Rabu, Agustus 04, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (93): Orang Lubu Halak Siladang di Panyabungan; Asal Usul Keberadaan di Aek Banir dan Sipaga-Paga

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Orang Siladang adalah orang yang mengidentifikasi diri sebagai Halak Siladang. Orang (halak) Siladang umumnya berasal dan tinggal di wilayah desa Aek Banir dan desa Sipaga Paga, kecamatan Panyabungan, kabupaten Mandailing Natal. Orang Siladang dibedakan dengan orang Mandailing maupun orang Natal. Hal ini karena bahasa orang Halak Siladang memiliki perbedaan. Bagaimana kehadiran masyarakat (orang) Siladang belum tergali sepenuhnya.

Para peneliti terdahulu mengidentifikasi orang (halak) Siladang sebagai orang (etnik) Lubu. Disebutkan tempo doeloe orang Siladang tersebar berada di Padang Lawas dan Mandailing. Pada masa ini orang Lubu yang juga disebut halak Siladang tinggal di lembah perbukitan Tor Sihite dimana terdapat desa Aek Banir dan desa Sipaga-paga (sekitar 17 Km dari Kota Panyabungan, ibukota Kabupaten Mandailing Natal). Para peneliti terdahulu juga menyebut sisa-sisa peninggalan era Hindoe Boedha masih terlihat dalam kehidupan masyarakat Lubu. Bahasa Siladang berakar pada bahasa Melayu yang kini sudah tercampur dengan bahasa Batak. Pada saat dilakukan pendataan pada tahun 1891 jumlah masyarakat Lubu tercatat sebanyak  2.033 jiwa. Sementarra berdasarkan statistik kependudukan tahun 1975, jumlah penduduk Siladang berjumlah 1.113 jiwa yang mencakup kampung Sipaga-paga, sebanyak 264 jiwa (55 KK) dan kampung Aek Banir sebanyak  849 jiwa (171 KK). Sedangkan berdasarkan Podes (BPS) 2008 tercatat sebanyak 2.030 jiewa yang mencakup 1,000 jiwa  (528 KK) di desa Aek Banir dan 1.030 jiwa (376 KK) di desa Sipaga-paga.

Lantas bagaimana sejarah orang Siladang (orang Lubu) di wilayah kecamatan Panyabungan? Seperti disebut di atas orang (halak) Silandang sudah lama berada di pemukiman yang sekarang, namun asal-usul terkesan masih simpang siur. Lantas bagaimana sejarah orang Siladang (orang Lubu) diantara pemukimana orang Mandailing? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Orang Lubu, Orang Siladang di Mandailing

Sebelum komunitas Halak Siladang Orang Lubu yang sekarang yang terdapat di dua desa Aek Banir dan desa Sipaga-Paga, sebelumnya berada di tiga ‘kampung’, yakni Siladang Djae, Siladang Tonga dan Siladang Djoeloe (lihat De locomotief, 22-07-1933). Disebutkan bahwa tiga kampung ini tidak dapat dikatakan benar-benar kampung karena rumah satu dengan yang lainnya berjauhan. Di Siladang Djae yang dekat dengan sungai Batang Gadis terdapat tiga buah rumah, di Siladang Tonga yang berjarak 1.5 Km sekitar 20 rumah dan selanjutnya Siladang Djoeloe sebanyak 100 rumah. Dari tiga kampong ini terdapat dua kepala ripe (Ripehoofden). Mereka semua sudah beragama Islam yang disiarkan oleh Shech Abdul Mutholip yang terkenal dari kampung Manjabar.

Nama Lubu sendiri adalah nama yang sudah lama ada (mungkin sejak awal Hindoe Boeda). Terminologi Loeboe sendiri telah bergeser menjadi leoeboek yang berarti cekung dalam ait, danau atau sungai. Namun nama Loeboe juga menjadi nama tempat atau nama wilayah seperti Loeboe Raja (wilayah di lereng gunung Raja), Loeboe Sikaping, Loeboe Basoeng, Loeboe Djambi dan mungkin juga Loeboe yang bergeser menjadi Loewoe atau Loewoek di Sulawesi (Toraja). Sedangkan nama Loeboe (saja) sendiri diidentifikasi sebagai nawa wilayah (lihat Tijdschrift voor Neerland's Indiƫ jrg 2, 1839). Disebutkan bahwa Loeboe memiliki sepuluh kampung besar dengan empat Raja, enam puluh Panghulu dan berpenduduk 10.000 jiwa, termasuk Batak. Ini mengindikasikan bahwa Siladang adalah bagian dari wilayah Loeboe (yang luas) yang termasuk di wilayh Batak (Siladang sendiri?). Sementara Mandailing terdiri dari 38 kampung besar dengan seorang raja dan enam punghulu berpopulasi 40.000 jiwa, semuanya di wilayah Batak, Sedangkan Angkola memiliki sepuluh kampung Batak besar, masing-masing dengan seorang Raja dan sepuluh Panghulu, memiliki populasi gabungan sekitar 10.000 jiwa. Nama wilayah lainnya adalah Padang Lawa dengan delapan kampung Batak besar, masing-masing memiliki satu Raja dan 10 Panghulu dan bersama-sama berpenduduk hampir 8.000 jiwa; Rau memiliki dua puluh kampung besar dengan Radja dari suku Minangkahouw dan lima belas Panghulu, sedangkan setiap kampung memiliki sepuluh Panghoelus lagi yang secara keseluruhan populasi lanskap ini hampir 25.000 jiwa yang secara sukarela diserahkan kepada Pemerintah pada tahun 1832, populasi ini bagaimanapun menurun lagi pada tahun 1834 dan sejak itu lanskap ini diambil kembali oleh pemerintah pada tahun 1835; Tamboessei adalah lanskap kecil, terletak di timur Mandailing dan Rau dan berbatasan dengan Arakan (Rokan?). Itu berada di bawah otoritas Tuankoe Tamcboesei yang terkenal, yang sering mengganggu perjanjian pemerintah di Mandailing dan telah menjadi penyebab penghianatan Rau. Last but not least Bondjol atau nama lama Alahan Panjang sebelumnya memiliki seorang Raja dan tujuh Panghulu, tetapi kemudian di bawah kekuasaan Padri, setelah menjadi pusat pemerintahan sekte ini diantara orang Melayu, pemerintahan dilakukan oleh empat imam dengan nama Toeankoe Nas Barampe. Pada ahun 1832 lanskap ini tunduk kepada Pemerintah tetapi pada tahun 1833 memberontak,

Keberadaan nama wilayah Loeboe paling tidak sudah dikenal sekitar satu abad sebelum nama (kampong) Siladang muncul kemudian. Berdasarkan catatan geografis tahun 1839 (sebelum dibentuknya cabang pemerintahan Hindia Belanda di Afdeeeling Angkola Mandailing) orang Siladang berada di wilayah mereka sendiri yang disebut wilayah Loeboe (yang dibedakan dengan wilayah Rao, Mandailing, Padang Lawas dan Tambusai)

Perkembangan Masyarakat Siladang

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar: