Selasa, April 16, 2019

Sejarah Universitas Graha Nusantara (1): Introduksi Pendidikan Modern di Mandailing dan Angkola 1850; TJ Willer dan AP Godon


*Untuk melihat semua artikel Sejarah UGN dalam blog ini Klik Disini
Blog TAPANULI SELATAN DALAM ANGKA adalah blog kembar dengan Blog Poestaha Depok. Bagi pembaca, untuk mengenal lebih jauh tentang Padang Sidempuan dan Tapanuli Bagian Selatan (Angkola, Mandailing dan Padang Lawas) di tingkat nasional, dapat melihat di blog POESTAHA DEPOK
Universitas Graha Nusantara (UGN), sesuai namanya, dimaksudkan sebagai universitas bagi siswa di seluruh Nusantara. UGN secara formal berdiri pada tahun 1987. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan yang dicapai, UGN diusulkan menjadi universitas negeri sejak 2010. Lantas bagaimana sejarah awal terbentuknya UGN? Itu tidak tiba-tiba pada tahun 1987, tetapi merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan sejak masa lampau.  

Peta 1852 dan UGN
Universitas Graha Nusantara (UGN) pada masa ini berada di Kota Padang Sidempuan, suatu kota yang sejak masa lampau ditetapkan sebagai pusat pendidikan. Pada masa ini, Padang Sidempuan juga tetap menjadi pusat pendidikan di Tapanuli bagian selatan. Lahirnya Universitas Graha Nusantara juga terkait langsung dengan sejarah panjang pendidikan di wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Pada permulaannya di era kolonial Belanda wilayah Tapanuli Bagian Selatan tahun 1840 disebut Afdeeling Mandailing en Angkola. Sempat disebut Afdeeling Angk0la en Mandailing (1870) tetapi setelah Province Sumatra’s Westkust (Provinsi Pantai Barat Sumatra) dibubarkan tahun 1905 disebut Afdeeling Padang Sidempoean. Pasca Proklamasi Republik Indonesia 1945 namanya menjadi Kabupaten Tapanuli Selatan. Pada era perang kemerdekaan, Belanda menyebutnya sebagai Zuid Tapanoeli. Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1949) kembali disebut sebagai Kabupaten Tapanuli Selatan. Pada tahun 1998 Tapanuli Selatan dimekarkan dengan membentuk Kabupaten Mandailing Natal. Setelah itu kota Padang Sidempuan dipromosikan menjadi Kota (2000) dan Tapanuli Selatan dimekarkan kembali dengan membentuk dua kabupaten baru tahun 2007 yakni Padang Lawas Utara dan Padang Lawas. Empat kabupaten dan satu kota inilah yang kini disebut wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).  

Sejarah Universitas Graha Nusantara adalah satu titik penting dalam garis perjalanan sejarah pendidikan di Tapanuli Bagian Selatan. Satu titik yang terhubung dengan sejarah pendidikan pada masa lampau dengan masa depan. Rangkaian sejarah inilah yang ingin kita koleksi sehingga dapat memahami bagaimana asal-usul terbentuknya Universitas Graha Nusantara dan mengapa universitas harus dinegerikan.Mari kita mulai dari artikel pertama dengan mengacu pada sumber-sumber sejarah masa lampau.
   
Introduksi Pendidikan Modern di Panjaboengan dan Padang Sidempoean 1850

Elemen penting dalam pendidikan adalah membaca, menulis dan berhitung. Instrumen penting dalam hal ini adalah penggunaan aksara. Sebelum datangnya orang Eropa ke Nusantara penduduk sudah menggunakan aksara Arab, Aksara China dan aksara-akasara yang terbentuk dari aksara India seperti aksara Jawa, aksara Kerinci dabn aksara Batak.

Seorang geolog dan botanis Inggris, Charles Miller tahun 1772 yang pernah melakukan ekspedisi ke Angkola menemukan penduduk telah mampu membaca dan menulis. Disebutkan lebih dari separuh penduduk bisa membaca menulis dalam aksara setempat (baca:: Aksara Batak), suatu angka yang sangat tinggi bahkan jauh lebih tinggi dari semua bangsa-bangsa di Eropa. Demikian laporan Charles Miller yang dikutip oleh William Marsden dalam bukunya History of Sumatra (1811).

Fakta inilah yang menjadi alasan kuat mengapa Pemerintah Hindia Belanda melakukan introduksi pendidikan modern dengan menggunakan aksara Latin di Afdeeling Mandailing en Angkola. Secara teknis penduduk di Afdeeling Mandailing dan Angkola sangat siap dengan pengenalan aksara Latin dalam introduksi pendidikan modern.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Selamat sore pak, saya Anggia dari Medan salam kenal sebelumnya. Saya menyukai tulisan-tulisan bapak terkait Sumatera Utara, terutama tentang tokoh dan pers di Sumut. Saya boleh meminta nomor kontak ataupun email bapak? terima kasih sebelumnya pak.

Akhir Matua Harahap mengatakan...

Alamat email bisa dilihat di link ini
https://poestahadepok.blogspot.com/p/read-me.html
Terimakasih
akhir mh

bobby gunawan mengatakan...

saya adalah orang yg tertarik dgn sejarah angkola khususnya daerah angkola selatan(dahulu siais) belakangan ini kami melakukan ekspedisi tentang peradaban di daerah batu rombi,simeronop hingga danau si eis (peta postingan diblok bapak thn 1850). semua berawal dari makam tua brusia ratusan tahun yg telah dirusk, jd kami berniat melestarikan makam tersebut.tapi pengetahuan kami dibidang arkeologi sangat minim. jd minta bantuan dari bapak tentang batu rombi di siais dekat danaoe si eis.
trims