*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini
Klik Disini
(bagian kelima)
Selama
awal pendudukan Jepang di Surabaya, propaganda Jepang terus menerus
dilancarkan. Bahkan setiap hari ada pesan-pesan yang berbau propaganda. Di
koran Soerabaijasch Handelsblad juga pesan-pesan ini dikemas dalam berbagai
bentuk seperti berita, cerita dan maklumat. Bulan-bulan awal kedatangan Jepang,
di koran Surabaya ini dipampang bendera Jepang, lagu kebangsaan Jepang dengan
not baloknya, dan kisah-kisah tentang Jepang dan maksud-maksud Jepang dengan
motif mempersatukan Asia dengan pusat di Jepang (matahari terbit).
Koran
Soerabaijasch Handelsblad yang berbahasa Belanda ditangani oleh orang-orang
Belanda sejak puluhan atau ratusan tahun telah distir oleh pemerintah
pendudukan Jepang di Surabaya. Di edisi-edisi yang terakhir koran ini, sejumlah
berita atau feature berbahasa Indonesia sudah dimasukkan. Lambat laun koran ini
hilang identitasnya sendiri, dan mungkin karena itu koran ini akhirnya hilang
selamanya dari peredaran. Koran ini jua yang menjadi sumber utama dalam artikel
bagian pertama hingga bagian keempat tentang kisah Radjamin ini.
***
Radjamin
sendiri di kantornya sangat sibuk dengan berbagai urusan, di satu sisi silih
berganti menerima tamu-tamu Jepang, di sisi lain harus melakukan rapat
koordinasi dengan pejabat-pejabatnya yang baru (hampir semuanya pribumi) dalam
rangka menjaga kesinambungan pemerintahan dan pembangunan fasilitas kota yang
di sana sini banyak rusak akibat perang Jepang terhadap Belanda. Radjamin juga
sibuk memantau urusan pendaftaran orang asing atas permintaan ‘juragan’nya.
Juragannya yang orang Jepang entah itu mereka ada dimana. Singkat cerita, tidak
ada waktu baginya lagi untuk menerima rakyat yang antri di balai kota.
Tapi
Radjamin tidak kaku dan memang cerdas dan selalu memandang lain terhadap orang
asing, baik Belanda maupun Jepang. Radjamin yang tidak lupa dekat dengan
rakyatnya, tetapi hampir selalu ada waktu luang bagi Radjamin untuk menemui
rakyatnya. Waktu senggangnya di luar dinas dimanfaatkannya tetap dengan gayanya
melakukan blusukan ke mana-mana untuk mendeteksi keluhan masyarakat apalagi
yang terkait dengan permasalahan kebutuhan pokok.
Gaya
blusukan ini tampaknya dilakukan diam-diam (di luar area balai kota), karena
pihak Jepang tidak merestui cara blusukan gaya Radjamin. Pihak Jepang lebih
menginginkan komunikasi satu arah saja dengan penduduk, seperti radio, koran,
maklumat-maklumat, upacara-upacara dan sebagainya. Radjamin jelas tidak bisa
sepenuhnya dikendalikan oleh para ‘juragan’. Demikianlah keseharian Radjamin,
dari minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun.