16/01/15

Bag-15. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Tradisi Menulis di Tanah Batak Sudah Ada Sejak Doeloe, Sejarah Buku (Perbukuan) di Indonesia Bermula di Mandheling en Ankola’



Sejarah Padang Sidempoean tempo doeloe selama ini tidak banyak diketahui. Namun sesungguhnya di kota kecil itu terdapat banyak hal yang perlu diungkapkan. Semakin digali lebih dalam, semakin bagus hasilnya. Namun dalam hal ini, kita tidak dalam proses membuka ‘kotak hitam’ yang hilang dari pesawat yang meledak di udara. Kita juga tidak tengah membuka ‘kotak pandora’ seperti dalam mitologi Yunani yang mana gadis cantik bernama Pandora coba membuka hadiah yang diterimanya. Akan tetapi yang kini tengah kita buka adalah suatu satelit kecil (keliling 84 Km) yang mengitari bulan yang diselimuti oleh debu halus dari bahan es yang diberi nama Pandora. Teknologi modern pada masa kini coba mengidentifikasi dan mengekplorasi kota(k) kecil itu siapa tahu isinya sangat menjanjikan buat manusia (Indonesia) di masa depan.

Nona Pandora
Kota kecil Padang Sidempoean di masa doeloe bagaikan satelit kecil yang mengitari bulan (Padang dan Medan) yang juga mengitari matahari (Batavia). Meski kota(k) kecil dari satelit kota(k) besar, namun keindahan cahaya yang ditimbulkan darinya diantara satelit-satelit lain bagaikan kedipan mata seorang gadis cantik--bernama Pandora--yang sangat mempesona. Kini kita coba pahami lagi lebih lanjut (si)apa itu kota(k) kecil bernama Padang Sidempoean yang letaknya di 'andora' lembah Padang Sidempuan. Kalau kita tidak menemukan lagi air kehidupan di kota (kecil) yang berada di antara dua gunung Loeboek Radja dan Siboealboeali itu, setidaknya dapat memberi pengetahuan bagi kita bahwa di kota kecil Padang Sidempoen dulunya terdapat sumber kearifan yang spektakuler yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dan generasi yang akan datang. Mari kita lacak!

Penduduk Tanah Batak memiliki tradisi membaca, menulis dan berhitung sejak jaman doeloe

Marsden dalam bukunya (The History of Sumatra, 1811) menyebut penduduk Batak mewakili orisinilitas dari penduduk pulau Sumatra. Marsden sangat kaget, karena penduduk yang berada di dataran tinggi Tapanoeli yang kaya dengan produk perdagangan dunia seperti emas, dammar, kapur barus, kemenyan, kulit manis ini sudah memiliki system social yang teratur, mampu menciptakan mesiu, muziek, seni tari dan arsitektur tersendiri, serta sastra dan tulisan (aksara) sendiri. Yang paling mengangetkannya penduduk ini memiliki kejeniusan berperilaku serta penduduknya lebih dari separuh mampu membaca dan menulis dalam aksara Batak yang melampaui kemampuan baca tulis Latin dari semua bangsa-bangsa Eropa. Mereka menulis di bagian halus dari kulit pohon khusus dan menggunakan tinta yang terbuat dari jelaga dammar yang dicampur dengan ekstrak air tebu. Kekayaan alam menjadi sumber 'keppeng' (mata uang kuno Spanyol, kini 'hepeng') dalam kehidupan, dan dammar menjadi pemicu pengembangan perilaku kehidupan lewat tulisan.   

Poestaha dan alat muziek Batak, 1870 (kitlv)
Bukti kejeniusan berperilaku kehidupan penduduk Batak ini ditunjukkan oleh Marsden dalam buku tersebut. Seorang ahli Belanda, Leyden PhD, ahli bahasa dan sastra Asia Tenggara yang dikisahkan salah analisis dalam desertasinya tentang system penulisan aksara Batak. Leyden menyimpulkan bahwa, aksara Batak ditulis dari kiri ke kanan (seperti aksara Latin) dan bertentangan dengan aksara China dari atas ke bawah. Leyden menyarankan agar aksara Batak ditulis dari kiri ke kanan. Namun dalam perkembangannya, Leyden telah menyesali kekeliruannya. Hal ini didasarkan surat menyurat yang dilakukannya dengan penduduk Batak yang selalu ditulis dalam kertas dari kiri ke kanan tetapi menulis dari atas ke bawah dalam specimen menggunakan bamboo dan kulit kayu yang dikirimkan kepadanya. Diluar pemahaman Leyden, ternyata tulisan aksara Batak justru ditulis dari kiri ke kanan dan juga dari atas ke bawah. Leyden menyadari bahwa surat-surat yang diterimanya (surat menggunakan kertas) karena penduduk Batak sadar berhadapan dengan orang Eropa yang menerapkan aksara Latin yang lalu mereka menuliskannya dari kiri ke kanan. Leyden menyimpulkan bahwa setelah penduduk Batak menggunakan kertas menganggap mereka telah bergeser dari atas ke bawah menjadi kiri ke kanan. Kenyataannya tidak, karena aksara Batak memang bisa ditulis dari dua arah, tetapi tak lazim dalam bahasa (aksara) Latin dan jarang digunakan dalam bahasa China serta tidak mungkin dilakukan dalam bahasa Sansekerta, Arab dan Arab Melayu yang dari kanan ke kiri. Kekeliruan Leyden ini juga ternyata setali tiga uang yang oleh pemerintah Belanda di Negeri Belanda dan Batavia yang menyebut bahwa penduduk Batak menulis dengan cara yang sama dengan Eropa. Padahal sistem tulisan Batak merupakan kombinasi east-west, latin (Romawi) dan hanzi (China). Meski nasi sudah jadi bubur (desertasi) tapi Leyden salut terhadap cara berpikir bangsa Batak—mereka membangun karakter aksaranya lebih dari bangsa yang lain dan tahu cara mengkomunikasikannya.

Hal lain bahwa untuk menuliskan karakter huruf dalam aksara Batak, cara menulisnya  dengan teknik yang berbeda pula dari yang lain. Teknik menuliskan aksaranya selalu menarik ujung pisau atau mata pena ke depan (maju). Karenanya, kerap teknik menulis aksara Batak ini di Mandailing dan Angkola disebut surat tulak-tulak (menulis huruf selalu maju dan tidak pernah mundur; tulak=dorong). Ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko tertusuk jika menggunakan ujung pisau tajam di wadah bamboo atau kulit kayu. Sangat simple. Konsisten dengan itu, juga berlaku dalam karakter angka dalam teknik ‘etongan’ (menghitung). Setelah angka sembilan, lalu sepuluh. Berikutnya adalah sepuluh satu, sepuluh dua, sepuluh tiga dan seterusnya (bukan sebelas atau eleven; bukan dua belas atau twelve; bukan tiga belas atau thirteen). Sangat simple, sesederhana teknik biner (1,0) yang digunakan dan sesuai dalam pemprograman computer masa kini. Menghasilkan konsep yang diserderhanakan (bukan sederhana), simple dan konsisten merupakan produk pemikiran yang brilian. Singkat kata: membaca, menulis dan menghitung adalah tiga tradisi kuno dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan yang sudah ada sejak doeloe di Tanah Batak. Marsden selain kaget dengan tingkat literasi penduduk Batak yang terbilang tinggi juga sangat kagum karena ternyata penduduk Batak sangat piawai pidato atau ‘mangkobar’ (lisan) dan juga sangat tekun menulis dengan aksara Batak. Apakah ketekunan mereka menulis dalam aksara latin yang menggunakan kertas masih seperti yang dibayangkan Marsden? Mari kita lacak!


Penduduk Tanah Batak mengadopsi bahasa Melayu dan juga bahasa Belanda tetapi hanya menerapkan aksara Latin

Sebelum Belanda datang, sudah banyak penduduk Mandheling en Ankola yang mampu berbahasa Melayu. Mereka ini terutama yang kerap berinteraksi dengan berbagai penduduk pendatang di pantai (utamanya di Natal). Sebaliknya sejumlah pedagang yang tinggal di pantai kerap keluar masuk dari satu kampong ke kampong yang lain menjadi bisa berbahasa Batak. Kedatangan Belanda ke pedalaman umumnya menggunakan pemandu. Para pemandu ini tentu saja ada yang penduduk pantai yang bisa berbahasa Batak atau penduduk local yang sudah lama menetap di pantai (terutama karena perkawinan).

Belanda pertama kali memasuki Tanah Batak bermula di Mandailing melalui Natal tahun 1833. Interaksi Belanda dengan penduduk lokal menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu sudah sejak lama dipraktekkan  sebagai lingua franca di tempat-tempat pertemuan dagang seperti di pelabuhan-pelabuhan. Semakin intens  kehadiran Belanda baik militer dan pejabat pemerintahan menyebabkan pemakai bahasa Melayu di kalangan penduduk Batak semakin meningkat. Peningkatan pemakai juga disebabkan kehadiran serdadu Belanda yang umumnya pribumi dari daerah lain. Tentu saja lambat laun kosa kata Belanda juga semakin banyak yang dimengerti oleh penduduk local terutama mereka yang kerap berinteraksi dengan orang-orang Belanda.

Dalam perkembangannya teknik menulis dengan cara Latin mulai diperkenalkan di Tanah Batak khususnya di Mandheling en Ankola.  Hal ini karena pihak Belanda tidak terlatih untuk aksara Batak maupun aksara Arab-Melayu. Disamping itu, meski agama Islam sudah ada di Mandheling en Ankola sebelum Belanda masuk, tetapi jejak penggunaan tulisan Arab-Melayu hampir tidak ditemukan. Di satu sisi mungkin ada hambatan karena teknik menulis aksara Batak dari kiri ke kanan sementara aksara Arab-Melayu justru dari kanan ke kiri. Boleh jadi penulisan karakter huruf Arab-Melayu tidak pernah diadopsi secara baik di Mandheling en Ankola karena pemakaiannya sangat terbatas sementara aksara Batak sangat masif.

Sedangkan aksara Latin diadopsi penduduk lokal (karena mungkin terpaksa dengan kehadiran Belanda), juga karena alamiahnya lebih mudah disinkronkan dengan bahasa Batak beraksara Batak dengan bahasa Belanda yang beraksara Latin yang memang sama-sama memiliki teknik menulis dari kiri ke kanan. Hal ini boleh jadi penduduk local di Mandheling en Ankola cepat mengadopsi aksara Latin, tetapi juga tidak menyingkirkan karakter aksara Batak namun tetap melestarikannnya hingga masa ini. Singkat kata: penduduk local mengadopsi dua bahasa sekaligus (Bahasa Melayu dan Bahasa Belanda) tetapi hanya mengadopsi satu karakter tulisan (aksara Latin). Proses difusi bahasa Melayu kemudian terjadi secara massif, sedangkan proses difusi bahasa Belanda hanya terbatas di kalangan elit penduduk.

Pendidikan modern ala Barat diperkenalkan di Mandheling en Ankola dan memiliki tingkat penerimaan yang sempurna

Pendidikan modern ala Barat mulai diperkenalkan dan dilakukan oleh orang Belanda sendiri.  Pada tahun 1848 Asisten Residen A.P. Godon ditempatkan di Afdeeling Mandheling en Ankola dan berkedudukan di Panjaboengan. Pada tahun ini di Nederlandsch Indie dimulai pembukaan sekolah dasar negeri dan hanya terdapat di beberapa kota tertentu, utamanya di Djawa. Sekolah dasar negeri ini menerapkan aksara Latin. Gurunya adalah pribumi yang telah mendapat pelatihan singkat (kursus) di bawah pengawasan instruktur Belanda. Untuk memenuhi kebutuhan guru secara reguler dibuka sekolah guru (kweekschool) di Surakarta tahun 1852. Bahasa pengantar di sekolah guru ini campuran bahasa Melayu dan bahasa Djawa. Afdeeling Mandheling en Ankola yang secara resmi baru menerapkan pemerintahan sipil sejak 1841 ‘legowo’ tidak ‘kebagian’ guru-guru yang ada. Sementara di Residentie Bovenlanden yang beribukota Fort de Kock sejumlah kota sudah dibuka sekolah negeri dan menerima guru yang terlatih dari pemerintah.

Praktis hingga tahun ketiga A.P. Godon di Mandheling en Ankola tidak satupun anak-anak pribumi yang mengecap pendidikan formal sekolah dasar alias sekolah aksara Latin. Ini kontras dengan di Residentie Bovenlanden seperti di Fort de Kock. Istri Godon yang kebetulan mantan guru melihat perbedaan ini lalu berinisiatif mendirikan sekolah non formal (homeschooling). Tentu saja dengan bahasa pengantar campuran bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Sekolah ala Godon ini dimulai tahun 1851. Meski ada kesenjangan dibanding dengan daerah lain yang sudah memiliki sekolah formal (negeri), tetapi sekolah non formal ala Godon (swadaya) ini memiliki keutamaan: selain gurunya (istri A.P. Godon) yang telah mendapat sertifikasi guru di Belanda, juga dalam proses belajar ada pelajaran bahasa Belanda.

Pada awalnya mereka yang mendapat kesempatan bersekolah itu adalah sejumlah anak-anak kepala-kepala kampong. Diantara murid-murid angkatan pertama ini terdapat dua anak (bernama Si Asta dan Si Angan) memiliki kemampuan bahasa Belanda yang baik dan minat yang tinggi dalam Ilmu Pengetahuan Alam lalu direkomendasikan sang guru untuk mengikuti pendidikan kedokteran (Dokter Djawa School) di Batavia. Dua anak belia ini tiba di Batavia tahun 1854. Mereka berdua adalah orang pertama di luar Pulau Djawa yang diterima di sekolah tersebut (sekolah Dokter Djawa sendiri dibuka tahun 1851). Satu lagi murid (bernama Si Sati) yang terbilang cerdas dan memiliki kemampuan linguistic yang baik direkrut A.P. Godon untuk menjadi penulisnya selama bertugas. Inilah kontribusi istri yang cerdas (bagaikan Pandora) yang dapat membantu suaminya (bagaikan Prometheus) yang kerja overload.

Peran Si Sati tidak hanya strategis karena mampu menulis dengan aksara Latin dalam bahasa Batak, bahasa Melayu dan dalam bahasa Belanda, tetapi juga dengan sendirinya dapat mengurangi beban pekerjan Godon. Melihat kemampuan yang luar biasa dari Si Sati, istri Godon juga ingin memberikan fungsi mengajar kepada Si Sati untuk menggantikannya menjadi guru untuk adik-adik kelasnya. Istri Godon ingin istirahat dan lengser serta mulai mempersiapkan cuti dua tahun ke negeri Belanda jika suaminya nanti genap sudah bekerja untuk Negara selama delapan tahun.

Si Sati gelar Soetan Iskandar studi ke Eropa—pribumi pertama yang sekolah ke Negeri Belanda

Selama Si Sati mengajar di sekolah ala Godon, teman-temannya yang ‘seperguruan’ kepada istri A.P. Godon berinisiatif mendirikan sekolah non formal di berbagai kampong di Mandailing (Groot Mandheling, Klein Mandheling, Oeloe en Pakantan). Para pelajar (disebut begitu karena mereka hanya setara kelas tiga sekolah dasar dan tanpa sertifikat) ini bersama penduduk membangun sekolah swadaya yang mana mereka yang akan menjadi gurunya. Jumlah sekolah swadaya ini semakin banyak sehubungan dengan berkiprahnya murid-murid yang telah selesai pendidikannya yang di bawah asuhan langsung Si Sati. Animo penduduk yang ingin bersekolah di Mandheling en Ankola menyebabkan kebutuhan guru tidak seimbang dengan jumlah lulusan sekolah ala Godon asuhan Si Sati. Hal ini juga dirasakan di Residentie Bovenlanden karena guru baru dari pelatihan sudah mulai berkurang. Karenanya, pemerintah akan membuka kweekschool di Fort de Kock, 1856 untuk memenuhi kebutuhan guru di Sumatra’s Westkust. Sekolah guru Fort de Kock tampaknya dirancang untuk memberi kesempatan afdeeling Mandheling en Ankola (mungkin) untuk pertama kali menerima guru negeri yang dibiayai Negara.

Sementara itu, Si Sati yang berprofesi guru bantu partikelir (menggantikan istri Godon) dan menjadi penulis partikelir di kantor Godon membuat interaksi Si Sati dengan orang-orang Eropa semakin intens seperti pejabat-pejabat Belanda dan para wisatawan yang dengan sendirinya membuka cakrawalanya dan pemikirannya terus berkembang. Si Sati yang melihat kenyataan yang ada, animo penduduk yang tinggi untuk bersekolah, sementara kapasitasnya sebagai guru hanya terbatas, sedangkan Kweekschool yang baru dibuka tahun 1856 jangan berharap akan dalam waktu dekat akan mendapat berkat guru ke Mandheling en Ankola, sebab untuk kebutuhan untuk Residentie Bovenlanden sendiri belum tentu tercukupi. Kekurangan guru yang sangat mendesak di Mandheling tidak akan terpenuhi segera, sementara di Ankola sendiri belum satupun sekolah dasar (swadaya) yang didirikan alias belum satu pun anak usia sekolah yang mengenal aksara Latin. Berdasarkan analisis ini, Si Sati coba mendiskusikan masalah ini dengan A.P. Godon. Permohonan Si Sati untuk sekolah ke Negeri Belanda direspon baik oleh A.P. Godon lalu diteruskan ke Menteri Pendidikan di Batavia. Proposal Godon ini lulus uji kelayakan setelah terjadi perdebatan yang laur biasa di parlemen (volksraad). Si Sati lalu bersiap-siap studi ke Negeri Belanda.    

Pada tahun 1857 Si Sati berangkat ke Negeri Belanda bersama keluarga A.P. Godon. Si Sati Nasoetion gelar Soetan Iskandar adalah orang pribumi pertama di Nederlansch Indie yang studi ke Negeri Belanda. Dalam tempo 14 tahun sejak dibentuk pemerintahan sipil tahun 1840 di Mandheling en Ankola, Belanda sudah berhasil mengangkat ‘batang tarandam’ dari suatu bangsa yang secara historis memiliki tradisi baca tulis dalam aksara Batak. Berita ini cepat tersebar luas terutama di kalangan guru-guru sekolah dasar dan siswa-siswa kweekschool di Nederlandsch Indie. Orang berpikir bagaimana mungkin di daerah dimana tidak terdapat sekolah dasar negeri tiba-tiba direkomendasikan sekolah ke luar negeri. Meski ini terbilang keajaiban tetapi secara fakta situasi dapat dijelaskan. Kejadian ini berada di tempat dan waktu yang tepat: di lanskap yang memiliki tradisi membaca menulis (dalam aksara Batak); Istri Godon dan Si Sati yang sama-sama cerdas melihat permasalahan secara jernih; A.P.Godon pejabat Belanda yang humanis dan lebih demokratis; Si Sati adalah anak berbakat, kemampuan linguistik yang baik, fasih berbahasa Belanda dan memiliki semangat belajar, (jangan lupa) situasi dan kondisi masyarakat yang mulai kondusif dalam proses pembangunan, dan ‘pendapatan asli daerah’ dari perekonomian (budi daya dan perdagangan) kopi di Mandheling en Ankola yang semakin besar. Kalimat kuncinya dalam hal ini: Tidak ada makan siang gratis.

Introduksi pendidikan barat oleh para misionaris di Sipirok

Herman Neubronner van der Tuuk seorang sarjana linguistic dikirim suatu organisasi yang berafiliasi dengan kegiatan misi (NBG) di Batavia untuk menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Batak tahun 1851. Mr. van der Tuuk melakukan ekspedisinya ke seluruh Tanah Batak hingga tahun 1857 termasuk ke Ankola dan Mandheling. Di dalam surat-suratnya ke Batavia terindikasi bahwa van der Tuuk melakukan interpretasi salah tentang pendidikan di Mandheling yang dianggapnya sudah memiliki sekolah dasar negeri (biaya Negara). Mr. van der Tuuk tanpa konfirmasi menganggap sekolah ala Godon itu sebagai sekolah dasar negeri yang guru-gurunya berasal dari Residentie Bovenlanden. Boleh jadi atas penglihatan sekilas di Mandheling, van der Tuuk mengirim rekomendasi untuk pengiriman pendeta ke Tanah Batak yang terdiri dari 13 item, antara lain: harus total, bersuami istri, mendirikan sekolah dan pendeta berbaur (dekat) dengan penduduk, jangan mempertentangkan dengan muslim. Rekomendasi ini boleh jadi tepat tetapi dasar membuat rekomendasi ternyata terdapat kesalahan dalam analisis dan interpretasi yang tampaknya analog dengan yang terkesan (selintas) terjadi di Mandailing. Rekomendasi ini mungkin dipertimbangkan sebagai bahan NBG dalam proses mempengaruhi pemerintah di Batavia.

Gustav van Asselt diangkat pemerintah sebagai opziener der derde klasse di Sipirok, onderafdeeling Ankola, Afdeeling Mandheling en Ankola pada tahun 1858. Sebelum kedatangan van Asselt, sebagian besar penduduk Sipirok sudah beragama Islam. Gustav van Asselt diduga memainkan peran sebagai misionaris. Di Boengabondar sudah ada pendeta Belanda lainnya bernama Betz. Pada tahun 1861 misionaris Jerman (RMG) datang ke Sipirok lalu meninjau ke Silindoeng. Pendeta Jerman ini adalah Klammer, Heine dan Nommensen yang kemudian kembali ke Sipirok September 1861. Pada bulan Oktober, Betz dan van Asselt dari pihak Belanda dan Klammer dan Heine dari pihak Jerman mengadakan pertemuan pertama para misionaris. Masa jabatan van Asselt sebagai opziener berakhir pada tahun 1862 (lihat Almanak Belanda edisi 1856 sd 1862).

Rekomendasi yang sudah lama diusulkan van der Tuuk tampaknya sulit bagi petinggi di NBG terutama beberapa item yang memang sulit dilaksanakan. Tampaknya NBG lebih memilih cara pendekatan birokrasi (top down) dari pada pendekatan penduduk yang diajukan van der Tuuk (bottom up). Boleh jadi pembebanan tugas birokrasi Gustav van Asselt yang secara dejure adalah pegawai pemerintah untuk urusan pengawasan di bidang perekonomian (kopi) di Sipirok tiba-tiba dipersepsikan memiliki tugas rangkap untuk urusan privat (NGO). Rangkap jabatan ini di sisi pemerintah adalah melanggar kode etik, namun upaya memengaruhi pemerintah terus dilancarkan. Polemik ini sempat berlarut-larut di koran-koran. Pemerintah tetap pada pendiriannya bahwa ada pemisahan yang jelas antara pemerintah dan badan-badan keagamaan. Pemerintah berpendapat, apapun agamanya, pagan, muslim atau Kristen, asal penduduknya mau dan bersemangat untuk pembangunan jalan dan jembatan dan budidaya pertanian.

Permasalahan yang pelik ini dilihat jeli oleh RMG. Sebagaimana misi dari pihak Belanda yang banyak gagalnya daripada berhasilnya, juga dialami oleh misi dari pihak Jerman. Boleh jadi para pakar RMG diam-diam mencermati rekomendasi van der Tuuk dan menyusun strategi baru. Beberapa pendeta Jerman yang gagal dalam misi, seperti Klammer, Heinje dan Nommensen  di Kalimantan dialihkan ke Sumatra di Tanah Batak. Klammer dan kawan-kawan di kirim ke Sipirok. Tim Jerman ini cepat bergerak, tidak lama setiba di Sipirok mereka langsung melakukan ekspedisi ke Silindoeng. Lalu setelah sekian bulan di Silindoeng, tim Jerman ini balik lagi ke Sipirok yang kemudian melakukan pertemuan para pendeta dari tim misi yang berbeda. Setelah rapat di Sipirok itu (antara pihak Belanda dan pihak Jerman), nama van Asselt mulai menghilang.  Boleh jadi butir keputusan rapat itu untuk membicarakan pembagian wilayah. Untuk wilayah yang di bawah pemerintahan sipil Belanda yakni Ankola dan Sipirok menjadi wilayah kerja Belanda sedangkan wilayah yang ‘tidak bertuan’ yang bahkan militer Belanda belum sekalipun ke Silindoeng akan menjadi wilayah kerja Jerman. Butir hasil rapat lainnya yang juga penting kemungkinan soal kolaborasi dalam pendirian institusi pendidikan di Sipirok.

Pendirian sekolah yang tampaknya mengikuti rekomendasi van der Tuuk didirikan tahun 1863 di Sipirok yang merupakan kolaborasi Belanda-Jerman yang mana investasi awalnya dari Belanda (van Asselt) sedangkan gurunya dari Jerman yang dalam hal ini adalah Nommensen. Aksara yang digunakan adalah aksara Latin dengan bahasa pengantar campuran bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Sekolah ini diduga awalnya bersifat non keagamaan. Beberapa anak-anak Sipirok direkrut untuk mengikuti pelajaran di sekolah ini. Boleh jadi strategi ini digunakan mengikuti rekomendasi Mr. van der Tuuk karena seringnya para pendeta yang melakukan misi dengan kegagalan di tempat lain. Dua murid yang terkenal dari sekolah ini adalah Muhammad Yunus yang berganti nama menjadi Thomas dan Sarif Anwar yang berganti nama menjadi Ephraim. Dalam perkembangan lebih lanjut sekolah ini menjadi sekolah zending.

Si Sati alias Willem Iskander membuka sekolah guru (kweekschool) di Tanobato, Mandheling

Si Sati gelar Soetan Iskandar (yang kemudian mengganti namanya menjadi Willem Iskander) setelah lulus dan mendapat diploma guru benar-benar membuka sekolah guru (kweekschool) 1862. Pilihan lokasi di Tano Bato, Mandailing sulit dipahami karena berbagai kemungkinan, karena Willem Iskander tahu apa yang akan direncanakannya. Beberapa kemungkinan adalah bahwa lokasi itu terbilang sehat buat orang Eropa karena berhawa sejuk, dekat dengan pelabuhan agar pejabat Belanda dari Batavia, Padang dan Siboga tidak terlalu sulit datang, meski lokasinya yang terpencil tetapi berada di jalan lintas yang ramai sangat kondusif untuk tempat belajar apalagi view Tanobato yang memang sungguh indah.

Sekolah guru yang didirikan Willem Iskander ini akhirnya diakuisisi oleh pemerintah menjadi kweekschool negeri (yang ketiga di Nederlandsche Indie). Murid-murid yang direkrut untuk Kweekschool Tanobato adalah murid-murid yang telah lulus sekolah dasar dari sekolah-sekolah yang dibangun swadaya penduduk di Mandheling en Ankola yang guru-gurunya merupakan rekan-rekan Si Asta, Si Angan dan Si Sati dulu pada permulaan pendidikan ala Barat. Di bawah pengasuhan guru Willem Iskander, Kweekschool Tanobato telah menghasilkan guru-guru baru. Para alumni ini kemudian menyebar untuk memenuhi kebutuhan guru yang sudah lama dinantikan di Mandheling en Ankola khususnya di lanskap Ankola dan Sipirok yang saat itu tak satu pun sekolah swadaya yang dibangun.

Ketiadaan sekolah formal di Sipirok sudah sedikit diatasi oleh para misionaris dengan membuka sekolah. Sekolah dasar di Sipirok ini berbeda dengan sekolah swadaya yang dibangun para alumni sekolah ala Godon dan kemudian alumni Kweekschool Tanobato. Sekolah di Sipirok direncanakan untuk tujuan ganda, di bawah pengawasan NGO di Batavia dan guru-gurunya orang Eropa. Kejadian ini seakan berulang ketika di Bovenlanden yang sudah terkait dengan kontribusi pemerintah sementara di Mandailing kala itu masih swadaya. Kini keterlibatan pemerintah di Mandailing berulang kembali di Sipirok dimana keterlibatan pemerintah belum ada sama sekali. Dengan kata lain sekolah di Sipirok terbilang murni swadaya tetapi bukan dari penduduk tetapi dari Batavia. Untuk mengimbangi sekolah swadaya NGO di Sipirok, kemudian dari kalangan penduduk coba mendirikan sekolah swadaya yang guru-gurunya berasal dari Kweekschool Tanobato.

Dalam perkembangannya, pada tahun 1873 pemerintah mulai secara resmi dan benar-benar mendirikan sekolah dasar negeri di 10 tempat di Residentie Tapanoeli, termasuk di Sipirok. Menurut De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad (22-03-1873) kesepuluh sekolah tersebut di Muara Sama, Kota Nopan, Muara Sipongi, Panjaboengan, Padang Sidempoean, Batoe nan doea, Sipirok, Boenga Bandar, Si Mapil apil dan Siboga. Memperhatikan tempat-tempat tersebut mengindikasikan sembilan sekolah berada di Afdeeling Mandheling en Ankola dengan komposisi sebagai berikut: empat di Mandheling, tiga di Ankola dan dua di Sipirok. Sekolah dasar negeri yang satu lagi di Siboga, tempat dimana Residen Tapanoeli berkedudukan.

Pendirian beberapa sekolah dasar negeri ini sesungguhnya terbilang terlambat meski rencananya sudah ada dalam tahun 1857 (Surat Keputusan [department seni dan budaya] No, 39 tanggal 7 Oktober 1857). Yang menjadi guru-guru di sekolah negeri ini adalah para guru-guru voluntir alumni Kweekschool Tanobato yang berinisiatif bersama penduduk membangun sekolah-sekolah swadaya yang kemudian diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Sekali lagi, meskipun demikian permasalahan yang dihadapi, proses pendidikan di Mandheling en Ankola tetap berjalan mengikuti kodratnya sebagai lanskap yang penduduknya memiliki tradisi membaca dan menulis sejak doeloe. Untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain, guru-guru alumni Kweekschool Tanobato ini tiada duanya. Poeze et al (2008) menyatakan bahwa Kweekschool Tanobato kala itu adalah satu-satunya sekolah guru yang berjalan dengan baik di Nederlansche Indie.


Willem Iskander mempelopori penulisan buku, bukunya yang terkenal ‘Si-Boeloes-boeloes, Si-Roemboek-roemboek: Boekoe basaon’

Dalam perkembangannya alumni Kweekschool Tanobato tidak semua menjadi guru, karena ada yang melamar pegawai pemerintah. Jika dulu era sekolah ala Godon, Si Sati menjadi penulis di kantor Godon, sekarang di era kweekschool ada Abdoel Azis yang direkrut sebagai penulis di kantor Asisten Residen di Panjaboengan. Boleh jadi kekosongan guru yang dulunya menganga sudah mulai terpenuhi jika tidak dikatakan sudah berlebih. Hal yang tetap menjadi trademarknya adalah semua alumni sangat mahir menulis dalam aksara Latin baik dalam bahasa Belanda ataupun Bahasa Batak.

Willem Iskander alumni negeri Belanda dan guru di Kweekschool Tanobato memulai tradisi menulis buku modern dengan menggunakan kertas dan aksara Latin. Willem Iskander menulis buku ketika masih studi di Negeri Belanda.  Buku yang dihasilkan Willem Iskander berjudul ‘Boekoe Parsipodaon di Dakdanak di Sikola’ yang diterbitkan pertama kali 1862. Ini satu bukti ada gunanya Willem Iskander studi jauh ke Negeri Belanda. Buku ini merupakan buku pelajaran sekolah yang pertama ditulis oleh pribumi. Buku lainnya dari Willem Iskander yang diterbitkan adalah:
  • Hendrik Nadenggan Roa. Terjemahan dari De Brave Hendrik oleh Nicolaas Anslijn berjudul. Diterbitkan di Padang oleh penernit Van Zadelhoff, 1865.
  • Barita na Marragam. Saduran dari buku karangan J.R.P.F. Gongrijp. Diterbitkan di Batavia 1868. 
  • Baku Basaon. Terjemahan buku karangan W.C. Thurn. Batavia, 1871. Dicetak ulang 1884.

Buku hasil karya Willem Iskander yang sangat terkenal berjudul ‘Si-Boeloes-boeloes, Si-Roemboek-roemboek: Boekoe basaon’ diterbitkan pertama kali di Batavia oleh Landsdrukkerij (Percetakan Negara) tahun 1872. Buku ini merupakan kumpulan prosa dan puisi Willem Iskander sendiri. Lalu pada tahun 1903 dan 1906 dan 1915 buku ini dicetak ulang. Buku ini diterbitkan kembali tahun 1976 yang diterjemahkan oleh Basyral Hamidy Harahap. Kemudian tahun 1987 oleh Penerbit Puisi Indonesia dengan judul Si Bulus-bulus, si Rumbuk-rumbuk: dwibahasa. Beberpa penerbit lainya juga menerbitkan buku ini.

Buku ‘Si-Boeloes-boeloes, Si-Roemboek-roemboek: Boekoe basaon’ karya asli pribumi, sebagai karya klasik yang seharusnya ditempatkan di rak yang prominent di dalam daftar buku-buku Indonesia masa kini. Buku ini tidak hanya abadi, setidaknya bagi penduduk Mandheling en Ankola, juga merupakan buku karya pribumi yang terbit lebih awal dari yang lain. Prosa dan puisi di dalam buku ini menjadi semacam kumpulan nasehat orang tua terhadap anak terutama mereka yang ingin bersekolah. Nilai buku ini meski memiliki nilai budaya local di Mandheling en Ankola tetapi dapat diterapkan di daerah lain. Ada juga puisi yang mengandung bentuk perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Willem Iskander adalah guru yang tidak semata untuk mencetak guru saja. Willem Iskander juga menyadari perlunya menyiapkan buku yang memberi inspirasi bagi anak didik. Salah satu buku yang dipilihnya untuk diterjemahkan adalah buku yang berisi aneka ragam termasuk teknologi mutakhir. Buku terjemahan Willem Iskander ini diberinya judul ‘Taringot di ragam ragam ni parbinotoan dohot sinaloan ni dakdanak’ diterbitkan di Batavia, 1873. Buku ini juga menjadi semacam sumber inspirasi bagi para pembaca. Di dalam buku ini diuraikan berbagai hal seperti bagaimana cara menerbitkan surat kabar yang juga meliputi pencarian informasi dan berita. Yang tidak bisa diabaikan adalah isi buku ini juga menguraikan prosedur riset yang mencakup pengumpulan data, analisis dan bagaimana cara penulisan laporan hingga menjadi sebuah buku. Juga buku ini memuat bisnis persuratkabaran mulai dari percetakan, hal tentang oplah dan distribusi.

Willem Iskander adalah penerjemah buku yang berpengalaman. Berpengalaman karena sudah beberapa buku pelajaran sekolah yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Batak dialek Mandailing. Atas kemampuannya ini, Willem Iskander dua kali diminta pemerintah untuk menerjemahkan buku peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tapi kali ini tidak dalam aksara Latin, melainkan dalam aksara Batak. Buku tersebut adalah ‘Reglement tot regeling van het regwezen in het gouvernement Sumatra’s Westkust’ yang diterjemahkan menjadi judulnya ‘Soerat otoeran ni porkaro toe oehoeman di bagasan ni goebernemen ni Topi Pastima ni Soematara’ (278 halaman). Buku terjemahan peraturan perundanga-undangan ini diterbitkan di Batavia 1873. Satu lagi buku sejenis berjudul ‘1ste en Vde Hoofdstuk van het Reglement op de regterlijke organisatie en het beleid der Justitie’ yang diterjemahkan menjadi ‘Ponggol 1a dohot Va ni Soerat otoeran toe pangotoeran saro oehoem dohot parenta ni oehoeman di Tano Indi Nederland’ (115 halaman). Buku ini diterbitkan di Batavia tahun 1874. Buku ini berisi administrasi peradilan dan susunan personalia untuk setiap tingkat pemerintahan. Buku ini disiapkan pemerintah tidak semata-mata untuk penduduk Mandheling en Ankola, tetapi untuk seluruh Tapanoeli. Saat itu, penataan pemerintahan di Padang Lawas dan Silindoeng dan Toba belum berjalan baik. Diharapkan terjemahan ini nantinya lebih berarti dan lebih mudah dibaca di daerah-daerah tersebut daripada harus dengan menggunakan bahasa Melayu.

Tradisi menulis buku muncul di kalangan para alumni Kweekschool Tanobato dan diterbitkan di Batavia

Guru yang baik menghasilkan lulusan yang baik. Willem Iskander telah memberi contoh serupa apa guru yang sebenarnya. Guru tidak hanya mengajar di kelas tetapi juga guru haruslah menulis buku: buku pelajaran sekolah, buku-buku umum atau bentuk lainnya. Karenanya sangat banyak buku yang dihasilkan oleh para alumni, dan beberapa buku berhasil diterbitkan di Batavia. 

  • Dja Sian, Soetan Koelipa dan Dja Rendo. Boekoe etongan Mandailing etongan ni dakdanak di medja (Mandhelingsche rekenboekje voor hoogste klasse). Batavia, 1868.
  • Si Mangantar gelar Radja Baginda. On ma barita tingon binatang-binatang bahatna lima poeloe pitoe. Batavia, 1868.
  • Soetan Koelipa. Dalanna anso binoto oemoer ni koedo. Lands Drukkerij, 1869.
  • Ph. Siregar dohot Soetan Kinali.  Barita nadenggan denggan basaon ni dakdanak. Batavia, 1872 (dicetak ulang, 1904).
  • Si Saridin, Sada barita ambaen parsipodaan (terjemahan). Batavia, 1872.
  • Philippus Siregar dan Soetan Kinali. Boekoe basaon ni dakdanak di sikola. Boekoe pasadaon. Batavia, 1873.
  • Raja Laoet, Barita sipaingot. Batavia, 1873.
  • Si Pangiring dan Si Mengah. Boekoe basaon ni dakdanak di sikola. Boekoe padoeaon. Batavia, 1873.

Buku-buku ini sebagian sudah terbit sebelum rakyat negeri didirikan oleh pemerintah di Mandheling en Ankola .Sementara itu ibukota Mandhelin en Ankola sudah sejak 1870 pindah dari Panjaboengan ke Padang Sidempoean. Ketika Willem Iskander direkomendasikan untuk memperoleh akte kepala sekolah di Negeri Belanda, sekolah guru di Tano Bato ini harus ditutup 1875. Willem Iskander diproyeksikan akan menjadi Direktur Kweekschool Padang Sidempoean yang akan dibuka pada tahun 1879. Namun sangat disayangkan, Willem Iskander  meninggal di Negeri Belanda tahun 1876. Akan tetapi anak-anak didiknya terus menulis buku. Buku-buku para alumni yang diterbitkan antara lain:
  • Dja Manambin. Si Djahidin. Batavia, 1883.
  • Dja Parlindoengan. Kitab Pengadjaran. Batavia, 1883.
  • Mangaradja Goenoeng Pandapotan. Parsipodaan taringot toe parbinotoan tano on. Batavia, 1884.
  • Mangaradja Goenoeng Pandapotan. On ma sada parsipodaan toe parbinotoan taporan parsapoeloean. Batavia, 1885.
  • Dja Lembang Goenoeng Doli. Soerat Parsipodaan. Batavia, 1889.
***
Dunia perbukuan tidak hanya marak diantara para pribumi tetapi juga beredar kontribusi dari orang-orang Belanda yang bertugas di Afdeeling Mandheling en Ankola. Seperti diutarakan di atas, selain Kweekschool Tanobato di Mandailing juga terdapat sekolah yang dibangun para misionaris di Sipirok. Salah satu guru di sekolah misionaris di Sipirok adalah Betz. Pendeta ini juga menuli buku dalam bahasa Batak dialek Ankola yang diterbitkan pada tahun 1871. Selain itu, van Asselt juga menulis buku.
  • Pamoekaan ni parbinotoan ni etongani ima sada boekoe etongan toe dakdanak dibagasan hata Ankola (Ankola dialect) oleh W.F Betz. Penerbit Lands Drukkerij. 1871.
  • Spel-en lessboekje (battasch) voor scholen. Boekoe parsipodaan ni dakdanak di sikola door Van Asselt.
  • Buku siseon ni angka anak sikola di hata Angkola oleh Ph. Chr Schutz. Penerbit C. Bertelsmann. 1901.
  • Singgolom: boekoe basaon na nibaen oleh J.G. Dammerboer. 1907

Charles Adrian van Ophuijsen seorang pegawai pemerintah (panitera) yang tergoda untuk melakukan riset bahasa dan etnologi di Tanah Batak yang mengawali karirnya ahingga menjadi guru besar dan peletak dasar (founder) bahasa dan tatabahasa Bahasa Indonesia

Charles adalah kelahiran Sumatra yang baru selesai studi di Negeri Belanda dan melamar sebagai pegawai pemerintah lalu ditempatkan di Mandheling en Ankola akhir tahun 1876 sebagai panitera di kantor Controleur di Panjaboengan, Afdeeling Mandheling en Ankola. Tampaknya Charles tidak terlalu senang dengan pekerjaannya, karena kenyataannya Charles justru lebih bersemangat mempelajari Bahasa Batak dialek Mandailing ketimbang menjiwai tugas-tugas utamanya. Di sela-sela berdinas, Charles banyak mempelajari cerita rakyat dan menuliskannya dalam bahasa Batak atau bahasa Melayu. Charles adalah orang Belanda kedua yang fasih berbahasa Batak (setelah N. van der Tuuk). Besar kemungkinan bakat terpendam Charles timbul ke permukaan di lanskap ini, lebih-lebih dia melihat tradisi menulis ini sudah umum di kalangan pribumi di Mandheling en Ankola  yang merupakan anak-anak asuh Willem Iskander di Kweekschool Tanobato.

Rupanya perilaku dan kemampuan belajar otodidak Charles ini diketahui oleh Menteri Buijs yang tengah berkunjung ke Panjaboengan lalu menawarkan apakah Charles dengan bakat dan kemampuannya itu bersedia untuk menjadi guru di sekolah Kweekschool. Sekolah yang dimaksud Pak Menteri membutuhkan guru Eropa yang akrab dengan satu atau lebih bahasa asli dan etnologi di Nederlandsche Indie. Profesi ini sangat jarang dan Charles tidak keberatan, malah sangat bersemangat. Jalan hidup Charles yang sebenarnya kini muncul ke permukaan di daerah terpencil di Mandheling en Ankola.

Meski Charles sudah fasih berbahasa Batak dan berbahasa Melayu, namun untuk menjadi guru harus melalui pelatihan. Charles mengikuti ujian persamaan guru dan berhasil mendapat diploma guru di Padang pada Mei 1879. Pada bulan ini juga, Kweekschool Padang Sidempoean dibuka (menggantikan Kweekschool Tanobato yang ditutup 1875, karena Willem Iskander melanjutkan sekolahnya ke Negeri Belanda untuk kali kedua). Charles tampaknya kecele, ingin ke Padang Sidempoean, malah pada bulan Desember tahun itu juga justru ditempatkan ke Kweekschool Probolinggo untuk mengajar Bahasa Melayu. Pemahaman Charles tentang bahasa Melayu dan fasih menggunakannya diperoleh di Mandailing. 

Namun sebelum pindah ke Probolinggo, masih sempat menyelesaikan sebuah buku yang awalnya digunakan untuk persyaratan memperoleh diploma guru yang kemudian dipublikasikan tahun 1879 dengan judul 'Kijkjes in Het Huiselijk Leven Volkdicht (Pengamatan Kehidupan Kekeluargaan Orang Batak). Charles berangkat ke Probolinggo dengan membawa sangat banyak bahan yang telah dikumpulkan selama tiga tahun di Mandheling en Ankola. 

Sembari mengajar di Probolinggo, Charles terus melakukan analisis terhadap bahan-bahan linguistic dan etnografi itu dan mengirimkannya ke penerbit. Hasil-hasil publikasinya baik selama di Mandheling en Ankola dan Probolinggo (di majalah atau buku) menyebabkan Charles pada Mei 1880 diangkat sebagai anggota Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (semacam perhimpunan ilmu dan pengetahuan) di Batavia. Lembaga ini menemukan seorang yang berprofesi guru sebagai peneliti muda yang paling menjanjikan. Sejak November 1881, Charles atas pertimbangan karena bakat yang luar biasa, dia dibebaskan dari uang iuran anggota perhimpunan.

Setelah bertugas di Kweekschool Probolinggo selama dua tahun, kemudian Charles dipindahkan ke Kweekschool Padang Sidempoean, ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola. Mungkin Charles mungkin tersenyum sendiri. Ini berarti, Charles akan kembali ke daerah dimana dia pertama kali bekerja sebagai PNS selama tiga tahun di kantor Controleur di Panjaboengan, Groot Mandheling—situs dimana dia pertama kali melakukan studi bahasa dan masyarakat dan tempat dimana Charles menjadi fasih berbahasa Batak dan bahasa Melayu. Praktis selama di Probolinggi Charles tidak sempat lagi mengumpulkan bahan-bahan karena sibuk dengan analisis dan penulisan. Kini, Charles kembali ke laboratorium alamnya di Mandheling en Ankola, Rasidentie Tapanoeli. Kesempatan riset terbuka seluas-luasnya.

Charles Adrian van Ophuijsen menggantikan peran Willem Iskander dalam pengembangan tradisi menulis di kalangan pribumi

Guru tetaplah guru, tapi Charles juga melihat hal yang lain diluar tupoksi seorang guru yakni riset. Charles Adrian van Ophuijsen berada di tempat yang benar dan di waktu yang tepat. Dia tidak saja jago dalam mengajar tetapi juga mampu membimbing siswa-siswanya di bidang riset. Oleh karenanya tidak heran, ketika koran Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad edisi 16-12-1884 memberitakan suatu laporan pendidikan di Nederlansche Indie bahwa hanya kweekschool di Padang Sidempoean bersama kweekschool di Bandoeng, Probolinggo, Makassar, Tondano dan Amboina yang memenuhi kualifikasi. Ini mengindikasikan bahwa Kweekschool Padang Sidempoean merupakan sekolah guru terbaik di Sumatra.

Di Padang Sidempoean, van Ophuijsen selain mengajar, dunia risetnya tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Dia berada di lingkungan alam dan lingkungan sosial yang luar biasa yang membuatnya menemukan kesempatan yang luar biasa untuk mengumpulkan materi untuk bahasa dan etnologi. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan dengan semangat untuk penelitian ilmiah dan bahwa dia tahu bagaimana dan apa yang harus diselidiki. Menurut C. Snouck Hurgronje dalam memoir bahwa van Ophuijsen bagaikan seorang profesor fisika atau mata pelajaran medis, yang memiliki asisten laboratorium yang terampil dan satu pilihan co-siswa yang sesuai. Itulah dunia van Ophuijsen di Padang Sidempoean.

Charles bersama asisten yang juga dibantu oleh masyarakat sangat bersemangat untuk melakukan riset. Hal yang mereka pelajari mulai dari literatur dari kitab suci dari suku Batak dan juga hal yang tidak tertulis, seperti cerita rakyat, dongeng, puisi cinta, tanda-tanda ajaib, teka-teki dan pepatah yang disarikan di dalam banyak tulisan. Juga termasuk hal fragmentaris tentang permainan anak-anak, obat rakyat, sihir, kebiasaan rakyat dan hukum rakyat, dan hasilnya diselesaikan dalam bentuk ratusan notebook. Semua itu menurut Snouck ditulis dengan tangan, rapi dan akurat.

Hasil-hasil publikasi riset Charles menjadi bahan pembicaraan di kalangan akademisi Belanda di Nederlansche Indie.  C.A. van Ophuijsen meneliti di Mandheling en Ankola dan menulis di Padang Sidempoean tempat terpencil di pedalaman Sumatra, tetapi publisitasnya bergaung besar di Batavia.

***
Charles Adrian van Ophuijsen adalah guru dan pribadi yang lengkap. Meski tinggal dan bertugas di daerah terpencil di pedalaman Sumatra di Mandheling en Ankola, ternyata dia sangat betah dan menikmati. Bersama istri yang mantan guru mampu membesarkan anak-anak mereka yang semuanya lahir di Padang Sidempoean. Total van Ophuijsen di Padang Sidempoean selama delapan tahun hampir lima tahun menjadi kepala sekolah (terhitung 1 Agustus 1885) hingga akhirnya 26 Januari 1890 harus meninggalkan Padang Sidempoean karena diangkat menjadi Inspektur Pendidikan yang ditempatkan di Fort de Kock. Hampir tidak ada pejabat pemerintah apalagi seorang guru mau bertahan selama delapan tahun di satu tempat, di tempat terpencil pula. Semua itu bagi van Ophuijsen ada maksud dan tujuannnya dan nanti pada akhirnya akan terbukti hasilnya.

***
Pada tanggal 19 Februari 1904 Charles Adrian van Ophuijsen diminta untuk mengajar di Universiteit Leiden. Hal ini terjadi karena di perguruan tinggi bergengsi itu jabatan dosen kosong untuk bahasa dan sastra Melayu dan pengetahuan linguistic Nederlansche Indie. Kecintaannya terhadap tanah kelahirannya Sumatra, khususnya di Tanah Batak di Mandheling en Ankola tidak goyah. Di Leiden, pada tahun 1908 Charles van Ophuijsen bersama Dr. C.W. Janssen dan kawan-kawan mendirikan Batak Institute. Berikut daftar tulisan Charles Adrian van Ophuijsen yang bertema Tanah Batak.
  • Toloe Sampagoel (leesboekje voor de Bataksche scholen in drie stukjes). Leiden, P.W.M. Trap, 1904.
  • Kijkjes in het huiselijk leven der Bataks. Uitgaven van het Bataksch Instituut, No. 4. Leiden, S.C. Van Doesburgh, 1910.
  • Bataksche teksten (Mandailingsch dialect). Eerste reeks. Leiden, S.C. Van Doesburgh, 1914.      
  • Indische Gids.
  • Bataksche raadsels. (Deel XXVIII, bl. 201-15, 1883, en Deel XXX, bl. 459-472, 1885).
  • De Loeboe's. (Deel XXIX, bl. 88-100 en 526-554, 1884).
  • Bataksche spreekwoorden en spreekwijzen. (Deel XXXIV, bl. 72-99, 1891, en Deel XXXV, bl. 613-638, 1892).
  • Over de afleiding en beteekenis van sapala-pala (Volgr. 5, I, bl. 98-100, 1886).
  • De poëzie in het Bataksche volksleven. (Volgr. 5, I, bl. 402-32, 1886).[p. 107]          
  • Der Bataksche Zauberstab. (Band XX, S. 82-103, 1911)
  • Internationales Archiv für Ethnographie.Der Bataksche Zauberstab. (Band XX, S. 82-103, 1911)

Willem Iskander vs Charles Adrian van Ophuijsen: Beda generasi tetapi memiliki cara pandang yang sama

Willem Iskander dan Charles Adrian van Ophuijsen adalah dua tokoh pendidikan yang paling berpengaruh di Afdeeling Manheling  en Ankola. Dua tokoh beda generasi ini  memiliki semangat dan disiplin yang tinggi dalam dunia pendidikan dan riset. Willem Iskander mengasuh Kweekschool Tanobato selama 14 tahun (1862-1875) adalah peletak dasar pendidikan dan penulisan buku yang dimulai dari dirinya dan kemudian menular ke para lulusannya. Willem Iskander tidak hanya orang pribumi yang pertama studi ke Negeri Belanda (1857), juga Willem Iskander adalah orang pribumi pertama yang menjadi direktur kweekshool di Nederlansche Indie, juga Willem Iskander adalah penulis pribumi yang berhasil menerbitkan buku pelajaran dan buku umum. Karya terbesarnya adalah menerbitkan buku  ‘Si-Boeloes-boeloes, Si-Roemboek-roemboek: Boekoe basaon’ yang diterbitkan di Batavia 1872 dan telah dicetak ulang beberapa kali. Buku ini menjadi abadi, setidaknya di daerah Tapanuli Selatan pada masa ini.

Charles Adrian van Ophuijsen adalah pemuda yang tidak tahu apa-apa ketika pertama kali datang ke Afdeeling Mandheling en Ankola.  Charles, setelah 14 tahun di Negeri Belanda kembali ke tempat kelahirannya di Sumatra dan segera ditempatkan menjadi pegawai negeri sipil di onderafdeeling Groot Mandheling di Panjaboengan, Desember 1876. Kweekschool yang ada di onderafdeeling ini baru satu tahun benar-benar ditutup setelah kedatangan van Ophuijsen. Hal ini terkait dengan keberangkatan Willem Iskander untuk studi ke negeri Belanda pada April 1874. Charles tidak sempat bertemu Willem Iskander, namun berita-berita tentang penutupan sekolah tersebut dan siapa itu Willem Iskander tentu saja lambat laun diketahuinya.

Charles yang datang sebagai panitera di kantor Controleur Panjaboengan jelas masih menemukan jejak-jejak kiprah Willem Iskander dan para murid-muridnya serta peranan Kweekschool Tanobato dalam menyediakan guru di Residentie Tapanoeli. Mungkin Charles kala itu tidak berpikir tentang guru dan bercita-cita menjadi kepala sekolah, tetapi mengapa Willem Iskander dan para alumninya banyak menulis (buku pelajaran dan buku umum) di daerah terpencil itu, yang mungkin Charles tidak pernah mendengar di bagian lain di Nederlandsche Indie. Mungkin Charles melihat tradisi menulis yang sudah berkembang itu di kalangan pribumi di Mandheling en Ankola, menganggap dirinya tidak ada apa-apanya dalam hidupnya jika hanya sekadar pegawai rendah di pemerintahan sementara riwayat pendidikan Charles sendiri terbilang cemerlang di Negeri Belanda. Apakah situasi yang dilihatnya dan kondisi yang dialaminya  itu yang menyebabkan Charles mengubah haluan dari dunia birokrasi ke dunia ilmu pengetahuan? Boleh jadi.

Lingkungan alam dan lingkungan social yang tepat membuat Willem Iskander dan Charles Adrian van Ophuijsen memulai pemikiran awal dan mengebangkannya. Tanah Batak yang sejak doeloe telah memiliki tradisi membaca dan menulis membuat keduanya terinspirasi bagaimana membaca lingkungan alam dan lingkungan social dan bagaimana menuliskannya. Di lingkungan inilah kedua anak manusia beda ras ini menemukan diri mereka yang sebenarnya dan memulai prestasi-prestasi selanjutnya. Kedua anak muda beda jaman ini (sama-sama berumur 22 tahun) menjadi terobsesi untuk menulis dan masing-masing mereka sama-sama berhasil melaksanakannya. Willem Iskander meninggalkan karya abadi buku ‘Si-Boeloes-boeloes, Si-Roemboek-roemboek: Boekoe basaon’ untuk penduduk Tapanuli Selatan, sedangkan Charles Adrian van Ophuijsen meninggalkan karya abadi juga buku ‘Kitab Logat Melayu’ yang didalamnya termasuk ejaan bahasa Melayu yang mana karya ini kemudian menjadi cikal bakal ejaan dan tatabahasa Bahasa Indonesia.

Di bidang pengajaran keduanya juga sama-sama memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pendidikan. Willem Iskander menjadi direktur selama hidup Kweekschool Tanobato (1862-1874) berhasil menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah guru terbaik di Sumatra. Willem Iskander diminta mengundurkan diri dengan hormat karena ditunjuk pemerintah pusat untuk menjadi pembimbing sejumlah guru di Nederlansche untuk studi ke Negeri Belanda. Charles Adrian van Ophuijsen yang memulai tugas mengajar di Kweekschool Padang Sidempoean sejak 1882 dan menjadi direktur mulai 1885 menjadikan sekolah yang dimpimpinya menjadi sekolah guru terbaik di Nederlansche Indie. Charles mengundurkan diri dengan hormat dari sekolah ini tahun 1890 karena ditunjuk untuk menjadi Inspektur Pendidikan di Sumatra’s Westkust.


Alumni Kweekschool Padang Sidempoean terkenal sebagai guru dan penulis hebat di berbagai tempat

Kweekschool Tanobato ditutup tahun 1875 karena direkturnya Willem Iskander, seorang pribumi berangkat kembali ke Negeri Belanda untuk studi lebih lanjut. Sejak 1862 jejak guru dan para alumninya menghiasi daftar buku yang ditulis pribumi di Nederlansche Indie. Buku-buku mereka yang ditulis dalam aksara Latin dalam bahasa Batak menjadi buku-buku wajib bagi murid-murid sekolah. Yang menarik juga, buku-buku tersebut juga digunakan secara luas di masyarakat sebagai sarana belajar untuk belajar aksara Latin di sopo godang. Jumlah buku-buku ini puluhan banyaknya, suatu angka yang tidak ditemukan di bagian lain Nederlansche Indie. Ibarat kata: pengadaan buku dari penduduk untuk penduduk. Keberadaan buku-buku tersebut dengan sendirinya, tingkat literasi penduduk yang tinggi (di Era Marsden) tetap dapat dipertahankan meski kini aksaranya sudah  beralih dari aksara Batak ke aksara Latin.

Babak baru pendidikan di Mandheling en Ankola dimulai tahun 1879 ketika Kweekschool Padang Sidempoean dibuka. Sekolah guru ini menggunakan bahasa pengantar utama bahasa Belanda. Untuk menjadi murid sekolah guru ini seleksinya ketat. Selain kecerdasan dan TOEFL bahasa Belanda harus memadai juga harus didukung pembiayaan yang kuat. Kweekschool ini agak berbeda dengan kweekschool yang lain. Guru-guru yang ada tidak hanya mengajar tetapi juga melakukan riset lapangan dan para siswa dilibatkan. Setiap siswa yang lulus dari sekolah ini sudah fasih berbahasa Belanda. Salah satu gurunya yang terkenal adalah Charles Adrian van Ophuijsen. Guru muda ini adalah peneliti muda cemerlang yang kelak dia menjadi guru besar (professor) di Universiteit Leiden di Negeri Belanda. Para alumni kweekschool akreditasi-A ini sangat diminati pemerintah. Kweekschool Padang Sidempoean ditutup 1891 dan aktivitasnya berhenti tahun 1893.

Sebagaimana guru dan para alumni Kwekschool Tanobato sama-sama giat menulis, guru dan alumni Kweekschool Padang Sidempoean juga rajin menulis. Buku-buku yang ditulis guru dan alumni Kweekschool Tanobato menggunakan akasara Latin dalam bahasa Batak dialek Mandailing. Sedangkan para alumni Kweekschool Padang Sidempoean dalam menulis sudah menngunakan bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Digunakannya bahasa Melayu karena penduduk yang bisa berbahasa Melayu jumlahnya semakin cepat meningkat. Lulusan Kweekschool Padang Sidempoean tidak hanya menjadi guru, tetapi juga banyak yang menjadi pegawai pemerintah. Mereka ini di pemerintahan adalah penulis-penulis yang handal juga. Beberapa alumni Kweekschool Padang Sidempoean yang cukup menonjol di bidang penulisan buku adalah sebagai berikut:

Dja Endar Moeda. Murid Kweekschool Padang Sidempoean angkatan pertama (1879) dan lulus tahun 1883. Dja Endar Moeda memulai karir sebagai guru di Batahan, Di tempat terpencil ini, Dja Endar Moeda selain mengajar juga menulis berbagai buku pelajaran dan mengirim artikel ke majalah pendidikan di Probolinggo. Setelah Dja Endar dipindahkan ke Air Bangis, Dja Endar juga menekuni penulisan buku-buku cerita. Dari tempat ini, Dja Endar Moeda diangkat sebagai executive editor (jarak jauh) majalah pendidikan satu-satunya di Nederlansche Indie. Setelah dipindahkan beberapa kali, Dja Endar Moeda pension dini dan focus menekuni karir di bidang persurat kabaran dan penulisan buku. Dimulai sebagai editor di koran Pertja Barat yang terbit di Padang. Surat kabar investasi orang-orang Belanda ini akhirnya berhasil diakusisinya hingga bisnisnya memiliki percetakan dan beberapa surat kabar lainnya di Siboga, Kota Radja (Atjeh) dan Medan  yang kemudian Dja Endar Moeda dijuluki sebagai Radja Persuratkabaran Sumatra. Dengan memiliki percetakan sendiri, Dja Endar Moeda menerbitkan novel-novelnya yang belum diterbitkan (novel kala itu belum menjadi prioritas penerbit/pencetakan Belanda). Beberapa karya Dja Endar Moeda adalah sebagai berikut:    
  • Dja Endar Moeda. ‘Hikajat tjinta kasih sajang’. Otto Bäumer, 1895
  • Dja Endar Moeda. ‘Hikajat dendam ta' soedah: kalau soedah merewan hati’. 1897.
  • Dja Endar Moeda. ‘Kitab sariboe pantoen: ibarat dan taliboen, Volumes 1-2’. Insulinde, 1900.
  • Dja Endar Moeda, L.J.W. Stritzko. ‘Tapian na Oeli na pinararat ni Dja Endar Moeda ni haroearkon ni toean’. 1900.
  • Dja Endar Moeda. ‘Kitab boenga mawar: pembatjaan bagi anak2’. Insulinde, 1902.
  • Dja Endar Moeda. ‘Kitab peladjaran bahasa Wolanda oentoek anak anak baharoe moelai beladjar’. 1902.
  • Dja Endar Moeda. ‘Hikajat sajang taq sajang: riwajat Nona Geneveuva ...’ 1902
  • Dja Endar Moeda. ‘Riwajat Poelau Sumatra’. 1903.
  • Dja Endar Moeda. ‘Kitab edja dan pembatjaan oentoek anak anak jang baharoe beladjar’. 1903.
  • Dja Endar Moeda, dan Djamaloedin (Baginda). ‘Kitab kesajangan: bergoena oentoek anak-anak jang baharoe beladjar membatja hoeroef Belanda’. 1904.

Soetan Casajangan Soripada. Murid Kweekschool Padang Sidempoean angkatan tahun 1885. Tidak bersedia diangkat pemerintah untuk ditempatkan ke daerah lain, Dia lebih memilih memulai karir sebagai guru di Simapilapil dekat kampong kelahiranya. Namun lambat laun karena pengabdiannya, Soetan Casajangan diangkat sebagai guru pemerintah dan ditunjuk menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut. Setelah mengabdi sebagai guru di sekolah itu selama 13 tahun, Soetan Casajangan berangkat studi ke Negeri Belanda 1905 atas biaya sendiri untuk memperoleh akte kepala sekolah kweekschool. Dja Endar Moeda adalah pribumi yang kedua yang kuliah di luar negeri. Selama kuliah guru Dja Endar Moeda aktif menghimbau pribumi untuk datang studi ke Belanda. Menurutnya hanya dengan cara begitu pribumi dapat meluaskan pengetahuan. Tahun 1908 Dja Endar mempelopori berdirinya perhimpunan Hindia di Belanda yang dikenal sebagai Indisch Vereeniging dan bertindak sebagai Presiden pertama. Beberapa tahun masa kuliahnya molor karena sibuk organisasi, menulis berbagai makalah dan pembicara serta menjadi editor beberapa majalah. Soetan Casajangan pernah menjadi asisten Profesor Charles Adrian van Ophuijsen (mantan gurunya di Kweekschool Padang Sidempoean) untuk mata kuliah Sastra dan Bahasa Melayu di Universiteit Leiden. Sebelum mendapat akte kepala sekolah dan sebelum pulang ke tanah air, Soetan Casajangan menerbitkan bukunya berjudul ‘Indische Toestanden Gezien Door Een Inlander’ (Negara bagian di Hindia Belanda dilihat oleh penduduk asli). Diterbitkan di Baarn 1913 oleh penerbit Hollandia-Drukkerij. Buku ini merupakan buku pertama pribumi yang diterbitkan di Negeri Belanda (dalam bahasa Belanda). Karya-karya lainnya adalah sebagai berikut:

Buku:
  • Soetan Casajangan. “Verbeterd Inlandsch Onderwijs (Peningkatan pendidikan pribumi), 1911.
  • Soetan Casajangan. “Maleische Grammatica (Ilmoe Bahasa), Bagi Kweek, Opleidings, en Normaalschool (Tata bahasa Melayu (ilmoe bahasa), bagi sekolah guru, pelatihan dan sekolah biasa). Pertjétakan Goebernemén, 1924.
  • Soetan Casajangan (bersama dengan L. Bij de Ley, Masagoes Moehammad, dan Djaäfar). “Kitab Hitoengan Oentoek Sekolah-Normal”. Wolters, 1926.
  • Soetan Casajangan. “Nederland en Indië: ‘blank’ en ‘bruin’ een saâm vereenigd door een hechten broederband : associatie- en eendracht wijzen hoopvol naar groot Nederland”. 1913.

Artikel:
  • RS. Casajangan Soripada, “De associatie-gedachte in de Nederlandsche koloniale politiek”, Volume 3 dari Orgaan der Vereeniging "Moederland en Koloniën" (1920).
  • Soetan Casajangan (R.). “Opleiding van Inlandsche onderwijzers in Nederland”.  Kol. Weekbl. 1911. No. 42.
  • Soetan Casajangan. “Bandera Wolanda: didirikan pada tahoen 1900”. Maleisch exportblad.
  • Soetan Casajangan (R.). “Inlandsch onderwijs. Voordracht. Indologenblad”. 2 (1910-11).
Sosok dan pemikiran Soetan Casajangan mendapat apresiasi yang luas dari kalangan orang-orang Belanda. Pengakuan terhadap Soetan Casajangan diwujudkan dalam berbagai bentuk. W. J. Giel mengungkapkan kekaguman terhadap potret seorang pelopor pribumi di Hindia Belanda bernama Soetan Casajangan di dalam sebuah artikel berjudul ‘Een Inlandsch pionier in Nederland (n.l.de Batakker M. Soetan Casajangan Soripada)’ yang diterbitkan di Weekbl. V. Indie. 10 (1913-14). Bentuk-bentuk lainnya yang mengapresiasi tentang Soetan Casajangan antara lain:
  • Een Batakker over Indië. (Resumé eener lezing van R. Soetan Casajangan over: “Een en ander ter bevordering van den vooruitgang van Nederl. Indië"). — /. G. 1913.
  • Hilgebs (Th. J. A.). Een ontwikkelde Inlander (nl. Soetan  Casajangan) over onderwijs en onderwijspolitiek. De School v. N. I. 3 (1912-13).

Soetan Pangoerabaan Pane. Alumni kweekschool yang awalnya menjadi guru di Muara Sipongi dan kemudian pindah dari satu tempat ke tempat lain. Guru yang satu ini multi talenta. Selain berprofesi guru, Soetan Pangoerabaan Pane kelahiran kampung Pangoerabaan, Sipirok, 1885 juga adalah pengarang local terkenal, menerbitkan surat kabar local dan juga aktif di bidang bisnis seperti pertanian, transportasi dan percetakan. Menghasilkan beberapa karya. Karya terpopuler adalah roman berjudul Tolbok Haleon (Hati yang kemarau).


  • Tolbok Haleon, Volume 1. Soetan Pangoerabaan Pane. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, 1978
  • Lilian lolosan: bagian 1 : renungan bagi orang tua, nasihat bagi para remaja. Sutan Pangurabaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1987 - 215 pages
  • Nasotardago. Sutan Pangurabaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, 1979 - Batak (Indonesian people) - 250 pages
·          
Soetan Martoewa Radja. Alumni Kweekschool Padang Sidempoean yang terakhir (1893). Memulai karir sebagai guru di Pargarutan sebelum dipindahkan menjadi kepala sekolah di kampungnya di Sipirok. Setelah cukup lama bertugas di Sipirok, Soetan Martoewa Radja beberapa kali pindah seperti ke Tarutung dan terakhir menjadi kepala sekolah Normaal School di Pematang Siantar. Dalam soal penulisan buku, Soetan Martoewa Radja juga terbilang aktif. Bukunya dalam bahasa Batak dialek Angkola/Sipirok tidak ditemukan, yang boleh jadi buku-buku yang diperlukan sudah cukup tersedia dari guru-guru alumni Kweekschool Tanobato atau guru-guru kakak kelasnya di Kweekschool Padang Sidempoean. Setelah dipindahkan ke Tarutung, buku-buku Soetan Martoewa Radja banyak yang diterbitkan dalam bahasa Batak dialek Toba. Buku-buku Soetan Martoewa Radja antara lain:

  • Doea Sadjoli oleh J. Soetan Martoewa Radja. 1919 - 67 pages
  • Ranteomas, oedoet ni Doea Sadjoli oleh J. Soetan Martoewa Radja, 1922
  • Ranteomas. J. Sutan Martua Raja. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1981 - Angkola-Mandaling (Indonesian people) - 179 pages
  • Doea sadjoli: boekoe siseon ni dakdanak di sikola, Volume 1. J. Sutan Martua Raja
  • Landsdrukkerij, 1931 - Ankola dialect - 128 pages
  • Dua sadjoli, Volume 1. J. Sutan Martua Raja. Islamiyah, 1960
  • Pansoer na oeli, boekoe sidjahaon ni angka anak sikola metmet na di Tano Batak: toerpoek ni angka na di rongkanan porgindjang. J. Sutan Martua Raja, Arsenius Lumbantobing. Landsdrukkerij, 1921 - Batak dialect - 173 pages
  • Roehoet ni hata: poda salaho toe parbandjar dohot partoere ni hata Batak, Volume 1. J. Sutan Martua Raja, Goenoeng (Radja.). Landsdrukkerij, 1925 - Ankola dialect
  • Hapias: rongkap ni Singgolom : boekoe siseon. J. Soetan Martoewa Radja. 1918 - 70 pages
  • Soeloesoeloe: boekoe sidjahaon ni angka anak sikola metmet na di Tano Batak. J. Sutan Martua Radja, Arsenius Lumbantobing. Lands-Drukkerij, 1921 - Batak language - 172 pages

Guru-guru yang berdedikasi tinggi dari Mandheling en Ankola juga melahirkan anak-anak yang cemerlang di tingkat nasional dan internasional

Buku adalah muara pemikiran dan buku menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi yang membacanya. Pelopor penulisan buku di Tanah Batak adalah para guru. Guru juga menularkan pemahamannya tentang perbukuan terhadap murid-murid dan anak-anaknya. Sudah terbukti guru yang peduli buku mencetak murid-murid yang menjadi penulis yang piawai. Berikut siswa-siswa Kweekschool yang menjadi guru dan membimbing murid-murid yang pintar dan mengasuh anak-anak seniri yang cemerlang.

Soetan Abdoel Azis. Alumni Kweekschool Tanobato, asuhan ‘maha guru’ Willlem Iskander yang tidak menjadi guru tetapi karena kemampuan menulis dan bahasa Belanda direkrut pemerintah menjadi penulis di kantor Asisten Residen Mandheling en Ankola di Panjaboengan. Setelah lama berkarir sebagai penulis lalu diangkat menjadi adjuct djaksa yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya hingga menjadi Asisten Demang di Kebajoran, Batavia. Satu diantara anaknya menjadi dokter, alumni Dokter Djawa School dan ditempatkan pertamakali di Padang dan tidak lama kemudian dipindahkan ke Siboga. Setelah delapan tahun di kota pelabuhan Tapanoeli ini, selanjutnya menetap di Lampung membuka praktek dokter.

Mangaradja Soetan. Alumni Kweekschool Tanobato seangkatan dengan Soetan Abdoel Azis. Mangaradja Soetan tidak menjadi guru tetapi kepala koeria Batanadoewa lalu kemudian diangkat pemerintah menjadi adjuct djaksa. Salah satu anak Mangaradja Soetan adalah menjadi alumni Kweekschool Padang Sidempoean yang menjadi guru sekolah rakyat di Simapilapil bernama Soetan Casangan Soripada, alumni Kweekschool Padang Sidempoean yang menjadi guru sekolah rakyat selama 13 tahun. Di usia tiga puluh tahun, masih memiliki semangat untuk menimba ilmu ke Negeri Belanda. Di Negeri Belanda dia mempelopori berdirinya Perhimpunan Hindia Belanda (Indisch Vereeniging) yang menjadi bakal Perhimpunan (mahasiswa) Indonesia. Soetan Casanjangan adalah orang pertama pribumi yang menerbitkan buku di luar negeri.

Dja Endar Moeda. Seorang guru alumni Kweekschool Padang Sidempoean yang kemudian pension beralih menjadi profesi pengarang dan wartawan. Dja Endar Moeda adalah editor pertama pribumi di surat kabar (Pertja Barat) yang investasinya dimiliki orang-orang Belanda. Dalam perkembangannya Dja Endar Moeda menjadi pemilik Pertja Barat dan memiliki percetakan dan beberapa surat kabar yang terbit di Padang, Sibolga, Aceh dan Medan yang kemudian dijuluki sebagai Radja Persuratkabaran Sumatra. Salah satu anak Dja Endar Moeda bernama Alimatoe Sadiah boru Harahap menikah dengan Dr. Haroen Al Rasjid Nasoetion, anak dari Soetan Abdoel Azis. Pasutri muda ini memiliki enam orang anak. Dua diantaranya adalah anak pertama, Dr. Ida Loemongga br Nasution dokter bergelar doktor perempuan pribumi pertama di Negeri Belanda dan anak yang keempat, Gele Haroen, alumni Universiteit Leiden yang membuka praktek pengacara di Lampung yang kemudian menjadi Residen pertama Lampung.

Mangaradja Salamboewe. Seorang siswa Kweekschool Padang Sidempoean, anak seorang dokter Djawa (alumni Dokter Djawa School) yang pertama yang berasal dari luar Djawa, Si Asta. Salamboewe tidak sempat menyelesaikan studinya di Kweekschool Padang Sidempoean karena ditutup. Dengan bekal pelajaran hanya sampai kelas dua, dia melamar sebagai penulis di Kantor Residen Tapanoeli di Sibolga yang kemudian diangkat sebagai adjunct djaksa dan ditempatkan di Natal. Setelah beberapa lama menjadi jaksa dia desersi dan dipecat tetapi ia malah senang karena dapat bebas mengadvokasi mayarakat yang kerap mendapat ketidakadilan. Penulis yang memiliki bakat menulis dan kemahiran beracara (pengaracara) ini direkrut surat kabar Pertja Timur di Medan untuk bertindak sebagai editor. Mangaradja Salamboewe sangat disegani oleh wartawan-wartawan Belanda karena dia tidak pilih kasih untuk menangani delik pers yang menimpa wartawan apakah pribumi atau bangsa Eropa. Maharadja Salamboewe datang dan berada di tempat yang tepat. Sebagai editor koran berbahasa Melayu yang dimiliki orang-orang Belanda tidak ada kurangnya. Di dalam suatu editorial De Sumatra post (edisi 29-05-1908), Mangaradja Salamboewe digambarkan sebagai berikut: ‘Di dalam seratoes orang pribumi tidak ada satoe yang begitoe brani’. Setelah Maharadja Salamboewe tiada, pakem koran ini tidak berkurang. Wartawannya ‘hilang satu tumbuh seribu’. Setelah Maharadja Salamboewe, muncul Soetan Parlindoengan dan Parada Harahap. Kedua yang disebut terakhir ini adalah memiliki ‘darah’ delik pers yang kuat dari Tapanuli Selatan di tingkat nasional.

Soetan Martoewa Radja. Setelah pension dari guru (1924), Soetan Martoewa Radja selama tiga periode menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) Kota Pematang Siantar. Di dewan kota hanya tiga orang yang berasal dari pribumi, yakni: Soetan Martoea Radja Siregar, Madong Loebis (guru Normaalschool) dan Muhammad Hamzah Harahap. Soetan Martoea Radja sendiri selama menjadi anggota dewan juga ‘nyambi menjadi konsultan di Handel Mij. Indische Drukkerij yang berkantor di Medan. Salah satu anaknya yang lahir tahun 1931 namanya disingkat sebagai A.F.P. Siregar. Setelah menyelesaikan HIS masuk MULO di Medan dan dilanjutkan HBS. Pada tahun 1937, A.F.P. Siregar dinyatakan lulus ujian akhir (eindexamen). Setelah lulus sekolah HBS, A.F.P. Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindoengan berangkat ke Batavia untuk selanjutnya melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri di Jerman. Mungkin Parlindoengan adalah orang Indonesia pertama yang sekolah ke Jerman. Setelah lulus dan memperoleh gelar akademik insinyur (Ir), A.F.P. Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindoengan pulang ke tanah air. Sesampainya di tanah air, situasi berubah dari Belanda ke Jepang. Dengan adanya pendidikan oleh militer Jepang, keahlian Parlindoengan dibutuhkan oleh militer Jepang. Setelah Belanda kembali (agresi militer Belanda), Parlindoengan bergabung dengan laskar di Surabaya dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda, Mangaradja Onggang Parlindoengan pada tahun 1950 ditunjuk pemerintah untuk menjadi direktur Pabrik Sendjata dan Mesiu (PSM) di Bandung. Pada tahun ini juga (1951) ayahnya Soetan Martoea Radja meninggal dunia di Pematang Siantar. Selanjutnya, pada tahun 1954, M.O. Parlindoengan pension dari PSM. Kemudian pada tahun itu juga Parlindoengan pindah ke Jakarta. Di masa pension ini, Mangaradja Onggang Parlindoengan menulis buku yang terkenal tetapi kontrovesial yang berjudul: Pongkinangolngolan Sinambela Gelar Tuanku Rao: ‘Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833’.Buku ini diterbitkan Penerbit Tandjung Pengharapan, 1964.

Soetan Pangoerabaan Pane.  Setelah pension menjadi guru, Soetan Pangoerabaan Pane menekuni bisnis dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di Batavia, Soetan Pangaoerabaan Pane dimasa tua masih terlibat dengan berbagai organisasi. Seotan Pangoerabaan Pane adalah penggagas didirikannya organisasi para pensiunan yang kemudian menjadi ketuanya. Organisasi ini di era kemerdekaan menjadi cikal bakal. Soetan Pangoerabaan Pane tidak hanya berhasil sebagai guru, pengarang dan pebisnis juga sangat berhasil membesarkan anak-anaknya hingga sukses di bidangnya. Soetan Pangoerabaan Pane adalah ayah dari Sanusi Pane, Amijn Pane dan Lafren Pane. Sanusi Pane dan Armijn Pane adalah sastrawan Poejangga Baroe dan pentolan Balai Poestaka. Lafran Pane adalah akademisi yang menjadi guru besar. Lafran Pane adalah pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta.

Muhammad Taif Nasoetion. Taif Nasution adalah alumni kweekschool yang menjadi guru dan dtempatkan  di Aceh. Taif Nasoetion dikemudian hari dikenal sebagai ayah dari Muhammad Amin Nasoetion (sering disebut S.M. Amin) adalah gubernur pertama dan ketiga Gubernur Sumatra Utara. Setelah dari Aceh, Taif kembali ke Manambin, Mandailing kampong halamannya. S.M. Amin yang kelahiran Aceh memulai sekolah rakyat di Manambin dan diteruskan ke ELS lalu ke Batavia mengambil sekolah hukum untuk mengikuti dua abangnya yang telah studi di STOVIA.

Adem Loebis. Alumni kweekschool menjadi guru di Aceh dan dikemudian hari dikenal sebagai ayah dari Kolonel Zulkifli Lubis. Adem Loebis tetap menetap di Aceh dan menyekolah Zulkifli mulai dari HIS kemudian MULO di Aceh dan AMS di Yogyakarta. Selama di Yogya Zulkifli masuk militer Jepang dan seterusnya berkarir di militer bidang intelijen hingga pernah menjadi KASAD.

Mangaradja Gading. Karim gelar Mangaradja Gading adalah alumni kweekschool. Sebagaimana umumnya, lulusan Kweekschool Padang Sidempuan, ada yang menjadi guru dan ada yang menjadi pegawai pemerintah. Mangaradja Gading melakukan ‘kebulatan tekad’ untuk melamar sebagai pegawai pemerintah. Setelah diterima, Mangaradja Gading ditempatkan di kantor residen Tapanoeli di Sibolga. Setelah beberapa tahun Mangaradja Gading ditunjuk untuk menjadi pengawas di Jambi. Dari Sibolga Mangaradja Gading, istri dan seorang anak berangkat ke wilayah baru yang belum mereka kenal, melalui Padang lalu menuju Sarolangun, Jambi. Setelah setahun bertugas di Sarolangun, istri Mangaradja Gading melahirkan anak kedua tanggal 15 Juli 1905 yang diberi nama Abdul Hakim. Singkat cerita setelah tamat ELS di Sibolga, Abdul Hakim melanjutkan MULO di Padang lalu Prins Hendrikschool (sekolah menengah atas) di Batavia. Abdul Hakim mengikuti kursus layanan bea dan cukai dan kemudian ditempatkan di Medan. Di kota ini dia diangkat sebagai anggota Gemeenteraad lalu kembali ke Batavia dan selanjutnya ditempatkan di Makassar. Pada permulaan pendudukan Jepang Abdul Hakim balik kampong ke Tapanoeli, Semasa agresi militer pada tahun 1949 Abdul Hakim kemudian menjadi anggota dewan Keresidenan Tapanoeli dalam kapasitasnya sebagai anggota Parlemen dari Sumatera dan Sumatera Utara. Dia kemudian menjadi anggota dari CUT (pendahulu parlemen) Gubernur Sumatera Utara dan anggota dari perwakilan dewan untuk Sumatera Utara di pengasingan. Abdul Hakim sempat ditunjuk sebagai penasihat delegasi Republik yang akan pergi ke KMB di Den Haag bersama Gubernur Republik Sumatera Utara, Mr. SM Amin (Nasoetion). Pada tahun 1950 Abdul Hakim diangkat menjadi duta besar (ambassadeur) di Pakistan. Selanjutnya dalam Kabinet Halim (1950) Abdul Hakim menjadi Wakil Perdana Menteri (mewakili Masyumi). Abdul Hakim adalah bagian dari kabinet terakhir Djokja R.I. Ketika di Den Haag, Abdul Hakim berpartisipasi sebagai penasihat umum dari delegasi Indonesia. Pada tanggal 25 Januari 1951 Abdul Hakim Harahap diangkat menjadi Gubernur Sumatera. Selanjutnya pada tanggal 15 Januari 1953 posisi gubernur Abdul Hakim digantikan yang lain sesuai petunjuk Departemen Dalam Negeri. Abdul Hakim sendiri kemudian pada tahun 1953 juga ditugaskan di Departemen Dalam Negeri sebagai gubernur pemerintah untuk layanan dan inspeksi untuk provinsi Sulawesi dan Maluku.

Mangaradja Hamonangan. Alumni kweekschool yang menjadi guru di Sipirok. Mangaradja Hamonangan pension dini dan beralih ke bidang bisnis, seperti perdagangan hasil-hasil bumi dan pengusaha perkebunan. Mangaradja Hamonangan adalah ayah dari Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia. Todoeng adalah sarjana pendidikan lulusan Negeri Belanda. Setelah mengabdi menjadi guru di tanah air, Toedoeng mendapat beasiswa untuk studi lebih lanjut ke Negeri Belanda. Tahun 1930 Todoeng meraih Ph.D dan kembali ke tanah air. Setelah beberapa tahun, Toedoeng menjadi anggota Volksraad di Batavia. Di akhir masa tuanya, Todoeng membangun bisnis percetakan dan penerbitan yang dikenal sebagai Penerbit Gunung Mulia, Kwitang. Toedoeng adalah sepupu dari Amir Sjarifoeddin, satu diantara tiga the founding father republic Indonesia (Soekarno, Hatta dan Amir). Amir Sjarifoeddin pernah menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan yang pertama selama agresi militer pertama Belanda. Kakek mereka adalah Sjarif Anwar alias Ephraim gelar Soetan Goenoeng Toea asal Gunung Tua Batang Onang penulis pada Controleur Sipirok. Ayah dari Amir Sjarifoeddin adalah Djamin Soripada, saudara kandung Mangaradja Hamonangan.  

***
Setelah Kweekschool Padang Sidempoean ditutup tahun 1893, satu-satunya sekolah yang bermutu adalah Sekolah Eropa Padang Sidempoean, namun anak-anak Padang Sidempoean hanya sedikit yang diterima karena kuota pribumi memang dibatasi. Umumnya mereka alumni sekolah eropa ini langsung ke Dokter Djawa School. Sementara yang tidak mendapat tempat mencari jalannya sendiri. Ada yang ke Kweekschool Fort de Kock dan ada juga yang BTL ke Djawa. Anak-anak muda yang mengikuti sekolah guru ini antara lain::

  • Merari Siregar, anak Sipirok yang lahir 13 Juli 1896 melanjutkan sekolah ke Kweekschool ‘Oost en West’ di Batavia. Merari Siregar adalah sastrawan terkenal dengan novel ‘Azab dan Sengsara’, suatu roman yang pertama kali diterbitkan oleh Balai Poestaka, Batavia (1920). Karya lainnya adalah buku saduran berjudul ‘Si Jamin dan si Johan’ (Balai Poestaka, 1918), ‘Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi’ (Balai Poestaka, 1924), ‘Cinta dan Hawa Nafsu’, dan ‘Binasa Karena Gadis Priangan (Balai Poestaka, 1931).
  • Gading Moeda Batoebara, lahir di Hoeta Padang, Sipirok 10 Oktober 1901. Setelah lulus sekolah rakyat kemudian melanjutkan ke Kweekschool Fort de Kock, lalu kemudian studi lebih lanjut ke Hogere Kweekschool di Porworedjo dan lulus 1923. Tahun itu juga Gading Moeda diangkat sebagai guru HIS dan ditempatkan di Sipirok, selanjutnya bepindah-pindah hingga akhirnya menetap di Medan. Gading Moeda yang pernah sebagai anggota Gemeteeraad (dewan Kota) Medan kemudian dikenal sebagai G.B. Yosua sebagai pendiri Yayasan Pendidikan Perguruan Yosua Medan. G.B. Yosua adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatra Utara yang pertama (1950).
  • Nahum Sitoemorang lahir di Sipirok pada tanggal 14 Februari 1908, putra dari Guru Kilian Situmorang. Setelah selesai sekolah rakyat meneruskan pendidikan ke Kweekschool Bandoeng di Lembang dan lulus tahun 1928. Nahum adalah runner up lomba penciptaan lagu Indonesia Raya (pemenangnya W.R. Soepratman). Memulai karir sebagai guru di Siboga dan dalam perjalanan waktu, Nahum identik sebagai guru yang menjadi pencipta lagu-lagu hebat. Lagu-lagunya yang terkenal antara lain: Alusi Ahu, Anakhonhi Do Hasangapon Di Ahu, Ketabo-Ketabo, Lissoi, Malala Rohangki, Nasonang Do Hita Nadua, Sai Tudia Ho Marhuta, Sega Na Ma Ho, Sitogol, dan Tumba Goreng.
Dalam perkembangannya dari sekolah Eropa Padang Sidempoean harus dilanjutkan MULO lalu masuk STOVIA. Untuk mengatasi permintaan berlebih orang tua di sekolah eropa, memasukkan ke HIS Padang Sidempoean, sebelum ada MULO di Padang Sidempoean dikirim ke MULO yang ada di Medan atau Padang lalu dari situ ke STOVIA atau sekolah-sekolah tinggi lainnya di Bandung dan Bogor. Satu lagi jalur adalah setelah HIS melanjutkan ke sekolah radja di Bukit Tinggi dan seterusnya ke Djawa. Mereka-mereka itu antara lain:
  • Radja Enda Boemi. Alinoedin dari Batang Toru melanjutkan pendidikan tinggi ke Batavia. Setelah lulus sekolah hokum di Batavia melanjutkan studi ke Negeri Belanda untuk mengambil gelar Ph.D. Alinoedin gelar Radja Enda Boemi adalah ahli hukum pertama dari Tanah Batak, orang kedua dari Sumatra dan satu dari delapan ahli hukum dari kalangan pribumi di Nederlansch Indie.
  • Basjaroeddin Nasoetion. Dari Mandailing melanjutkan pendidikan tinggi ke Bogor. Basjaroedin adalah Sarjana Pertanian pertama dari Tanah Batak.
  • Soetan Dia Angkola. Hoemala anak Pidjor Koling melanjutkan sekolah menengah pertanian di Buitenzorg. Hoemala Harahap gelar Soetan Di Angkola mengambil Agronomi lalu menjadi pejabat pertanian yang pindah dari satu tempat ke tempat lain.
  • Anwar Nasoetion. Dari Mandailing melanjutkan pendidikan tinggi ke Bogor. Anwar Nasoetion adalah dokter hewan pertama dari Tanah Batak. Anwar Nasoetion adalah ayah dari Andi Hakim Nasution (rector IPB, 1978-1987).
  • Radja Parlindoengan Loebis. Anak Batang Toru melanjutkan sekolah menengah atas ke Batavia lalu melanjutkan pendidikan kedokteran ke Negeri Belanda. Aktif organisasi kemahasiswaan dan pernah menjabat sebagai ketua Perhimpunan Indonesia (PI) di negeri Belanda. Pada masa perang dunia kedua, Radja Parlindoengan pernah ditahan di Jerman di kamp konsentrasi NAZI.
  • Abdul Haris Nasoetion. Abdoel Haris memulai pendidikan HIS di Kotanopan dan melanjutkan sekolah raja (setingkat MULO) di Bukittinggi. Namun karena sekolah ini ditutup, Abdul Haris melanjutkan sekolah ke Bandung. Di Bandung Abdul Haris Nasoetion masuk PETA dan selanjutnya menjadi pelaku penting dalam pembangunan TNI dan petinggi militer di NKRI serta di akhir masa hidupnya dianugerahkan sebagai Jenderal Bintang Lima (bersama Sudirman dan Suharto). 
  • Sanoesi Pane dan Armijn Pane. Dua anak Soetan Pangoerabaan Pane yang sama lahir di Moeara Sipongi. Setelah selesai pendidikan menengah di Batavia lalu keduanya juga diterima di STOVIA. Namun dalam perjalanannya lebih tertarik bahasa dan sastra yang akhirnya penulis terkenal. Sanoesi Pane dan Armijn Panen mirip kisah Charles Adrian van Ophuijsen yang sama-sama pernah kuliah di sekolah tinggi kedokteran.
 ***
Anak-anak Mandailing dan Angkola tidak semua pendidikannya dapat berlanjut ke perguruan tinggi karena alasan yang berbeda-beda. Meski pendidikan hanya sekolah sampai sekolah menengah, tetapi kiprah mereka juga terbilang fantastic. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Parada Harahap. Anak muda Pargarutan ini memiliki kecerdasan luar biasa dan memiliki memori yang kuat. Merantau ke Medan menjadi pemegang buku di perusahaan perkebunan. Anak muda terbilang rajin membaca mengubah profesi menjadi wartawan. Dari Medan, Padang Sidempoean dan Siboga, Parada Harahap merantau ke Batavia dan menerbitkan suratkabar Bintang Timur. Wartawan pemberani yang dikenal sebagai radja delik pers dan juga The King of Java Press.
  • Sakti Alamsyah. Lahir di Sumatra Timur dan kembali ke kampong di Parau Sorat, Sipirok. Pada masa remaja merantau ke Jawa dan menjadi wartawan dan penyiar radio. Pada saat proklamasi Sakti Siregar memimpin radio Jepang yang sudah vakum lalu malam hari proklamasi menyiarkan rekaman pembacaan proklamasi yang kemudian dapat dipantau dunia Internasional, bahwa Indonesia sudah merdeka. Sakti Alamsjah Siregar adalah pendiri dan pemilik surat kabar Pikiran Rakyat yang terbit di Bandung.
  • Adam Malik. Anak kelahiran Pematang Siantar yang aktif berorganisasi politik sejak remaja. Pada masa remaja kerap bolak-balik Pematang Siantar-Padang Sidempuan. Sebagai pentolan partai politik di daerah Tapanuli Selatan, sosok Adam Malik dianggap Belanda sebagai batu sandungan, dengan alasan makar anak Siantar ini lalu di bui di penjara Padang Sidempoean. Karirnya di politik semakin melejit hingga dia hijrah ke Batavia. Pada masa peralihan jelang proklamasi Adam Malik mengambil peran penting dalam mempersiapkan Soekarno untuk membacakan proklamasi. Adam Malik Batubara pernah menjadi duta besar dan kemudian menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia di masa orde baru.
  • Soetan Hasoendoetan. Lahir di Paran Julu, Sipirok. Tahun kelahirannya disebutkan Susan Rodger adalah tahun 1890 [lihat, Print, Poetics, and Politics: A Sumatran Epic in the colonial and New Order Indonesia by Susan Rodgers, KITLV 2005]. Soetan Hasoendoetan Siregar masuk sekolah dasar yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda dengan pengantar bahasa Batak. Ia menikah pada usia sekitar 18 tahun dengan gadis sekampung, lalu mereka hijrah ke Tanah Deli tahun 1908. Semasa hidup, Soetan Hasoendoetan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di perkebunan teh milik Belanda di Sumatra Timur. Pada tahun 1919 Soetan Hasoendoetan pernah menjadi editor surat kabar Tapian Na Oeli yang terbit di Sibolga [lihat, Sejarah Pers di Sumatra Utara oleh Mohammad Said, 1976)].Karya fenomenal Soetan Hasoendoetan Siregar adalah roman yang berjudul Sitti Djaoerah: Padan Djandji Na Togoe (Sitti Djaoerah: Sumpah Setia yang Teguh). Roman ini pertamakali terbit tahun 1927 dan dipublikasikan secara serial antara 1929 dan 1931 di surat kabar  Poestaha—surat kabar yang berbahasa Batak yang didirikan tahun 1914 di Padang Sidempuan oleh Sutan Casayangan Soripada Harahap. Setelah pemuatan serial roman Soetan Hasoendoetan ini di surat kabar Poestaha, ternyata mendapat respon yang positif dari masyarakat luas di Tapanuli. Atas dasar itu, roman itu diterbitkan kembali dengan bentuk buku dalam dua jilid yang secara keseluruhan tebalnya sebanyak 457 halaman. Kedua jilid buku roman tersebut diterbitkan oleh Tpy Drukkerij Philemon bin Haroen Siregar di Pematang Siantar. Roman ini kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Susan Rodgers dengan judul Sitti Djaoerah: a novel of colonial Indonesia, terbit tahun 1997 oleh University of Wisconsin.
 ***
Last but not least. Baginda Soetan mewakili bagian terbesar anak-anak Mandheling en Ankola (tidak tinggi juga tidak rendah). Baginda Soetan hanyalah seorang murid sekolah rakyat kelas tiga yang ikut berperang semasa agresi militer Belanda di wilayah Sumatra Timur dan Tapanuli Selatan. Setelah masa damai, tidak tertarik melanjutkan karir militer dan lebih memilih hidup bertani di kampong. Atas jasa-jasanya dalam masa perang diberikan Kartu Anggota Veteran Republik Indonesia. Dengan tingkat ekonomi seperti kebanyakan penduduk  di Tapanuli Selatan, Baginda Soetan hanya mampu menyekolahkan enam orang anak menjadi sarjana dari sembilan yang ada. Dari mereka yang sarjana, empat diantaranya berprofesi sebagai pendidik alias guru. Salah satu dari anak Baginda Soetan menjadi dosen biasa di Universitas Indonesia.

Ajar Ni Amangna Di Anakna, Na Kehe Tu Sikola
(Di dalam buku: Willem Iskander. 1872. ‘Si-Boeloes-boeloes, Si-Roemboek-roemboek: Boekoe basaon’)

Iabo, ale amang sinuan tunas,
Langka ma ho amang, marguru tu sikola,
Ulang hum baen song luas-luas,
Tai ringgas ho amang marsipoda,

Anggo panganon dohot abit,
Huparkancitkon manjalahisa,
Inda au nian makikit,
Di ho mangalehensa,

Muda langka au manjala,
Dapot au dua mera,
Hugadis ma i sada,
Anso adong di ho panabusi sira,

Muda ngada dipangan tangkalon,
Dapot hita Tolú lungguk,
Sada ma i hugadiskon,
Panabusi tombako dohot pusuk,

I ma le nian amang,
Por ni rohangku ho marbisuk,
Ampot sogot madokdok ma hulala pamatang,
Anso ho doma hubaen usuk,

Muda au sogot matobang,
Inangmu pe nada be marnida,
Da hami ma pasonang,
Ho ma markayahon hita,

O, na lobi denggan roha,
Na umbege na hupardokkon on,
Mangido au di hita,
Hita patorang pangarohai ni danak on


Sejarah perbukuan bermula di Tanah Batak dan perlu meluruskan sejarah perbukuan di Indonesia

Sumber penulisan buku adalah akal budi dan kecerdasan. Buku yang baik adalah buku yang dirancang agar mudah dibaca oleh pembaca dengan cara yang disederhanakan (simple), dengan cara sistematis (konsisten) dan memiliki konten yang dapat dimanfaatkan seluas-luasnya dan selama mungkin. Mengikuti azas serupa ini maka suatu buku akan dibaca secara menyeluruh (lengkap) secara bertahap yang dimulai dari halaman depan hingga habis sampai ke halaman belakang. Inilah makna suatu buku dalam dunia perbukuan.

Demikian juga dalam sejarah tulisan dan sejarah penulisan (perbukuan) di Indonesia. Seharusnya azas simple dan konsisten tetap diberlakukan. Jika membaca tulisan dari belakang baru ke depan anda tidak menemukan apa-apa. Demikian juga, jika menulis dengan pena dari kanan ke kiri agak sedikit kesulitan (tidak praktis) karena tintanya belum kering sudah terhapus oleh tangan sendiri atau menyebabkan tinta itu sendiri mengaburkan apa yang ditulis. Yang paling sulit dan terbilang membingungkan adalah menulis karakter dari kanan ke kiri tetapi membacanya justru dari kanan ke kiri. Oleh karenanya menulis sejarah haruslah dengan cara simple dan juga konsisten. Sesimpel pengetahuan sejarah itu terbentuk. Jika dipenggal-penggal tidak akan terlihat garis lurusnya dan cenderung garisnya akan mudah dibelokkan.

Charles Adrian van Ophuijsen adalah contoh yang baik dalam dunia ilmu dan pengetahuan yang menjadi bahan penting dalam dunia perbukuan dimana dia menempatkan dirinya tidak apa-apa jika hanya bekerja sebagai birokrat sementara latar belakang pendidikannya sangat cemerlang hanya karena melihat anak-anak pribumi di daerah terpencil di Mandheling en Ankola mampu menulis dan menerbitkannya dan berdedikasi dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kini, di era Indonesia modern, apakah para penyusun sejarah perbukuan bersedia menempatkan dirinya sangat rendah karena tergoda untuk memanipulasi sejarah yang sebenarnya untuk mengambil keuntungan sendiri dengan menyingkirkan bukti-bukti sejarah yang ada dimana di Tanah Batak sejak doeloe sudah terbentuk tradisi membaca menulis dan dunia penulisan buku di kalangan pribumi berkembang pertama kali di Nederlansche Indie yang dimulai di Mandheling en Ankola yang beribukota Padang Sidempoean?

Willem Iskander dan Charles Adrian van Ophuijsen adalah dua tokoh penting dalam dunia penulisan dan perbukuaan di tanah air Indonesia. Dua tokoh ini seakan dua tokoh pada garis kontinuum. Willem Iskander berada di origin dan van Ophuijsen di horizon. Inilah periode dunia penulisan dan perbukuaan pada generasi pertama. Tidak ada generasi kedua, ketiga dan seterusnya tanpa ada, tanpa dimulai oleh generasi pertama. Memenggal sejarah garis sejarah penulisan dan perbukuaan di Tanah Air bagaikan memenggal kepala sendiri. Horas.  

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Tulisan anda membuat pengetahuan saya mengenai Padangsidimpuan semakin bertambah. Saya mengetahui kopi pakantan dalam tulisan Bapak Andi Hakim Nasution di Buku Ilmu Pertanian.
Tetap semangat dalam berkarya pak

Lila Syafaat