Selasa, Juli 22, 2014

Bag-3: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Sekolah Guru Berprestasi, Tetapi Dilikuidasi



Bagian Ketiga

Good news, bad news
Kebun kopi di Padang Sidempoean, doeloe

Keberhasilan Kweekschool Padang Sidempoean tidak terbantahkan, tingkat kelulusan murid cukup signifikan—hal yang bertolak belakang dengan pencapaian di Kweekschool Ford de Kock. Berita bagus dari dunia pendidikan di Tapanoeli, ternyata tidak demikian dengan yang terjadi di kweekschool yang terdapat di Bangjaermasin. Koran Algemeen Handelsblad, 07-01-1892 memuat editorial yang berisi bahwa Kweekschool Bandjermasin telah ditutup pada April 1891. Ini berarti telah tiga kweekschool yang ditutup yang mana sebelumnya adalah kweekschool di Magelang dan Tondano. Penutupan kweekschool di Bandjermasin sangat disayangkan, karena ini satu-satunya kweekschool di Kalimantan yang selama ini menjadi sumber guru untuk seluruh penjuru wilayah di Kalimantan.

Alasan yang disebutkan tentang penutupan itu adalah bahwa pemerintah melakukan pengetatan anggaran sebesar 16.000 Gulden per tahun. Mereka yang berada di Kalimantan diharapkan dapat memenuhi guru dengan mengirim anak-anaknya ke Bandoeng atau Probolinggo. Namun pihak-pihak yang pro dengan pendidikan, berpendapat bahwa bukan karena kesulitan anggaran pemerintah dilakukan penutupan sekolah, melainkan adanya faksi-faksi tertentu di negeri Belanda yang menginginkan penduduk asli tetap bodoh, padahal menurut mereka yang pro ini dengan menyediakan pendidikan bagi penduduk pribumi merupakan salah satu wujud ketenaran dari otoritas Belanda sebagai kekuatan peradaban di Timur, juga di pulau Kalimantan, paling tidak meningkat!
***
Kweekschool Padang Sidempoean ternyata tidak aman dari penutupan—terbuka kemungkinan untuk ditutup. Koran Algemeen Handelsblad, 07-01-1892 juga menyajikan hasil analisis, bahwa jika memang masalah anggaran penyebab penutupan, maka Kweekschool Padang Sidempoean maka sekiranya harus ditutup, tampaknya masih lebih rendah konsekuensinya jika dibandingkan dengan penutupan Kweekschool Bandjermasin. Di pantai barat Sumatra masih ada kweekschool di Ford de Kock—kapasitasnya masih memenuhi sekalipun anak-anak Tapanoeli datang. Sementara itu, di Tapanoeli terdapat perguruan misi pada Eijnsche Zendelinggeaootschap di Pansoer na Pitoe, di mana kini terdapat sebanyak 35 murid. Kweekschool Padang Sidempoean menjadi terjepit.

Senin, Juli 21, 2014

Bag-2: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Sekolah Guru Berprestasi di Era Hindia Belanda



Bagian Kedua
Kweekschool Padang Sidempoean

Koran Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 12-10-1882 memberitakan bahwa para calon guru di Kweekshool Ford de Kock yang mengikuti ujian semuanya gagal. Di koran ini juga diberitakan Komisi Sekolah akan ke Kweekshool Padang Sidempoean. Koran Bataviaasch handelsblad, 15-05-1883 memberitakan mutasi J.W. van Haastert ke Probolinggo, kepala sekolah Kweekschool Padang Sidempoean. Hal ini juga diberitakan koran Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-05-1883. Koran Bataviaasch handelsblad, 27-09-1883  memberitakan bahwa C.A. van Ophuijsen di tahun keduanya diberitakan tunjangan tambahan sehingga secara keseluruhan gajinya menjadi 200 Gulden.

Koran De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-01-1884 memberitakan pengangkatan D. Grivel, sebagai kepala sekolah Kweekschool Padang Sidempoean. Grivel adalah guru di Kweekschool Fort de Kock mulai efektif 1 Februari 1884. Het nieuws van den dag : kleine courant, 12-03-1884 Grivel nantinya akan digantikan oleh guru pangkat kelas 1, D.W. Lantermans.

Koran Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 01-05-1884 melaporkan bahwa ada dua anak murid Kweekschool Padang Sidempuoen yang bernama Si Saleh dan Si Doepang melakukan kebajikan mengumpulkan untuk membantu orang yang membutuhkan. Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 07-06-1884 memberitakan bahwa Mr Van Ophuijsen, asisten guru di Kweekschool Padang Sidempoean, pada paruh pertama bulan Juli datang ke Padang untuk melakukan ujian untuk mendapatkan sertifikat kemahiran dalam survei agronomi.

Bag-1: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Satu dari Delapan Sekolah Guru di Era Hindia Belanda



Bagian Pertama
Lokasi Kweekschool Padang Sidempoean, 1880

Kweekschool adalah sekolah guru bantu di era Hindia Belanda. Pada tahun 1875  Kweekschool Tanobato ditutup dan sebagai penggantinya dibuka kweekshool di Padang Sidempoean, 1879. Lokasi Kweekshool Padang Sidempoean ini (lihat, Peta-1880) kini merupakan area yang menjadi lokasi SMA-1, SMA-2, SPG, SD-16, SD-23, SD-14 dan SMP-3. Sementara bangunan lama kweekshoolnya sendiri pada masa ini masih terlihat dan menjadi gedung SMA Negeri 1 Padang Sidempuan.

***
Koran Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-12-1874 memberitakan bahwa sekolah guru Inlandsehe di Tano Bato akan dipindahkan ke Padang Sidempoean. Sekolah ini akan diprogram untuk mendidik sebanyak 25 murid yang berada di wilayah Tapanoeli. Koran Algemeen Handelsblad, 21-09-1875 menyatakan bahwa kweekschool yang ada nantinya akan mengidikasikan sekolah guru hanya terdapat di delapan kota, yakni: Magelang, Bandoeng, Proboliggo (java); Amboina. Tondano, Bandjermasin, Fort de Kock (Bukittinggi); dan Padang Sidempoean.

Kamis, Juli 17, 2014

Dr. Parlindoengan Loebis, Anak Batangtoru: Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi

dr. Parlindoengan Loebis
*Untuk melihat semua artikel Sejarah TOKOH Tabagsel dalam blog ini Klik Disini


Parlindoengan Loebis lahir di Batangtoru, Tapanuli Selatan 30 Juni 1910. Setelah tamat sekolah dasar berbahasa Belanda, HIS Padang Sidempuan, 1924, Parlindoengan melanjutkan pendidikan sekolah menengah (MULO) ke Medan. Parlindoengan Loebis bersama teman-temannya dari Tapanuli Selatan, Abdul Azis Harahap, Jawhara Loebis dan Casmir Harahap  sama-sama lulus MULO tahun 1927 sebagaimana diberitakan De Sumatra Post, 17-05-1927. Selanjutnya, Parlindoengan Loebis dan Casmir Harahap melanjutkan pendidikan kelas 4--AMS Afdeeling B (bidang Matematika dan Fisika) ke Weltevreden, Batavia. Parlindoengan Loebis sendiri lulus dari AMS tahun 1930 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-05-1930).

Setelah lulus sekolah menengah (AMS) di Weltevreden, Batavia (kini Pasar Baru, Jakarta), Parlindoengan Loebis mendaftar ke sekolah tinggi pelatihan dokter Geneeskundige hoogeshool di Batavia. Pada tahun 1931 sebagaimana diberitakan Bataviaasch nieuwsblad (edisi 18-12-1931) Parlindoengan Loebis lulus ujian kandidat bagian I sebagai asisten medis. Namun karena dianggap memenuhi syarat, Parlindoengan Loebis direkomendasikan menjalani pendidikan yang lebih tinggi di bidang kedokteran di Negeri Belanda.

Sabtu, Juli 12, 2014

Sejarah Catur Indonesia : Bermula di Tanah Batak


Baca juga:


Sudah sejak lama permainan catur ada di Indonesia. Di Tanah Batak, permainan catur ini sudah sejak lama pula dikenal. Namun permainan catur ini baru populer sejak orang-orang Belanda datang ke Indonesia. Bentuk dan cara bermain catur ala Batak dengan Eropa/Belanda ada perbedaan (berita-berita koran Belanda tidak menyebut perbedaannya apa). Diduga bentuk dan permainan catur di Tanah Batak diadopsi dari salah satu dua sisi persentuhan komunitas Batak dengan asing: Di satu sisi menyebar dari pantai barat, pantai Sibolga, dimana pada masa doeloe pelabuhan-pelabuhan yang ada di sekitar Tanah Batak (yang kemudian disebut Tapanoeli) merupakan pertemuan para pedagang dari berbagai negeri di dunia (termasuk India Selatan--situs Lobu Tua) dan pedagang-pedagang Tanah Batak melakukan transaksi dagang terutama kamper, damar dan kemenyan.Di sisi yang lain menyebar dari pantai timur, daerah aliran sungai Barumun di area (situs) percandian Portibi, Padang Lawas, tempat koloni India Selatan (era King Cola I) dalam eksplorasi emas pada abad kesebelas.

Buku sejarah catur di Batak, 1905
Di Tanah Deli, keberadaan catur Batak itu belum dikenal. Akan tetapi orang-orang Batak yang merantau ke Tanah Deli cepat memahami dan mengadopsi cara bermain catur Eropa/Belanda. Permainan catur ala Eropa/Belanda ini di Tanah Deli sudah lama dilakukan oleh komunitas orang-orang Eropa/Belanda. Dari komunitas-komunitas catur inilah, anak-anak muda Batak mulai mengadopsi catur ala Eropa/Belanda. Akibatnya, lantas, lambat laun, cara bermain catur ala Eropa/Belanda ini cepat mengalami difusi di Tanah Batak yang akhirnya, catur ala Batak lambat laun ditinggalkan oleh generasinya sendiri. Sejak itu, catur ala Eropa/Belanda menggantikan catur ala Batak di seluruh penjuru Tanah Batak.

Sejarah catur Indonesia, berita pertama datang dari koran Sumatra Post di Medan, 1904

Meski permainan catur sudah populer di kalangan orang-orang Belanda, baik di Batavia, Deli, Semarang dan lainnya, tetapi tidak satupun koran-koran Belanda yang memberitakan ‘permainan otak’ ini. Berita keberadaan catur di Indonesia kala itu terpasung oleh berita-berita sepakbola (kala itu masih dengan otot) yang sudah mulai mendapat porsi di koran-koran Belanda. Sontak, koran-koran berbahasa Belanda tiba-tiba bergetar dengan berita pertama yang dimuat koran Sumatra Post yang terbit di Medan tanggal 17 Juni 1910. Berita dari Medan ini dikutip dan dipublikasi ulang oleh koran-koran di Batavia, Semarang dan Surabaya. Berita apa itu?

Jumat, Juli 11, 2014

Bag-8: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Lahir Sebagai ‘Anak Tapanoeli’, Wafat Sebagai ‘Arek Soerabaja’

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian kedelapan, habis)

Radjamin Nasoetion (foto 1941)
Radjamin Nasution, lahir di kampong Barbaran Julu, Panyabungan, Mandailing, Tapanuli Bagian Selatan, Sumatera Utara tanggal 15 Agustus 1892. Radjamin memulai pendidikannya, di sekolah dasar (ELS) di Padang Sidempuan dan selanjutnya menempuh pendidikan kedokteran (STOVIA) di Batavia. Sebagai dokter, Radjamin Nasution ditempatkan bekerja sebagai pegawai dan petinggi Bea dan Cukai di era pemerintahan Belanda yang pernah ditempatkan di berbagai tempat antara Sabang dan Banyuwangi, seperti Medan, Jambi, Kalimantan, Cilacap, Semarang dan terakhir di Surabaya. Di Kota Surabaya, Radjamin terjun ke dunia organisasi sosial, partai politik yang kemudian mengantarkannya menjadi anggota dewan kota (gementeeraad), provinsi dan pusat (Volksraad).

Di era Jepang, Radjamin dipercayakan militer Jepang untuk menjabat Walikota Surabaya; demikian juga di era kemerdekaan, petinggi republik di Jakarta juga mempercayakan walikota Surabaya kepada Radjamin. Selama perang, Radjamin ikut berjuang, tetapi setelah pengakuan kedaulatan, haknya sebagai walikota dirampas. Radjamin berjuang kembali melalui parlemen kota. Proposalnya yang pro rakyat tidak digubris walikota penggantinya, Doel Arnowo. Para anggota parlemen menilai figur Doel Arnowo yang ditunjuk atas dasar seorang pemuda heroik di dalam perang Surabaya dianggap lemah dalam memimpin eksekutif pemerintahan, mosi tidak percaya muncul, akhirnya Doel Arnowo lengser sebagai Walikota Surabaya.

Selasa, Juli 08, 2014

Bag-7: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Bekerja Hanya Untuk Rakyat, Dimakamkan Bersama Rakyat, Tidak Diakui Pemkot Sebagai Walikota Surabaya Pertama

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini
(bagian ketujuh)

Radjamin Nasution (foto 1941)
Radjamin Nasoetion tidak menganggap penting kedudukannya sebagai Kepala Bea dan Cukai di era Belanda di Surabaya, ketika aspirasi rakyat Surabaya mengakumulasi memintanya untuk menjadi anggota dewan kota (Gemeenteraad). Radjamin siap. Kemudian tokoh-tokoh adat Surabaya melihat profil Radjamin lantas justru merekomendasikan dan mendukung penuh Radjamin duduk di dewan. Inilah awal mula mengapa Radjamin tiba-tiba ‘ngetop’ di Surabaya tahun 1931.

Radjamin Nasution hanya bekerja untuk rakyat Surabaya

Gebrakan pertama Radjamin ketika hari pertama duduk di dewan adalah mengajukan proposal yang pro rakyat. Ini sangat jarang terjadi, ketika di era itu, seseorang yang sudah berkedudukan tinggi dan berkecukupan justru bergelora mengangkat harkat rakyat. Pada masa itu, kekuasaan Belanda penuh ketidakadilan dimana-mana, termasuk di Surabaya. Hal ini tentu sudah diketahuinya juga bahwa di kampungnya di Tapanuli Selatan, penindasan kaum Belanda juga tiadataranya (bahkan sejak era Edward Douwes Dekker/Multatuli yang membangkang kebijakan pemerintah Belanda yang pada waktu itu Edwarr sebagai controleur di Natal, Mandheling en Ankola tahun 1842), Radjamin yang seorang dokter, mantan aktivis Stovia dan pernah menggagas bersama dr. Soetomo mendirikan ‘Boedi Oetomo’ yang bergerak di bidang pendidikan. Kala itu, anak-anak Stovia menyadari hanya lewat pendidikanlah ketidakadilan kaum Belanda dapat dientaskan.