24/03/15

Prof. Ir. Lutfi Ibrahim Nasoetion, MSc. PhD: Sarjana Cum Laude dan Skripsinya Ditulis dalam Bahasa Inggris


*Sejarah Pelajar/Mahasiswa Tapanuli Selatan di Bogor, sejak 1918.

Ida Nasoetion, anak Padang Sidempoean adalah angkatan pertama mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ida Nasoetion melanjutkan kurikulumnya di luar kampus (belajar mandiri) karena kampusnya ditutup oleh tentara Jepang (1941). Ida Nasoetion berjuang dengan caranya sendiri, menulis dengan pena yang tajam yang kemudian dijuluki sebagai penulis esai dan kritikus paling berbakat di jamannya. Dengan kemampuan berbahasa Belanda yang baik, Ida Nasoetion direktut Prof. Berlings menjadi redaktur majalah berbahasa Belanda (Opbouw) dan bersama Chairil Anwar menjadi redaktur majalah berbahasa Indonesia (Siasat). Setelah kampusnya dibuka kembali oleh Belanda (1947), Ida Nasoetion balik ke kampus untuk kuliah dan di dalam tetap berjuang. Ida Nasoetion (sastra) bersama G. Harahap (publisistik) mempelopori dan mendirikan Persatuan Mahasiswa Universitas Indonesia (kala itu, perguruan tinggi baru satu-satunya Universiteit van Indonesie yang kampusnya tersebar di Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Surabaija dan Macassar). Belum satu semester menjabat Presiden Persatuan Mahasiswa Universitas Indonesia itu, Ida Nasoetion, gadis manis usia 26 tahun ini dinyatakan hilang selamanya sejak tanggal 23 Maret 1948 di Bogor. Intelektual muda itu diduga kuat diculik dan dibunuh oleh intelijen dan tentara Belanda.

***
Sembilan bulan kemudian, Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion, anak Padang Sidempoean diculik dan dibunuh oleh intelijen dan tentara Belanda di Yogyakarta pada tanggal 21 Desember 1948. Dewan Keamanan PBB marah besar atas kematian tidak wajar intelektual muda ini dan meminta dilakukan penyelidikan segera. Masdoelhak Nasoetion adalah penasehat pemerintah (Soekarno dan Hatta) di bidang hukum internasional, doktor lulusan Universiteit Leiden (1943) dengan predikat Cum Laude dengan desertasi berjudul ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Tempat perempuan dalam masyarakat Batak).

***
Anak-anak Padang Sidempuan (Afdeeling Padang Sidempoean. Residentie Tapanoeli), hilang satu tumbuh seribu. Salah satu generasi penerus anak-anak Padang Sidempuan adalah Lutfi Ibrahim Nasoetion, lahir tanggal 3 Mei 1947 di Padang Sidempuan. Ketika, usianya jelang masuk sekolah dasar, ayahnya Djohan Nasoetion pindah tugas ke Medan. Di kota ini, Lutfi menyelesaikan sekolahnya hingga tamat SMA Negeri 4 Medan tahun 1965. Lalu ibunya menghendaki agar Lutfi menjadi dokter, dengan kuliah di Fakultas Kedokteran di USU. Untuk menghormati ibunya diturutinya dengan ikut tes seleksi di USU tetapi dengan kenakalannya sengaja tidak menjawab soal-soal yang diujikan. Lutfi ingin kuliah di Djawa.

Lutfi tidak lulus fakultas kedokteran tetapi diterima di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kenakalan Lutfi berlanjut di Bogor. Saat ‘Ospek’ malam hari, karena kesal dengan senior yang membentak-bentak junior secara berlebihan, Lutfi meminta salah seorang temannya mematikan lampu di ruangan kimia, lantas Lutfi menimpuk salah satu senior yang paling galak dengan telur busuk. Situasi menjadi kacau balau. Lalu, semua peserta ospek diinterogasi dan jelas tidak ada yang mengaku siapa yang memicu kegaduhan. Para senior kemudian menghukum semua junior dengan cara merangkak di dalam terowongan selokan air yang sempit antara kantin 'mahatani' hingga lab bahasa Inggris.

Namun untuk urusan kuliah, Lutfi tidak pernah melakukan kenakalan. Lutfi Ibrahim Nasoetion adalah mahasiswa yang visioner. Simak jalan hidupnya seperti yang terungkap dalam biografinya: “Saya tidak mau menjadi mahasiswa yang hanya belajar untuk mengejar titel. Saya adalah mahasiswa yang ingin tahu. Jika cuma mengejar gelar, maka daya asosiasi mahasiswa akan sangat lemah sehingga kurang bisa menarik hubungan antara satu gejala dengan gejala lainnya,”

***
Lutfi Ibrahim Nasoetion adalah seorang mahasiswa cerdas dan lulus sarjana 1972. Kecerdasannya pun dipuji mantan dosen pembimbing skripsinya di IPB, Prof. Dr. Ir. Oetit Koswara. Oetit yang sudah sepuh itu, memberikan testimoni, bahwa skripsi Lufti ditulis dalam bahasa Inggris. "Dia mendapat predikat cum laude dan skripsinya ditulis dalam bahasa Inggris, tanpa saya minta. Dia hebat," ujar Oetit (jppn.com). Kisah Lutfi Ibrahim Nasoetion dapat dibaca di dalam buku biografinya berjudul: ‘Lutfi Nasoetion: Cum Laude Gunung Salak’ yang ditulis Izharry Agusjaya Moenzir.

***
Lutfi Ibrahim Nasoetion adalah guru besar ilmu tanah di Jurusan Ilmu-Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Pendidikan Master dan gelar Doktor bidang perencanaan dan pengembangan wilayah diperoleh dari Michigan State University, Amerika Serikat. Selama di IPB, Lutfi berkarir sebagai pengajar dan peneliti dan pernah menduduki berbagai jabatan struktural, diantaranya Ketua Jurusan Ilmu-Ilmu Tanah dan Direktur Lembaga Penelitian. Di luar kampus, Lutfi pernah menjabat sebagai Kepala BPN RI pada periode 2001–2005. Tentu saja abang yang satu ini tidak pernah lupa kampong halamannya. Bersama Prof. Ir. Andi Hakim Nasoetion, PhD, Prof. Ir. Lutfi Ibrahim Nasoetion, MSc. PhD cukup lama menjadi Pembina Imatapsel (Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan) Bogor. Andi Hakim sendiri lulus IPB (masih bernama Universiteit van Indonesia) tahun 1958 dengan Cum Laude dan meraih doktor di North Carolina State University, Amerika Serikat (1964) dengan predikat luar biasa (Suma Cum Laude). Puncak karir Andi Hakim Nasoetion adalah Rektor IPB dua periode (1978-1987) yang kini namanya diabadikan menjadi nama gedung Rektorat IPB..

***

Djohan Nasoetion, ayah Lutfi Ibrahim menyelesaikan sekolah dasar (HIS) di Kotanopan dan MULO di Padang. Setelah lulus, Djohan Nasoetion melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool) di Buitenzorg (Bogor).  Djohan Nasoetion lulus ujian transisi kelas satu ke kelas dua pada bulan April 1920. Kakak kelas Djohan Nasoetion di sekolah ini adalah Ronggoer Loebis (Bataviaasch nieuwsblad, 31-05-1920).

Setelah menyelesaikan studi di Bogor, Djohan diangkat sebagai de adjunct landbouwconsulent dan ditempatkan di ressort Oostkust van Sumatra-Tapanoeli dengan wilayah kerja Oostkust van Sumatra (De Sumatra post, 19-07-1929). Kemudian Djohan Nasoetion gelar Soetan Iskandar dipindahkan ke Loeboek Sikaping. Setelah beberapa tahun di daerah Pasaman, tahun 1936 Djohan dipindahkan lagi. Kini, Djohan ditempatkan dikampung halamannnya di Residentie Tapanoeli (De Indische courant, 22-10-1936). Pos Tapanuli ini pernah ditempati oleh Ronggoer Loebis dan pada tahun 1926 Ronggoer dipindahkan ke Sulawesi (De Sumatra post, 19-07-1929).

Djohan Nasoetion cukup lama menjabat di pos di Padang Sidempoean, ibukota Afdeeling Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli. Pada tahun 1939 Djohan menyarankan di seluruh Onderafdeeling Ankola dan Onderafdeeling Mandailing agar secara bersama-sama memburu tikus yang selama ini cukup merepotkan petani yang menggerogoti hampir semua tanaman padi. Hasilnya sebanyak 10.000 ekor tikus berhasil diburu. Sejak itu petani di dua daerah itu bebas dari hama tikus (Algemeen Handelsblad, 25-03-1939).

Singkat cerita, pada tahun 1949 di Bogor, dilangsungkan suatu konferensi perencanaan kesejahteran (conferentie Welvaartsplan) dengan mengundang yang berkompeten dari seluruh Indonesia (setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda). Konferensi ini dibuka oleh Menteri Pertanian dan Perikanan RI yang pertama, Mas Wisaksono Wirdjodihardjo. Dalam konferensi ini delegasi dari Residentie Tapanoeli dipimpin oleh Djohan Nasoetion (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 08-08-1949).

***
IMATAPSEL Bogor adalah organisasi mahasiswa asal Tapanuli Selatan (Zuid Tapanoeli) yang didirikan pada tahun 1963 yang bersamaan dengan didirikannya IPB Bogor (dimekarkan dari Universiteit van Indonesie yang menjadi Universitas Indonesia). Organisasi kekeluargaan ini masih eksis hingga ini hari dan merupakan organisasi daerah yang paling tua di Bogor.

Middelbare Landbouwschool yang disingkat MLS (didirikan 1911) adalah sekolah pertanian pada level tertinggi waktu itu. MLS adalah sekolah khusus yang diperuntukkan untuk menyiapkan tenaga-tenaga terdidik di bidang pertanian yang mengikuti kurikulum padat dan ketat yang di dalam proses belajar mengajar menggunakan bahasa pengantar bahasa Belanda. Dalam perkembangannya, tahun 1940 MLS ini dengan lembaga pendidikan lain seperti Veeartsen School (Sekolah Kedokteran Hewan, dibuka 1914) dilebur dan kemudian menjadi Landbouw Hogeschool (Sekolah Tinggi Pertanian). Sejak 31 Oktober 1941 Sekolah Tinggi Pertanian ini dikenal sebagai Landbowkundige Faculteit sebagai salah satu cabang (fakultas) dari Universiteit van Indonesia (Faculty of Agriculture, University of Indonesia). Dalam perkembangannya, sejak 1950 berubah nama menjadi Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia yang kemudian pada 1 September 1963 fakultas tersebut dibentuk menjadi universitas yang dikenal sekarang Institut Pertanian Bogor (IPB).
Jauh sebelum IMATAPSEL Bogor dibentuk, komunitas pelajar asal Zuid Tapanoeli (Tapanuli Selatan) sudah ada (dan cukup banyak untuk ukuran saat itu) yang kemudian mereka secara 'adat dalihan natolu' membentuk 'parsadaan' Studenten Vereeniging van Zuid Tapanoeli. Pelajar asal Tapanoeli yang teridentifikasi pertama di Bogor (1918) adalah Ronggoer Loebis dan Djohan Nasoetion (ayah dari Lutfi Ibrahim Nasoetion). Selanjutnya tahun 1926 menyusul mandaftar Humala Harahap gelar Soetan Diangkola yang mengambil bidang agronomi (Bataviaasch nieuwsblad, 23-05-1927). Dalam fase selanjutnya pelajar dari Zuid Tapenoeli semakin banyak. Bondjol Siregar dan Hasan Basjaroeddin Nasoetion menyusul kemudian. masuk bagian kehutanan (boschbouw) yang keduanya lulus tahun 1937 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 26-06-1937).

Beberapa tahun sebelum Sutan Diangkola sudah ada Anwar Nasoetion dan Aboebakar Siregar yang studi veteriner di sekolah kedokteran hewan atau Veeartsen School ((lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 28-05-1925). Aboebakar masuk 1924 dan lulus dan menjadi dokter hewan 1930. Sedangkan Anwar Nasoetion  masuk tahun 1922 dan lulus dokter hewan 1928. Anwar Nasoetion dikenal kemudian sebagai ayah dari Andi Hakim Nasoetion. Anak Tapanuli Selatan berikutnya yang masuk sekolah kedokteran hewan ini pada tahun 1928 adalah Hari Rajo Pane (lihat De Indische courant, 26-05-1930).

Anak-anak muda inilah yang menjadi pionir dalam pendidikan pertanian yang berasal dari Zuid Tapanoeli. Juga mereka ini terbilang generasi pertama yang berasal dari luar Djawa (outer Java). Pada masa itu Middelbare Landbouwschool berada di Pantjasan, sedangkan Veeartsen School di Kedoeng Halang. Oleh karena itu, sejarah IMATAPSEL Bogor adalah juga sejarah para pelajar-pelajar generasi pertama tersebut.
Untuk sekadar diketahui saja, anak-anak Tapanuli Selatan tidak hanya bersekolah di Buitenzorg, tetapi juga di Batavia dan negeri Belanda. 'Mahaguru' Willem Iskander (Sati Nasoetion gelar Soetan Iskandar) adalah pelajar pribumi pertama yang studi ke negeri Belanda (1857). Tahun 1861, Willem Iskander selesai dan kembali pulang kampung lalu membuka sekolah guru (kweekschool) di Tanobato, Afdeeling Mandheling en Ankola. Dua diantara nurid Willem Iskander adalah Soetan Abdoel Azis dan Marah Soetan.
Setelah hampir lima puluh tahun baru menyusul Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan datang ke Belanda (1905) untuk mendapatkan diploma guru dan melanjutkan kuliah untuk mendapatkan diploma kepala sekolah di Rijschschool di Haarlem. Soetan Casajangan adalah anak dari Marah Soetan, kepala koeria Batoe nadoewa (Batunadua, Padang Sidempuan)..
Soetan Casajangan adalah mahasiswa kedua pribumi yang studi di luar negeri. Pada tahun 1908, Soetan Casajangan menggagas dan menjadi Presiden pertama Perhimpunan Pelajar Hindia Belanda (Indische Vereeniging). Organisasi pelajar ini kemudian tahun 1922 berganti nama menjadi PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Pada tahun 1938, ketua PPI dijabat oleh Parlindoengan Loebis, lulus di bidang kedokteran di Universiteit Leiden (1938), Dalam Perang Dunia II, Parlindoengan Loebis ditangkap tentara Jerman (1941) dan dimasukkan ke kamp konsentrasi NAZI (satu-satunya dari Indonesia dari lima orang Asia). Parlindoengan Loebis dibebaskan tahun 1947 dan kembali ke tanah air.
Pada tahun 1911 menyusul Todoeng Harahap gelar Soetan Goenong Moelia untuk mendapatkan diploma kepala sekolah dan sepupu Mr. Amir Sjarifoeddin ini datang kembali untuk kali kedua untuk studi tingkat doktoral. Amir Sjarifoeddin adalah salah satu dari tiga founding father (Soekarno, Hatta dan Amir). Todoeng memperoleh gelar doktor di bidang pendidikan tahun 1930 dengan desertasi berjudul ‘Het primitive denken in de modern wetenschap’. Todoeng yang pernah menjadi Direktur HIS Kotanopan pada tahun 1936 menjadi anggota Volksraad bersama Husni Thamrin. Kakek Amir dan Todoeng bernama Sjarif Anwar alias Ephraim gelar Soetan Goenoeng Toea (murid Nommensen) dan Soetan Abdoel Azis adalah sama-sama pejabat di kantor Asisten Resident Mandheling en Ankola di Padang Sidempoean.
Sementara itu, dua anak Tapanuli Selatan Si Asta dan Si Angan (kakak kelas Willem Iskander) datang ke Batavia (1854) untuk studi kedokteran di Dokter Djawa School (dibuka 1851, kapasitas antara delapan sampai dua belas siswa, cikal bakal STOVIA dan FKUI). Kedua anak muda ini merupakan siswa pertama yang diterima di sekolah kedokteran ini yang berasal dari luar Djawa. Lalu dua tahun berikutnya disusul Si Dori dan Si Doepang dan kemudian disusul puluhan penerus Si Asta dan Si Angan yang sekolah kedokteran di Batavia. Yang terkenal antara lain Dr. X (lupa namanya) seangkatan dengan Dr. Wahidin, Dr. Abdoel Karim dan Dr. Abdoel Hakim yang sekelas dengan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo.
Dr. Radjamin Nasoetion (teman akrab Dr. Soetomo) yang mana kemudian Radjamin menjadi Walikota Pertama Surabaija (pribumi). Sebelumnya Dr. Haroen Al Rasjid Nasoetion dan Dr. Muhamad Hamzah Harahap (keduanya lulus 1902). Dr. Muhamad Hamzah setelah pensiun menjadi anggota dewan kota dan menjadi salah satu pendiri Bataksche Bank di Pematang Siantar (bank pribumi pertama, 1923). Dr. Haroen Al Rasjid setelah pensiun membuka dokter praktek swasta di Lampoeng. Haroen Al Rasjid adalah anak dari Soetan Abdoel Azis dan Muhammad Hamzah adalah anak dari adik Marah Soetan alias sepupu dari Soetan Casajangan.
Dua anak Dr. Haroen Al Rasjid adalah Ida Loemongga dan Gele Haroen. Nona Ida Loemongga Nasoetion adalah dokter wanita pertama pribumi bergelar doktor, lulus di Universiteit Utrecht, 1932 dengan desertasi berjudul ‘Diagnose en prognose van aangeboren hartgebreken’ (Diagnosa dan prognosis cacat jantung bawaan). Mr. Gele Haroen adalah sarjana hukum lulusan Universiteit Leiden (1938) dan menjadi Residen Pertama Lampoeng (1948). Dr. Mr. Masdoelhak meraih gelar doktor hukum di Universiteit Leiden 1941 yang setelah kembali menjadi Residen pertama Sumatra Tengah 1947 dan menjadi penasehat Soekarno dan Hatta, 1948. Masdoelhak adalah sepupu dari Ida Loemongga dan Gele Haroen.
Sedangkan ahli hukum (Mr) yang pertama yang bergelar doktor (PhD) dari kaum pribumi adalah Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi yang lulus dari negeri Belanda tahun 1925 dengan desertasi berjudul 'Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland'. Anak Batangtoroe ini adalah orang Batak pertama yang menjadi sarjana hukum, kedua di Sumatra dan satu diantara delapan sarajana hukum di Nederlansche Indie. Radja Enda Boemi pertama ditugaskan sebagai ketua pengadilan Semarang, kemudian dipindahkan ke Surabaija. Pada tahun 1928, Radja Enda Boemi menjadi ketua Landraad en Justitie (dewan tanah dan pengadilan) di Buitenzorg. Sudah barang tentu, sebagaimana lazimnya, secara adat, Radja Enda Boemi secara langsung dan otomatis menjadi pembina pelajar/mahasiswa van Zuid Tapanoeli te Buitenzorg.
Bagaimana anak-anak dari Afdeeling Padang Sidempoean (Zuid Tapanoeli) menambah jalur pendidikan ke Buitenzorg yang selama ini hanya terbatas di Batavia. Ini sesungguhnya mudah dijelaskan. Ketika Soetan Casajangan selesai studi dan telah mendapat akte kepala sekolah di Belanda pulang ke tanah air 1914. Namun penempatan Soetan Casajangan belum ada, dan untuk sementara pemerintah Belanda menugaskan setahun Soetan Casajangan menjadi guru Eropa di Buitenzorg (Middelbare Landbouwschool dibuka, 1911 dan Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan dibuka 1914). Lalu kemudian Soetan Casajangan ditempatkan di sekolah radja (Hoofdenschool) di Fort de Kock (Bukittinggi). 

Selama bertugas di sekolah calon pejabat pribumi ini, Soetan Casajangan sering bolak-balik ke Padang Sidempoean dan menggagas penerbitan dan bertindak sebagai editor sebuah  majalah berbahasa Batak dan Melayu yang dikenal sebagai dwimingguan Poestaha (media pertama di Mandheling en Ankola). Melalui penerbitan inilah Soetan Casajangan mendorong pembangunan Zuid Tapanoeli khususnya di bidang pembangunan masyarakat dan pengembangan pertanian. Sebagaimana diketahui, meski Soetan Casajangan adalah seorang guru (mantan guru di Simapil-apil, alumni sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean, mantan murid kesayangan Charles Adrian va Ophuijsen) tetapi pemikirannya dalam pembangunan pertanian tidak perlu diragukan. Sebelum pulang ke tahun air, Soetan Casajangan pernah menerbitkan sebuah buku pembangunan ekonomi dan pembangunan pertanian dalam bahasa Belanda berjudul 'Indische Toestanden Gezien Door Een Inlander' yang diterbitkan oleh penerbit Hollandia-Drukkerij di Baarn, Nederland tahun 1913 (buku Soetan Casajangan ini adalah buku yang pertama diterbitkan oleh pribumi di luar negeri). Dipenghujung karirnya, Soetan Casajangan menjadi Direktur Normaalschool di Meester Cornelis, Batavia.

*** . 
Gedung Andi Hakim Nasoetion, rektorat IPB Bogor masa kini
Kisah sukses anak-anak Padang Sidempoean masa doeloe berlanjut hingga ini hari di Imatapsel Bogor. Beberapa diantara alumni Imatapsel Bogor (IKA MATABAGSEL-BOGOR) adalah (1) Prof. Ir. Zainal Arifin Hasibuan, MLS, PhD, guru besar Ilmu Komputer dan pernah menjadi dekan pada Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia; (2) Prof. Ir. Hermanto Siregar, MEc, PhD, guru besar Ilmu Ekonomi Pertanian yang kini menjabat untuk periode kedua sebagai Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor, dan (3) Prof. Ir. Iskandar Zulkarnaen Siregar. M.For.Sc, Dr. forst, guru besar genetika pada Fakultas Kehutanan yang kini menjabat sebagai Direktur Riset dan Inovasi, Institut Pertanian Bogor. Zainal Arifin Hasibuan (A.17) yang meraih gelar doktor di Indiana University adalah suksesi Andi Hakim Nasution di bidang statistika dan komputer, sementara Hermanto Siregar (A.19) yang meraih gelar doktor dari Lincoln University, New Zealand adalah suksesi Lutfi Ibrahim Nasution di bidang ekonomi wilayah (regional). Sedangkan Iskandar Zulkarnaen Siregar sendiri (E.21) meraih gelar doktor di bidang genetics of forest plants dari Jerman (University of Goettingen). Saya kenal baik dengan tiga alumni Imatapsel ini, Zainal Arifin Hasibuan adalah asisten Matematika saya, Hermanto Siregar adalah asisten Ilmu Ekonomi saya dan Iskandar Zulkarnaen Siregar adalah teman sekelas saya semasa Tingkat Persiapan Bersama (TPB).
  
*Dikompilasi dari berbagai sumber oleh Akhir Matua Harahap (pengajar dan peneliti pada Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia dan pernah menjabat sebagai Ketua Imatapsel Bogor, 1987).
Anggota IMATAPSEL Bogor, ingat dan sangat hormat kepada keluarga Ompung Soetan Diangkola di Pancasan, Ompung Belitung (Hasan Basjaroeddin) dan Ompung Ciwaringin (Anwar Nasoetion dan anaknya Andi Hakim Nasoetion). Ke dalam daftar ini, sudah barang tentu termasuk Bang Lutfi (anak dari Djohan Nasoetion). Mereka inilah yang dari masa ke masa menjadi pembina Imatapsel Bogor. Kini, yang menjadi pembina Imatapsel Bogor adalah Bang Hermanto Siregar.

Tidak ada komentar: