Senin, Agustus 18, 2014

Bag-1: Sejarah PADANG LAWAS: ‘Ekspansi Militer dan Eksplorasi Sipil di Era Hindia Belanda’

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Lawas dalam blog ini Klik Disini


Padang Lawas, sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang. Sebuah wilayah di pedalaman Tapanuli, Sumatra yang secara geografis berbeda dengan wilayah lainnya. Padang Lawas menyimpan banyak hal, seperti sejarah percandian Hindu-Budha di Portibi, migrasi penduduk Batak, ekspansi militer Belanda untuk meredam perlawanan Tuanku Tambusai, pembentukan pemerintahan sipil, pembangunan ekonomi, pergolakan social politik dan lain sebagainya. Serial artikel ini menyajikan sebuah deskripsi secara kronologis berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe yang selama ini belum tergali dan belum terungkap sepenuhnya ke permukaan.

Lanskap Padang Lawas atau bahasa lokal juga disebut Padang Bolak, sejak awal sudah dipetakan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai bagian dari Residentie Tapanoeli, namun persoalan pembentukan pemerintahan ternyata tidak mudah karena perlu pertimbangan yang cermat sebagai syarat adanya pemerintahan sipil. Setelah pemerintahan sipil di Mandheling en Natal sudah berjalan dengan baik, pemerintah colonial Belanda bekerja meneruskan ekspansi ke Ankola en Sipirok, baru kemudian secara paralel ke utara di Silindung dan Toba dan ke timur di Padang Lawas dan Padang Bolak. Positioning Ankola dan Sipirok menjadi bagian penting dalam proses tugas Militair Departement dan Civiel Departement dalam mengakuisisi lanskap Silindung maupun lanskap Padang Lawas.

Kampung di Goenoengtoe, 1867 (KITLV)
Lanskap Padang Lawas bersinggungan langsung dengan lanskap Mandheling, Ankola dan Sipirok. Ekspansi militer dilakukan lewat Ankola dan proses pembentukan pemerintahan sipil dilakukan lewat Sipirok. Ini bermula dari sejarah awal militer Belanda di Tapanuli. Pada tahun 1833 militer Belanda mendarat di Natal, kemudian menduduki Mandheling dengan membangun benteng Eliot di Panyabungan (1834). Selanjutnya dalam penguasaan Ankola en Sipirok, militer merangsek dari dua arah: dari selatan di benteng Eliot dengan membangun pos militer di Sayurmatinggi (1835) dan dari barat di pangkalan militer di Sibolga dengan membangun pos militer di Tobing (sebuah pos di lereng Gunung Lubuk Raya).

Penguasaan lanskap Silindung dan khususnya Toba tidak mudah dan ternyata cukup alot, karena adanya perlawanan dari Si Singamangaraja terhadap misionaris dan militer Belanda. Demikian juga di lanskap Padang Lawas, tidak juga mudah, bahkan terjadi pertarungan di beberapa tempat antara pengikut Tuanku Tambusai dengan pasukan Belanda. Para misionaris yang secara regular menulis secara terang benderang situasi dan kondisi di Silindung dan Toba, memudahkan Belanda untuk menyusun strategi penguasaan. Berbeda dengan di Padang Lawas, ‘gelap gulita’, penduduk yang mayoritas sudah memeluk agama Islam dan ‘keunggulan’ pasukan Tuanku Tambusai menguasai medan stepa. Dengan kata lain, tidak ada informasi yang akurat dari jantung lanskap Padang Lawas ke luar. Ini yang membuat ekspansi militer ke Padang lawas tanpa referensi dan sedikit ‘ngeri’.

Bag-3: SEJARAH SIPIROK: Berperan dalam Proses Pembentukan Pemerintahan di Silindung dan Padang Lawas



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Dalam bagian kedua serial artikel ini pemerintahan sipil di Onderafdeeling Sipirok, Afdeeling Mandheling en Ankola, Residentie Tapanoelie sudah terbentuk yang mana Controleur berkedudukan di Sipirok. Situasi dan kondisi keamanan di wilayah Sipirok sudah kondusif, pembangunan infrastruktur (jalan dan jembatan) sudah dilakukan, pengadaan fasilitas (terutama pendidikan) sudah ada, ekonomi dan arus perdagangan (terutama kopi) sudah lancar dan sistem sosial masyarakat berjalan lancar. Namun tidak demikian dengan wilayah tetantangganya: Silindung dan Padang Lawas.
Kantor Controleur di Goenoengtoea (KITLV)

Di Silindung, meski Controleur sudah ditempatkan di Sipoholon, akan tetapi aktivitas pemerintahan sipil belum efektif. Para misionaris masih bekerja keras, pejabat sipil masih berkonsentrasi secara bersama-sama dengan militer dalam memulihkan keamanan (perang antar kampong) dan konsolidasi pertahanan (terutama terhadap aktivitas pengikut Sisingamangaraja). Di Padang Lawas, situasi dan kondisi keamanan sudah semakin membaik, meski perlawanan Tuanku Tambusai sudah berhasil dilokalisir, namun perang antar kampong di beberapa tempat masih ditemukan. Proses pembentukan pemerintahan sipil di Padang Lawas tengah dipersiapkan.

Onderafdeeling Sipirok dengan segala kemajuannya, tugas Controleur juga tidak kalah penting untuk ‘mengurusi’ wilayah sisi luar (eksternal) Sipirok yakni di Silindung (termsuk Toba) di sebelah utara dan Padang Lawas di sebelah timur. Controleur Sipirok seakan memiliki tugas rangkap, menjadi semacam perpanjangan tangan Residenti Tapanoelie (di Sibolga) melalui Asisten Residen Mandheling en Ankola (di Padang Sidempuan) dalam pembentukan (struktur) pemerintahan di Residentie Tapanoelie, Governement Sumatra’s Westkust. Pejabat pemerintah di satu pihak dan penduduk di pihak lain di wilayah Onderafdeeling Sipirok sedikit atau banyak telah dilibatkan dan mengambil peran dalam proses terbentuknya pemerintahan di Silindung maupun di Padang Lawas.

Kamis, Agustus 07, 2014

Bag-2: SEJARAH SIPIROK: Pemekaran Angkola en Sipirok, Controleur Berkedudukan di Sipirok

*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe


Peta Ankola 1843-1847
Dalam bagian pertama artikel ini, Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 7, tanggal 7 Juni 1871 (Staatsblad No. 83) pasal Keresidenan Tapanoeli sudah dikutip sebagian yang berkenaan dengan wilayah Sipirok. Berikut disalin kembali: Keresidenan Tapanoelie terdiri dari tiga afdeeling (Siboga, Mandheling en Ankola, dan Natal) plus Pulau (eiland) Nias. Afdeeling Siboga terdiri dari tiga onderafdeeling, yakni: Siboga, Baros dan Singkel. Di onderafdeeling Siboga terdapat 16 kepala hakuriaan (koeriahoofd), empat diantaranya: Marantjar, Si Angoenan, Hoeraba dan Batang Taro.

Afdeelingnya Mandheling en Ankola sendiri terdiri dari tiga onderafdeeling yakni: (1) Onderafdeeling Groot-Mandheling, (2) Onderafdeeling Kleine Mandheling, Oeloe en Pakantan, dan (3) Onderafdeeling Ankola en Sipirok. Di dalam Onderafdeeling Angkola en Sipirok terdapat 14 kepala hakuriaan (koerihoofd), yakni:

1.      Kampong Baroe
2.      Si Mapil Apil
3.      Saboengan
4.      Batoe nan Doea
5.      Oeta Rimbaroe
6.      Si Pirok
7.      Bringin
8.      Praoe Sorat
9.      Soeroemantigi
10.  Pintoe Padang
11.  Si Galangan
12.  Moeara Thais
13.  Pitjar Koeleng
14.  Si Ondop

Pada tahun 1871 Keresidenan Tapanoelie masuk dalam Gouvernement Sumatra’s Westkust. Residen Tapanoelie berkedudukan di Siboga. Controleur Ankola en Sipirok berkedudukan di Padang Sidempoean. Juga, Asisten Residen Mandheling en Ankola berkedudukan di Padang Sidempoean. Secara geografis, hakuriaan paling dekat dengan pusat pemerintahan di Padang Sidempoean adalah hakuriaan Kampong Baroe (diteruskan oleh Losoeng Batoe), sedang yang paling jauh adalah hakuriaan Sipirok, Baringin dan Parau Sorat.

Rabu, Juli 30, 2014

Bag-1: SEJARAH SIPIROK: ‘Pembentukan Pemerintahan Sipil pada Era Hindia Belanda’



Kota Sipirok, 1906
Sipirok punya sejarah, sejarah tersendiri dan unik. Namun. sejarah Sipirok sejauh ini belum sepenuhnya terungkap ke permukaan. Sipirok yang mayoritas sudah beragama Islam, tidak hanya basis permulaan penyebaran injil di Bataklanden, tidak hanya basis terakhir pertempuran oleh agresi militer Belanda di Indonesia (sebelum penyerahan kedaulatan), dan tidak hanya sentra kopi terbaik dunia, tetapi Sipirok juga tempat lahir orang-orang hebat di tingkat nasional. Juga, banyak hal-hal lain--mulai dari yang ‘remeh temeh’ sampai hal-hal besar (termasuk yang kontroversi) --yang selama ini terabaikan. Semua itu, akan disajikan secara kronologis dalam serial artikel ini. Bahan-bahan yang digunakan seluruhnya (otentik) bersumber dari koran-koran berbahasa Belanda tempo doeloe.

Militair Departement

Dalam Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda No. 22, tanggal 21 November I862 yang dimuat dalam lembaran pemerintah Hindia Belanda (Staatsblad) No. 141, nama Sipirok belum disebut—karenanya belum terregister. Suatu wilayah baru dapat diregister oleh civiel departement jika secara defacto dianggap dapat dikendalikan oleh militair departement. Dalam struktur Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, kala itu hanya terdapat dua fungsi utama: (1) fungsi pembebasan/penguasaan wilayah oleh militair departement dan (2) fungsi pengadministrasian pemerintahan oleh civiel departement.

Sabtu, Juli 26, 2014

Registrasi Daerah Administrasi Tapanuli Selatan Tempo Doeloe: Dari Sumatra’s Westkust ke Tapanoeli



Berdasarkan Staatsblad no. 59, tanggal 21 Oktober 1852 salah satu residen dari Gouvernement Sumatra's Westkust adalah Mandheling-Ankola. Kemudian resgistrasi wilayah ini diperbarui berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda No. 22, tanggal 21 November I862 yang dimuat dalam lembaran pemerintah (Staatsblad) No. 141. Perubahannya menjadi berikut ini:

dari Kotta Nopan ke Laroe (½ etappe)
dari Laroe ke Fort Elout (Penjaboengan) (1 etappe)
dari Fort Elout (Penjaboengan) ke Siaboe (1 etappe)
dari Siaboe ke Soeroematingi (1 etappe)
dari Soeroematingi ke Sigalangan (1 etappe)
dari Sigalangan ke Padang Sidempoean (1 etappe)
dari Padang Sidempoean ke Panabassan (1 etappe)
dari Panabassan ke Batang Taro (1 etappe)
dari Butaog Taro ke Loemoet (1 etappe)
dari Loemoet ke Parbirahan (1 etappe)
dari Parbirahan ke Toeka (½ etappe)
dari Toeka ke Sibogha (½ etappe)

Kamis, Juli 24, 2014

Dja Endar Moeda (Alumni Kweekschool Padang Sidempoean): Radja Persuratkabaran Soematra dan Pejuang Pendidikan Pribumi

*Untuk melihat semua artikel Sejarah TOKOH Tabagsel dalam blog ini Klik Disini


Nama publiknya adalah Dja Endar Moeda. Nama kecil dan nama adatnya adalah Si Saleh (Harahap) gelar (Mangara)Dja Endar Moeda. Gelar mangaradja dari doeloe kerap disingkat Dja (hingga masa kini). Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, Si Saleh, (Mangara)Dja Endar Moeda mendapat nama baru: Hadji Muhammad Saleh.
.
Masih ingat, dua anak murid Kweekschool Padang Sidempoean yang diberitakan koran Sumatra Courant (01-05-1884) [lihat artikel bagian kedua dari serial Kweekschool Padang Sidempoean dalam blog ini] yang bernama Si Saleh dan Si Doepang yang melakukan kebajikan mengumpulkan dana untuk disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Si Saleh, yang kala itu menjadi siswa tingkat akhir Kweekschool Padang Sidempoean sudah menyadari arti penting sharing dan caring. Entah bagaimana, koran Sumatra Courant jeli memperhatikan kiprah Si Saleh yang masih bersekolah (atas biaya orang tua) sudah sukarela pula membantu orang lain yang memerlukan biaya pendidikan. Kini dia telah menjadi guru.

Rabu, Juli 23, 2014

Bag-4: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Guru Terkenal C. A. van Ophuysen dan Kiprah Para Alumni



Bagian Keempat (habis)
Karya C.A. van Ophuijzen

Adanya kebijakan sepihak dari Pemerintah Hindia Belanda, di Batavia mengakibatkan Kweekschool Padang Sidempoean ditutup pada tahun 1891. Penutupan ini sangat tidak adil. Kweekschool Padang Sidempoean diakui sendiri oleh Inspektur Pendidikan Pribumi sebagai sekolah guru berprestasi, menghasilkan banyak lulusan dengan tingkat drop out rendah. Namun demikian, tidak perlu disesali berlama-lama, karena lulusannya sudah banyak berkiprah di berbagai tempat di Sumatra. Prestasi Kweekschool Padang Sidempoean tak lepas dari kehadiran seorang guru Belanda, bernama C. A. van Ophuysen—seorang guru yang gemar belajar pula dan menjadi profesor di Universiteit Leiden.