25/07/15

Pohon Tusam (Pinus Merkusii): Ditemukan Pertama Kali di Sipirok oleh Junghuhn Tahun 1841 pada Era Gubernur Jenderal Pieter Merkus


.
Hamparan Pohon Tusam di Sipirok (illustrasi)
Pohon tusam, nama botaninya ditulis secara lengkap sebagai Pinus Merkusii Jungh. et de Vriese. Ternyata nama spesies dari genus Pinus ini menunjukkan nama-nama orang. Merkusii diambil dari nama belakang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Pieter Merkus yang menjabat antara 1840 hingga 1845. Sementara Junghuhn diambil dari nama seorang geolog dan botanis bernama Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn. Sedangkan de Vriese diambil dari nama seorang botanis Belanda bernama Prof. Willem Hendrik de Vriese yang ditempatkan di Bogorse Plantentum di Buitenzoeg tahun 1857 sebagai komisi investigasi botani untuk Hindia Belanda. Lantas bagaimana keterkaitan tiga orang ini yang mana pohon tusam ditemukan pertama kali di Sipirok?. Ini kisahnya.

***
Pieter Merkus (diangkat menjadi Gubernur Jenderal 1840) adalah orang yang bertanggungjawab dan menugaskan Franz Wilhelm Junghuhn tahun 1840 (yang telah berpengalaman menjelajahi seluruh Jawa dan mendaki semua gunung api yang ada) untuk melakukan eksplorasi geologi dan botani ke suatu wilayah baru (kelak namanya menjadi Tapanoeli).

Peta Tanah Batak, 1830
Pada tahun 1833 satu lanskap baru ditambah yakni Tapanoeli. Empat lanskap (Nattal, Tappanoeli, Aijer Bangies dan Poelo Batoe)  kemudian menjadi satu kesatuan wilayah yang disebut Noordelijke Afdeeling (belum diberi nama). Pimpinan wilayah baru ini adalah Civiel en Militaire Kommandant berpangkat tertinggi (1ste Luitenane), sebagaimana sebelumnya di tempatkan di Natal. Pada tahun 1836 di Noordelijke Afdeeling struktur pemerintahan sudah bergeser dari militer ke sipil. Seorang asisten residen ditempatkan di Noordelijke Afdeeling yang berkedudukan di Natal. Untuk membantu asisten residen di lanskap Natal yang diperluas di Mandheling dan lanskap Aijer Bangies yang diperluas di Rau  diangkat masing-masing seorang asisten yang dibebankan pada tugas-tugas sipil (adsistent, belast met het civiel gezag). Sementara di lanskap Aijer Bangies masih tetap diberlakukan civiel commandant dengan pangkat Tweede Luitenane. Untuk lanskap Tapanoeli dan lanskap Poelo Batoe masih tetap dalam posisi semula yang masing-masing menempatkan seorang posthouder. Di Noordelijke Afdeeling ini satu fungsi baru untuk membantu asisten residen yakni dengan menempatkan seorang pakhuismeester. Pada tahun 1838 wilayah Sumatra’s Westkust ditingkatkan dari kresidenan menjadi provinsi. Pimpinan pemerintahan dari sebelumnya Residen menjadi Gubernur dengan nama Civiel en Militaire Gouverneur. Posisi gubernur ini dijabat oleh A.V. Michiels. Gubernur dibantu dua residen yakni Residen untuk Padang dan Residen untuk Aijer Bangies. Namun demikian, kedua residen ini berkedudukan di kantor gubernur di Padang. Untuk kresidenan Aijer Bangies ditempatkan seorang asisten residen di Aijer Bangies yang dibantu seorang pakhuismeester. Asisten residen di Natal dihapuskan. Sedangkan empat lanskap lainnya (Mandheling, Rau, Tapanoeli dan Poela Batoe) tetap seperti semula yang mana di Mandheling dan di Rau  dijabat oleh  masing-masing seorang asisten yang dibebankan pada tugas-tugas sipil (adsistent, belast met het civiel gezag) untuk membantu asisten residen di Aijer Bangies. Semantara di Tapanoeli dan Poelo Batoe masih tetap dijabat oleh masing-masing seorang posthouder. Residen Aijer Bangies, selain dibantu seorang Asisten Residen, juga dibantu oleh empat belas ‘ambtenaren ter beschikking van den gouverneur’ yang salah satu diantaranya ditempatkan langsung di Aijer Bangies. Pada tahun 1839 struktur pemerintahan ini tetap dan tidak berubah. Pada tahun 1840 terjadi perubahan besar-besaran. Nama Noordelijke Afdeeling diubah namanya menjadi Residentie Aijer Bangies. Residen untuk Aijer Bangies yang sebelumnya berkantor di gubernuran, kini ditempatkan langsung di Aijer Bangies. Fungsi ‘ambtenaren ter beschikking van den gouverneur’ dihapuskan. Akan tetapi, untuk membantu Residen dibantu seorang asisten residen, seorang  sekretaris, seorang kommies dan seorang pakhuismeester. Asisten residen baru disebut adsistent resident van Mandheling en Ankola tetapi berkantor di Aijer Bangies. Untuk membantu asisten residen, posisi Natal yang sebelumnya dihapuskan, diaktifkan lagi dengan menempatkan seorang controleur yang berkedudukan di Natal, Sedangkan posisi di lanskap Rau dihapuskan. Untuk lanskap Tapanoeli tetap ditempati seorang posthouder, tetapi diperluas ke Baros dengan menempatkan seorang civiel gezaghebber. Untuk memperkuat struktur pemerintahan di Residentie Aijer Bangies diangkat seorang kommies aontvanger dan seorang controleur ter beschikking van den resident (wilayah Tapanoeli dan Baros). Struktur pemerintahan ini tetap dan tidak berubah pada tahun 1841.

Sungai Batangtoroe dan Gunung Loeboekradja (lukisan 1840)
Junghuhn yang didampingi Hermann von Rosenberg berangkat dari Batavia ke Padang lalu tiba di teluk Tapanoeli (Oktober, 1840). Ketika mereka tiba, di wilayah itu hanya ada seorang posthouder (yang mengepalai pos dagang Belanda) yang berada di pulau Punchong (kini Poncang). Dari post ini dengan perahu kecil menyusuri pantai dan memasuki muara sungai Pinang Soeri (kini Pinang Sori) kemudian diteruskan dengan sampan hingga tiba di Loemoet lalu dengan jalan kaki hingga bertemu sungai Batangtoru. Target mereka adalah gunung Loeboekradja. Untuk menyeberangi sungai Batangtoru tidak mudah. Mereka menyusuri sungai hingga ditemukan sebuah jembatan rambin yang terbuat dari rotan. Gunung Lubuk Raya dan rambin di atas sungai Batangtoru mereka abadikan dalam suatu lukisan tahun 1840.

***
Jembatan dari rotan (rambin) di atas Batangtoroe (lukisan 1840)
Perjalanan mereka tentu saja tidak tergesa-gesa bahkan bisa berhari-hari atau berminggu-minggu di satu tempat. Dalam hal ini mereka (Junghuhn dan Rosenberg) tentu saja ditemani oleh sejumlah pemandu yang merangkap kuli untuk membawa barang-barang dan peralatan. Namun, dalam tim ini, Rosenberg tidak lama dan tidak bisa melanjutkan perjalanan karena sakit dan kembali ke Batavia. Junghuhn terus melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Dari Batangtoru dilanjutkan ke Huraba, Panabasan, Sisoendoeng hingga akhirnya sampai ke Pijor Koling. Mengapa ke Pijor Koling?

Peta militer 1837 mengepung Tambusai 1838 (pedoman Junghuhn, 1840)
Jauh sebelum Junghuhn memasuki Ankola (1840), militer Belanda sudah memasuki wilayah Mandailing melalui pelabuhan Natal tahun 1833 untuk tujuan utama mengepung benteng Bonjol dengan mendirikan pos militer di Kotanopan. Pada tahun 1834 dibangun sebuah benteng di Panjabungan yang disebut benteng Elout. Setelah benteng Bonjol berhasil dikalahkan (1837), militer Belanda mengalihkan pengejaran terhadap pasukan Tambusai ke Angkola. Di Pijorkoling tahun 1837 dibangun sebuah benteng untuk menggantikan pos militer sebelumnya yang berada di Sayurmatinggi (dibangun 1835). Ketika dilakukan pengejaran terhadap pengikut Tambusai di Ankola (termasuk Sipirok) sebagian melarikan diri ke Batangtoru dan sebagian yang lain ke Padang Lawas. Pengikut Tambusai yang melarikan diri ke Lubuk Raya dan Batangtoru mudah dikalahkan. Untuk menjamin keamanan di Angkola dibangun pos militer di Tobing (dekat Sigumuru). Setelah aman di Ankola dan Sipirok, militer Belanda (yang dibantu penduduk Mandailing dan Ankola) melakukan serangan besar-besar ke Padang Lawas tahun 1838 dimana pasukan Tambusai melakukan aktivitas. Militer Belanda akhirnya mengusai sekitar Pertibi dan tahun 1838 dibangun benteng di Pertibi. Dari Pertibi serangan dilakukan hingga Sosa dan Dalu-Dalu. Pada tahun 1838 Mandailing dan Angkola (termasuk Sipirok) sudah aman sepenuhnya, sementara di Padang Lawas masih memerlukan penjagaan keamanan oleh militer. Selanjutnya, pada tahun 1840 dibentuk afdeeling Mandheling en Ankola dan afdeeling Natal. Seorang asisten residen diangkat yang berkedudukan di Panjaboengan dan seorang controleur di Natal.

FW Junghuhn (kiri)
Pada saat Junghuhn berada di Pijorkoling hanya ada markas militer yang menempati lokasi benteng Pijorkoling. Seperti di dalam laporannya disebutkan bahwa di dalam benteng Pijor Koling, tim ekspedisi ini bertemu hanya dengan seorang sersan berbangsa Belanda bernama  Scheeren dengan anak buah sebanyak dua puluh tentara Jawa. Di desa Pijor Koling sendiri terdapat 40 buah rumah kecil yang terbuat dari bambu yang konstruksi berbentuk rumah panggung. Sejumlah ternak berkeliaran di halaman, para wanita tampak menenun kain berwarna warni dan menggunakan manik-manik, para pria bertani padi dan jagung untuk kebutuhan sendiri (subsisten). Hanya beberapa pria yang bisa berbahasa Melayu sedikit-sedikit. Kami mendapat informasi sekadarnya dari mereka.

Sementara itu, ‘ibukota’ pemerintahan yang baru dibentuk berada nun jauh di sana, di Panjaboengan dan Natal. Menurut berita di surat kabar di Batavia pada tahun 1839 sudah beredar akan ditempatkan seorang controleur di Ankola yang berkedudukan di Pijorkling. Namun ketika Junghuhn berada di Pijorkoling realisasi penempatan controleur dan ibukota Ankola di Pijorkoling belum terlaksana.

Besar kemungkinan Pijorkoling adalah posko dari Junghuhn. Selama tahun 1841, Junghuhn bekerja di seputar Angkola dan Sipirok dan Mandailing. Ketika Junghuhn melakukan ekspedisi geologi dan botani di Sipirok, di dataran tinggi inilah Junghuhn menemukan adanya pohon tusam.

‘Setelah melihat tusam di sebelah utara Sipirok (Sipagimbar), Junghuhn sangat terpesona, karena tidak menyangka disini di tengah-tengah daerah tropis ada kenyataan bahwa pinus tumbuh dengan baik. Penemuan ini disebutkannya sebagai salah satu yang paling penting dalam bidang geografi tanaman, bahwa ada Pinussoort ditemukan di daerah tropis. Junghuhn menyebutnya sebagai Pinus sumatrana Jungh.

Setelah dari Sipirok, Junghuhn melanjutkan ekspedisi pada tahun 1842 ke Padang Lawas. Pada tahun ini (1842) terjadi perubahan struktur pemerintahan baru dengan dibentuknya satu residentie yang disebut Residentie Bataklanden. Residentie ini terdiri dari dua afdeeling, yaitu: Afdeeling Tapanoeli dan Afdeeling Pertibie. Di Afdeeling Tapanoeli, Asisten residen diangkat dan ditempatkan di Sibolga dan seorang controleur di Barus. Sementara di afdeeling Padang Lawas hanya ditunjuk empat abtenar, dua diantaranya FT Willer untuk urusan lanskap dan FW Junghuhn (sendiri) sebagai urusan topografi. Di afdeeling Mandheling en Ankola sendiri diangkat dua orang Controleur, yakni di Oeloe en Pakantan yang dijabat oleh Happe berkedudukan di Kotanopan dan Ankola yang dijabat oleh Godin yang berkedudukan di Pijorkoling.

***
Setelah menyelesaikan sebagian tugas-tugasnya di bidang geologi (termasuk botani) dan topografi, Junghuhn kembali ke Batavia. Berbagai data yang telah dikumpulkan mulai dikompilasi, dianalisis dan ditulis. Salah seorang koleganya adalah Prof. Vriese yang menjadi komisi untuk Botani di Hindia Belanda yang berkantor di Buitenzorg. Dengan Vriese sejumlah temuan didiskusikan. Prof. lalu memberikan gambaran botani pertama dari spesies baru ini, menamianya Pinus merkusii Junghuhn et de Vriese.

Sebelumnya direktur Bogorse Plantentum, Dr. CL Blume yang telah menjabat sejak 1822 dengan nama Pinus finlaysoniana Wallich. Namun penamaan itu diubah oleh de Vries Pinus merkusii Junghuhn et de Vriese. Hal ini dimaksudkan untuk menghormati Gubernur Jenderal P. Merkus, yang misinya Junghuhn perjalanan ke Sumatera.

Pieter Merkus yang telah berada di Hindia Belanda sejak 18..dan menjabat Gubernur Jenderal sejak 1840, meninggal pada 2 Agustus 1844 di Surabaya. Sedangkan Vries sendiri meninggal  pada tahun 1845. Dengan demikian nama botani tusan secara lengkap ditabalkan setelah Pieter meninggal dan sebelum Vriese meninggal.

Pada tahun 1845 Province Sumatra’s Westkust hanya dibentuk tiga kresidenan yakni Kresidenan Padangsche Benelanden beribukota Padang, Kresidenan Bovenlanden berkedudukan di Fort de Kock dan Kresidenan Tapanoeli berkedudukan di Sibolga. Aijer Bangies sendiri yang dulu berstatus residen diturunkan menjadi asisten residen tetapi seperti beberapa asisten residen yang lainnya berada di luar Kresidenan Padangsche Bovenlanden. Sementara asisten residen Mandheling en Ankola dimasukkan ke Residentie Tapanoeli. Sementara controleur Natal masih tetap di Asisten Residen Aijer Bangies. Selain itu, Residentie Tapanoeli ditingkatkan statusnya dari sebelumnya asisten residen menjadi Residen yang berkedudukan di Sibolga.

Dengan perubahan itu, maka Kresidenan Tapanoeli terdiri dari tiga afdeeling (Mandheling en Ankola, Baros dan Singkel) plus eilend Nias. Di afdeeling Mandheling tetap ditempatkan asisten residen dengan dibantu dua controleur. Di kantor Residen di Sibolga, Residen dibantu oleh sekretaris, kommies, ambtenar dan seorang controleur. Pada tahun 1846 tidak ada perubahan yang berarti kecuali bahwa afdeeling Natal yang sebelumnya masih di Aijer Bangies kini dimasukkan ke Residentie Tapanoeli. Selanjutnya struktur pemerintahan baru ini tidak mengalami perubahan hingga tahun 1851.

FW Junghuhn sendiri menulis laporannya dari ekspendisi ke Tapanoeli yang dibukukan dengan judul Die Battaländer auf Sumatra (Tanah Batak di Sumatra) yang diterbitkan tahun 1847.

Menarik untuk dicermati, mengapa Junghuhn memberi nama Battaländer(Tanah Batak) pada nama buku yang ditulisnya. Padahal nama Residentie Bataklanden hanya muncul pada tahun 1842 yang terdiri dari afdeeling Tapanoeli dan afdeeling Pertibie. Setelah itu nama residentie diubah menjadi Residentie Tapanoeli (yang terdiri dari afdeeling Tapanoeli dan Afdeeling Padang Lawas (menggantikan penamaan Pertibie). Afdeeling Bataklanden baru muncul kemudian yang menjadi nama wilayah untuk lanskap Silindoeng en Toba. Pemerintahan sendiri baru terbentuk di Afdeeling Bataklanden pada tahun 1870an dengan menempatkan seorang controleur di Taroetoeng.

Makam radja-radja di Siaboe, 1846
Untuk menjelaskan ini agak sulit secara administrative. Pada tahun 1845 (dua tahun sebelum buku Junghuhn terbit) status Residentie Tapanoeli ditingkatkan dari sebelumnya dikepalai oleh seorang asisten residen menjadi residentie yang dikepalai oleh Residen. Dalam hal ini ada penggabungan wilayah, afdeeling Mandheling en Ankola dimasukkan ke Residentie Tapanoeli. Asisten residen tetap berkedudukan di Panjaboengan sementara asisten residen di Sibolga dihapuskan. Di Sibolga sendiri ditempatkan seorang Residen. Pada tahun 1846, menyusul afdeeling Natal dimasukkan ke Residentie Tapanoeli. Sedangkan di afdeeling Bataklanden dan afdeeling Padang Lawas belum terbentuk sama sekali pemerintahan.

Peta Tapanoeli 1845 (belum ada jalan)
Sehubungan dengan penamaan buku Junghuhn tersebut, nama itu digunakan oleh Junghuhn bersifat futuristic, karena kenyataannya isi buku ini meliputi wilayah-wilayah geologi dan botani yang mencakup Afdeeling Natal, Afdeeling Mandheling en Ankola, Afdeeling Sibolga en ommelanden, Afdeeling Padang Lawas, dan sebagian Afdeeling Bataklanden terutama lanskap Silindoeng. Boleh jadi alasan pribadi Junghuhn bahwa ketika Junghuhn melakukan tugas misi yang diberikan Pieter Merkus yang dimulai sejak 1840, kemudian pada tahun 1842 nama-nama lanskap yang belum memiliki nama disebut sebagai Residentie Bataklanden (yang hanya terdiri dari afdeeling Tapanoeli (Sibolga dan sekitarnya) dan afdeeling Pertibie.

Jangan lupa, begitu lamanya Junghuhn bekerja di wilayah baru itu, dan berinteraksi dengan penduduk, maka Junghuhn sendiri bisa berbahasa Batak. Di wilayah-wilayah berbahasa Batak (dengan berbagai dialek) inilah Junghuhn ditugaskan Pieter Merkus dan secara administrative kemudian wilayah kerjanya itu digabung kemudian menjadi satu residentie, yakni Residentie Tapanoeli: Afdeeling Natal, Afdeeling Mandheling en Ankola, Afdeeling Sibolga, Afdeeling Barus, Afdeeling Padang Lawas dan Afdeeling Batakalanden (Silindoeng en Toba).

Persenjataan di Ankola (1867)
Salah satu pemandu Junghuhn selama di Tanah Batak adalah Dja Pangkat. Seorang kepala kampong di Saroematinggi, Ankola. Suatu tempat dimana pos militer Belanda tahun 1835 dibangun setelah benteng Elout di Panjaboengan di bangun 1834. Militer Belanda pertama kali memasuki Tanah Batak pada tahun 1833 melalui pelabuhan Natal. Dja Pangkat adalah juga pemandu Ida Pfeiffer, wanita pelancong Austria yang melakukan perjalanan lone ranger ke pedalaman Tanah Batak tahun 1852. Ketika tiba di Saroematinggi bertemu dengan Hammeh yang tengah bertugas di kampung itu dan menyampaikan keinginannya untuk meneruskan perjalanan hingga danau Toba. Hammeh yang merekomendasikan Dja Pangkat untuk pemandu Ida Pfeiffer karena sudah berpengalaman dan pernah menjadi pemandu Junghuhn hingga ke Silindoeng. Informasi ini diceritakan Hammeh di Sumatra Courant edisi 1881. Menurut Hammeh, Ida Pfeiffer berhasil melihat danau Toba dari perbukitan. Ini berarti, Ida Pfeiffer adalah orang Eropa pertama yang melihat adanya danau besar di pedalaman Tanah Batak.  

***
Die Battaländer auf Sumatra (Tanah Batak di Sumatra) yang diterbitkan tahun 1847 adalah buku pertama yang ditulis mengenai Tanah Batak. Di dalam buku ini nama tusam sudah disebut sebagai nama Pinus Merkusii Junghuhn et de Vriese. Dalam perkembangan lebih lanjut, tusam tidak hanya ditemukan di Tanah Batak, tetapi juga di Kerinci dan Atjeh.

Pada tahun 1865 pejabat kehutanan ,  Inspektur JWH Cordes di Kerintjische melaporkan bahwa tusam sebagaimana deskripsi Vriese (Pinus Merkusii Junghuhn et de Vriese) juga ditemukan di Kerinci, sekitar 20 derajat Lintang Selatan yang merupakan habitat paling jauh di tropis (di selatan ekuator). Lalu kemudian dilaporkan bahwa di Atjeh juga ditemukan selama dan setelah perang Atjeh dengan rentang terluas di Central Atjeh yang berpusat di Takeungon. Di daerah Takengon ini bahkan waktu itu tidak sedikit pohon pinus dengan postur tinggi 50-70 m dengan diameter 1-1,50 m.

***
Pohon tusam (Pinus Merkusii Junghuhn et de Vriese) adalah salah satu pohon ajaib. Mudah tumbuh di habitat yang kering dan minim air. Permadani tusam di Sipirok dan sekitarnya serta di Atjeh menjadi inspirasi bagi seorang rimbawan (pakar kehutanan) Mr. JW. Gonggrijp pada tahun 1927 untuk memperkenalkan pohon tusam sebagai reboisator paling unggul. Inilah yang dilakukan pada tahun 1927 untuk menutupi tanah-tanah gundul yang terdapat di Karoland dan sekitar danau Toba (budidaya masif dimulai tahun 1928 di Aek Nauli). Sejak itu penduduk semakin dilibatkan dalam reboisasi dengan menggunakan pohon tusam. Jadi kita sekarang menemukan hutan yang tersebar di hutan oasis di tengah-tengah lalangwoestenij yang luas itu adalah anugerah yang diperoleh setelah pohon tusam pertama kali ditemukan di Sipirok dan dikerjakan oleh penduduk dalam rangka reboisasi di era Hindia Belanda.

Pohon tusam tidak hanya mengimbangi tanah-tanah gundul akibat kebakaran yang berulang di Simalungun dan sekitar danau Toba tetapi juga telah dimanfaatkan untuk membuat jutaan kotak dan sumpit. Setelah kemerdekaan melalui Stasiun Penelitian Kehutanan di Bogor sudah melakukan uji coba untuk diolah menjadi pulp dan kertas koran.

***
Peta Tapanuli 1852 (klik gambar untuk memperbesar)
FW Junghuhn dan FT Willer adalah dua orang pertama yang memberi kontribusi lebih awal tentang pedalaman Tanah Batak. FW Junghuhn ditugaskan langsung oleh Gubernur Jenderal Nederlansch Indie di Batavia, sementara FT Willer ditugaskan oleh Gubernur Sumatra;s Weskust di Padang untuk memetakan Tanah Batak. FW Junghuhn pertamakali memasuki Tanah Batak tahun 1840 dari Telok Tapanoeli, sedangkan FT Willer pertamakali memasuki Tanah Batak tahun 1841 dari pelabuhan Natal. Kedua orang ini besar kemungkinan pertamakali tahun 1841 di afdeeling Mandheling en Ankola. Pada tahun 1842 (menurut Almanak 1842) kedua orang ini sama-sama bertugas di afdeeling Pertibie (Residentie Bataklanden). FT Willer sebagai Gecommitterde voor de landschappen Padang Lawas, Temboesy, Paneh en Bila (afdeling Pertibie); sedangkan FW Junghuhn sebagai Gecommitterde voor topographische en natuurkundige onder zoekingen in de Battalanden (afdeeling Tapanoeli en afdeeling Pertibie). FT Willer sebelum memetakan Pertibie (1842) sudah terlebih dahulu memetakan afdeling Mandheling en Ankola (1841). FT Willer pada tahun 1843 diangkat menjadi asisten residen afdeeling Mandheling en Ankola yang berkedudukan di Panjaboengan hingga tahun 1845.

Pada tahun 1843 Residentie Bataklanden di perluas menjadi Afdeeling Tapanoeli, Afdeeling Pertibie, Baros dan Singkel serta eiland Nias. Pada tahun 1844 nama Residentie Bataklanden diubah menjadi Residentie Tapanoeli yang wilayahnya hanya Afdeeling Tapanoeli, afdeeling Baros, afdeeling Singkel dan eiland Nias minus afdeeling Pertibie. Pada tahun 1845 Residentie Aijer Bangies dihapus, sementara Residentie Tapanoeli ditingkatkan statusnya dari asisten residen menjadi Residen. Sedang afdeeling Mandheling en Ankola yang tahun sebelumnya masih masuk Residentie Aijer Bangies bergabung dengan Residentie Tapanoeli. Residen berkedudukan di Siboga, asisten residen di Panjaboengan, controleur masing-masing di Baros dan di Singkel.  

Yang diangkat menjadi Resident pertama di Residentie Tapanoeli (1845) adalah Luit.col Alexander van der Hart, seorang tentara pemberani, pahlawan dalam perang Bondjol (ketika itu masih berpangkat Kapten) dan menjadi ‘panglima’ dalam perang Tambusai di Dalu-Dalu tahun 1843. Pada tahun 1845 Risidentie Tapanoeli belum termasuk empat lanskap, yakni: Pertibie, Padang Lawas, Silindoeng, dan Toba. Hal ini karena pada waktu itu empat lanskap ini belum dinyatakan aman dari sudut pandang militer, dan karenanya pemerintahan di lanskap-lanskap tersebut belum dibentuk.  

Sebuah huta di Silindoeng (lukisan Jubghuhn, 1847)
Alexander van der Hart meski seorang militer tulen dan pemberani, tetapi sangat humanis. Ketika Luit.col van der Hart diangkat menjadi Residen (1845) yang berkedudukan di Sibolga, program pertamanya adalah pengembangan pertanian Tapanoeli. Boleh dikatakan Letkol van der Hart adalah perancang pertama program pertanian di Tapanoeli. Junghuhn pada tahun 1845 besar kemungkinan telah dilibatkan dan diminta menyelesaikan tugas pemetaan geologinya di lanskap Mandheling. Dalam tugas ini, kemungkinan FW Junghuhn dan FT Willer (yang sudah menjadi asisten residen) bekerjasama lagi di Mandheling. Bahan-bahan yang dikumpulkan dua orang ini (Junghuhn dan Willer) dapat dianggap sebagai contributor utama dalam tersusunnya peta wilayah Tapanoeli yang pertama (lanskap Toba belum tercakup). Peta tersebut diberi judul: Kaart van het Gouvernement Sumatra's Westkust: opgenomen en zamengesteld in de jaren 1843 tot 1847 / door L.W. Beijerink met medehulp van C. Wilsen... et al. Peta ini terbit pertamakali awal tahun 1852. Besar kemungkinan peta inilah yang ditemukan Ida Pfeiffer di Batavia yang membuatnya tertarik untuk melakukan perjalanan di pedalaman Tanah Batak pada bulan Agustus 1852.

________
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama adalah artikel berjudul: ‘Rimboe-overpeinzingen Dienst boswezen gehaat bij de bevolking?’ door: K.S. Depari (Afdelingshoofd Boswezen te Siantar) yang dimuat dalam Het nieuwsblad voor Sumatra, edisi 31-07-1957.

Tidak ada komentar: