Selasa, Juli 08, 2014

Bag-6: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Setelah Berjuang Lantas Disingkirkan, Berjuang Kembali Melalui Parlemen

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian keenam)

De vrije pers: ochtendbulletin, 08-04-1950 melaporkan bahwa kemarin Dul Arnowo ditunjuk untuk menjabat sementara Gubernur Jawa Timur. Tentang Radjamin, Arnowo tidak bersedia menjawab, tetapi mengiyakan bahwa administrasi Pemerintah Kota Surabaya menjadi tanggungjawabnya karena sebelumnya Gubernur Samadikun telah mengambil alih sementara fungsi administrasi Pemerintah Kota Surabaya. Arnowo hanya menjawab bahwa dia mendengar Radjamin sedang bersiap menemui yang berwenang, Kementerian Dalam Negeri di Yogya.

***
Setelah berita De Vrije Pers (8/4/50) di atas, tidak pernah muncul lagi pemberitaan tentang posisi Radjamin gelar Sutan Kumala Pontas sebagai Walikota Surabaya.Seakan hilang tertelan bumi. Seminggu kemudian, sebagaimana diberitakan oleh koran De vrije pers: ochtendbulletin, 17-04-1950,  RadjaminNasution terpantau berada di dalam pembukaan kantin ALRIS (Angkatan Laut RIS). Radjamin Nasution terlihat disambut hangat dan akrab oleh Kepala Departemen Informasi ALRIS, Kapten Sutan Samsudin.Kapten Samsudin mengundang sejumlah pihak dalam acara pembukaan ini selain relaksasi juga untuk memberi dorongan moral bagi pasukan angkatan laut.Kolonel Nazir (Komando Laut di Surabaya) berpidato sekaligus membuka resmi kantin ini.Turut hadir dalam acara ini Gubernur Sipil,Samadikun.

Minggu, Juli 06, 2014

Bag-5: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Walikota di Pengungsian, Ikut Berjuang, Tapi Setelah Pengakuan Kedaulatan, Hak Sebagai Walikota Dirampas

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian kelima)

Selama awal pendudukan Jepang di Surabaya, propaganda Jepang terus menerus dilancarkan. Bahkan setiap hari ada pesan-pesan yang berbau propaganda. Di koran Soerabaijasch Handelsblad juga pesan-pesan ini dikemas dalam berbagai bentuk seperti berita, cerita dan maklumat. Bulan-bulan awal kedatangan Jepang, di koran Surabaya ini dipampang bendera Jepang, lagu kebangsaan Jepang dengan not baloknya, dan kisah-kisah tentang Jepang dan maksud-maksud Jepang dengan motif mempersatukan Asia dengan pusat di Jepang (matahari terbit).

Koran Soerabaijasch Handelsblad yang berbahasa Belanda ditangani oleh orang-orang Belanda sejak puluhan atau ratusan tahun telah distir oleh pemerintah pendudukan Jepang di Surabaya. Di edisi-edisi yang terakhir koran ini, sejumlah berita atau feature berbahasa Indonesia sudah dimasukkan. Lambat laun koran ini hilang identitasnya sendiri, dan mungkin karena itu koran ini akhirnya hilang selamanya dari peredaran. Koran ini jua yang menjadi sumber utama dalam artikel bagian pertama hingga bagian keempat tentang kisah Radjamin ini.

***
Radjamin sendiri di kantornya sangat sibuk dengan berbagai urusan, di satu sisi silih berganti menerima tamu-tamu Jepang, di sisi lain harus melakukan rapat koordinasi dengan pejabat-pejabatnya yang baru (hampir semuanya pribumi) dalam rangka menjaga kesinambungan pemerintahan dan pembangunan fasilitas kota yang di sana sini banyak rusak akibat perang Jepang terhadap Belanda. Radjamin juga sibuk memantau urusan pendaftaran orang asing atas permintaan ‘juragan’nya. Juragannya yang orang Jepang entah itu mereka ada dimana. Singkat cerita, tidak ada waktu baginya lagi untuk menerima rakyat yang antri di balai kota.

Tapi Radjamin tidak kaku dan memang cerdas dan selalu memandang lain terhadap orang asing, baik Belanda maupun Jepang. Radjamin yang tidak lupa dekat dengan rakyatnya, tetapi hampir selalu ada waktu luang bagi Radjamin untuk menemui rakyatnya. Waktu senggangnya di luar dinas dimanfaatkannya tetap dengan gayanya melakukan blusukan ke mana-mana untuk mendeteksi keluhan masyarakat apalagi yang terkait dengan permasalahan kebutuhan pokok.

Gaya blusukan ini tampaknya dilakukan diam-diam (di luar area balai kota), karena pihak Jepang tidak merestui cara blusukan gaya Radjamin. Pihak Jepang lebih menginginkan komunikasi satu arah saja dengan penduduk, seperti radio, koran, maklumat-maklumat, upacara-upacara dan sebagainya. Radjamin jelas tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh para ‘juragan’. Demikianlah keseharian Radjamin, dari minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun.

Sabtu, Juli 05, 2014

Bag-4: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Pendudukan Jepang dan Pengangkatan Radjamin Sebagia Walikota

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian keempat)

Di Surabaya, Radjamin tiba-tiba mendapat surat dari anak perempuannya, seorang dokter yang bersuamikan dokter yang sama-sama berdinas di Tarempa, Tandjong Pinang, Kepulauan Riau. Surat ini ditujukan kepada khalayak dan cepat beredar, karena termasuk berita penting masa itu. Surat kabar Soeara Oemoem yang terbit di Surabaya mempublikasikan isi surat keluarga (anak kepada ayahnya) tersebut menjadi milik public sebagaimana dikutip oleh koran De Indische Courant tanggal 08-01-1942. Berikut isi surat tersebut. Tandjong Pinang, 22-12-194l. Dear all. Sama seperti Anda telah mendengar di radio Tarempa dibom. Kami masih hidup. Dan seterusnya (lihat artikel bagian ketiga sebelumnya).

***
Tanggal 3 Februari 1942 perang benar-benar meletus di Kota Surabaya. Pasukan Jepang selama satu bulan beberapa kali mengebom Kota Surabaya. Koran Soerabaijasch Handelsblad yang menjadi salah satu sumber utama artikel tentang Radjamin ini, lama tidak terbit. Baru terbit kembali pada tanggal 26-02-1942. Dalam terbitan tersebut, dilaporkan terjadi perubahan di Dewan Kota. Radjamin diangkat sebagai wakil ketua.
Pasukan Jepang memasuki Kota Surabaya

Pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintahan Belanda di Indonesia benar-benar takluk tanpa syarat kepada pasukan Jepang. Pada hari itu juga kekuasaan Gemeente (Pemerintahan Kota) Surabaya berpindah tangan kepada militer (pasukan tentara) Jepang. Lantas Dewan Kota dibubarkan. Namun demikian, pada fase konsolidasi ini, pihak Jepang masih memberi toleransi dua kepemimpinan di dalam kota. Walikota Fuchter masih dianggap berfungsi untuk kepentingan komunitas orang-orang Eropa saja. Sementara walikota di kubu Indonesia dibawah perlindungan militer Jepang ditunjuk dan diangkat Radjamin Nasoetion--Wethouder, mantan anggota senior dewan kota yang berasal dari bumiputra.

Kamis, Juli 03, 2014

Bag-3: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Partai Politik, Volksraad dan Surat dari Anaknya di Tarempa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian ketiga)

Walikota Surabaya, Fuchter
Koran Soerabaijasch Handelsblad yang terbit tanggal 13-05-1938 melaporkan bahwa Radjamin termasuk salah satu kandidat pribumi untuk calon perwakilan dewan pusat dari Surabaya. Pada saat yang bersamaan sebagaimana diberitakan koran De Indische Courant tanggal 04-06-1938, Radjamin termasuk salah satu pejabat pemerintah yang naik pangkatnya menjadi Kelas 2 (Eselon 1). Sementara itu, koran Soerabaijasch Handelsblad tanggal 20-07-1938 memberitakan bahwa Radjamin menjadi salah satu petinggi (sekretaris) Parindra Kota Surabaya. Selanjutnya diberitakan koran De Indische Courant, 01-08-1938 bahwa Radjamin menjadi salah satu kandidat dalam pemilihan umum Stadgemeenteraad (Perwakilan Dewan Kota) dari Parindra untuk Volksraad.

Bag-2: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Anak Rantau yang Ingat Kampung Halamannya

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian kedua)

Radjamin vs Koesmadi. Sangat jarang seorang putra daerah tulus ikhlas memberi jalan kepada putra pendatang dalam suatu pemilihan umum daerah. Ini benar-benar terjadi, ketika Radjamin (seorang Tapanuli) diusulkan berbagai kalangan untuk maju menjadi Anggota Dewan Kota, sementara incumbent yang juga mencalonkan diri, Koesmadi (putra daerah Surabaya), mengundurkan diri sebelum ‘perang’ dimulai. Sulit memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Akhirnya Radjamin melenggang dengan mulus ke Parlemen Kota.

Berita keberhasilan Radjamin ini cepat tersebar luas, utamanya di Batavia dan Medan. Boleh jadi berita ini hanya sedikit rembesan cerita sampai ke Tapanuli Selatan—kampung halaman Radjamin Nasoetion. Mungkin Radjamin tidak terlalu dikenal di kampung halamannya, sebab umur tujuh tahun Radjamin mengikuti sekolah dasar di Padang Sidempuan, sekolah menengah di Medan, dan perguruan tinggi di Batavia.

Rabu, Juli 02, 2014

Bag-1: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Lulusan STOVIA Hingga Menjadi Angota Dewan Kota

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini


Radjamin Nasoetion dikenal luas sebagai walikota pertama Kota Surabaya. Namun tidak banyak yang mengetahui darimana asal usulnya dan bagaimana Radjamin bisa menjadi Walikota. Kisah Radjamin yang berkarir dalam tiga era (Belanda, Jepang dan Republik) sangat berliku. Lantas apa saja perannya selama perang kemerdekaan dalam pertempuran Surabaya. Artikel ini coba menyajikan riwayat Radjamin Nasoetion berdasarkan hasil penelusuran berbagai surat kabar yang terbit sejak 1908. Inilah kisah (bagian pertama) tentang Radjamin Nasoetion.

Selasa, Juli 01, 2014

Kapal Api Itu Bernama s.s. 'Sipirok'



Kapal itu diberi nama s,s, Sipirok. Sebuah kapal yang dibangun 1928 oleh  N.V. Werf v.h. Rijkee & Co, Rotterdam bertonase 1.787 ton. Kapal ini diluncurkan dari galangan kapal di Amsterdam pada tanggal 27 Oktober 1928. Kapal ini akan dioperasikan utamanya untuk menghubungkan berbagai pulau di Nusantara dan juga melakukan pelayaran internasional antara Amsterdam-Batavia. Kapal ini adalah milik KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij)--perusahaan pelayaran besar di negeri Belanda.

Kapal api s.s. Sipirok (1928-1942)
Biasanya nama-nama kapal adalah nama pulau, selat, kota pantai atau lainnya. Jarang sekali nama kapal diberi nama wilayah. Namun demikian, inspirasi pemberian nama ini ternyata berasal dari adanya booming kopi dari Sipirok di tahun 1920an. Kapal-kapal dagang milik KPM termasuk yang kerap mengangkut kopi yang berasal dari Sipirok menuju Eropa. Kapal s.s. Sipirok terdeteksi terakhir di Pelabuhan Padang pada tanggal 15 Maret 1940. Tidak lama kemudian kapal bernama s.s. Sipirok ini dilaporkan telah tenggelam pada 6 Maret 1942 di Pelabuhan Cilacap.