Minggu, Mei 05, 2024

Sejarah Dolok Hole (1): Kampong Loeboe Hole di Saipar Dolok Hole Tempo Doeloe; Seberapa Tua Peradaban di Luat Harangan?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Saipar Dolok Hole di blog ini Klik Disini 

Kampong-kampong di Luat Harangan, kampong-kampong di pingggir/di dalam hutan pada masa ini adalah warisan kampong-kampong masa lampau. Kota-kota yang ada sekarang, seperti Sipirok, Bunga Bondar, Simangambat dan Sipagimbar awalnya adalah kampong-kampong kecil yang baru mulai berkembang sejak era Pemerintah Hindia Belanda. Kampong-kampong di Luat Harangan sejatinya adalah tipologi kampong-kampong masa lampau. Tempat dimana ditemukan situs kepurbakalaan seperti candi-candi di Padang Lawas adalah tipikal kota-kota masa lampau.


Ekskavasi Situs Lobudao di Saipar Dolok Hole, Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Disusun oleh Lucas Partanda Koestoro, Repelita Wahyu Oetomo dan Andri Restiyadi. Balai Arkeologi Medan. 2010. Rekomendasi: (1) Untuk memperoleh informasi dan pemahaman yang tepat akan kronologi, peran dan fungsi situs Lobudao, serta aspek lain kebudayaan (termasuk sejarah budaya) perlu dilakukan penelitian lebih intensif melalui ekskavasi pada lokasi-lokasi makamnya. (2) Harus ada penelitian menyeluruh tentang perkampungan-perkampungan kuna di sekitar kawasan Padang Lawas untuk mendapatkan informasi dan pemahaman yang lebih lengkap tentang perkampungan/permukiman kuna pendukung keberadaan candi-candi di Padang Lawas. Pendekatan yang bersifat interdisipliner, holistik, dan kawasan perlu diselenggarakan. (3) Usaha-usaha pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan situs-situs perlu dilakukan tidak hanya oleh pemerintah namun juga oleh masyarakat.

Lantas bagaimana sejarah kampong Loeboe Hole di Saipar Dolok Hole tempo doeloe? Seperti disebut di atas, kota-kota yang ada sekarang adalah kampong-kampong kecil di masa lampau, suatu kampong yang tipikal kampong-kampong di Luat Harangan. Lalu seberapa tua peradaban di Luat Harangan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Kampong Loeboe Hole di Saipar Dolok Hole Tempo Doeloe; Seberapa Tua Peradaban di Luat Harangan?

Nama Loboe Hole pertama kali dilaporkan oleh Controleur Angkola Mr WA Henny (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 18-04-1868) WA Henny dalam ekspedisinya dari Sibolga ke Padang Sidempoean pada bulan Desember 1857 melalui lanskap Silindoeng dan lanskap Sigompoelon. Disebutkan 'selalu mendaki dan menurun' kami tiba di Si Gotom sekitar pukul enam sore. Pada pukul sebelas kami telah melewati kampung kecil Loboe Hole’.


Dimana posisi GPS kampong Loboe Hole tidak terinformasikan. Nama kampong disebut lobu; besar dugaan adalah kampong yang sudah lama ditinggalkan dan kemudian ditempati kembali. Saat WA Henny Loboe Hole hanya kampong kecil (terdiri beberapa rumah). Dalam kamus Angkola en Mandailing Bataksch-Nederlandsch Woordenboek door HJ Eggink, Bandoeng, AC Nik en co, 1936: ‘loboe, desa terlantar; tempat yang dulu sebuah desa berdiri dan masih dapat dikenali adanya pohon kelapa, kursi bamboo dll yang terletak disana; ‘hole’, pohon, menghasilkan kayu yang kuat; hole misang, jenis pohon khusus ini

menghasilkan kayu, yang mengeluarkan bau yang menyengat’. Loboe Hole, dalam hal ini, besar dugaan kampong yang banyak menghasilkan kayu hole.

Bagaimana dengan nama Dolok Hole? Apakah kampong Loboe Hole berada di kaki/lereng dolok hole? Dolok hole diduga adalah perbukitan yang banyak ditumbuhi oleh pohoh hole. Jika nama Loboe Hole dan Dolok Hole memiliki hubungan, lantas dimana Dolok Hole dan Loboe Hole berada? Yang jelas pada masa ini nama yang popular adalah Saipar Dolok Hole, suatu wilayah bentang alam (lanskap) di ipar (sisi lain) Dolok (bukit) Hole.


Dalam.perkembangannya, kampong kecil Loboe Hole telah dihuni sebanyak 50 kelaurga (lihat De Rijnsche zending; tijdschrift ter bevordering van het christendom in Nederlandsch Indiee, 1890). Disebutkan jarak Loboe Hole ke Simanampang hanya satu jam, namun jalannya sulit, melewati tiga jurang lembah dalam yang harus dilintasi. Sedangkan nama Dolok Hole adalah salah satu gunung (tor) dalam rantai pegunungan dari utara ke selatan dengan nama yang berbeda adalah Dolok Holé, Dolok Timbang Malaha, Dolok Si Hombiengan, Dolok Maondang, Dolok Si Pipisan, beserta deretan pegunungan terjal yang membentang hingga Pangariboean, tidak dikenal dengan nama umum, tetapi menyandang berbagai nama, antara lain Dolok Djamboer ni Begoe dan Tor Nanggé di sekitarnya dari Prau Sorat (lihat Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1894). Disebutkan lebih lanjut iAek Arsé yang timbul dari pertemuan Aek Si Aman yang mengalir dari lereng Dolok Si Pipisan dan Aek Si Ambïrang yang bersumber diantara Dolok Moandang dan Dolok Si Hombiengan yang keduanya mengalir di atas Arsé Djoeloe, untuk menyerap Aek Mardoegoe yang datang dari Dolok Si Hombiengan agak jauh di atas Arsé Djaé kemudian mengalir ke Aek Si Goeti dengan nama Aek Arse. Jika kita menyebutkan Dolok Holé yang dikenal sebagai perpanjangan dari ujung paling utara pegunungan Timbang Malaha yang tadi disebutkan ke arah barat, maka kita telah menggambarkan bagian dari pembagian yang baru saja kita sebutkan itu, dikelilingi oleh pegunungan, yang kini berada di antaranya meliputi lanskap Si Lantom di utara, dan Koeria Si Pirok di bagian selatan, serta termasuk dalam daerah tangkapan air Aek Si Madoras. Setelah melewati Dolok Holé yang kaki dilaluinya, ia bergerak ke arah barat daya dan segera bergabung dengan Aek Si Goeti dan Aek Si Marlehoean di satu tempat, yang bertemu sebagaimana telah disebutkan di atas, yang sering disebut "binanga na toloe". Aek Si Madoras memiliki dasar yang lebih dangkal dari Banoewa Radja, namun di luar Dolok Holé, dasar sungai kembali memberikan kesempatan untuk terjadinya pencucian yang dalam. Setelah penjelasan tersebut kita kembali ke pegunungan yang terletak di sebelah timur dataran tinggi. Mulai dari utara kita sebut dulu barisan pegunungan Timbatig Malaha yang pacunya Dolok Holé yang telah kami sebutkan, seolah-olah membentuk tembok pemisah antara kampong Si Mangambat dan Si Pogoe, memanjang hingga ke Aek. Si Madoras. Catatan: Tor Dolok Hole pada masa ini menjadi pembatas wilayah kecamatan Saipar Dolok Hole (di utara) dan wilayah kecamatan Arse (di selatan) di kabupaten Tapabuli Selatan.

Nama lanskap (wilayah) Saipar Dolok Hole mendapat nama dari Dolok Hole yakni di ipar (sisi lain) Dolok (bukit) Hole. Dalam hal ini pegunungan Timbang Malaha yang cabangnya Dolok Holé membentuk tembok pemisah antara kampong Si Mangambat dan Si Pogoe. Cukup jelas dalam hal ini lanskap Saipar Dolok Hole dengan lanskap Sipirok dipisahkan oleh Dolok Hole. Lalu dimana letak kampong Loboe Hole? Nama Loboe Hole diduga tidak berada di (sekitar) tor Dolok Hole, tetap nama desa yang kini berada di kecamatan Siatas Barita kabupaten Tapanuli Utara. Yang jelas nama hole (jenis kayu yang kuat) nama bersifat generic, ada nama kampong dan ada nama bukit.


Nama Dolok Hole menjadi nama wilayah (lanskap) Saipar Dolok Hole. Nama Dolok Hole berada di selatan menjadi perbatasan dengan Arse; dan nama Loboe Hole berada di dekat Sigotom (kecamatan Siatas Barita, kabupaten Tapanuli Utara). Dalam artikel-artikel selanjutnya membicarakan wilayah Saipar Dolok Hole dan sekitarnya, termasuk Arse, Dolok, Aek Bilah dan Pangaribuan. Namun yang menjadi penting dalam hal ini adalah ditemukannya situs kuno di desa Lobudao di kecamatan Saipar Dolok Hole. Untuk mengenal lebih luas dan lebih tua wilayah Saipar Dolok Hole, nama-nama Dolok Hole dan Loboe Hole tidak cukup. Dalam hal inilah penting keberadaan situs kuno (megalitik) di Lobudao. Situs Lobudao sejauh ini adalah bukti tertua keberadaan peradaban di wilayah Saipar Dolok Hole dan sekitar. Dalam hal ini pula wilayah Dolok Hole menjadi penting dalam penyelidikan sejarah zaman kuno di wilayah rantai pegunungan Bukit Barisan. 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Seberapa Tua Peradaban di Luat Harangan? Dolok Hole, Loboe Hole dan Peradaban Baru di Padang Lawas

Dalam sejarah zaman kuno di Sumatra, secara geografis dibedakan wilayah pegunungan dengan wilayah pantai (pesisir). Populasi di dua wilayah tersebut saling berinteraksi karena adanya perdagangan (komoditi zaman kuno) dan karena adanya hubungan persebaran populasi penduduk (perkawinan, terbentuknya kampong baru). Wilayah pedalaman (diantara kawasan pegunungan Bukit Barisan) kaya sumber daya alam seperti emas, kamper, kemenyan, dan getah puli, kulit manis serta gading). Produk zaman kuno ini dari wilayah pedalaman mengalir ke kampong-kampong di wilayah pesisir. Dalam konteks inilah terbentuk peradaban-peradaban menurut masa. Bagaimana dengan di Dolok Hole? Seperti disebut di atas situs kuno di Lobudao sebagai salah satu bukti peradaban kuno di wilayah pedalaman di Saipar Dolok Hole. 


Nama Tacola di pantai barat Sumatra bagian utara sudah dipetakan dan disebut dalam catatan geografis Ptolomeus pada abad ke-2. Nama Tacola yang mirip dengan masa kini adalah Akkola (Angkola). Dalam catatan geografis Ptolomeus juga disebut kamper diimpor dari Sumatra bagian utara. Pada abad ke-5 dalam catatan Eropa disebut kamper diekspor dari pelabuhan bernama Barussa (diduga Barus). Dalam catatan Tiongkok pada abad ke-6 disebut nama-nama tempat yang mirip dengan nama tempat di pantai barat Sumatra bagian utara, yakni: Pa-lu-sse (Barus); Pe-song (Hapesong); Pu-li (Huta Puli); Pan-tiu (Panti); Pa-chia-man (Pasaman) dan Ti-kue (Tiku). Nama-nama ini diduga ada kaitannya dengan produk zaman kuno (emas, gading, kamper, kemenyan, getah puli dan kulit manis). Pada abad ke-7 sebagaimana dalam teks prasasti Kedukan Bukit (682) disebut raja mangalap tondi di Samwwo (Somba) dan kemudian raja marlapas dari Minanga (Binanga). Candi Simangambat di Angkola Jae diduga telak eksis sejak abad ke-8. Pada abad ke-9 dalam prasasti Laguna disebut nama Binwangan (Binanga?). Pada abad ke-11 dalam teks prasasti Tanjore disebut nama Panai (Pane). Candi-candi di Padang Lawas eksis sejak abad ke-11. Dalam konteks inilah sejarah zaman kuno di Saipar Dolok Hole dapat dihubungkan dengan keberadaan situs kuno di Lobudao.

Situs kuno di Lobudao adalah satu hal (suatu bukti peradaban kuno). Nama-nama tempat terawal di Saipar Dolok Hole adalah hal lain lagi (garis peradaban baru ke masa kini). Dalam catatan sejarah sangat minim data yang tersedia. Orang luar (Eropa) pertama yang telah mengunjungi wilayah Angkola (1840) termasuk wilayah Saipar Dolok Hole adalah Jung Huhn. Orang kedua adalah Oscar von Kessel yang berangkat dari Tobing (sekitar wilayah parsalakan) melalui Si-pirok ke Si-goppulon pada tahun 1844 (lihat Deli courant, 01-05-1895). Dalam perjalanan dari Sipirok ke Sigompulon diduga Kessel melalui Arse dan Dolok Hole. Apa pentingnya wilayah Sipirok dengan wilayah Sigompulon? Apakah terkait dengan sumber emas? Yang jelas Kessel datang tidak lama setelah tugas Jung Huhn selesai di Portibi pada tahun 1843. Jung Huhn adalah seorang geologi dan ahli botani yang ditugaskan Pemerintah Hindia Belanda untuk memetakan wilayah pedalaman Tanah Batak terutama di wilayah Angkola-Mandailing.


Jauh sebelum era Pemerintah Hindia Belanda, oang luar (Eropa) pertama yang telah mengunjungi wilayah Angkola adalah seorang botanis Inggris Charles Miller sebagaimana dikutip oleh William Marsden (1811). Charles Miller dari Pulau Pontjang di teluk Tapanoeli melalui sungai Lumut di wilayah Angkola pada tahun 1772. Charles Miller dari Lumut menyeberang sungai Batangtoru dan kemudian tiba di Hoeta Lamboeng dan seterusnya ke Hoetaimbaroe. Lalu Charles Miller ke Simasom dan kemudian melalui Morang mencapai Batang Onang di Pangkal Dolok (menemukan batang-batang kulit manis selebar dua meter). Sepulang dari Batang Onang kembali melalui Simasom dan Hutaimbaru lalu dari kampong Sipisang di pinggir sungai Batangtoru naik perahu ke Pulau Pontjang. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, Tobing adalah pos militer Hindia Belanda di dekat Hoeta Lamboeng dimana Oscar von Kessel memulai perjalanan ke Sipirok dan Sigompulon yang dalam perjalanan pulau menyeberangi lembah Bayangtoroe, yang pada saat itu hampir tidak berpenghuni karena telah dihancurkan sepenuhnya oleh kaum Padri. Setelah kembali ke Tobing Kessel tak lama kemudian melalui jalur lain (yang tidak ia sebutkan). Setelah beristirahat disana selama beberapa hari, ia kembali mengambil jalan menuju Batang Toru, dan mencapai muara sungai itu setelah lima hari. Ia kemudian berbelok ke arah Singkuang, menaikinya dan melaui cabang kiri yang akan membawanya ke danau di atas (Danau Siais). Karena aliran ini hanya dapat dilayari sebagian, bagian terakhir perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki dan setelah perjalanan yang sangat sulit, danau tersebut tercapai. Beberapa hari sudah cukup untuk mencatatnya secara akurat, setelah itu perjalanan pulang ke Tobing dilakukan melalui jalur darat, dan tiba dengan selamat beberapa hari kemudian. Perjalanan Kessel ini juga menghasilkan banyak hal yang luar biasa; Laporan tersebut antara lain memuat uraian penting tentang cara ekstraksi kamper.

Sebelum kehadiran Pemerintah Hindia Belanda di Tanah Batak, terjadi perselisihan antara Kaum Padri dengan militer Hindia Belanda di sekitar Pagarroejoeng. Perang antara kedua belah pihak terjadi pada tahun 1825 (tidak lama setelah Traktat London 1824). Para hulubalang Padro yang semakin terdesak ke utara (membuat benteng di Bonjol), lalu untuk mendukung logistic Padri menyerang Tanah Batak mulau dari Mandailing, Angkola hingga Silindoeng. Jalur darat dari Mandailing hingga Silindoeng melalui Panjaboengan, Simangambat, Padang Sidempoean, Sipirok, Dolok Hole, Pangaribuan hingga ke Silindoeng. Penyerangan Padri ke Tanah Batak diduga banyak penduduk yang menyingkir dan melarikan diri ke tempat-tempat terpencil di antara bukit-bukit di tengah atau di pinggir hutan (luat harangan).


Diantara penduduk yang menyingkir, para pemimpin Angkola Mandailing melakukan konsolidasi dengan membuat perjanjian kerjasama dengan militer Hindia Belanda di Natal pada tahun 1833. Saat ini ibi kota pantai barat Sumatra (Sumatra’s Wesrkust) berada di kampong Tapanoeli (teluk Tapanoeli). Setelah mundurnya Padri dari Tanah Batak, para hulubalang Angkola Mandailing berpartisipasi dalam penyerangan benteng Padri di Bondjol. Militer Hindia Belanda juga dibantu pasukan pribumi dari Madoera dan Jawa serta Pagaroejoeng (Minangkabau). Benteng Bonjol akhirnya jatuh pada tahun 1837. Setahun kemudian sisa Padri di benteng Dalu-Dalu akhirnya jatuh. Sejak tahun 1838 wilayah Angkola Mandailing terbebas sepenuhnya dari pengaruh Padri. Pada tahun 1840 wilayah Angkola Mandailing dimasukkan ke dalam administrasi Pemerintah Hindia Belanda (yang juga bersamaan dengan pengiriman Jung Huhn ke Tanah Batak).

Sejak kapan nama-nama kampong di wilayah Saipar Dolok Hole terbentuk tidak terinformasikan. Yang jelas nama-nama tempat di wilayah Saipar Dolok Hole baru terinformasikan pada awal kehadiran Pemerintah Hindia Belanda.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar: