21/11/16

Sejarah Kota Medan (51): Menara Ajer Beresih Sejak 1905; Waterleiding-Maatschappij, Kini PDAM Tirtanadi



Menara air Medab (1930)
Menara air Tirtanadi Medan, sudah direncanakan sejak 1905 dan masih berfungsi hingga masa kini. Pada era Belanda, menara air ini awalnya dioperasikan oleh NV. Waterleiding-Maatschappij ‘Ajer Beresih’. Menara air ini terbilang tertinggi di Hindia Belanda. Tingginya 42 meter dengan berat 330 ton. Sumber airnya berasal dari Roemah Soemboel di Sibolangit (37 Km dari Medan).

NV. Waterleiding-Maatschappij Ajer Beresih

Namanya berbau lokal tetapi perusahaan yang mengoperasikannya berada di Amsterdam. Perusahaan ini muncul karena melihat kebutuhan air bersih di Medan semakin meningkat. Sistem air bersih yang selama ini dikelola oleh Deli Mij (untuk kalangan sendiri dan terbatas). Deli Mij (yang dalam hal ini Deli Spoor) akan terbantu dengan kehadiran NV. Waterleiding-Maatschappij.

Kehadiran perusahan air bersih Waterleiding-Maatschappij Ajer Beresih muncul kali pertama di surat kabar Algemeen Handelsblad, 14-04-1906 yang terbit di Batavia dalam sebuah iklan pendek: Waterleiding-Maatschappij “Ajer Beresih”.    

Iklan pertama (lgemeen Handelsblad, 14-04-1906)
Perusahaan ini didirikan secara formal di Amsterdam tanggal 8 September 1905 dengan modal f500.000 (De Telegraaf, 25-04-1906). De Sumatra post, 26-05-1906 telah menerima laporan tahunan pertama Waterleiding-Maatschappij “Ajer Beresih”. De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 23-02-1907 menyebutkan kantor Waterleiding-Maatschappij “Ajer Beresih satu gedung Heerengracht No. 164 Amsterdam dengan Nederlandsch-Indische Tramweg-Maatschappij; Madoera Stoomtram Maatschappij; Deli Spoorweg Maatschappij  dan  Electriciteit Maatschappij „Medan".

Penjualan ke Publik

Tiga jenis layanan umum Ajer Beresih
Waterleiding-Maatschappij “Ajer Beresih” mulai memasarkan produknya pada Agustus 1907. De Sumatra post, 05-08-1907 melaporkan Waterleiding-Maatschappij “Ajer Beresih telah mengumumkan aturan koneksi pasokan dan tariff untuk diketahui warga. Dalam aturan tersebut biaya pemeliharaan saluran pipa sebesar satu persen dari total tagihan. Saat ini sudah menerima 50 aplikasi untuk memasang pipa ke rumah termasuk orang kaya Tionghoa. Selain itu disebutkan disediakan untuk umum 10 titik hidran, lima titik air yang bisa lansung diminum dan tiga titik untuk kamar mandi. Kran air yang bisa diminum ditempatkan pada titik-titik yang sibuk seperti stasion, di Esplanade, jalan Astana, Poloniapark dan penjara. Untuk kamar mandi umum disediakan di Kebonboenga, Majoorstraat dan Kampong Hindoe. Pada nantinya juga akan dibangun 80 buah lagi hidran umum. Untuk sementara selama menara air belum selesai maka untuk menghindari tekanan terlalu besar akan dibuat kolam yang ditengahnya berdiri sebuah pipa tegak.

Rancang bangun menara air
De Sumatra post, 03-06-1908: ‘Pondasi menari air masih dikerjakan, pondasi yang terbut dari batu (semen kuat) untuk dasar bagi ikatan besi yang berat sebagai kerangka untuk menahan menara air’.Algemeen Handelsblad, 24-06-1908: ‘…untuk kebutuhan bahan menara air, telah dibeli di Belanda seharga f 113.365, biaya pengiriman f 62.384 dan asuransi f 6.696. Untuk pembuatan reservoir ini adalah Firma Netunan di Eschweiler dengan kapasitas102.034 Mk. Pada bulan Juni seluruh jalur suplai sudah selesai’. Untuk detail dari kerangka struktur menara air ini dapat dilihat pada gambar disamping yang dikutip dari laporan dinas pekerjaan umum kota Medan pada tahun 1919 yang dipublikasikan ke publik.

Menara Air Selesai Dibangun

NV. Waterleiding-Maatschappij ‘Ajer Beresih’ yang didirikan di Amsterdam tahun 1905 telah menyelesaikan semua tahapan pekerjaan infrastrturnya. Pekerjaan terakhir dari infrastruktur waterleiding ini adalah menara air yang berfungsi sebagai reservoir untuk menampung pasokan air dari Sibolangit dan mendistribusikan air ke rumah-rumah atau bangunan-bangunan sebagai pelanggan. Pekerjaan terakhir dari kegiatan infrastruktur ini dilakukan oleh Mr. Polis (pendahulunya adalah Mr. Sehadee dan Boshuyer.

Menara air selesai
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-01-1909: The Water Tower Medan kini telaj selesai yang airnya dipasok dari jauh, air ini langsung dari sumbernya, dan sekarang di Medan berdiri menara air. Seorang wartawan dari Sumatera Post telah mengunjungi menara memberi laporan yang sangat luas dan menarik: Semua dalam semua, kami sekarang hanya dalam tiga tahun sebuah pekerjaan yang sangat baik. Almarhum Boshuyer adalah pemimpin proyek pertama untuk penyediaan air, yang kemudian telah diubah dan ditambahkan oleh Mr. Sehadee, kemudian selesai dan dieksekusi oleh Mr. Polis. Adopsi dari sebuah proyek baru, biaya konstruksi sekitar dua kali lipat dan sekarang sisa pekerjaan menara dibutuhkan hanya masalah kecil setengah ton (biaya seluruh air sekitar 8 ton.). Tahun lalu pekerjaan menari air dimulai, substruktur beton, yaitu 4 meter.dalamnya ke tanah dan memiliki berat 1,7 juta kilo, yang merupakan seperempat lebih dari bobot seluruh tower, menari tangki telah diisi, itu sudah selesai pada Januari ini. Tangki memiliki diameter 14 meter dan tinggi 9 meter; ujung atas cekungan adalah 39 meter di atas tanah. Ini mungkin berisi sekitar 1200 M3 air’
Pipa Saluran Air Kedua

Dalam perkembangannya, permintaan air bersih terus meningkat. Untuk itu dibangun lagi pipa kedua dari Roema Soemboel. Pembangunan ini untuk memenuhi permintaan selusin perusahaan di hulu Deli dan Langkat (De Sumatra post, 30-01-1914). Waterleiding-Maatschappij Ajer Beresih juga telah melakukan kerjasama dengan Senembah Mij dalam bentuk partnership yang mana seperti menjadi kebutuhannya dan sisanya untuk dialirkan ke Serdang. Sumber air dari Brastagi ini juga akan memasok untuk villa-villa. Selain itu juga untuk memasok air ke desa-desa dekat Kabadjahe dengan biaya pembangunan f20.000 agar mengurangi beban para istri yang mengambil air di pancuran dengan tangga bamboo yang jaraknya cukup jauh.

De Sumatra post, 01-12-1914: ‘Waterleiding-Maatschappij Ajer Beresih juga melakukan cara lain untuk memenuhi kebutuhan air dengan tekni bor ait artesis yang dalamnya 100 meter. Hal ini dilakukan di Rampah kemudian ke Bandar Chalipah dan Tandjoeng Bringin’.  

Usulan Akuisisi di Dewan Kota

Istalasi jaringan di dalam kota
De Sumatra post, 01-10-1918 melaporkan bahwa di dewan kota, tengah perdebatkan soal perlunya mengakuisisi Waterleiding-Maatschappij Ajer Beresih. Usulan ini muncul karena hanya seperdelapan yang disediakan untuk kebutuhan air gratis bagi warga kota, sementara di Semarang sebanyak tiga perdelapan diterapkan. Di Semarang operasi air bersih murni untuk kepentingan umum tanpa mengambil laba. Perusahaan air bersih di Medan selama masa oeprasinya telah mengambil keuntungan yang sangat banyak. Juga yang menjadi pertimbangan perlunya diakuisisi adalah dari 1.918 pelanggan saat ini di kota ditaksir potensi pendapatan f160.000 tetapi yang dilaporkan oleh perusahaan hanya f125.000. Untuk itu diperlukan studi komprehensif proses pengakuisisian perusahaan Ajer Beresih Medan.
.
Keutamaan Instalasi Ajer Beresih Medan

Kemiringan jalur pipa saluran air
Medan sangat beruntung berada di tempat yang rendah dan sumber air bersih tidak terlalu jauh dan berada di ketinggian tertentu di Roemah Soemboel dekat Sibolangit. Keuntungan alamiah tersebut membuat pekerjaan sipilnya juga tidak mengalami kesulitan berarti. Dengan kemiringan yang cukup dari Sibolangit ke Medan di satu sisi dengan sendirinya aliran air bergerak secara alamiah (tanpa pompa) dan di sisi lain tekanan yang ditimbulkan aliran air dapat menggerakkan air mencapai puncak watertoren di Medan.

Jaringan saluran air di hilir dan di hulu (1919)
Detail drinkwaterleiding di Medan secara lengkap dilaporkan dalam MEDEDEELINGEN EN RAPPORTEN VAN HET DEPARTEMENT DER BURGERLIJKE OPENBARE WERKEN yang diterbitkan oleh Landsdrukkerij di Batavia tahun 1919. Laporan ini sangat lengkap tentang detal blueprint reservoir dan jaringan pipa seluruh Medan mulai dari Roemah Soemboel.

Diakuisisi oleh Pemerintah Kota

Watertoren, salah satu landmark kota Medan doeloe
Isu akuisisi ini semakin menguat setelah membaca laporan detail tentang jaringan waterleiding yang selama ini diusahakan Waterleiding-Maatschappij Ajer Beresih. Selama hampir 15 tahun perusahaan tidak terlibat dalam fasilitas social . Suatu komite yang dibentuk sebagaimana dilaporkan De Sumatra post, 24-05-1922 bahwa warga kota memiliki kepentingan besar untuk memiliki pasokan air di wilayah hukum ke dalam tangan mereka sendiri. Dalam hal ini pemenuhan kebutuhan sosial harus lebih dikedepankan untuk melawan borjuis. tugas sosial 'membawa air dari ‘Ayer Beresih’ ke kampong-kampong  asli dikaitkan untuk mempromosikan perumahan rakyat. Sekarang sudah waktunya pemerintah kota untuk melindungi pasokan air buat warga. Akhir 1925 manajemen baru harus diperkenalkan.

Anggota dewan (gemeenteraad) pada waktu yang terbilang vocal adalah Radja Goenoeng dan Abdullah Lebis. Kajamoeddin Harahao gelar Radja Goenoeng (mantan guru dan penelik sekolah di Medan) adalah anggota dewan pribumi pertama sejak 1918. Posisinya kemudian digantikan oleh Abdullah Lubis seorang editor Pewarta Deli.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: