Kamis, Juli 30, 2015

Bag-5. Sejarah Tapanuli: Kisah-kisah Perjalanan dan Transportasi di Pedalaman Tanah Batak, dari Jalan Setapak hingga Terbentuknya Jalan Raya Lintas Sumatra



Terowongan Bonandolok (dikerjakan 1910)
Bagaimana Tanah Batak ditemukan sudah banyak yang menulisnya. Akan tetapi asal-asul terhubungnya satu kampong dengan kampong yang lainnya di pedalaman yang kemudian terbentuk jaringan kota-kota pada masa kini belum banyak diungkapkan. Kisah-kisah perjalanan (expedition or travelling) di pedalaman Tanah Batak akan membantu pemahaman bagaimana pada awalnya antar satu wilayah dengan wilayah lainnya terintegrasi dan antar satu kampong dengan kampong yang lainnya tumbuh dan kembang menjadi kota-kota. Kisah-kisah perjalanan yang dipublikasikan surat kabar tempo doeloe dalam hal ini menjadi sumber informasi awal tentang penemuan kampung-kampung di pedalaman Tanah Batak dan bagaimana jaringan transportasi terbentuk di Residentie Tapanoeli serta adanya transportasi lintas Sumatra pertama dari Medan ke Padang via Sibolga (coast to coast).

Jembatan Batangtoru (dikerjakan 1879)
Perjalanan ke pedalaman Tanah Batak dimulai dari penggunaan perahu-perahu kecil, jalan kaki menyusuri jalan setapak di atas bukit terjal dan di lereng gunung yang curam serta menerabas semak dan menembus hutan belantara. Peranan alat transportasi kuda, gerobak dan kehadiran mobil pertamakali menjadi hal yang menarik untuk memahami bagaimana jaringan transportasi terbentuk di pedalaman Tanah Batak. Kisah bagaimana mengangkut kapal besi hingga bisa hadir di danau Toba, moda transportasi kereta api dan moda transposrtasi udara yang gagal terlaksana akan menambah pemahaman bagaimana munculnya sistem transportasi awal di pedalaman Tanah Batak. Pelabuhan di pedalaman (Loemoet, Batangonang dan Simpang Sinoendang), pembangunan jalan di medan yang berat (Natal-Panyabungan, Sipirok-Tarutung, dan Sibolga-Tarutung) pembangunan jembatan terpanjang (Batangtoru), dan pembuatan terowongan (tunnel) pada batu cadas di Bonandolok (Sibolga) akan lebih memperkaya pemahaman bagaimana jaringan transportasi di pedalaman membentuk jaringan transportasi yang terlihat sekarang.


Prasejarah: Jalan Setapak Antarhuta di Tanah Batak

Tanah Batak sesungguhnya sudah sejak lama dikenal. Namun hanya dikenal dari sisi luar, tanpa pernah masuk ke pedalaman. Pertemuan penduduk Tanah Batak dan orang luar hanya terbatas di pelabuhan-pelabuhan di Baros, Sibogha, Natal dan Batangonang. Pertemuan-pertemuan tersebut dalam rangka transaksi dagang. Dari pedalaman mengalir emas, kemenyan, benzoin, kulit manis dan lainnya. Dari luar masuk batangan besi, kain, garam dan lainnya. Sementara itu, di pedalaman Tanah Batak, penduduk sudah lama menetap, bertempat tinggal tetap dengan mendirikan huta, membangun sistem pertanian sendiri, membentuk sistem sosial sendiri dan sebagainya.

Semua kehidupan berpusat pada huta. Huta-huta ini ukurannya kecil-kecil, karena huta selalu berkembang membentuk huta-huta baru. Namun antar huta ini tidak berdiri sendiri, tetapi karena asal-usulnya dapat ditrace maka semua huta menjadi terintegrasi  dalam satu sistem sosial yang unik yang dikenal sebagai dalihan na tolu. Sistem social yang unik inilah yang menjadi core culture penduduk di Tanah Batak yang menjadi inti terbentuknya kebudayaan Batak (yang dapat dibedakan dengan kebudayaan Melayu).

Ketika Medan masih sebuah kampung, Padang Sidempuan sudah jadi kota (1875)
Huta-huta ini secara geografis dengan sendirinya terhubung oleh jalan-jalan setapak. Huta-huta yang mengembangkan sistem sosial dalihan na tolu dengan sendirinya tidak satupun huta yang akan terpencil (outlayer). Setiap huta membutuhkan huta yang lain karena asal-asal keturunan (genealogis) dan perkawinan yang menyebabkan penduduk huta terus melakukan interaksi. Jalan-jalan setapak antar huta ini semakin berkembang seiring dengan semakin intensnya system pertukaran dan munculnya pedagang antar huta atau pedagang lintas huta. Para pedagang lintas huta inilah yang menjadi penghubung dalam transaksi dagang di pelabuhan-pelabuhan.

Jaringan jalan setapak ini sudah terbentuk jauh sebelum ‘orang asing’ masuk pertamakali ke pedalaman Tanah Batak. Lantas mengapa ‘orang-asing’ melakukan perjalanan dagang ke pedalaman dan tidak menunggu lagi di pelabuhan-pelabuhan. Ini hanya bisa dijelaskan melalui teori pertukaran atau yang lebih modern dikenal sebagai teori harga (permintaan vs penawaran). Uraiannya simpelnya begini: Sebagaimana pada masyarakat pada peradaban awal, kebutuhannya terbatas dan bersifat subsisten. Surplus yang ada (kelebihan produksi) hanya berfungsi sebagai jaring pengaman daripada menumpuk kekayaan. Jika kebutuhannya yang masih bersahaja sudah cukup maka penduduk akan cenderung berhenti memproduksi (bertani atau ke hutan) dan memaksimumkan waktu untuk leisure (termasuk menyelenggarakan system sosial).

Namun sebaliknya, di luar sana (luar Tanah Batak) jumlah kemenyan atau kulit manis atau beras kebutuhannya terus meningkat, menginginkan lebih banyak, sementara pasokan dari pedalaman melambat (karena sifat subsisten). Untuk  mengatasi itu maka dilakukan metode ‘jemput bola’ oleh para pedagang yang bebasis di pelabuhan-pelabuhan. Alat tukarnya bukan hepeng, tetapi komoditi-komoditi primer jenis baru atau barang-barang sekunder sebagai wujud kemewahan. Para pedagang lalu menjadi marketer dan para penduduk pedalaman menjadi calon customer. Penduduk pedalaman semakin tergoda lalu untuk memenuhinya penduduk pedalaman menjadi semakin bekerja keras. Demikian seterusnya hingga terbentuk arus perdagangan yang lebih besar (terbentuknya sistem moneter hepeng) hingga munculnya praktek kolonialisme (ekonomi colonial).

Pedagang Tionghoa Memasuki Ankola Melalui Sungai Baroemon

Sebagaimana huta-huta berkembang, komunitas-komunitas Melayu dan Tionghoa utamanya di pantai-pantai yang bergerak di bidang perdagangan juga berkembang. Mereka adalah satu mata rantai dari rantai yang panjang sistem pedagangan dunia. Mereka inilah pedagang awal yang memasuki Tanah Batak. Kisah masuknya pedagang ke Tanah Batak dilaporkan pertama kali oleh seorang Tionghoa yang dicatat VOC di Batavia pada tahun 1701. Boleh jadi ini adalah salah satu laporan terawal tentang penduduk di pedalaman Tanah Batak. Pedagang ini menyebut nama tempat bernama Pande di sekitar Deli yang mirip bunyi seperti Panai (di muara Sungai Barumun). Pada sebuah peta tahun 1686, Aru digambarkan terletak di muara Sungai Barumun dan dalam peta seperti tempat yang lebih penting dibandingkan dengan Deli. Selain itu, diceritakan juga orang Tionghoa tersebut bahwa aktivitasnya bolak-balik antara Pande dan kawasan pegunungan Ankola (Ancools gebergte). Tambahan lagi, juga disebut bahwa tempat tinggal orang Tionghoa itu berada di Ankola [lihat: Daniel Perret, ‘Pemeriksaan atas Seorang Pedagang Cina mengenai Orang Batak yang berada di Sumatera Utara, 1 Maret 1701’. Dalam: Harta Karun. Khazanah Sejarah Indonesia dan Asia-Eropa dari Arsip VOC di Jakarta, dokumen 9. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 2013].

Ekspedisi Charles Miller ke Ankola

Orang berikutnya yang memasuki pedalaman Tanah Batak adalah Charles Miller. Ekspedisi Miller, seorang botanis Inggris dilakukan dalam rangka ekspedisi tanaman caasia (kulit manis) pada tahun 1772, yang diekstrak dari catatan perjalanaan Miller oleh William Marsden dalam bukuya berjudul   History of Sumatra (1783). Besar kemungkinan Miller adalah orang Eropa pertama memasuki Tanah Batak. Kisahnya adalah sebagai berikut (diringkas dari Marsden edisi 1811):

Jembatan rotan (rambin) di Batangtoroe (lukisan 1846)
21 Juni, 1772. Kami berangkat dari Pulau Punchong (kini Poncang) dengan kapal lalu memasuki muara sungai Pinang Suri. Keesokan paginya kami naik sampan sekitar enam jam, tiba di muara Lumut. Sepanjang kiri kanan sungai  dipenuhi pohon-pohon kamper, oak, meranti dan lainnya, tidak lama kemudian terdapat kampong Batak terletak di puncak bukit kecil. Berdasarkan pemandu kami orang Melayu, Radja dari kampong ini mengundang kami ke rumahnya. Lalu kami diterima dengan upacara besar dan memberi hormat dengan tembakan ke udara dari tiga puluh senjata, Kampung ini terdiri dari delapan atau sepuluh rumah yang masing-masing rumah memiliki padi. Kampung mereka dibentengi dengan kayu kamper dan juga bamboo duri. Juga tampak kandang kerbau.

23 Juni 1772. Kami melanjutkan ke kampong Lumut dan hari berikutnya Sa-Tarong dimana saya mengamati perkebunan pohon benzoin, kapas, nila, kunyit, tembakau, dan beberapa tanaman lada merambat. Selanjutnya kita sampai di Tappolen, kemudian Sikka dan Sa-Pisang yang terletak di tepi sungai Batang Tara (perjalanan tiga sampai empat hari ke hilir di pantai).

01 Juli 1772. Kami melanjutkan perjalanan dan tiba di sebuah ladang, lalu cuaca buruk kami menempati pondok padi. Keesokan paginya sungai meluap dan tidak bisa menyeberang lalu bermalam lagi di tempat yang tidak nyaman.

03 Juli 1772. Kami meninggalkan ladang berjalan melalui jalan yang tidak teratur tidak berpenghuni penuh dengan batu dan ditutupi dengan hutan. Kami hari ini juga melintasi punggung bukit yang sangat curam dan di sore hari tiba di sebuah Negara yang dihuni dengan budidaya baik di pinggir dataran Ankola. Kamu malam ini tidur di pondok kecil terbuka dan hari berikutnya melanjutkan perjalanan ke kampong bernama Koto Lambong (Huta Lambung).

05 Juli 1772. Kami berangkat melalui wilayah yang lebih terbuka dan menyenangkan di Terimbaru (Hutaimbaru), sebuah kampong besar di tepi selatan dataran Ankola. Tanah di sekitar ini sepenuhnya dibajak dengan kayu secara baik dan ditaburi dengan padi atau jagong, di padang rumput mereka terlihat banyak ternak kerbau, kambing dan kuda. Setelah diinformasikan kepada Radja, lalu menyuruh anaknya datang menemui kami dengan 30-40 orang bersenjata tombak dan senapan locok (matchlock), lalu membawa kami, yang sepanjang jalan dilakukan pemukulan gong dan tembakan ke udara. Radja yang menerima kami bertubuh besar, dan dengan hormat memerintahkan untuk menyembelih kerbau. Kami diminta menginap semalam. Saya mengamati semua perempuan yang belum kawin mengenakan sejumlah cincin timah besar di telinga mereka (penyelidikan saya lebih lanjut bahwa timah itu datang dari Selat Makala).

07 Juli 1772. Ketika kami melanjutkan perjalanan Radja meminta anaknya untuk mengawal kami. Dari Terimbaru kami terus ke Sa-masam (Simasom). Kami bertemu radja yang mana dihadiri 60-70 orang dengan bersenjata lalu menyiapkan sebuah rumah untuk kami dan memperlakukan kami dengan keramahan dan hormat. Wilayah ini dikelilingi bukit yang dipenuhi kayu dan sebagian besar tanah padang rumput untuk ternak mereka yang tampaknya memiliki kelimpahan yang besar. Di sini saya bertemu dengan hal yang luar biasa semacam semak berduri yang disebut penduduk sebagai Andalimon, yang berbentuk bulat yang memiliki rasa pedas yang sangat menyenangkan di lidah dan mereka menggunakan dalam gulai (kari) mereka.

14 Juli 1772. Kami meninggalkan Batang Onang untuk pulang dan berhenti untuk bermalam di Koto Moran (Huta Morang) dan malam berikutnya tiba kembali di Sa-masam. Namun setelah itu kami mengambvil jalan yang berbeda sebelum Sa-pisang. Dengan mengambil sampan kami menyusuri sunga Batang Tara ke laut.

22 Juli 1772. Kami tiba kembali di Pulo Punchong.

Kisah Charles Miller ini terbilang jauh lebih lengkap daripada pedagang Tionghoa. Miller tidak hanya menggambarkan rute perjalanannya secara lengkap, juga sudah teridentifikasi nama-nama huta di pedalaman Tanah Batak. Huta Batangonang adalah pelabuhan di pedalaman Tanah Batak di hulu Sungai Barumum. Ini berarti Charles Miller sesungguhnya telah melakukan perjalanan semacam ekspedisi rute coast to coast. Sebab Batangonang adalah pusat perdagangan di sisi timur Ankola, sedang pusat perdagangan di sisi barat Ankola adalah Loemoet. Dengan demikian, Ankola secara praktis terbuka oleh pedagangan baik dari pantai timur maupun pantai barat.


Ekspedisi Militer Belanda ke Mandheling via Natal dalam Perang Bonjol (1833)

Ekspedisi Pendeta Amerika ke Silindoeng (1834)

Perang Pertibie (1838)

Ekspedisi Junghuhn ke Ankola (1840)

Ekspedisi geologi ke Padang Lawas (1845)

Ekspedisi Gubernur Sumatra’s Westkust ke Padang Sidempoean (1846)

Pembukaan Jalan Natal-Mandailing oleh AP Godon (1848)

Herman N. van der Tuuk tiba di Ankola (1851)

Perjalanan Ida Pfeiffer dari Padang Sidempoean ke Silindoeng (1852)

Pembangunan Jalan Padang Sidempoean-Loemoet  (1860)

Ekspedisi ke Sigompoelon dan Silindoeng oleh Hennij (1866)

Pegembangan Jalan dan Jembatan di Ankola (1869)

Ekspedisi Gubernur Sumatra’s Westkust ke Sigompoelon dan Silindoeng via Sibolga (1869)

Ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola Pindah ke Padang Sidempoean (1871)

Ekspedisi ke Padang Bolak (1876)

Perang Toba I (1878)

Pembangunan Jembatan Batangtoroe (1879)

Perang Toba II (1883)

Membawa Kapal dari Sibolga ke Danau Toba dengan Cara Ditandu (1898)

Usulan Pambangunan Kereta api di Tapanoeli (1898)

Ekspedisi ke Bataklanden dari Medan (1905)

Pembuatan Terowongan di Bonandolok (1910)

Perjalanan Pertama Lintas Sumatera (Medan-Sibolga) dengan Mobil via Sipirok (1912)

Perjalanan Padang-Medan dengan Mobil via Sibolga (1924)

Perjalanan Prof. J. Ph. Vogel ke Candi Pertibie dengan Mobil (1925)

Pengadaan Mobil SS (pakai kabin penumpang) untuk Trayek Fort de Kock-Sibolga (1927)

Pengadaan Mobil SS untuk Trayek Sibolga-Siantar (1927)

Kisah Perjalanan Dr. KJ Brouwer dari Medan hingga Fort de Kock (1928)

Peningkatan Jalan Tarutung-Sipirok (dimulai 1930)

Perjalanan Goenoengtoea-Siboehoean dengan Mobil (1932)

Perjalanan Medan-Padang dengan Mobil (1933)

Usulan Pambangunan Bandara di Padang Sidempoean (1935)

Penyelesaian Jalan Tarutung- Sipirok (selesai 1937)

Jalur Sungai Asahan (1940)



(tunggu deskripsinya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: