi lebih lanjut

Setelah lama area sekitar istana dan masjid, pemerintah mulai menata sebagai upaya untuk memodernisasi kawasan yang terkesan terbelakang agar tampak modern dan seimbang dengan perluasan kota.

Tunggus deskripsi lebih lanjut

Untuk merealisasikan tujuan tersebut, penataan kawasan Matsum maka fungsi Masjid Al Mahsun akan dimaksimalkan. Konsekuensinya masjid lama yang ada di tengah kota (jalan masjid) akan ditutup. Namun timbul permasalahan baru.

Tunggus deskripsi lebih lanjut

Sultan Deli sebagai pelindung masyarakat cukup bijak membiarkan masjid Al Mahsun tidak digunakan secara sepihak diantara kalangan Islam. Hak ini terkait dengan permintaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menginginkan menjadi bagian dakwah seutuhnya. Sultan menolak, meski Sultan sendiri diklaim sebagai anggota Muhammadiyah.

Tunggus deskripsi lebih lanjut

Masjid Al Mahsun direncanakan untuk maksud tertentu (menyingkirkan komunitas Islam dari tengah kota), tetapi pada akhirnya letak masjid tersebut sangat sesuai dengan mengikuti jamannya. Selama masa-masa awal penggunaan masjid tersebut banyak hal yang telah terjadi tentang keberadaan masjid. Jadi masjid Al Mahsun sendiri telah menjadi pemandu sejarah sendiri tentang dinamika di Kota Medan. Kini, masjid Al Mahsun tetap tegak kokoh ditempatnya yang menjadi pusaran peradaban kota Medan.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe

Tidak ada komentar: